Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 61 | S2


Jonathan menoleh, ia melihat laki-laki yang mungkin usianya jauh diatasnya. Dari Penampilannya mungkin juga seorang model.


"Bisakah tempat dudukmu untuk ku ini untukku ?" kata laki-laki itu bertanya.


"Kamu siapa ?" tanya Jonathan dengan polos.


Laki-laki itu mengerut dahinya, dan melepas tangannya dari pundaknya Jonathan. "Kamu tidak tau aku ?" sambil menunjuk dirinya.


Jonathan memasang wajah bingungnya. "Aku tidak tau kamu, lagian aku juga pernah lihat kamu."


Lalu pandangan Jonathan beralih ke arah Tasya yang masih bergaya di depan kamera. Dan meminum minumannya. Salsa yang duduk di dekat Jonathan pun heran pandanya.


Jonathan tidak mengenal salah satu model laki-laki yang terkenal ini ? Siapa yang tidak mengenal Samuel biasa dipanggil Sam, pria berusia 30 tahun ini. Tak hanya model tapi ia kadang diundang sebagai aktor dalam sebuah film.


Dan tentu saja Salsa tau, kalau Sam sebenarnya menyukai Tasya, namun Tasya selalu tidak menggubrisnya, dan hanya menganggap rekan kerja. Jika disuruh potret bersama, Tasya tidak keberatan jika itu menyangkut perkejaannya.


Sam memegang pundaknya Jonathan lagi. "Bisakah tempat dudukmu untukku, dan kembalilah berkerja."


Jonathan hanya memasang wajah polosnya saja. Sam melihatnya gemas ingin memukul jidat laki-laki berkacamata ini, tapi ia harus menjaga sikapnya karena di dalam ruangan ini banyak sekali orang.


Sam menganggap Jonathan sebagai orang yang bekerja pada Tasya. Ya, ia hanya baru menyimpulkannya sendiri setelah melihat laki-laki berkacamata ini duduk itu samping tempat kursi khusus untuk Tasya.


Salsa pun berdiri, dan mendekati Sam, dan menarik tangan Sam dari pundaknya Jonathan. "Dia temannya Tasya. Kamu jangan membuatnya tidak nyaman."


"Aku hanya ingin duduk di samping kursinya Tasya." balas Sam berbisik


"Ayolah, jangan kekanakan. Kamu bisa menyuruh orang lain mengambil tempat kursi." kata Salsa.


Sam memilih berdiam diri sambil menyentuhkan punggungnya di dinding. Ia menatap Tasya dan sambil tersenyum. Ia membayangkan kalau Tasya mau menjadi kekasihnya.


Tak hanya kebahagian yang ia dapat, tetapi karir dan namanya juga pasti naik daun. Lalu matanya beralih ke laki-laki berkacamata itu. Kesal rasanya. "Apa hubungannya dengan Tasya."


.....


Tak terasa waktu telah sore. Tasya telah selesai aktifitasnya. Entah mengapa ia merasa sedih karena Jonathan tiba-tiba berpamitan ingin pulang.


"Kamu mau pulang ?" tanya Tasya.


"Ya, aku harus pulang, lagian hari ini sudah sore." jawab Jonathan tersenyum.


"Ya sudah, hati-hati ya di jalan." kata Tasya tersenyum.


Jonathan pun berjalan meninggalkan ruangan itu. Ia tak lupa berpamitan kepada semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Tak terkecuali.


Bahkan Sam yang sedang berdiri dan bersender di dinding pun, ia juga berpamitan padanya.


"Pak, saya pamit pulang." ucap Jonathan ramah dan polos.


Tak hanya Tasya dan Salsa, semua orang di dalam ruangan itu terkejut melihat kepolosan Jonathan memanggil Sam dengan sebutan 'Pak'.


"Kamu memanggilku 'pak' ?" tanya Sam melotot.


Jonathan memasang wajah polosnya dan mengedip kedua matanya. "Emm.., Paman ?"


Sam terbelalak. "Paman ??"


Ingin sekali tertawa rasanya Tasya dan Salsa melihatnya. Tak hanya mereka berdua, semua orang yang di ruangan itu pun sama.


Jonathan mengedip kedua matanya lagi. "Om ?"


Tasya segera berjalan mendekati mereka berdua. Terlihat jelas wajah Sam memerah karena marah dan kesal kepada Jonathan yang sudah berani memanggil dengan sebutan yang tak ia sukai.


Biasanya Tasya atau model-model muda memanggilnya dengam sebutan 'Kak'. Dan sekarang ada laki-laki berkacamata penampilan biasanya tak tau dirinya adalah model terkenal, parahnya memanggilnya sebutan 'Om'.


"Sudah-sudah. Gapapa Jo, kamu pulang saja." ucap Tasya tersenyum kepada Jonathan dengan wajah kebingungan.


Salsa pun juga mendekat. Lalu berbisik kepada Sam. "Sudahlah, dia hanya bocah polos."


Sam menghela nafasnya dan mereda rasa marah dan kesalnya. Tasya dan Salsa membiarkan laki-laki berkacamata itu pergi.


Dari awal ia sudah tak suka kedekatan Laki-laki berkacamata itu dengan Tasya. Dan barusan saja laki-laki berkacamata itu membuatnya kesal karena sebutan panggilannya.


Tasya kembali ke tempatnya, dan mengambil barang untuk mengganti pakaiannya di ruang ganti. Salsa menunggunya di luar ruang ganti.


Salsa menahan tawanya mengingat kejadian Sam tadi. Ia pun Senang karena Tasya bisa dekat dengan laki-laki. Selama ini Tasya selalu membatasi dirinya jika berdekatan laki-laki yang mencoba mendekatinya.


Tasya memang selalu tersenyum pada semua laki-laki yang mencoba mendekatinya. Namun senyumannya itu palsu, karena ia hanya mencoba menghargai lawan bicaranya.


Salsa baru kali ini melihat ada yang berbeda dengan Tasya. Senyuman yang diberikan Tasya benar-benar nyata kepada laki-laki berkacamata tadi.


"Apa Tasya jatuh cinta padanya ?" batin Salsa.


___________________________


Visual.


Samuel.



___________________________


.....


Disisi Lain, Jonathan telah keluar dari tempat kerja Tasya. Ia mengendarai motornya untuk pulang. Awan di langit juga sudah berwarna jingga dan akan malam.


Saat sedang menikmati perjalanannya, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam menghalangi jalannya. Lalu keluarlah dua laki-laki berbada besar.


Jonathan yang tak tau apa-apa, hanya memasang wajah polosnya. Lalu ia turun dari motornya. "Ada apa ya pak ?"


"Ikut dengan kita berdua, kalau kamu masih sayang dengan nyawamu." ucap salah satu dari pria berbadan besar itu.


"Baik." jawab Jonathan.


Mendapat jawaban dari laki-laki berkacamata ini, membuat dua pria itu melebar kedua matanya. Seakan tak percaya apa yang mereka lakukan.


Dengan mudahnya mereka menangkap targetnya. Lalu yang membuat mereka bertanya-tanya lagi adalah Jonathan pasrah-pasrah saja saat mereka menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


.....


Kini Jonathan telah dibawa dua orang itu ke sebuah bangunan kosong. Terlihat ada seorang laki-laki muda seusianya.


Dua laki-laki berbadan besar tadi mengeluarkan dirinya dari mobil. Jonathan berjalan mendekati laki-laki itu. Jonathan mengerut dahinya, ia merasa tak asing dengan wajah laki-laki ini, tapi siapa ?


Laki-laki itu menyuruh kedua anak buahnya untuk membawa masuk Jonathan ke dalam bangunan kosong itu. Jonathan hanya pasrah saja mengikuti permainan mereka bertiga.