Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 78 | S2


Mereka bertiga telah sampai di ruang parkiran yang ada di hotel itu. Salsa dibuat terkejut melihat mobil Dodge Charger 1969 milik Jonathan.


"Ini mobilmu ?" tanya Salsa dengan kedua matanya melebar.


Jonathan mengangguk kepalanya. Salsa kembali berkata. "Meskipun kamu orang kaya, aku belum pernah lihat kamu membawa mobil."


Jonathan tidak menjawab, ia membukakan pintu mobilnya untuk Tasya. Setelah kekasihnya masuk ke dalam mobil, Jonathan menutup pintu mobilnya, lalu ia mengitari mobilnya, membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi.


Salsa hanya mendengus kesal, karena merasa dikacangi oleh laki-laki berkacamata itu. Namun tak masalah, yang terpenting ia bisa menaiki mobil yang mirip dengan mobil yang ada di film favoritnya.


Salsa duduk di belakang. Tasya duduk depan, di samping kekasihnya yang duduk di kursi kemudi. Jonathan segera menyalakan mesin mobilnya, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


.....


"Apa kamu tidak masalah kamu meninggalkan perkerjaanmu yang di hotel begitu saja ?" tanya Tasya menoleh menatap kekasihnya.


Sambil menikmati perjalanannya, mereka mengobrol. Dan sekarang Tasya membahas tentanh pekerjaan Jonathan yang sebagai karyawan biasa di hotel tadi.


"Tidak apa-apa." jawab Jonathan tersenyum, pandangan tetap ke arah depan, dan mengemudikan mobilnya.


"Kalau pihak dari mereka mencarimu dan meminta denda karena kamu keluar begitu saja tanpa surat mengundurkan diri, bagaimana ?" tanya Salsa yang duduk di kursi penumpang di belakang.


Jonathan tersenyum mendengar pertanyaan Salsa. Lalu ia menyeringai dan menjawab. "Kalau dari pihak mereka datang dan meminta denda padaku, kupastikan dia menjadi mainanku sebelum dia pulang kembali. Hahahaha."


Salsa menelan salivanya. Mendengar suara tawa dari seorang Psychopath benar-benar membuatnya tak berani berkata-kata lagi.


"Hahahaha, Aduuhh !!"


Jonathan yang sedang tertawa, tiba-tiba terhenti dan langsung meringis kesakitan. Tasya mencubit lengannya. Jonathan menoleh dan melotot menatap ke arah Tasya sambil tersenyum menyeringai.


Melihat itu, Tasya pun juga tak mau kalah, ia juga melototi Jonathan. "Kenapa kamu melihatku seperti itu ? Apa kamu tidak sadar dengan kata-katamu barusan ?"


Jonathan teringat, ia berjanji kepada Tasya, ia akan berubah. Dengan terpaksa Jonathan tersenyum dan kembali fokus ke arah depan. Lalu ia perlahan mengelus dadanya sendiri. "Sabar Jonathan, sabar. Kamu harus berubah."


Tasya yang tadinya melototi kepada Jonathan, perlahan ia tersenyum. Ia berusaha menahan tawanya melihat kekasihnya yang sedang menahan sisi gilanya demi dirinya.


Tasya mengusap lengan Jonathan. "Marah boleh. Tapi ingat, jangan berlebihan. Perlahan saja."


Jonathan tersenyum dan mengangguk kepalanya. Ia harus berusaha mengontrol amarahnya. Lagian dirinya memang berniat ingin menghilangkan sisi gilanya


Salsa melihat itu seakan tidak percaya. Tasya bisa menenangkan sisi gilanya Jonathan. Benar-benar tak terduga.


.....


Sementara Disisi Lain.


Disuatu tempat, terlihat seorang laki-laki berumur 30 tahun. Ia merupakan seorang pengusaha di dunia entertaiment. Ia tengah duduk di kursi sofa di ruangannya.


Ia melihat foto di ponselnya, foto seorang perempuan cantik yang merupakan seorang model, dan selebgram. Dan juga memiliki bakat menyanyi dengan suara indah. Dia diam-diam memfotonya saat sedang konser sebelumnya.


Dia sungguh tertarik dengan sosok perempuan yang ada di dalam foto itu. Tak hanya tertarik dengan bakat dari perempuan itu tapi ia juga menyukainya, layaknya menyukai sesama lawan jenis.


"Galang!" laki-laki itu memanggil nama asistennya.


"Ya tuan." Galang yang juga duduk di sofa di hadapan laki-laki itu.


"Kamu cari informasi tentang Natasnya. Aku ingin mengorbitnya." pintanya.


"Baik tuan." ucap Galang, dan berlalu keluar dari ruangan.


Setelah kepergian asistennya, ia tersenyum, dan terus menatap foto Tasya yang ada di dalam ponselnya. "Tak hanya itu, aku ingin sekali memilikku. Sepertinya aku jatuh cinta padanya."


.....


Jonathan sekarang mengantar Tasya pulang ke rumahnya. Kini ia telah sampai. Tasya dan Jonathan turun dari mobil. Tasya dan Jonathan berjalan masuk ke dalam rumah.


Mereka disambut hangat oleh orang tua Tasya. Tasya lebih dulu masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Kini Jonathan dan orang tua Tasya tengah berbincang-bincang di ruang tamu.


Orang tua Tasya menanyakan Jonathan selama setahun ini kemana saja, tak pernah terlihat. Jonathan hanya beralasan kalau dirinya ada urusan. Namun kedua orang tua Tasya terkejut tak main saat mendengar ucapan Jonathan.


"Om, tante. Saya ingin melamar Tasya menjadi istriku." ucap Jonathan.


Tak hanya kedua orang tua Tasya yang terkejut, Tasya yang baru saja turun dari lantai dua dan akan ikut bergabung pun juga terkejut mendengar kata-kata kekasihnya.


.....


Jonathan kini tengah dalam perjalanan pulang ke rumah besarnya. Ia tersenyum, karena ia akan melamar kekasihnya. Ya, mau gimana pun dirinya telah merengut kesucian kekasih.


Maka dari itu, ia harus melamarnya dan menikahinya. Bukan hanya bertanggung jawab dan rasa bersalah, tetapi ia juga mencintainya. Lebih baik ia mengikat Tasya dalam sebuah pernikahan.


Sudah setahun, ia tak pulang ke rumah besarnya. Kini ia telah memasuki halaman rumahnya. Namun ada yang aneh. Ada laki-laki berbadan besar dan berpakaian hitam berjaga di depan rumah besar miliknya.


Jonathan turun dari mobilnya. Saat akan manginjak teras rumah, laki-laki itu maju mendekatinya. Lalu salah dia bertanya. "Anda siapa ? Orang asing dilarang masuk !!"


Jonathan menatap dingin ke arah laki-laki yang berani mengatakan dirinya orang asing. "Aku Jonathan, pemilik rumah ini."


Laki-laki itu tersenyum remeh. "Anda jangan mengaku-ngaku kalau anda adalah tuan besar kami. Tuan besar kami berada di luar kota."


Laki-laki itu mendorong tubuh Jonathan hingga jatuh terduduk. Nafas Jonathan naik turun. Ia menatap dingin, lalu ia tersenyum menyeringai. "Kau ingin bermain denganku ?"


Laki-laki itu mengerut dahinya. Jonathan berdiri, lalu ia melepaskan jaketnya. Tanpa basa-basi ia melempar jaketnya ke arah laki-laki itu.


Kepala laki-laki itu tertutup Jaket. Pandangannya tertutup. Belum sempat menyingkirkannya, tubuhnya terhantam, lalu terdorong dan jatuh ke lantai.


Setelah menghantamnya dengan tubuhnya Jonathan berdiri. Saat akan melompat ke arah dada laki-laki itu, indra pendengarannya mendengar suara memanggilnya.


"Tuan Jo !!"


Jonathan menoleh, ia melihat Rino dan Tony datang bersama Sarah dan Laura yang baru saja turun dari mobil. Jonathan menatap tajam ke arah mereka berempat.


"Apa kalian ingin menghianatiku setelah lama aku tidak kembali ?" tanya Jonathan dingin.


"Tidak !! Kita tidak pernah berniat seperti itu. Justru kita senang anda telah kembali." ucap Rino mencoba menenangkan Tuannya.


Jonathan menunjuk laki-laki yang akan ia siksa tadi. "Dia siapa, dia berani sekali padaku."


Rino menatap ke arah laki-laki yang baru saja ia rekrut menjadi anggota penjaga rumah. Rino pun membentaknya. "Kamu ingin setor nyawa hah ?"


Laki-laki itu berdiri dan menundukan kepalanya. "Tidak tuan. Tapi dia.." ucapnya sambil menunjuk Jonathan. "Dia mengakui kalau dirinya adalah tuan besar."


Rino menatap tajam, dan mendekatinya. "Dia memang Tuan Jonathan, bodoh !!"


Laki-laki itu terbelalak mendengarnya. Lalu ia menatap ke arah Jonathan dengan tatapan tak percaya. Jonathan mendekatinya.


"Aku ingin sekali menebas lehermu dan menggantungkan kepalamu di pintu gerbang kebun binatang. Tapi saat ini, aku masih bisa menahan amarahku, karena aku tiba-tiba teringat seseorang." setelah mengatakan itu, Jonathan berjalam masuk ke dalam rumah besarnya.


Laura, Sarah, dan Tony segera ikut masuk ke dalam rumah. Rino perlahan berjalan masuk ke dalam rumah sambil menatap tajam ke arah laki-laki penjaga itu.


"Sekali lagi kau membuatnya marah, aku sendiri yang akan langsung memutilasimu." ucap Rino sambil berlalu, sedangkan laki-laki penjaga itu hanya menunduk merasa bersalah.