
Hari telah malam. Tasya baru saja selesai mandi, ia segera memakai dress hitam panjangnya. Malam ini dimana ia harus tampil panggung. Salsa juga selesai dengan memakai pakaian. Kini mereka telah siap untuk berangkat.
Mereka berdua telah keluar dari kamarnya. Dan berjalan masuk menuju lift. Tanpa disadari mereka ada seorang laki-laki yang tengah mengintip mereka.
Awalnya ia tak sengaja melihat dua orang yang dikenalnya. Terutama kepada Tasya. Ia sendiri terkejut melihat Tasya ada di hotel tempat ia kerja. Sudah lama ia tak bertemu dengannya.
Ingin sekali ia memeluknya dari bekalang, namun ia tidak berani. Mengingat kalau Tasya telah mengetahui sisi lainnya. Ya laki-laki itu siapa lagi kalau bukan Jonathan.
Jonathan memilih pergi dari Kota S. Ia tak mau Tasya takut padanya, mengingat kalau Tasya telah melihat sifat Psychopath gilanya.
Jonathan memilih menutup akses dirinya sendiri agar Rino dan lainnya tidak bisa menghubunginya, itu hanya sementara. Ia lakukan itu agar ia ingin ketenangan.
Mengingat tubuhnya bukan miliknya, ia merasa tidak pantas. Sungguh dari dalam dirinya, ia tak masalah jika ia diberi kehidupan kedua, tapi sisi gilanya telah menyatu pada jiwanya.
Jonathan berdiri bersenderan di dinding. Ia menghela nafasnya. Ia kembali teringat kejadian terakhir yang membuatnya harus pergi.
Jonathan bisa bekerja sebagai pelayan Hotel, karena saat ia tengah duduk santai di taman Kota J, ia tak sengaja menemukan dompet.
Setelah memeriksa isi dompet itu. Ada uangnya, namun Jonathan memilih mengembalikannya sesuai alamat yang tertera di kartu identitas. Lagian ia juga masih memiliki uang tabungan rahasia di bagasi mobilnya.
Setelah mengembalikan dompet ke pemiliknya. Si pemilik merasa berterimakasih dan menawarkan pekerjaan sebagai salah satu pelayan hotel. Tentu saja Jonathan menerima itu. Lagian ia ingin suasana baru.
.....
Stelah melihat kepergian Tasya dan Salsa, Jonathan memilih pergi ke rumah kontrakannya yang letaknya tidak jauh dari tempat kerjanya, karena jam kerjanya telah usai.
Jonathan telah sampai di rumah, ia tak langsung masuk ke dalam. Ia memilih diam duduk di teras. Namun perasaannya merasa gelisah. Jonathan mencoba sesuatu di ponselnya.
Jonathan terbelalak kaget. Ternyata kalung pemberiannya, masih dipakai Tasya. Buktinya dilayar ponselnya menampilkan kalau posisi Tasya di Kota J.
"Kenapa dia ada di kota ini ?"
Dari pada bingung sendiri, Jonathan memutuskan untuk menyusulnya. Ia berniat mengawasinya diam-diam.
Jonathan berjalan ke arah belakang rumah kontrakannya. Ia membuka bagasinya. Dan ia segera menaiki mobil Dodge Charger 1969 hitam miliknya. Lalu ia segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.
Dengan kecepatan standar ia mengemudi mobilnya sambil melihat maps di layar ponselnya. Dan mungkin beberapa saat lagi ia akan sampai di titik merah tempat Tasya berada. "Tasya pergi kemana ?"
Jonathan lalu membuka ponsel satunya lagi, teparnya ponsel lamanya. Lalu ia segera menghubungi seseorang.
.....
Tasya baru saja turun dari panggung. Salsa yang setia menunggu di belakang panggung, ia memberi botol air meneral. Tasya menerimanya dan meminumnya.
Konser diadakan salah satu Hotel lain, namun lebih besar dan luas. Banyak sekali artis-artis yang datang sebagai bintang undangan.
Tiba-tiba Salsa merasa tidak nyaman pada perutnya. "Tasya, aku mau ke toilet dulu, ya."
Tasya mengangguk kepalanya. "Ya, aku akan tunggu disini."
Salsa pergi menjauhi Tasya ke toilet. Tasya berdiri di tempatnya sambil membaca chat teman-temannya. Tiba-tiba tangan Tasya di tarik, dan tentu saja Tasya terkejut.
"Aku ingin bicara denganmu, berdua saja."
Seorang laki-laki membawanya keluar dari tempat itu. Tasya sangat mengenalnya. Ya, dia Kevin, salah satu penyanyi terkenal, ia bahkan kadang-kadang saat di tempat konser yang sama ia duet dengan Tasya.
Sudah lama Kevin menyukai Tasya. Kevin selalu memberi perhatian. Di kesempatan waktu, Kevin mengutarakan perasaannya, tapi Tasya selalu menolaknya.
.....
Kini mereka berdua berada di lorong hotel itu. Kebetulan tempat itu sepi dan letaknya di lantai 10. Mungkin saja orang-orang berkumpul di aula untuk menonton konser yang masih berlanjut.
Tasya berdiri berhadapan dengan Kevin. "Apa yang ingin kamu bicarakan, Kevin ?"
"Tasya, menikahlah denganku." kata Kevin serus.
Tasya terkejut, biasanya Kevin menembaknya untuk menjadi pacaranya. Dan tentu saja ia menolaknya, karena dalam hatinya ia tak mencintai laki-laki ini.
"Maaf Kevin, aku..." belum sempat Tasya menajawab, Kevin langsung membopongnya dan membuka pintu salah satu kamar di dekatnya.
"Kevin, turunkan aku !!" teriak Tasya, dan berontak.
"Malam ini, kamu harus menjadi milikku." ucap Kevin sambil membopong dan membawa tubuh Tasya ke dalam kamar.
Dan ia melempar Tasya di kasur. Tasya takut bukan main. Selama ini ia mengenal Kevin itu baik. Tidak seperti sekarang.
Plak !!
Saat Tasya bangkit dari ranjang untuk menghindar, tiba-tiba Kevin menampar pipi Tasya sangat keras, hingga jatuh ke lantai. Ada darah di sudut bibirnya.
Tasya menangis, ia terduduk di lantai sambil memegang pipinya. Ia takut akan di nodai. Kevin membiarkan Tasya menangis duduk di lantai. Ia berbalik dan berjalan untuk menutup pintu kamar dan menguncinya.
Saat akan menutup pintu, tiba-tiba ada sebuah tangan menahan pintunya agar tidak tertutup. Lalu terbukalah pintu kamarnya. Terlihat seorang laki-laki berkacamata.
Duak !!
Belum sempat terkejut, salah satu mata Kevin terkena hantaman. Laki-laki berkacamata itu menghantam matanya Kevin dengan ujung sudut ponsel miliknya.
"Aggrrhhh mataku...!!" Kevin berteriak kesakitan.
Tasya terkejut melihat siapa yang datang dan membuat Kevin kesakitan. Tangannya menutup mulutnya, ia tak menyangka seseorang yang selama ini sangat ia rindukan telah datang dan menyelamatkannya.
Melihat Kevin yang masih kesakitan pada matanya, laki-laki itu cepat-cepat mencengkram wajahnya Kevin. Ia mendorong dan ia hantamkan belakang kepalanya Kevin ke dinding ruangan itu.
DUGH !!
Kevin terduduk di lantai setelah Laki-laki itu menghantamkan belakang kepalanya ke dinding.
"Aku akan berbuat perhitungan padamu. Kamu takkan bisa lari setelah ini." ucap Kevin lirih lemas karena kepalanya terasa sakit. Matanya masih terasa sakit.
Kevin masih tak mengerti siapa laki-laki asing berkacamata ini. Kenapa tiba-tiba datang dan mengagalkan rencananya.
Laki-laki berkacamata itu tersenyum menyeringai. "Benarkah ?"
Lalu Dia menarik kedua kakinya Kevin, dan menyeretnya dengan paksa.
"Lepaskan !!" Kevin berusaha melepaskan dirinya. Laki-laki berkacamata itu tentu saja tidak melepaskannya.
Dia berjalan menyeretnya mendekati balkon. Kevin panik saat laki-laki ini berjalan mendekatkan dirinya di pagar besi balkon.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku."
Laki-laki berkacamata ini tidak menjawab, kedua tangannya mencengkram kerahnya dan memaksa Kevin untuk berdiri. Tanpa basa-basi Dia mendorong Kevin dari balkon.