
"Hentikan~"
Ucap Sam yang sudah lirih. Jonathan menghentikan kegiatannya. Sam merasa nyeri yang amat luar biasa di belakang kepalanya. Kini ia terbaring di lantai.
Jonathan masih berjongkok didekat Sam yang terbaring lemas. Darahnya tak hanya keluar dari luka tembak di kedua kakinya, dari belakang kepalanya juga darahnya mengalir pelan.
"Ayolah, bukankah kamu juga pernah memainkan film. Sekarang aku sedang melatihmu untuk memainkan film bergenre sadis." kata Jonathan berseri.
"Ampun~, lepaskan aku~. Aku tidak akan~ mengganggumu dan pacarmu~" ucap Sam memohon, suaranya benar-benar menunjuk kalau dirinya sudah benar-benar tak berdaya.
Jonathan mendengus kesal.
"Ya ampun.., aku masih ingin bermain denganmu."
Lalu ia menggenggam tangan laki-laki ini.
Jonathan memandangnya dengan senyuman menyeringainya dan sedikit memiringkan kepalanya. "Kali ini, aku ingin sekali mendengar suara teriakanmu."
Krak !!
"Aggrrhhh !!"
"Ahhh, teriakanmu sungguh indah sekali." ucap Jonathan tersenyum, ia begitu menikmatinya.
Sam kesakitan, salah satu jari tangannya dipatahkan oleh Jonathan. Jonathan semakin suka melihat Sam kesakitan seperti ini.
Krak !!
"Aggrrhhh !! Cukup hentikan !! Aku takkan berbuat masalah lagi !!" Sam berteriak kesakitan dan meminta ampun, Jonathan mematahkan jari tangannya lagi.
Krak !!
"Aggrrhhh !!" Jonathan mematahkan jari tangannya lagi.
Jonathan menghempas tangannya Sam. Sam memegang pergelangan tangannya. Kini sudah tiga jari tangannya sudah dipatahkan.
Jonathan masih belum puas menyiksanya. Ia menjambak rambutnya Sam dan menariknya. "Aku tidak akan melepasmu. Sebelum mati, aku ingin kamu menikmatinya."
BUGH !!
Jonathan menghantam wajah Sam dengan alas kaki/sepatunya. Sam terdorong, kepalanya terhantam lantai lagi. Ia kini terbaring di lantai. Jonathan berjongkok dihadapannya, ia mencengkram dan menarik kerah Sam untuk bangun.
Sam berteriak kesakitan, kedua kakinya benar-benar sakit. Dengan paksa Jonathan mengangkat tubuh Sam, dan ia langsung hempaskan ke atas meja.
Kini Sam terbaring di atas meja ruangan tengah setelah Jonathan mengangkat tubuhnya dengan paksa. Jonathan tersenyum dan menatap Sam yang juga menatap sayu padanya.
Jonathan pun bersuara "Baiklah, waktunya kita bermain dokter-dokeran. Kamu sekarang di meja operasiku. Aku menjadi dokternya dan kamu yang menjadi pasienku."
Lalu ia meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebuah benda yang persis dengan gunting, namun bukan gunting, lebih tepatnya adalah Tang.
Tangan kirinya Jonathan mencengkram dagunya Sam, dan memaksa membuka mulut laki-laki ini. "Aku menjadi doker gigi. Dan sekarang aku akan mencabut gigimu. Hehehe.., ini pasti lebih menyenangkan."
Sam berusaha berontak, dan memukul dengan kedua tangannya. Namun cengkraman Jonathan di dagunya cukup kuat, ditambah kondisi Sam yang juga lemas tak bertenaga.
Jonathan mulai mangarahkan Tang yang ia genggam mulutnya Sam yang sudah ia buka dengan paksa. Sam terus berontak memberi perlawanan, namun sia-sia.
Grepp.
Ya, Tasya berhasil melepaskan dirinya. Tanpa disadari Jonathan dan Sam, dia dengan hati-hati mengambil pisau milik Jonathan yang terjatuh di dekatnya. Ia mengambilnya dan memotong tali yang mengikatnya.
"Cukup Jonathan, jangan seperti ini. Aku sudah tidak apa-apa." ucap isak Tasya menangis dan memeluk Jonathan dari belakang.
Jonathan terdiam, namun perlahan ia kedua tangannya melemas ke bawah, dan Tang yang ia genggam pun terlepas. Tatapannya dingin, namun nafasnya memburu, seakan ia berusaha menahan gejolak di dalam dirinya.
Tasya menarik Jonathan untuk melangkah mundur. Jonathan tak bersuara, namun ia menurut. Tapi tatapannya dingin ke arah Sam yang sedang bernafas lega.
Jonathan berdiri, ia tetap diam. Tasya masih memeluknya dari belakang. "Aku sudah tidak apa-apa Jonathan. Cukup jangan berbuat lebih dari ini."
Sam yang masih terbaring di atas meja, ia hanya menatap langit ruangan itu. Ia benar-benar terselamatkan dari amukan dari seorang laki-laki berkacamata ini.
Tubuh Sam benar-benar lemas. Lalu ia memenjam kedua matanya. Ia sudah tak kuat lagi rasa kantuknya, mungkin karena luka yang ia dapat. Ia pun pingsan tak sadarkan diri.
Jonathan terdiam. Tasya masih memeluknya dari belakang dan menangkis. Ia tak ingin kekasihnya benar-benar melakukan yang lebih gila lagi
Tasya sudah mendengarnya, saat tadi Jonathan memberitahu kepada Sam, kalau dirinya telah membunuh banyak orang.
Nafas Jonathan perlahan sudah tidak berburu. Tapi tatapannya kosong. Tasya perlahan melepas pelukannya.
"Jonathan..." panggilnya dengan pelan, namun orang yang dipanggil masih diam.
"Jo.." Tasya memanggil memanggilnya lagi dengan pelan.
Tasya melangkah dan berdiri di hadapan Jonathan. Tasya dapat melihat tatapan mata Jonathan yang kosong dibalik kacamatanya. Warna kedua pupil iris mata Jonathan berwarna coklat gelap.
Lalu kedua tangan Tasya memegang lembut kedua pipi kekasihnya, ia masih mengeluarkan air matanya. "Jonathan, kamu dengar aku 'kan ?"
Seketika kedua bola mata menjadi coklat muda. Ya, Jonathan tersadar. Ia menatap Tasya, lalu perlahan berjalan mundur, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat. Ia meninggalkan Tasya di ruangan itu.
Tasya terpaku apa yang ia lihat tadi saat melihat kedua mata Kekasihnya. Lalu ia tersadar, ia berjalan meninggalkan ruangan itu dan mengejar Jonathan.
Namun sayang Jonathan sudah lebih dulu pergi dari tempat itu dengan mobilnya. Tasya terduduk lemas di teras Vila. Ia masih tak percaya kalau kekasih seakan memiliki sisi lain.
Tak lama kemudian, datanglah tiga mobil terhenti di depan Vila. Tiga mobil itu terlihat cukup tak kalah bagus. Lalu salah satu dari tiga mobil itu, keluarlah perempuan yang dikenal Tasya.
Siapa lagi kalau bukan Salsa. Lalu disusul para penumpang ketiga mobil itu yang juga ikut keluar. Salsa berjalan cepat dan menghampiri Tasya yang tengah duduk di teras Vila sambil mengeluarkan air matanya.
Salsa langsung berjongkok dan memeluknya. "Kamu baik-baik saja 'kan ?"
Tasya mengangguk-angguk kepalanya. "Aku baik-baik saja, Kak. Tapi..."
Salsa melepas pelukannya, dan memegang kedua pundak Tasya dan menatapnya. "Tapi kenapa ?"
"Kak Sam di dalam, dia yang...." kata Tasya terpotong.
"Sam yang datang menyelamatkanmu ?" tanya Salsa memotong kata-kata Tasya.
Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia menghela nafasnya dan dengan pelan ia menjawab. "Kak Sam yang menculikku."
Salsa terbelalak mendengarnya. "Kalau dia menculikmu, kenapa kamu ada di luar ?"
"Jonathan datang menyelamatku. Dia..." Tasya tak meneruskan kata-katanya, ia teringat saat ia melihat Jonathan menyiksa Sam.