
Jonathan telah mengantar Laura, Sarah, dan Nita sampai di rumah. Ketiga gadis itu segera turun dari mobil, dan masuk ke rumah mereka masing-masing.
Jonathan memilih menunggu mereka di dalam mobil. Rasa kesal tidak sabar, karena Jonathan sudah menunggu hampir setengah jam lebih, ketiga gadis itu belum keluar dari rumah.
Saat akan turun dari mobil, Laura dan yang lainnya baru keluar dari rumah. Mereka membawa kopernya. Jonathan sampai terbelalak saat melihat Sarah membawa koper besar.
"Apa yang kamu bawa ?" tanya Jonathan mengerut dahinya.
"Tentu saja semua pakaianku, dan peralatan make up-ku." jawab Sarah enteng.
Jonathan tersenyum. "Lagi-lagi kalau tau begini, aku akan menarik rambutmu dan menyeretmu ke tengah jalan, dan menggulingmu dengan mobilku."
Sarah melotot, entah nyali mana ia dapatkan untuk melawan Jonathan. "Heh culun, kamu harus ganti rugi. Mana mobil mahalku langsung di tinggal begitu saja di tengah jalan tadi."
Uhukk..!!
Jonathan langsung mencekik leher Sarah, lalu ia tersenyum miring. "Bisakah kamu tidak banyak bicara ? Aku membantumu bersembunyi dari orang-orang mafia itu, karena Laura."
Laura yang sedang menenangkan Jonathan, ia menoleh ke arah laki-laki itu. "Karenaku ?"
Jonathan menelan salivanya, ia melepaskan leher Sarah. Entah kenapa mulutnya asal bicara. Lalu ia menemukan alasan yang tepat.
"Bukankah kita berteman saat kecil ?" tanya Jonathan, beberapa hari yang lalu ia melihat ingatan pemilik tubuhnya waktu kecil, dan di dalam ingatannya, ternyata pemilik tubuhnya berteman dengan Laura waktu kecil.
Laura terbelalak. "Kamu mengingatnya ?"
Jonathan mengangguk-angguk. "Ya, aku baru saja mengingatmu."
Laura pun memasang wajah sedih. "Kenapa baru sekarang ? Lalu kenapa sekarang kamu menjadi begini ?"
Jonathan memutar bola matanya. "Bisakah kamu jangan banyak bertanya !! Kita harus cepat pergi dari kota ini !!"
Jonathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menunggu di kursi kemudinya. Laura dan kedua temannya, segera masuk dan memasukan koper mereka ke dalam mobil.
Namun sebelum masuk ke dalam mobil, ketiga gadis itu segera berpamitaan kepada pembantu rumah mereka masing-masing. Mereka saling berpelukan, dan menangkis.
Dan juga ketiga gadis itu meminta maaf, karena harus pergi, dan juga meminta maaf ke pembantu mereka agar segera mencari pekerjaan dna majikan baru.
Pembatu mereka pun mengerti, karena sejak awal anak majikan mereka pulang tadi, sudah menceritakan apa yang terjadi. Bagaimanapun, itu pun demi keselamatan mereka semua.
Setelah sudah berpamitan, ketiga gadis itu segera masuk ke dalam mobil, dan semua pembantu rumah mereka juga telah siap untuk pulang ke kampunh mereka, dan mencari pekerjaan dan majikan baru nantinya.
Jonathan segera menjalankan menyalakan mesin, lalu menjalankan mobilnya. Kadang sampai saat ini, Jonathan masih bingung, ada apa dengan dirinya ? Kenapa harus peduli dengan ketiga gadis ini.
Apa karena rasa peduli dari pemilik tubuhnya masih tersisa di hatinya ? Jika memang seperti itu, ia berharap rasa peduli dari pemilik tubuhnya bisa menenangkan jiwa Psychopathnya.
Mau bagaimanapun, ia ingin hidup tenamg dan damai, tak ada gangguan dari pihak manapun, entah dari musuhnya, atau orang asing.
.....
Mobil yang dikemudikan Jonathan telah sampai di Kota S. Perjalanan dari Kota J ke kota S, memakan waktu yang tidak sedikit. Kali ini ia harus mencari tempat yang layak untul dijadikan rumahnya.
Sekarang ia tidak sendiri lagi, karena sudah ada tiga gadis yang ikut dengannya. Dengan begini ketiga gadis ini bisa aman sementara, dan disamping itu ia akan membuat rencana baru.
Selama di tengah perjalanan, mereka juga tidak lupa berhenti untuk membeli makanan. Karena perjalanan mereka cukup lama. Jadi mereka juga harus mengisi perut mereka agar tetap menjaga kesehatan.
Dengar-dengar, di Kota S ada kelompok gangster yang ditakuti. Dan ketua gangsters itu sangatlah kaya, anggota mereka selalu meresahakan masyarakat sekitar. Jonathan yang tau, ia tersenyum menyeringai.
.....
Hari telah pagi. Laura yang baru bangun dari tidurnya, ia mengusap wajahnya. Ia menoleh ke belakang, ia melihat Sarah, dan Nita masih tertidur di kursi belakang.
Lalu Laura menoleh dan menatap Jonathan yang masih fokus mengemudi mobilnya. "Kita sudah sampai ?"
Jonathan menganggukan kepalanya. "Ya, kita sudah sampai."
"Kita belum aman." jawab Jonathan datar.
"Seterusnya kita akan terus melarikan diri ?" tanya Laura.
"Tidak, kita akan melawan balik." jawab Jonathan.
"Melawan balik ? Kamu gila, kita saja melarikan diri. Kami bilang melawan balik." kata Laura kesal.
"Tenang saja, aku sudah punya rencana, hanya kita masih butuh banyak waktu." jawab Jonathan dengan tenang.
"Lalu, apa rencanamu ?" tanya Laura.
"Apa kamu pernah dengar gangster ?" tanya Jonathan.
Laura mengerut dahinya. "Ya, aku tau, tapi apa maksudmu ?"
Dengan santai Jonathan berkata. "Kita akan menyerang gangster terkaya di kota ini."
Laura melotot. "Kamu benar-benar gila. Apa kamu tau, Gangster itu kelompok kriminal yang suka membuat kekacauan."
Jonathan pun tertawa. "Ya, aku gila, aku ingin mengincar bos gangster ini."
"Kalau begitu aku mundur, aku tidak ingin ikut campur denganmu." jawab Laura.
"Terserah kamu saja, kalau kamu mundur, kamu dan kedua temanmu ini tetap diam saja di bersembunyi." kata Jonathan tersenyum.
"Apa kamu ingin maju dan menyerang sendirian ?" tanya Laura.
"Ya, menyerang mendadak ke tempat mereka, pasti membuat mereka akan panik, secara mereka tidak memiliki persiapan apa-apa." kata Jonathan.
"Apa semudah itu untuk menyerang gangster ?" tanya Laura.
Jonathan terkekeh. "Gangster ini berbeda dengan mafia yang sedang mengincar kita. Gangster yang akan kuhadapi ini, adalah sekumpulan preman-preman yang suka membuat kekacauan."
"Sudah 'lah, tidak usah bertanya lagi, lagian kamu dan kedua teman yang masih tidur ini tidak akan berani." lanjutnya, ia menyudahi percakapannya dengan Laura, jika diteruskan, kemungkinan tidak ada berhentinya.
.....
Mobil yang dikemudikan Jonathan telah berada di sebuah parkiran bawah tanah. Sekarang mereka telah sampai di sebuah hotel.
Jonathan dan Laura membangunkan Sarah dan Nita yang masih saja tidur. Dengan malas Sarah dan Nita pun membuka kedua matanya untuk bangun.
Jonathan pergi ke resepsionis untuk memesan 2 kamar. Laura, Sarah, dan Nita masih menunggu di loby. Tak lama kemudian Jonathan berjalan mendekati mereka bertiga.
Jonathan memberi salah kunci kamar kepada Laura. Laura mengerut dahinya saat Jonathan memberinya kunci kamar hotel. "Cuma satu ?"
Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. "Ya, kalian bertiga menginap dalam satu kamar."
"Cuma satu kamar ?" tanya Laura.
"Aku memesan dua kamar, satu kamar untukmu dan satu kamar untuk kalian bertiga." jawab Laura.
"Enak sekali satu kamar untukmu sendiri, sedangakn kita satu kamar bertiga." kata Laura tidak terima, karena ia juga ingin mendapat kamar sendiri.
"Sudah terima saja, kalau kamu tidak mau, kamu bisa satu kamar denganku." kata Jonathan sambil tersenyum menyeringai.
"Tidak akan !!" ucap Laura dan berlalu meninggalkan Jonathan.
Nita dan Sarah yang dari tadi diam memperhatikan percakapan Jonathan dan Laura, kini mereka segera menyusul Laura yang pergi menunju lift.
Setelah melihat pintu lift yang dinaiki oleh ketiga gadis itu tertutup, Jonathan segera pergi meninggal tempat itu. Ia kembali menuju ke parkiran mobilnya.
Ia masuk ke dalam mobil. Jonathan menyalakan mesin mobilnya. Lalu ia segera memakai kedua sarung tangannya. "Saatnya bermain."