
Di kota S, hari telah pagi. Kini semua tengah berkumpul di ruang makan. Semua telah selesai sarapan. Namun mereka masih duduk di kursi mereka masing-masing.
"Jadi, semalam Tuan Jo ada di kota J ?" tanya Rino.
Tony mengangguk kepalanya. "Ya, dia ada di kota J. Dia memintaku untuk membantunya melacak keberadaan Tasya."
Kini semua telah merasa lega. Sudah hampir satu tahun lebih tidak ada kabar, akhirnya Jonathan memberi kabar. Kini berada di kota J. Mereka benar-benar tak menduga kalau Jonathan kalau menghilang benar-benar seperti di telan bumi.
Tony, yang ahli IT kelas profesional saja, biasanya melacak keberadaan seseorang sungguh muda. Baru kali ini ia benar-benar gagal melacak seseorang, apalagi melacak keberadaan tuannya sendiri.
Setelah selesai, mereka segera bangkit dari kursi mereka masing-masing. Semua akan berangkat ke kantor. Setelah lulus kuliah, Laura, Nita, dan Sarah bekerja di perusahaan Jonathan.
Mereka bertiga sebagai karyawan di bagian devisi biasa. Banyak karyawan lainnya belum tau kalau mereka bertiga memiliki hubungan dengan Jonathan, Rino dan yang lainnya.
.....
Disisi Lain, Salsa baru bangun dari tidurnya. Semalam ia hanya tidur sendiri. Karena Tasya tidak pulang ke hotel, tempat mereka menginap.
"Aku harus siap-siap, pasti Tasya akan kembali ke hotel." batin Salsa, ia segera mandi pagi, membersihkan dirinya.
.....
Di Tempat Lain.
Jonathan membuka kedua matanya. Lalu ia melihat ke sampingnya. Ada Tasya yang masih tidur pulas di sampingnya sambil memeluknya. Ya, Tasya menginap di rumah kontrakannya.
Jonathan terus memandang Tasya yang damai tidur dengan tenang. Sungguh cantik mahluk Tuhan yang satu ini. Mereka sama-sama polos tak memakai pakaian sama sekali. Hanya selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka berdua.
Ya, Jonathan dan Tasya, sama-sama pertama kali melakukannya. Entah setan mana yang merasuki merkea berdua. Yang awalnya mereka saling berciuman, terbawa suasana ditambah mereka saling mencintai, hingga mereka berakhir di ranjang.
Mungkin yang mereka lakukan adalah salah, karena melakukan hal itu di luar pernikahan. Tspi mau gimana lagi, semua bisa terjadi.
Jonathan mengusap pipi Tasya. Perlahan Tasya membuka kedua matanya. Ia melihat wajah Tampan Jonathan tanpa kacamata di depannya, ia tersenyum. Jonathan membalas senyumannya.
Perlahan senyuman Tasya memudar. Ia teringat apa yang ia dan Jonathan lakukan. Tasya langsung melepas pelukannya, dan menutupi dirinya sepenuhnya dengan selimut.
Jonathan tersenyum melihat Tasya yang malu-malu. Lalu ia menarik selimut agar bisa melihat wajah cantik kekasihnya ini. "Tak usah malu, kita sama-sama sudah saling melihat."
Tasya tidak menjawab, ia segera bangkit dari kasurnya, ia ingin pergi kemar mandi yang ada di dalam kamar itu. Namun kakinya baru saja menyentuh lantai, ia langsung meringis kesakitan di area miliknya.
Jonathan perlahan menggeser dan mendekatinya. "Masih Sakit ?"
Tasya hanya mengangguk kepalanya, tangannya masih mempertahankan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya. Jonathan bangkit dari kasurnya, dan ia segera memakai celana panjangnya yang ada di lantai.
Jonathan mengangkat tubuh Tasya ala bridal style. Lalu ia membawa dan masuk ke dalam kamar mandi.
.....
Jonathan membiarkan Tasya di dalam kamar mandi. Awalnya ia ingin membantu, namun Tasya menolak keras dan hanya ingin mandi sendiri.
Jonathan membereskan kasurnya. Lalu ia melihat bercak darah di kain kasurnya. Jonathan tersenyum melihatnya. Lalu ia keluar dari kamar, dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan mereka mereka berdua.
Jonathan telah selesai membuat sandwich roti tawar, ia kembali ke kamar. Di dalam ia melihat Tasya telah selesai dengan mandinya, giliran Jonathan 'lah yang mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Tasya kembali memakai ********** dan dres hitamnya yang semalam. Karena ia tak punya pakaian ganti.
.....
Jonathan memutuskan untuk kembali pulang ke Kota S. Dan meninggalkan rumah kontrakannya. Kini mereka telah masuk ke dalam mobil Dodge Charger 1969 milik laki-laki berkacamata itu.
Mereka lebih dulu datang ke hotel, karena mengingat barang-barang Tasya masih ada di kamar hotelnya dan Salsa yang juga pasti sedang menunggu kedatanganya.
.....
Tasya dan Jonathan berjalan di lorong sambil berpegangan tangan. Mereka berdua melihat Salsa yang baru saja keluar dari kamar inapnya.
Salsa terkejut. Ia bukan terkejut melihat Tasya, melainkan melihat Jonathan yang datang bersama Tasya. Ia membeku, lalu teringat kejadian tadi malam.
"Apa kematian Kevin akibat ulahnya dia ?" batin Salsa.
Tasya melepas genggamannya dan berjalan mendekati sang managernya. "Maaf aku pergi tanpa bilang-bilang."
"Ya, ya tidak masalah." jawab Salsa, lalu ia langsung menarik tangan Tasya, dan masuk ke dalam kamarnya, dan meninggalkan Jonathan di luar.
.....
"Kenapa kamu bisa bersama dia ?" tanya Salsa kepada Tasya.
Kini mereka berdua berada di dalam kamar. Tasya pun menjawab. "Karena semalam aku bertemu dengannya."
"Jadi, teman yang kamu maksud di kota ini, dia ?" tanya Salsa.
"Hah ?" sahut Tasya mengerut dahinya, dan bingung.
"Oke lupakan pertanyaanku barusan." kata Salsa yang paham. Ia yakin yang mengirim pesan semalam pasti laki-laki berkacamata itu.
Salsa menghela nafasnya. "Kevin meninggal."
Tasya memenjam matanya, lalu ia menatap Salsa. "Aku sudah tau, kak."
Tasya lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi. Salsa yang mendengar pun tak percaya. Ia akui kalau Kevin memang sudah lama tergila-gila kepada Tasya.
Namun Salsa sungguh tak menyangka kalau Kevin berani berbuat nekat sampai segitunya. Tasya juga menceritakan kalau Jonathan datang menyelamatkannya
Salsa bernafas lega. "Ya sudah sekarang apa rencanamu ?"
"Aku akan pulang bersama Jonathan kembali ke Kota S." jawab Tasya.
"Oke, aku ikut kalian." sahut Salsa, ia langsung membereskan barang-barangnya.
Tasya membuka pintu kamar, dan ia melihat Jonathan sedang bersenderan di dinding lorong. Jonathan sedang menunggunya.
"Tunggu ya, aku sama kak Salsa mau beres-beres barang dulu." kata Tasya.
Jonathan menoleh dan tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya. Tasya kembali masuk ke dalam kamar.
Sebelum membereskan barang-barangnya, Tasya memilih menggantikan pakaian lebih dulu. Setelahnya baru ia membereskan barang-barangnya.
.....
Salsa dan Tasya telah selesai membereskan barang-barang mereka. Mereka keluar dari kamarnya. Jonathan masih menunggunya.
Tasya menghampir kekasihnya sambil menarik kopernya. "Ayo !!"
Jonathan langsung merebut koper milik kekasihnya. Dan tangan satunya menggenggam tangan kekasihnya.
"Kopernya biar kubawa sendiri." kata Tasya merasa tidak enak, namun Jonathan tak menjawab, laki-laki berkacamata itu tetap menggenggam tangan Tasya dan menarik kopernya.
Salsa hanya bisa diam melihat pasangan kekasih yang berjalan di depannya. Namun ia masih waspada terhadap Jonathan, meski Tasya sudah bercerita kalau Jonathan akan perlahan berubah.