
Mobil yang dikemudikan Jonathan telah meninggal hotel. Ia kali ini akan pergi ke tempat tujuan. Tapi masalahnya ia belum tau dimana lokasinya. Setelah hampir setengah jam lebih ia mengendarai mobilnya di kota, ia pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
Ia duduk dan berdiam. Lalu dari dalam mobil, ia melihat ada dua orang pria dewasa di dalam sebuah jalan gang kecil yang sedang menghalangi seorang pemuda sekolah. Dari seragamnya, pemuda itu anak SMA.
Dibalik kaca mobilnya, kedua mata Jonathan melihat dua orang pria dewasa yang ternyata adalah preman. "Apa aku bertanya ke mereka berdua ?"
Jonathan turun dari mobilnya. Ia berjalan mendekati Kedua preman itu yang sedang memalak anak sekolahan.
Lalu penglihatannya menangkap telinga kedua pria dewasa yang ditinding dengan bentuk anting yang. Dan bentuk antingnya, sesuai yang pernah ia dengar sebelumnya.
"Bukankah sudah kukatakan kalau mau jalan gang ini kamu harus bayar !!"
"Maaf kang, tapi biasanya aku lewat sini." jawab anak laki-laki SMA itu.
"Kamu berani menatang kami berdua."
"Tapi, selama aku lewat gang jalan ini, aku tidak pernah melihat kalian berdua." kata anak SMA itu, ia sedikit ketakutan.
"Tidak usah banyak bicara kamu !!"
Dughk !!
Bruaakk !!
Anak SMA itu dan salah satu preman terkejut saat melihat preman satunya tiba-tiba terjatuh di tanah. Dan kepala belakangnya sedikit mengeluarkan darah.
"Hey anak SMA !!"
Mendengar suara asing, anak SMA itu menoleh, ia melihat seseorang dari belakang preman itu. Jonathan telah berdiri di belakang kedua preman itu, dan salah satu tangannya sambil mengemudikan batu sebesar kepalan tangannya.
Ternyata Preman yang jatuh, belakang kepalanya telah dihantam batu yang digenggam Jonathan.
"Dari pada kamu diam saja, sekarang pergi saja, urusan mereka berdua, biar aku yang urus." kata Jonathan kepada anak SMA itu.
Anak SMA itu segera pergi, dan berlari, dan sempatnya ia berteriak. "Terima Kasih !!"
Jonathan tersenyum miring, lalu ia menatap salah satu preman yang sedang membantu temannya untuk duduk. Jonathan memutar bola matanya.
"Preman dilempar batu aja udah mau pingsan." kata Jonathan.
Setelah membantu temannya untuk duduk tanah, preman satunya menatap tajam ke arah Jonathan. "Kamu mau mati !!"
Jonathan menghela nafasnya. "Tidak, aku kesini ingin bertanya, anggap saja aku tadi menyapa kalian."
"Menyapa ? Apa maksudmu." kata teman premannya yang duduk di tanah, salah satu tangannya sambil memegang kepalanya belakangnya, terlihat dari wajahnya, preman itu manahan rasa sakit.
Jonathan manatap preman yang duduk di tanah. "Bukankah aku sudah menyapamu dengan batu tadi ?"
"Sialan !!" teriak preman1.
"Aggrrhhh, mataku !!"
Jonathan segera menghantam tubuh preman1 dengan kakinya setelah ia melempar butiran tanah ke arah kedua matanya. Preman2 yang masih kesakitan di belakang kepalanya, hanya terdiam.
Preman2 diam saja saat melihat temannya diperlakukan seperti itu. Sekarang Jonathan terdiri di hadapan kedua preman itu yang terduduk di tanah.
"Apa kalian mengetahui tentang Gangster terkaya di kota ini ?" tanya Jonathan.
"Jika kami tau, kamu mau apa ?" tanya preman2.
"Katakan, dimana tempatnya." jawab Jonathan tegas.
"Apa kamu ingin setor nyawa ke mereka." tanya preman2 mengejek.
"Kamu yakin, ingin pergi kesana ?" tanya Preman2.
"Jika kalian tau, katakan dimana tempatnya." jawab Jonathan.
"Kamu ingin bertemu pemimpin kami, berarti kamu ingin mencari masalah dengannya." bukan preman2 yang berbicara, tapi Preman1 yang kedua tangannya mengucek-ngucek matanya.
"Sudah kuduga, kalian berdua pasti adalah anggota gangster di kota ini, dari penampilan kalian berdua sudah kelihatan." kata Jonathan, karena ia melihat anting mereka berdua di telinga kiri, dan anting mereka adalah lambang anggota gangster.
"Jadi, katakan dimana tempatnya ?" lanjutnya bertanya.
"Kamu kira kami akan memberitahumu setelah apa yang kamu Lalu kepada kita berdua." kata preman2.
"Asal kamu tau, pemimpin gangster kami bukanlah orang sembarangan, tak hanya memiliki segalanya, tapi dia juga kuat." kata preman1.
"Tidak sembarangan orang bertemu dengannya." kata Preman2.
Dor !! Dor !!
Jonathan menembaki mereka berdua dengan pistolnya. Dengan langkah cepat, ia segera mengambil dompet dan ponsel mereka berdua.
"Terimakasih." ucap Jonathan terkekeh, ia sagera pergi dari tempat itu.
Sebenarnya ia ingin bermain-main dulu dengan keduanya, hanya saja, watkunya tidak tepat. Hari masih siang, dan letak jalan gang kecil ity adalah tempat umum. Bisa menimbulkan kekacauan nantinya.
Jonathan segera masuk kedalam mobil. Lalu menyalakan dan melajukan mobilnya kembali ke hotel. Dan kedua mayat tadi dibiarkan begitu saja, nanti jugaada yanh mengurusnya.
.....
Setelah sampai kembali ke hotel. Jonathan memarkirkan mobilnya. Selesai sudah, ia segera pergi meninggalkan mobilnya diparkiran, dan menaiki lift ke lantai atas, tempat kamar yang ia sewa.
Kini ia berjalan di lorong, melawati banyak pintu. Lalu ia berjalan melewati pintu nomer 209, kamar para ketiga gadis, siapa lagi kalu bukan Laura, dan kedua temannya.
Sedangkan kamarnya, nomer 210. Tak lupa ia membuka kunci pintunya. Ia pun masuk ke dalam kamar yang ia sewa. Ingin sekali langsung tidur, tapi ia memilih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
.....
Di kamar lain.
Terlihat ketiga gadis itu tengah sibuk menonton TV di kamar hotelnya. Mereka mulai bosan. Perut mereka pun lapar.
"Perutku sudah lapar." kata Nita.
"Aku juga." kata Sarah.
"Apa kita memesan makanan hotel ? Atau beli online ?" tanya Laura.
"Kita makan makanan hotel aja, lagian pasti Jonathan yang membayarnya, secara dia kan yang membawa kita kesini." sahut Sarah sambil tersenyum sesuatu.
.....
Kembali ke kamar Jonathan.
Jonathan sudah selesai mandi membersihkan dirinya, kini ia duduk di kasur. Lalu ia mengambil kedua dompet dan ponsel yang baru saja ia dapat di kejadian tadi.
Jonathan membuka kedua dompet, dan ia melihat ada banyak sekali uang berwarna merah dan biru. Ia tersenyum puas melihatnya. "Preman tapi kaya. Pasti pemimpinnya jauh lebih kaya."
Selesai sudah menghitung total uangnya dan uang hasil rampasannya. Ia segera meraih kedua ponsel yang ia dapat di kejadian tadi. Ia membuka layar kunci kedua ponsel itu hanya saja dengan menggeser saja.
Jonathan melihat-lihat isi pesan di dalam kedua ponsel itu. Sesuai dugaan, di riwayat di kedua ponsel itu juga ada nama alamat markas gangster dan letak lokasinya.
"Baiklah, aku lebih baik istirahat untuk malam nanti."