
Hari telah malam. Dan waktu telah menunjukan jam 10 malam. Di dalam ruangan bawah tanah, terlihat seorang laki-laki muda tengah menghubungi seseorang.
Tutttt.
"Halo. Mas ?"_Tasya..
"Halo, sayang.."_Jonathan.
"Mas ? Kamu dimana ? Kenapa kamu belum pulang ?"_Tasya.
"Aku sedang ada urusan, sayang."_Jonathan.
"Kamu baik-baik saja 'kan ?"_Tasya.
"Aku baik-baik saja."_Jonathan
"Kamu kapan pulangnya, mas ?"_Tasya.
"Maaf sayang, mungkin aku akan pulang besok pagi. Kamu tidak perlu khawatir, aku disini tidak sendiri, aku bersama Rino dan Tony."_Jonathan.
"Memangnya kamu sedang dimana ?"_Tasya.
"Aku ada di hatimu, sayang. Sudah dulu ya. I love you."_Jonathan.
Tutt.
Jonathan telah selesai menghubungi istrinya. Ia cepat-cepat menutup sambungannya, kalau tidak, istrinya pasti akan banyak bertanya. Setidaknya ia telah memberi kabar. Mendengar suara istrinya, ia sudsh menduga, kalau Tasya tengah khawatir padanya.
Lalu ia memberikan ponselnya kepada Rino. Rino menerimanya. Rino juga memberi pisau dapur, dan Jonathan dengan senang hati menerimanya.
"Tony, aku ingin kamu mencari data-data tentang Andri. SEMUANYA !!"
Jonathan memberi perintah kepada Tony. Tony mengangguk kepalanya, ia segera meraih laptopnya dan mengerjakan tugasnya.
Jonathan, Rino, dan Tony masih di dalam ruangan bawah tanah. Kelima anak buahnya tengah berjaga di luar pintu ruangan itu. Sedangkan kelima anak buahnya lagi sedang pergi keluar untuk menjalankan perintah tuan mereka. Dan dua anak buah Andri yang sebelumnya, telah disingkirkan atas perintah Jonathan.
Jonathan berjongkok di hadapan seseorang yang sudah berani memulai bermain dengannya. Siapa lagi kalau bukan Andri, dia terbaring terikat di lantai. Andri masih tak percaya sekarang keadaannya terbalik. Ia kembali teringat, seharusnya tidak terpancing emosi.
Tangan kiri Jonathan mencengkram kepala Andri dan menekannya ke lantai. Lalu tangan kanannya, mengarahkan pisaunya dan mendekati salah satu pipi Andri.
"Hmmpp !!"
"Sakit ? Bilang dong, jangan mentang-mentang mulutmu dilakban, kamu tidak mau bilang." ucap Jonathan, tersenyum saat tengannya perlahan mengolesi pipi Andri dengan ujung pisau dapurnya.
"Hmmp !! Hmmp!!"
"Hahahaha, aku sudah lama merindukan sensasi ini." ucap Jonathan sambil melukis luka di kulit pipi Andri dengan ujung pisaunya.
Setelah selesai melukis, Jonathan berdiri. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Lalu matanya tertuju le arah meja kayu. Jonathan tersenyum, lalu ia memerintahkan anak buahnya yang berjaga di luar untuk mengangkat Andri ke arah meja kayu itu.
Setelah meletakkan Andri di meja, Jonathan memerintahkan anak buahnya untuk kembali berjaga di luar pintu ruangan itu. Rino duduk santai melihat Jonathan yang sedang bersenang-senang. Sedangkan Tony masih sibuk dengan laptopnya. Rino menyalakan rokoknya. Tony menoleh menatap Rino.
"Bukannya kamu berjanji kepada Sarah untuk berhenti merokok ?" tanya Tony.
"Tak apa, sesekali saja." jawab Rino, lalu ia menawarkan bungkus rokoknya kepada Tony. Dan Tony menolaknya, ia memilih fokus kembali dengan laptopnya.
Jonathan kesal di buatnya, ia langsung menampar jidat laki-laki itu. Plak !! "Diamlah !! Apa matamu buta ? aku ini sedang mencukur rambutmu !!"
Jonathan sudah tidak mood dengan pisaunya. Lalu ia mencari-cari sesuatu yang ada di ruangan itu. Rino mengerut dahinya. "Tuan Jo sedang mencari apa ?"
Tak lama kemudian, Jonathan menemukan suatu barang yang cukup menarik. "Aku menemukannya !!"
Lalu ia mengambil barang itu. Rino juga ikut penasaran. Jonathan memperlihatkan pemukul baseball yang terbuat dari logam. Lalu ia berjalan kembali mendekati Andri yang terbaring terikat di meja.
Andri melihat Jonathan membawa tongkat pemukul baseball miliknya. Ia terbelalak melihat Jonathan berjalan mendekatinya. Andri berontak, ia tak ingin menjadi bahan siksaan laki-laki berstatus suami Tasya itu. namun sia-sia.
DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!!
DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!!
Jonathan memukul kaki Andri dengan pemukul baseball yang ia dapat barusan. Andri tak bisa berteriak kesakitan, karena mulutnya memang dilakban.
Jonathan berhenti memukulnya, lalu ia membuang sembarang pemukul baseballnya. Ia mendekat ke arah wajah Andri. "Bagaimana ? Pijatan terapiku, enak 'kan ?"
Jonathan tersenyum melihat wajah Andri yang benar-benar ketakutan padanya. Andri menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan ia sedang kesakitan. Jonathan mengelus kepala Andri.
"Mohon bersabar, ini ujian. Kamu harus kuat saat menjalaninya." ucap Jonathan memasang wajah iba kepada Andri.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu ruangan itu. Jonathan lalu memberi kode kepada Roni. Roni paham, ia segera membuka pintu, dan telihat salah satu anak buahnya yang ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa ?" tanya Roni.
Anak buahnya menjawab. "Permintaan Tuan Jo, Kita sudah menemukan mereka dan membawanya."
Ternyata anak buah itu adalah salah satu dari kelima anak buah yang sebelumnya tadi pergi keluar untuk menjalankan perintah tuan mereka.
Rino menghela nafasnya. Ia dan anak buahnya berjalan mendekati Tuannya. Lalu Rino memberitahu. "Tuan Jo, permintaan anda sudah telah dipenuhi."
Mendengar itu, Jonathan tersenyum menyeringai dengan kedua matanya yang melebar. Jonathan mengajak Rino dan Tony untuk keluar dan meninggalkan Andri di dalam ruangan itu.
Setelah keluar, Jonathan, Rino, dan Tony berhadapan dengan semua anak buahnya. Diantara anak buahnya, ada tiga orang asing yang berbadan ideal. Jonathan memperhatikan tiga orang yang dibawa anak buahnya.
"Apa mereka betiga benar-benar homo ? Gay ?" tanya Jonathan.
Kelima buahnya yang membawa dua orang itu mengangguk-angguk cepat. Jonathan tersenyum menyeringai. Ya, dia yang meminta kepada anak buahnya untuk mencari dan membawa tiga laki-laki homo atau gay.
Jonathan memandang jijik ke arah tiga laki-laki homo itu. Lalu ia bersuara. "Hei kalian bertiga !! Masuklah ke dalam ruangan ini. Didalam ada seorang laki-laki yang sudah kusiapkan untuk memuaskan hasrat kalian."
Tiga laki-laki homo itu menunduk, tak berani memandang Jonathan yang merupakan pemimpin Gangsters yang menakutkan. Meteka bertiga segera berjalan masuk ke dalam ruangan, yang dimana ada Andri yang masih tergelatak terikat di meja.
Setelah 3 laki-laki homo itu masuk, Jonathan menyuruh salah anak satu anak buahnya untuk menutup dan mengunci pintunya. Lalu Jonathan memandang ke semua anak buahnya. Ia juga memandang Rino dan Tony.
"Apa kalian normal ? Kalau kalian sama seperti mereka bertiga, silahkan bergabung ke dalam. Kalau normal sepertiku, silahkan bubar." ucap Jonathan memandang jijik.
Tentu saja semua dan termasuk dirinya normal. Mereka semua segera menjauh dari tempat itu, dan menjalanlan tugas mereka masing-masing untuk berjaga-jaga.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam ruangan. Suara teriakan itu yang tak lain suara teriakan Andri. Dan Jonathan, ia tersenyum menyeringai mendengarkannya.