
Jonathan telah berada di dalam ruangan VIP, ia duduk tempat kursi yang disediakan. Dihadapannya adalah seorang pria dewasa yang kemungkinan berumur 40 tahunan. Meja mereka telah berisi makanan yang mahal. Namun tak ada yang memakannya
Jonathan hanya memasang wajah datar. Karena ini adalah pertemuan seseorang dari perusahaan yang ada di kota J. Jadi ia memilih tak memasang wajah polosnya, dan. Padahal beberapa hari yang lalu ia dan pria itu sudah saling bertemu.
Pria itu menginginkan kerja sama dengan perusahaannya. Namun untuk apa pria itu meminta padanya untuk bertemu dengan seperti saat ini. Di ruang VIP. Pria itu terlihat murah senyum, namun di balik senyumannya, Jonathan bisa menilai senyuman pria itu palsu.
"Jadi, ada perlu apa anda ingin menemui saya, pak Jimmy ?" tanya Jonathan to the point.
Pria bernama Jimmy tersenyum, lalu ia bersuara. "Apa perlu kita makan dulu, tuan muda Jonathan ?"
"Tidak perlu, karena saya sedang terburu-buru." jawab Jonathan.
Jimmy memasang wajah seriusnya. Lalu ia bersuara. "Saya ingin mengatakan sesuatu padamu."
Dalam pikiran Jonathan, ia bertanya-tanya apa tujuan pria itu. Tapi ia masih memasang wajah datarnya. Pria itu kembali bersuara. "Apa kamu masih mengingat Nadia ?"
Jonathan menatap heran. Namun ia merasa tidak asing. Sekilas ia sedikit sakit di kepalanya. Jonathan menatap Jimmy. "Nadia ? Siapa Nadia ?"
Jimmy terkekeh. "Apa kamu benar-benar suda melupakan Nadia ?"
"Melupakan ? Aku tanya padamu, siapa Nadia ?" tanya Jonathan.
"Jadi kamu benar-benar melupakannya ?" tanya Jimmy, lalu ia terkekeh.
Jonathan kembali menatap dingin. Jika ia tak ingat janjinya, pria ini sudah ia siksa karena sudah membuatnya kesal karena penasaran.
Jonathan pun berdiri dari duduknya. "Aku tidak ingin membuang-buang waktuku."
Jonathan melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar. Namun, baru beberapa langkah, Jimmy bersuara, dan itu mampu membuat Jonathan menghentikan langkah kakinya. "Nadia, dia adalah ibumu."
Jonathan terhenti mendengarnya. "Nadia ibu dari pemilik tubuh ini ?"
Lalu ia merasa sedikit sakit lagi di kepalanya. Tangan kirinya memegang kepalanya. Dalam pikirannya Jonathan mengingat siapa Nadia. Ya ibu kandung yang telah melahirkannya. Ibunya yang tega meninggalkan dirinya dan ayahnya karena tak tahan hidup sederhana. Dan memilih pergi dengan laki-laki lain yang kaya.
Jimmy melihat Jonathan memegang kepalanya, pun heran. "Kenapa dia seperti itu responnya ?"
Jonathan menurunkan tangannya. Ia sudah tak merasakan sakit lagi di kepalanya. Jonathan membalikkan tubuhnya, dan menatap Jimmy yang juga sedang menatap dirinya.
Jonathan berjalan mendekati Jimmy. Kini mereka sama berhadapan. Jonathan bersuara. "Jadi kamu, orang tua yang telah merebut ibuku dariku ?"
Jimmy terkekeh, lalu ia berkata. "Melihatmu tadi memegang kepala, kukira kamu hilang ingatan."
Jonathan menatap dingin pada Jimmy. "Lalu apa yang kamu inginkan, apa itu ada hubungannya dengan ibuku itu ?"
"Apa kamu tidak mau menemuinya ?" tanya Jimmy.
"Menemuinya ya ?" sahut Jonathan, lalu ia tersenyum menyeringai. "Justru aku tidak ingin bertemu dengannya, yang tega meninggalkan anaknya dan suaminya. Apa perlu kukatakan kalau ibuku yang bernama Nadia itu adalah wanita murahan ?"
Jonathan pun pergi dari tempat itu. Jimmy masih terdiam melihat dan mendengar Jonathan yang sangat berbeda. Jimmy pun mengusap kasar wajahnya. "Sial, rencanaku gagal."
Jimmy baru mengetahui kalau Jonathan, anak dari istrinya dan suami pertamanya sekarang lebih sukses darinya. Karena beberapa hari yang lalu saat pertemuan pertamanya dengan Jonathan, Jimmy merasa tidak asing dengan wajahnya yang begitu mirip dengan laki-laki yang ia kenali.
Lalu saat itu, ia bertanya siapa nama ayahnya. Jonathan menjawab nama ayahnya adalah Joelian. Seketika Jimmy terdiam, lalu ia tersadar, kalau Jonathan adalah anak dari Nadia dan suami pertamanya.
Jimmy tak menyangka kalau Jonathan sekarang lebih sukses darinya. Jimmy belum memberitahu kepada Nadia, kalau Jonathan telah menjadi orang kaya dan sukses.
Jimmy yang begitu haus akan kekayaan, ia ingin memanfaatkan Jonathan, kerena mengingat kalau laki-laki berkacamata itu adalah Putra dari istrinya. Namun tak disangka, respon Jonathan sungguh diluar dugaan, seakan tidak peduli dengan ibu yang sudah melahirkannya.
Jimmy kembali duduk. ia menghela nafasnya. "Sepertinya, aku terlalu terburu-buru," lalu ia tersenyum sesuatu.
.....
Disisi Jonathan, ia telah keluar dari restauran, dan masuk ke dalam mobil miliknya. Dia segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Jonathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Namun hatinya merasa kesal dan marah. Meski tubuhnya bukan miliknya, tapi ia merasa rasa sedih yang dialami oleh pemilik tubuhnya.
Meski dikehidupan sebelumnya, ia memang tak memiliki keluarga, dan ia dibesarkan di panti asuhan. Dan sekarang dikehidupan keduanya ia menempati tubuh yang kehidupannya sudah menyedihkan.
Jonathan terkekeh mengingat ingatan dari pemilik tubuhnya. "Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya dan suaminya. Aku tidak aka membiarkan tubuh ini menemui ibunya."
Jonathan melajukan mobilnya untuk pulang. Lebih baik ia tak memikirkan hal itu. Dan lebih baik fokus dengan pernikahannya nanti.
.....
Hari terus bejalan. Tak terasa sudah dimana hari pernikahan Jonathan dan Tasya. Pernikahan mereka tertutup. Hanya orang-orang terdekat mereka yang datang. Waktu juga telah menunjukan telah jam 10 pagi. Jonathan telah mengenakan jas hitam. Ia tak mengenakan kacamata, ia mengenakan soflen. Itu pun Laura, Sarah, dan Nita menyarankan dan memaksannya.
Rambut hitamnya baru kali ini tersisir rapi kebelakang, tidak seperti biasanya. Jonathan telah siap. Ia masih di rumah besarnya. Rino sudah menyuruh semua anak buahnya untuk memperketat keamanan pernikahan tuannya.
Merasa semua sudah siap, Jonathan dan rombongannya akan berangkat ke rumah calon pengantin wanitanya. Jonathan yang telah siap, ia segera keluar dari kamarnya. Rino, Tony, Laura, Sarah, Dika, Nita, Agil, Selly, David, dan Sinta sudah menunggu di ruang tamu, dan mereka sudah siap untuk berangkat..
"Ayo kita berangkat !!" ucap David yang bersemangat.
"Tuan Jo yang menikah, kenapa kamu yang semangat ?" tanya Agil heran dengan David.
"Aku semangat karena aku ingin makan-makan banyak !!" jawab David, karena hobinya yang suk la makan, namun anehnya badannya tidak pernah membesar.
"Sudahlah, ayo kita segera berangkat. calon pengantin wanita dan keluarganya pasti sudah menunggu kita." kata Laura. dan yang lainnya mengiyakan.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Jonathan satu mobil dengan Rino, Sarah, Laura, dan Tony. Rino yang mengemudi mobil Lexus Ls 500 miliknya. Jonathan duduk dibelakang, ditengah-tengah antara Laura dan Tony.
Sedangkan yang Nita, Dika, Selly, David, Sinta,.dan Agil satu mobil Toyota Alphard milik Dika. Mereka pun pergi menuju ke kediaman keluarga Tasya yang sudah menunggu calon pengantin pria dan rombongannya.