
Hari ini Jonathan tidak pergi ke kantor. Karena hari ini adalah hari ia akan berangkat ke kampus untuk kuliah.
Ya, Jonathan melanjutkan kuliahnya yang tertunda. Di susianya yang akan menginjak 22 tahun, ia melanjutkan kuliahnya yang sudah tertinggal 3 semester.
Laura, Nita, dan Sarah juga melanjutkan kuliahnya. Mereka bertiga akan kuliah satu kampus dengan Jonathan. Rino yang mengurusnya, dengan begitu, mereka berempat tinggal masuk ke kampus.
Waktu sudah mendekati siang.
Laura, Sarah, dan Nita masuk ke dalam mobil. Rino yang mengemudikan mobilnya. Jonathan memilih menaiki motor matic.
Rino sudah mengajaknya untuk berangkat bersama. Namun Jonathan menolak, ia memilih menaiki motor maticnya. Rino pun akhirnya tak bisa memaksa tuannya.
Dika, Tony, Agil, David, Sinta, dan Selly sudah berangkat ke kantor. Mereka berenam tak hanya sebagai anggota penting di kelompoknya, tapi juga bekerja di perusahaan Jonathan.
.....
"Aku heran sama tuan Jonathan." ucap Rino yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Heran kenapa ?" tanya Sarah yang duduk di kursi penumpang di sampingnya.
"Tuan Jonathan berangkat dan memilih naik motor dari pada ikut satu mobil dengan kita." jawab Rino.
"Biarkan saja apa yang diinginkan Jonathan, dia agak susah dikasih tau." balas Laura yang duduk di kursi penumpang.
"Tapi, kenapa tuan Jonathan juga harus berpenampilan seperti itu ? Aku jadi khawatir jika ada yang menghina penampilannya." kata Rino yang pandangannya masih fokus melihat jalan.
Nita tertawa kecil, Laura yang duduk di sampingnya mengerut dahinya. "Kamu kenapa ketawa ?"
Nita menghentikan tawanya, lalu ia menjawab. "Kak Rino, kamu khawatir sama Jonathan ?"
Rino pun menjawab. "Bukan Tuan Jonathan yang saya khawatirkan. Tapi yang saya khawatirkan orang yang akan menjelekan tuan Jonathan nantinya."
Mendengar jawaban Rino, Laura dan Nita tertawa. Mereka berdua pun teringat sebelum Agil dan David melatih mereka bela diri.
***
Flashback.
Setahun yang lalu.
Awalnya, Rino yang menyewa seseorang yang profesional untuk melatih Laura, Nita, dan Sinta. Lalu menambah Selly yang juga ikut bergabung.
Guru mereka berempat cukup hebat dalam hal taekwondo. Guru mereka bernama Rustam, dan berumur 30 tahun.
Rustam mengajari mereka dengan baik. Ketika disuatu hari, saat sedang melatih para perempuan, ia tak sengaja melihat Jonathan.
Jonathan yang biasa namun rapi, ia sedang duduk di salah satu kursi kosong di taman dekat tempat para perempuan sedang berlatih. Jonathan sedang asyik bermain game di ponselnya.
Rustam terkekeh melihat penampilan Jonathan, lalu ia berguman. "Dasar culun."
Memang dari awal Rustam melatih para perempuan, ia belum pernah melihat sosok Jonathan. Karena Jonathan selalu sibuk diluar bersama anak buahnya, dan pergi ke perusahaannya.
Jadi ketika Jonathan pulang, Rustam sudah pulang lebih dulu. Jadi mereka berdua tidak pernah bertemu, atau bertatap muka.
Laura, Nita, Sinta, dan Selly yang mendengar guman Rustam, pun menatapnya.
"Pelatih Rustam, bisakah anda jangan meremehkan penampilan dia ?" kata Nita.
"Aku tidak meremehkannya." Rustam mengelak sambil tersenyum.
Laura pun bersuara. "Tapi dari pandangan pelatih Rustam, anda terlihat sedang meremehkannya."
Rustam pun tertawa kecil. "Gimana ya, dari penampilannya begitu, aku menyimpulkan kalau dia itu tidak berguna. Seharusnya dia ikut berlatih, bukan bermain game. Seperti anak kecil saja."
"Sudahlah, ayo !! Lanjutkan latihan kita." lanjutnya.
Akhirnya, Laura, Nita, Sinta, dan Selly melanjutkan latihan mereka. Mereka tidak ingin berkomentar apapun. Rustam pun juga mulai kembali fokus mengajari mereka bertiga.
Jonathan yang sedang bermain game di ponselnya, pun melirik ke arah mereka berlima. Sebenarnya ia mendengar semuanya, ia memilih asyik dengan game di ponselnya dan hanya menghela nafasnya.
.....
Beberapa saat kemudian.
"Aggrrhhh..!!" Rustam berteriak lalu berlutut dan memegang belakang kepalanya.
Tiba-tiba dari belakang kepalanya terhantam benda keras. Laura, Nita, Sinta, dan Selly terkejut melihat Jonathan yang tiba-tiba melempar batu sebesar kepalan tangannya kepada guru mereka.
Rustam meringis kesakitan di kepalanya, ia merasa pusing. Laura, Nita, Sinta, dan Selly sampai terpaku melihatnya. Aksi gila yang dilakukan oleh Jonathan kepada guru mereka.
Rustam masih memegang belakang kepalanya, ia bangun, namun belum sempat berbalik untuk melihat siapa yang sudah berani melemparinya dengan batu, dari belakang sudah ada yang menghantamnya.
BUGH !!
Ternyata Jonathan menghantam punggung Rustam dengan kedua kakinya, setelah ia berlari dan melompat ke arahnya.
Braakk !!
"Aggrrhhh !!"
Rustam terdorong dan terjatuh tengkurap di tanah. Jonathan kembali mengambil batu besarnya yang tadi, lalu ia berjongkok di dekat kaki Rustam dan menghantamnya.
Duak !! Duak !! Duak !! Duak !!
Krakk !!
"Aggrrhhh !!" Rustam kembali berteriak keras karena sakit. Kakinya di hantam batu oleh laki-laki berkacamata ini.
Tak hanya itu, kaki yang satunya juga Jonathan hantamkan dengan batunya.
Duak !!
Rustam berteriak kesakitan. Kedua pergelangan tulang kakinya patah, mungkin hancur.
Jonathan berdiri, lalu dengan kuat-kuat ia melempar batunya lagi ke arah tangan kiri Rustam.
Duak !!
Kraakk !!
Rustam lagi-lagi berteriak kesakitan.
Jonathan melompat ke punggung Rustam dan meloncat-loncat. Rustam hanya bisa berteriak terus, dan meminta tolong. Tulang punggung terasa patah.
Tak ada yang berani menghentikan aksi Jonathan yang sudah menggila. Rino pun segera datang dan merangkul tuannya, lalu menariknya dan segera ia bawa untuk menjauhi Rustam yang sudah menangis meminta tolong.
Jonathan segera menghempaskan agar Rino melepasnya. Setelah terlepas, Jonathan segera kembali duduk di kursi dan melanjutkan gamenya.
.....
Setelah kejadian itu Rustam baru menyadari kalau yang ia hina adalah ketua Gangster yang baru. Dari Penampilan culunnya benar-benar sebagai topeng untuk menutupi sisi lainnya.
Setelah mendapat perawatan yang baik, dan sembuh, Rustam tak bisa mengajar bela diri seterusnya, karena kedua kakinya sudah tidak diperbolehkan memaksanya untuk berdiri terlalu lama.
Sekarang Rustam hanya menggunakan kursi roda. Kejiwaannya sudah sangat takut bila melihat Jonathan yang hanya berjalan melewatinya.
Setelah itu, yang melatih para perempuan berlatih bela diri adalah Agil. Lalu Rino menambahkan anak buahnya yang bernama David untuk membantu Agil.
Karena Sarah yang sudah membaik dan ikut bergabung. Jadi Rino menambahkan David untuk membantu Agil agar lebih mudah saat melatih para perempuan.
Flashback end.
***
Laura dan Nita tertawa mengingat cerita itu. Rino yang sedang mengemudi juga ikut tertawa mendengarnya, Sarah pun juga ikut tertawa.
Sebenarnya para perempuan di rumah besar itu mengakui Jonathan memanglah tampan. Andai saja Jonathan merubah penampilan dari biasanya, pasti bisa membuat semua perempuan tergila-gila padanya.
Tak lama kemudian mobil mereka telah sampai di kampus. Rino membawa mobilnya ke dalam parkiran. Laura, Nita, dan Sarah keluar dari mobil.
Mereka berjalan menjauhi mobil setelah berpamitan kepada Rino yang sudah mereka anggap sebagai kakak.
Di dalam mobil, Rino juga melihat motor tuannya yang sudah terparkir. Ia bernafas lega. Rino menjalankan mobilnya, lalu ia pergi kantor.