
Ada sebuah mobil hitam terparkir di samping POM bensin. Tony sibuk mengotak-atik laptopnya. Dika duduk di kursi kemudi. Di kusi belakang, Jonathan duduk santai dengan tatapan datar ke arah depan.
Sudah dua hari mereka menetap diam di dalam mobil. Sesekali Tony atau Duka keluar untuk membeli makan. Dan kadang mereka bertiga bergantian ke toilet saat ingin membuang air.
"Tuan, berita tentang kematian Max telah masuk berita." ucap Tony setelah membaca berita dari dalam laptopnya, dan memberitahunya kepada Jonathan.
"Aku sudah menduganya, hal ini sudah biasa bagiku." ucap Jonathan dengan tenang.
"Sudah biasa ?" batin Dika dan Tony.
Dika dan Tony masih penuh tanda tanya tentang tuan mereka yang baru ini. Pasalnya tuan mereka tetap tenang saja.
Berita tentang tewasnya Max, pasti akan menjadi berita utama. Max terkenal karena usahanya. Namun hanya beberapa rekan kerjanya yang tau kalau Max adalah ketua Mafia.
Karena kematian Max diberitakan, Kemungkinan kedudukan ketua Mafia pasti di perebutkan oleh rekan saingannya. Namun itu tidak mudah, karena masih ada ketua pendahulu, Bams.
Ditambah kematian Max sangat mengerikan, mayatnya tak ada kepalanya. Berita tentang semua karyawan dan petugas keamanan pingsan tak sadarkan diri di perusahaannya, telah menyebar.
Semua yang membaca berita itu, merasa tidak percaya, kalau ada seorang yang sudah berani membunuh salah satu pengusaha sukses. Cara menyelinap masuk dengan cara yang tak terduga.
Dika mulai melajukan mobilnya untuk mulai dekat dengan lokasi. Kini mereka telah berjarak hanya berjarak 200 meter dari kediaman Bams. Situasi di rumah Bams masih berduka atas kematian Max.
Sekitaran kediaman Bams memang agak jauh dengan perumahan. Mungkin Bams yang sengaja memilih lokasinya.
Karena memang Bams selalu suka dengan ketenangan. Dan di dalam rumah pasti banyak sekali barang-barang yang ilegal, bahkan yang terlarang.
Cukup banyak pengawal yang berjaga di halaman rumah itu. Jonathan berencana akan masuk ke dalam rumah itu dan bertemu Bams untuk membalas dendamnya.
Saat ini Tony memulai aksinya. Ia akan membajak CCTV rumah Bams. Jonathan dan Dika turun dari mobil. Mereka sudah siap dengan perlengkapan mereka.
Jonathan dan Dika membawa tas punggung mereka. Dalam tas mereka berdua sudah ada senjata dan semua keperluan yang akan dibutuhkan dalam misinya.
Jonathan dan Dika mulai terpisah, Jonathan berjalan mendekati pintu gerbang rumah itu, ia berdiri seakan-akan sedang menunggu angkutan. Sedangkan Dika, ia berjalan ke arah belakang rumah itu.
Jonathan kini tengah menunggu Dika. Dika yang sudah di belakang rumah, ia tak bisa masuk karena ada tembok yang membatasi, tapi itu tidak masalah, karena itu sesuai rencana tuannya.
Dika membuka tas punggungnya. Tak lupa ia mengenakan kaos tangan. Lalu ia mangambil sebuah kota sebesar kota bungkus sepatu.
Lalu Dika mangaktifkannya, dan melempar tinggi agar melewati tembok rumah itu. Karena di belakang rumah itu sudah pasti ada taman.
Dika langsung berjalan cepat menjauh. Ia tak berlari, karena jika berlari akan ada yang curiga melihatnya, itupun kalau ada yang melihatnya.
Dika berjalan menuju ke tempat tuannya. Terlihat tuannya seperti orang pandai dalam berakting.
Jonathan melihat Dika yang sudah kembali, lalu ia berkata. "Sudah kamu lakukan ?"
"Sudah tuan." Dika menjawab.
Jonathan mengangguk kepalanya. "Kita bersiap."
Jonathan dan Dika berdiri di dekat pintu gerbang rumah itu. Mereka berdua benar-benar seperti sedang menunggu angkutan umum.
Lalu ada salah satu penjaga menghampiri mereka berdua. "Apa yang sedang kalian lakukan ?"
"Kami berdua sedang menunggu angkutan umum." jawab Jonathan sambil membenarkan kacamata.
"Kalian ingin pergi kemana ?"
"Kami ingin jalan-jalan di hari liburan kami." Jonathan yang menjawab.
Dika hanya diam dan tersenyum. Ia marasa tuannya sangat ahli dalam hal ini.
"Liburan ? Ini kan bukan hari sabtu dan minggu. Biasanya karyawan libur di dua hari itu."
Jonathan terkekeh. "Kami hanya karyawan dunia retail pak. Sabtu dan minggu mana bisa libur untuk kelas karyawan retail."
Penjaga itu mengangguk-angguk kepalanya. "Benar juga. Karena aku punya tetangga yang kerja semacam itu."
DUAR !! DUAR !! DUAR !!
"Suara ledakan ?" guman penjaga itu.
Jonathan, Dika, dan Penjaga itu melihat para penjaga di halaman rumah Bams berlarian masuk ke dalam untuk taman yang ada du belakang rumah tuannya.
"Seperti suara bom ?" tanya penjaga itu.
"Kenapa bisa ada penyusup ?" lanjutnya
Lalu ia segera pergi ke dalam.
Dor !!
Baru saja masuk melewati pintu pagar, ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Ada tiga penjaga yang berjaga terkejut.
Dor !! Dor !! Dor !!
Belum sempat akan mengambil pistol mereka di balik bajunya, tubuh mereka keburu jatuh dan tak sadarkan diri setelah Jonathan menembaknya.
Jonathan bersama Dika masuk ke dalam halaman rumah itu. Dan Dika juga mengeluarkan kedua senjata dari dalam tas punggungnya.
Mereka berjalan melewati halam depan rumah. Lalu ada para penjaga berbadan besar datang dan berseragam. Dika langsung menembakinya.
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Semua para penjaga mati. Dika menembaknya dengan menggunakan dua buah TMP Pistol di kedua genggaman tangannya.
Jonathan tersenyum atas aksi Dika. Dan Dika mengangguk kepalanya, ia sudah siap untuk maju.
.....
Disisi Tony, ia juga sudah meretas semua CCTV di rumah besar itu. Dan ia mulai pindah duduk di kursi kemudi. Lalu ia jalankan untuk masuk ke lokasi.
Mobil yang dikemudikan Tony memasuki halam rumah. Ia juga segera turun dan membantu Dika, dan tuannya.
Ada beberapa penjaga keluar dari samping kanan kiri rumah. Mereka berlari sambil menggenggam pistol mereka.
Tony pun juga tak mau kalah, ia segera mengeluarkan kedua TMP Pistolnya dan menembaki mereka semua.
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Sambil menembak, Tony melangkah mundur menuju masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar hati-hati dalam menghindar. Baginya tergores kecil saja itu adalah hal yang fatal dalam menjalankan misi.
Setelah semua tewas ditembakinya, muncul Dika berjalan mendekati Tony. Dika telah selesai membunuh semua orang yang ada di dalam rumah itu.
"Bagaimana ?" tanya Dika.
"Semua CCTV disini sudah kuretas. Kita pasti aman sesuai rencana tuan kita." jawab Tony. "Dimana tuan ?" lanjutnya.
"Tuan kita sedang berada di dalam ruangan bersama targetnya." jawab Dika.
"Baiklah, kita tinggal menunggu tuan kita." balas Tony, dan Dika mengangguk kepalanya.