
Jonathan berdiri dari Jongkoknya. Botol kaca yang ia genggam, kini ia membuka tutup botolnya. Lalu ia tuangkan botol kaca yang berisi minuman beralkohol itu ke kepala Adit.
Perih !!
Rasa perih yang dirasakan Adit. Air yang mengandung alkohol membasahi kepalanya, dan terkena lukanya. Adit meronta, ia pun mulai bangkit dan ingin segera membalas perbuatan Jonathan.
Namun belum sempat berdiri, Jonathan sudah lebih dulu berdiri, dan kedua tangannya langsung memegang kepalanya.
Duak !!
Kepala Adit terhantam lutut laki-laki berkacamata itu. Adit pun terjatuh tergeletak di lantai. Pandangan matanya mulai memudar.
Jonathan berdiri di depan Adit yang sudah geletak tak berdaya. Ia pun memegang kedua kaki Adit dan menyeretnya.
Jonathan menyeretnya dan membawanya ke keluar kamar. Adit yang tubuhnya terseret-seret, hanya bisa diam, tubuhnya lemas, mungkin darahnya sudah keluar banyak dari luka di wajahnya.
Setelah di luar kamar, Jonathan melepas genggamannya. Ia pun mengangkat tubuh Adit yang sudah tidak melawan. Adit hanya diam, namun kesadarannya masih sedikit terjaga.
Tanpa basa-basi, Jonathan melempar tubuh Adit ke lantai satu.
Bruak !!!
Laura dan Nita yang sedang berjaga di dekat tubuh Aji yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri pun terkejut. Mereka melihat Adit yang sudah tergeletak tak sadarkan diri akibat Jonathan melemparnya dari lantai dua.
"Sungguh sadis kamu, Jo." batin Laura, namun mau bagaimana lagi, ini semua kesalahannya, sehingga kedua temannya diculik.
Tidak, semua adalah kesalahan mereka bertiga yang seharusnya tidak pergi dari laki-laki berkacamata itu. Jonathan segera turun ke lantai satu.
"Kalian pergilah ke kamar tempat Sarah berada dan tenangkan dia. Agar tidak berbuat yang tidak-tidak." ucap Jonathan setelah menuruni anak tangga.
Ia segera keluar vila menuju mobilnya untuk mengambil tali tambang dan lakban. Laura dan Nita langsung bergerak dan mempercepat langkah mereka untuk menemui Sarah.
.....
Laura dan Nita sudah menenangkan Sarah. Awal bertemu saja, mereka berdua dibuat terkejut melihat kondisi Sarah yang sangat-sangat kasihan.
Sarah yang melihat kedua temannya, ia hanya menangkis. Laura dan Nita berusaha menenangkan Sarah. Sarah hanya bisa diam duduk dengan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.
Laura dan Nita memeluk tubuh Sarah dan ikut menangis. Mereka berdua memeluknya dan terus mengucapkan kata-kata maaf karena telah terlambat menolongnya.
Sarah yang sudah kelelahan karena ulah kebejadtan Adit dan menangis pun tertidur. Laura dan Nita memakaikan Sarah dengan selimut rapat-rapat yang ada untuk menutupi tubuhnya.
Karena pakaian Sarah telah robek ulah laki-laki yang telah memperkosanya. Dengan bantuan Jonathan yang baru saja selesai mengikat dua laki-laki bejad itu, ia menggendong Sarah dan dibawa ke dalam mobilnya.
Jonathan memberi kunci mobilnya kepada Laura. "Bawa mobilku ke kosanmu."
Laura menerimanya. Jonathan kembali berkata. "Sekalian, bereskan semua barang-barang kalian. Kita akan pergi daerah ini."
"Pergi kemana ?" tanya Laura.
Laura mengerut dahinya. "Apa yang akan kamu lakukan ?"
Jonathan menghentikan langkah kakinya. Kepalanya sedikit menoleh. "Aku ingin bermain-main dulu disini."
Sambil tersenyum, ia pun kembali melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam vila dan menutup pintunya. Laura pun segera menjalankan perintah yang sudah diberikan oleh laki-laki berkacamata itu.
Terlihat di dalam mobil ada Nita yang duduk di belakang sambil memeluk Sarah tertidur. Nita heran karena melihat Jonathan tidak ikut masuk ke dalm mobil, dan hanya Laura saja yang masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Kenapa dia tidak ikut ?" tanya Nita.
Laura yang sudah menyalakan mobilnya, pun menjawab tanpa menoleh. "Dia ingin bermain."
Nita tidak berkata apa-apa lagi. Ia paham maksud dari jawab sahabatnya. Laura pun melajukan mobil meninggalkan tempat itu.
.....
Jonathan yang sudah di dalam sambil duduk tenang di sofa sambil menatap dua laki-laki bejad yang kedua tangan dan kedua kakinya terikat dan tubuh mereka terbaring di lantai.
Mulut Dua laki-laki itu dilakban secara melingkar dan mereka berdua hanya mengenakan boxer saja
Pikirannya tertuju ketiga gadis yang ia selamatkan tadi. "Kenapa aku harus menolong mereka ? Biasanya aku tidak peduli sama sekali."
Entah kenapa tindakannya tak sesuai ciri khasnya. Biasanya dia tidak peduli ketika melihat orang lain terkena masalah.
"Apa karena pemilik tubuh ini yang menginginkan agar aku menolong ketiga gadis tadi ? Padahal aku sadar saat melakukannya."
Itulah pertanyaan yang ada di isi kepalanya. Apa benar pemilik tubuh Jonathan yang asli menginginkan dirinya untuk menolong ?
Kalau memang begitu, seharusnya ambil kembali saja tubuhnya. Jangan menggunakan jiwa Psychopath-nya untuk menolong mereka, sungguh konyol.
Jonathan segera menepis pikirannya itu. Lalu ia kembali menatap kedua laki-laki yang geletak dan masih terikat tak sadarkan diri.
Jonathan merasa tidak nyaman dibalik resleting celananya. Dua laki-laki bejad itu masih belum sadarkan diri. Jonathan punya cara membangunkan mereka berdua dengan cara yang lain dari yang lain.
Ia pun bangun dari duduknya. Jonathan berjalan mendekat. Ia kini berdiri di depan dua laki-laki itu, dan menatap wajah mereka berdua. Jonathan tersenyum, selagi tak ada orang didalam, hanya mereka bertiga, ia segera resleting celananya.
Currrrrr...
Jorok. Sungguh jorok, namun Jonathan masa bodoh apa yang ia lakukan. Ia hanya terkekeh geli saat membuang air urine-nya di wajah kedua laki-laki bejad itu.
Aji pun terbangun, dan panik. Ia sadar kedua tangan dan kedua kakinya terikat. Ingin mengeluarkan kata-kata dari mulutnya untuk bertanya apa yang terjadi.
Namun percuma, mulut di lakban. Dan indra penciumannya menangkap aroma yang sangat-sangat tidak asing. Seketika ia terbelalak saat sudah tau aroma apa yang ia hirup.
Ia menoleh kesana kemari. Aji terkejut melihat sampingnya ada temannya yang juga terikat seperti dirinya. Adit yang kesakitan dan perih pada lukanya pun juga terbangun.
"Aahhh, leganya. Dan kalian bangun juga. Hahahaha... Ada gunanya juga air urine-ku."