
Rombongan Jonathan telah sampai. Keluarga Tasya dan kerabat dekat juga sudah berkumpul dan menunggu di dalam. Rombongan Jonathan pun keluar dari mobil. Semua pandangan tertuju ke arah Jonathan. Bahkan sepupu-sepupu perempuan Tasya pun juga terpesona akan ketampanan laki-laki yang akan menjadi suami Tasya.
Semua orang menyambut kedatangan Jonathan dan rombongannya. Jonathan dipersilahkan untuk melangkah mendekati penghulu dan Hendro yang duduk bersebelahan. Jonathan segera duduk dihadapan mereka berdua. Saksi telah siap. Jonathan dan Hendro saling menggenggam tangan.
.....
Cukup sekali, Jonathan lancar mengucapkan ijab kobul. Setelah mendengar kata Sah, kini Jonathan dan Tasya telah resmi pasangan suami istri. Tasya yang masih di kamarnya dan duduk di depan meja rias. Ia mengenakan gaun putih salju. Ia bagaikan putri bidadari. Tasya belum keluar dari kamarnya, Sang mama setia menemaninya.
Ninda, sang mama memegang pundak Putrinya. "Selamat sayang, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri."
Tasya bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Ninda. "Maafin Tasya Ma, kalau selama ini Tasya sering berbuat salah."
Ninda membalas pelukannya, dan mengusap lembut punggung Putrinya. "Sebelum kamu minta maaf, mamah sudah memaafkanmu."
Lalu mereka melepas pelukan. Mereka saling bertatap lembut. Terlihat kedua matanya mereka berkaca-kaca. Ninda memegang kedua pundak Putrinya. Dengan tegas ia berkata. "Sekarang kamu seorang istri. Untuk kedepannya kamu harus mematuhi suamimu, apapun itu!"
Ninda mengusap air mata Putrinya. "Sudah jangan menangis. Kamu sudah cantik, sekarang ayo, mamah antarkan kamu ke suamimu."
Tasya tersenyum dan mengangguk-angguk kepalanya. Lalu mereka berdua keluar dari kamar. Ninda menuntun Putrinya berjalan menuruni anak tangga. Semua pandangan orang-orang tertuju pada sang pengantin wanitanya.
Semua terkejut melihat Tasya yang begitu cantik. Dasar wajah Tasya yang sudah cantik narural, dipoles sedikit kecantikannya semakin bertambah. Jonathan yang melihat Tasya, ia tak berhenti tersenyum.
Ninda dan Tasya berjalan mendekati Hendro, sang ayah. Hendro menggenggam tangan Putrinya, lalu mereka berdua berjalan mendekati Jonathan. Kini Hendro dan Tasya berdiri dihadapan Jonathan.
"Jonathan, aku percayakan Putriku kepadamu. Berjanjilah jagalah dia, buatlah dia bahagia, sayangi dan cintai dia." pinta Hendro.
Jonathan tersenyum kepada ayah mertuanya. "Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha membahagiakannya. Aku terus dan seterusnya menyayangi dan mencintainya."
Hendro tersenyum, lalu ia menyerahkan genggaman Putrinya kepada laki-laki yang kini menjadi menantunya. Lalu Hendro menatap ke arah putrinya, ia tersenyum. "Berbahagialah Putriku."
Tasya tersenyum haru.
Kini Jonathan dan Tasya saling berdiri berhadapan, kedua tangan mereka saling menggenggam. Mereka berdua tersenyum bahagia. Semua kerabat yang melihat bertepuk tangan dan bersorak senang.
Laura yang melihatnya tak tahan mengeluarkan air matanya. Bukan karena apa-apa, melainkan ia bahagia melihat sahabat kecilnya kini telah menemukan cintanya. Tony yang berdiri di sampingnya merangkul kekasihnya.
Lalu Tony berbisik. "Setelah tuan Jo menikah, aku akan menikahimu."
Laura tersenyum mendengar dan melirik ke arah kekasihnya. "Benarkah ?"
"Kita lihat saja nanti kedepannya." jawab Tony, dan Laura yang mendengar hanya terkekeh.
Kini semua orang di dalam ruangan itu berjalan mendekati pasangan pengantin baru itu. Mereka bergantian mengucapkan kata-kata selamat. Semua orang memberi do'a kepada mereka agar selalu bahagia. Jonathan dan Tasya banyak-banyak mengucapkan kata terimakasih.
Tidak ada artis atau penyanyi kenalan Tasya yang datang, apalagi Andri. Mereka tidak ada yang datang. Karena memang Jonathan dan Tasya menikah dengan sederhana hanya kerabat dekat yang datang.
.....
Hari telah sore. Dan waktu telah menunjukan jam 5 sore. Semua orang telah pergi untuk pulang. Rino, Sarah, Laura, Tony, Dika, Nita, David, Sinta, Agil, dan Selly mendekati Jonathan dan Tasya. Mereka mengucapkan kata selamat.
Rino melepas pelukannya, Jonathan tersenyum, lalu ia membalas. "Kapan kamu menikahi Sarah ?"
Rino tersenyum malu, lalu ia melirik ke arah Sarah. Sedangkan Sarah hanya memasang wajah bingung. Karena ia tak mendengar Rino dan Jonathan yang berbisik.
Laura pun juga, ia mendekati Jonathan dan memeluknya, ia pun berkata. "Selamat sahabatku, aku berdo'a untuk kalian selalu bahagia."
"Terimakasih sahabatku." jawab Jonathan.
Semua saling berpelukkan kepada pasangan pengantin itu secara bergantian. Setelah selesai mereka bersepuluh pamit untuk pulang. David, pun mengeluarkan koper milik Jonathan. Karena Jonathan sementara akan menginap di rumah mertuannya selama beberapa hari.
Tapi disisi David, ia tak tau malunya membawa kantong plastik. Ia mangambil banyal sekali makanan dan roti-roti yang biasanya disediakan acara pernikahan sederhana.
Tasya tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Jonathan. Meski jiwanya bukanlah pemilik tubuhnya, tapi sudah sepenuhnya tubuhnya telah menjadi miliknya. Karena sudah jelas, dia sendiri 'lah yang menjalani kehidupan.
.....
Sementara Disisi Lain, di waktu bersamaan, Andri telah selesai dengan pekerjaannya. Dia pun juga baru pulang dari luar kota, ia segera pulang ke apartemennya. Dengan mobil yang ia naiki, Galang mengemudikannya dengan kecepatan standar. Andri sekilas pikirannya tertuju pada perempuan yang ia sukai. Dirinya tersenyum karena terus membayangkannya.
Rasanya, ia benar-benar ingin memilikinya. Tapi apa daya, perempuan yang ia sukai sulit didekati. Terakhir ia bertemu dengan Tasya dua minggu yang lalu saat di restauran. Namun laki-laki berkacamata itu menghalanginya. Selama dua minggu ini, ia disibukan dengan pekerjaannya karena harus ke keluar kota. Dan sekarang ia telah kembali ke kota S.
Setelah ini, Andri berencana membuat untuk kembali membujuk Tasya supaya menerima tawarannya. Entah kenapa dirinya begitu menginginkan Tasya bersinar, dan disamping itu, ia juga ingin mendekatinya.
Andri menghela nafasnya, ia pun berguman. "Cinta benar-benar membuatku gila."
.....
Hari pun telah malam.
Saat ini di kediaman Tasya dan keluarganya, tengah duduk di ruang makan. Jonathan duduk di samping Tasya, dan dihadapan ada kedua mertuanya. Mereka memakan sambil sedikit bercerita.
"Kamu libur berapa hari Jo ?" tanya Hendro.
"Tiga hari lagi, pah." jawab Jonathan, ia tak canggung memanggil ayah mertuanya sebutan 'papah', karena sebelumnya kedua mertuanya sudah menyuruhnya.
Lalu Ninda bertanya kepada Putrinya dan menantunya. "Jangan menunda punya anak ya."
Jonathan hanya tersenyum, sedangkan Tasya, ia tersenyum malu mendengarnya.
Acara makan malam pun selesai. Mereka segera pergi dari ruang makan. Kini mereka sudah di ruang keluarga. Ninda dan Hendro duduk bersebelahan di sofa, begitu juga dengan Jonathan dan Tasya.
Mereka sesekali bercerita sambil menonton TV dan memakan cemilan. Tak terasa jam sudah menunjukan jam 9 malam. Mereka menyudahi menontonnya dan pergi ke kamar mereka masing-masing.
..._________________________________...
Author sengaja ingin membuat kisah Jonathan di Season 2 berbau romantis dulu.
Merindukan kesadisan Jonathan ? Mau yang sadis atau yang lebih sadis ? Author sudah ada bayangannya. Penasaran ? Tetap ikuti terus Ceritanya.