
"Kenalkan, namaku Linda." ucap perempuan itu yang benama Linda.
Jonathan hanya membalas. "Siapa yang tanya ?"
Linda terbelalak mendengarnya. Biasanya ada laki-laki yang minta berkenalan duluan padanya atau dirinya yang memperkenalkan dirinya, pasti lawan bicaranya membalasnya dengan ramah.
Tapi laki-laki berkacamata yang duduk dihadapannya ini sungguh polos, tapi menyebalkan. Bisa-bisanya dirinya tadi sudah dikacangi, dan barusan dirinya memperkenalkan dirinya, tapi hanya dibalas 'Siapa yang tanya ?'.
Jonathan menyipit kedua matanya. "Kamu orang asing, kenapa kamu mahasiswi baru di kampus ini ?"
Kedua mata Linda melebar. Padahal dirinya juga mahasiswi di kampus. Tapi kenapa laki-laki berkacamata ini menganggap dirinya mahasiswi baru ? Sedangkan dirinya saja mahasiswa baru.
Linda berusaha tetap tenang. Laki-laki berkacamata yang merupakan tunangannya Tasya memanglah tampan. Rasanya ia ingin menginginkan laki-laki berkacamata ini, mengingat kalau Tasya adalah saingannya.
Linda berdehem. "Apa kamu punya waktu ?"
"Punya waktu ? Maksudmu, kamu sedang menanyakan sekarang jam berapa ? Buat apa kamu punya jam tangan mewah, kalau ujung-ujungnya kamu masih menanyakan 'jam berapa' kepada orang lain." jawab Jonathan polos dan sambil menunjukkan jam tangan mewah yang dipakai oleh Linda.
Linda melongo tak percaya dengan laki-laki berkacamata sekaligus tampan ini. Dirinya menanyakan waktu bertujuan untuk mengajak Jonathan jalan setelah pulang kuliah.
Sekarang Linda berniat menggoda Jonathan. Salah satu tangannya perlahan bergerak dan menyentuh punggung tangan Jonathan. Hanya tersentuh satu detik, Jonathan langsung menarik tangannya.
Jonathan langsung mengambil selembar tisu yang tersedia di meja kantin. Linda lagi-lagi dibuat kaget bukan main. Ia hanya menyentuh sedetik saja, laki-laki berkacamata ini langsung membersihkan tangannya yang barusan disentuh Linda dengan Tisu.
Sungguh penghinaan bagi Linda. Tiba-tiba Jonathan segera berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menjauh dari tempat itu. Disisi Linda ia memasang wajah kesalnya. Bisa-bisanya baru kali ini ada seorang laki-laki tak suka kehadirannya.
Linda segera pergi dari tempat itu. Beruntung suasana kantin kampus cukup sepi, jadi tak ada yang melihat. Meskipun ada yang melihat, paling hanya pedagang yang berjualan di kantin.
_____________________________________
Visual.
Linda.
_____________________________________
.....
Disisi Jonathan. Ia tengah berjalan cepat menuju parkiran. Ia masuk ke dalam mobilnya. Setelah masuk dan menutup pintu mobilnya, ia bersenderan di kursi kemudinya. Nafas Jonathan memburu, naik turun.
Kehadiran Linda, sungguh membuatnya tidak nyama sama sekali. Baginya, Linda hanyalah orang asing. Jika dirinya tidak mengingat janjinya kepada Tasya, entah apa yang akan terjadi nantinya.
Ditambah keadaan kantin tadi sepi. Kemungkinan Jonathan akan menghantam kepala Linda dengan mangkok yang berisi makanannya. "Beruntung aku mengingat janjiku. Kalau aku lupa, bisa saja mie ayamku jadi mubazir."
Setelah tenang, Jonathan memilih pergi dari kampus. Sebenarnya masih ada jam kelas. Tapi ia memilih bolos. Ia berfikir, sesekali ia membolos, karena selama ia kembali meneruskan kuliahnya, ia belum pernah membolos.
.....
Disisi Lain, Tasya telah selesai pemotretannya. Ia dan Salsa segera pergi keluar dan pulang. Namun sebelum pulang, mereka berdua memilih mampir dulu ke sebuah restauran untuk makan.
Mereka telah tempat duduk, dan memesan makanan. Mereka berdua sama-sama memesan makanan dan minuman yang sama. Steak dan Jus Alpukat. Sambil menunggu pesanan datang, Tasya dan Salsa bercerita atau mengobrol seperti biasa tentang pekerjaan.
Beberapa saat ia pesanan mereka datang. Bersamaan Tasya mendapat telepon dari Jonathan. Jonathan menelponnya dan mengentakan kalau dirinya akan datang padanya. Tasya pun mengiyakan.
Tak lama kemudian, sesuai dugaan, Jonathan datang. Dan ia duduk di samping Tasya. Jonathan hanya memesan minuman karena dirinya telah makan. Tak lama minunan yang ia pesan pun datang.
Namun hal yang tak terduga, tiba-tiba ada suara laki-laki memanggil Tasya dan Salsa. Dia 'lah Andri, ia datang bersama asistennya. Andri mendekati meja mereka bertiga. "Kebetulan sekali, apa aku boleh bergabung ?"
Tasya atau Salsa yang akan menjawab, tapi Jonathan yang duluan mengiyakan ucapan Andri. "Silahkan."
Andri dan asistennya segera duduk di kursi yang kosong, lalu mereka berdua hanya memesan minuman saja. Sambil menunggu minuman pesanan Andri dan Galang datang, Andri bercerita. "Aku dan Galang habis bertemu klien."
"Tak sengaja aku melihat kalian dari luar, jadi aku memutuskan datang masuk dan bergabung." lanjutnya. Kedua mata Andri curi-curi melirik Tasya.
Hati Andri terasa sesak. Dari awal ia masuk ke dalam restauran, ia sudah tak terima melihat Tasya duduk bersebelahan dengan Jonathan.
Disisi Tasya, ia tak merasa nyaman. Ia menyadari kalau Andri terus curi-curi melirik padanya. Tapi ia berusaha tetap tenang dan fokus meneruskan kegiatan memakan makanannya.
Sedangkan Salsa menyadari kalau Tasya tidak merasa nyaman. Tapi ia memilih diam dan tetap menikmati makanannya. Tak hanya Salsa saja, namun diam-diam Jonathan juga tau, tapi tak hanya diam, ia hanya memasang wajah polosnya.
Tiba-tiba Salsa bangkit dari duduknya. "Maaf semuanya, aku mau ke toilet."
Mendengar ucapan Salsa, Tasya pun segera bangkit juga dari duduknya. "Bareng kak. Aku juga mau ke toilet."
Salsa tau kalau Tasya merasa tak nyaman dan tak tahan. Ia pun mengiyakan kemauan Tasya. Mereka berdua berpamitan untuk pergi ke toilet. Setelah kepergian dua perempuan itu, kini di di tempat itu, hanya ada tiga laki-laki. Jonathan, Andri, dan Galang.
Andri berdehem. Jonathan yang tadinya fokus bermain game di ponselnya pun menoleh menatap ke arah Andri. Andri pun bersuara. "Selagi kita hanya bertiga. Apa kita bisa kita bicara ?"
Jonathan tersenyum polos, lalu mengangguk kepalanya. "Ya, tentu saja."
Andri berdehem lagi, lalu wajahnya mulai serius dan berwibawa layaknya seorang pemimpin. "Apa kamu tau, kalau aku telah menawarkan Tasya untuk mengorbitnya ?"
Jonathan masih tersenyum dan mengangguk kepalanya lagi. "Ya, tentu saja tau."
"Aku berencana ingin membuat Tasya semakin bersinar. Mengingat kalau dirinya memiliki bakat dalam bernyanyi, suaranya sangat indah, itu pasti dia akan naik daun dengan cepat." kata Andri.
Jonathan tersenyum mendengarnya. Andri kembali bersuara. "Namun, Tasya menolak penawaranku. Padahal sayang sekali kalau dirinya tidak menunjukan bakatnya."
Jonathan mengangguk-angguk kepala mendengar Andri bercerita. Andri kembali bersuara lagi. "Apa kamu bisa membantuku untuk membujuk Tasya agar menerima tawaranku ? Kamu sebagai tunangannya pasti juga ingin Tasya memiliki karir yang hebat."
"Aku harap kamu bisa membantuku. Jika tidak, itu sama saja kamu menghalangi impian Tasya." kata Andri lagi.
Jonathan tersenyum, dengan santainya ia berkata. "Sudah selesai Om, bicaranya ?"
_____________________________________
Visual.
Andri.
___
Galang.
_____________________________________