Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 33


Jonathan segera mengambil langkah cepat masuk ke melewati pintu gerbang, dan mencari tempat untuk bersembunyi di samping rumah besar.


Tentu saja, ulahnya tadi saat menabrak 2 preman yang menjaga pintu gerbang, semua para penjaga bergerak dan segera menuju tempat kejadian.


Disamping rumah besar, beruntung Jonathan tidak ketahuan. Ia melihat para preman yang merupakan anggota gangster berkumpul di depan. Mungkin ada 10 orang.


Selagi semua para gangster berkumpul di depan, Jonathan segera memanfaatkan situasinya untuk masuk ke rumah lewat pintu belakang. Mungkin di dalam masih ada yang berjaga, masa bodo resiko apa yang ia dapat.


Sementara di tempat kejadian tadi.


"Kenapa ada mobil disini ?"


"Hei..!! 2 kawan kita tak sadarkan diri !!"


"Cepat kembal ke dalam !! Ada penyusup !!"


"Singkirkan mobilnya !!"


Itulah ucapan para anggota gangster di tempat itu. 5 orang segera masuk kembali ke dalam rumah besar milik bos mereka, dan 5 anggota lagi memilih menetap di luar saja sambil berjaga agar jika ada penyusup keluar melarikan diri.


.....


Disisi lain, di dalam rumah besar, Jonathan sudah di lantai 2. Namun sebelumnya ia juga masuk ke ruang dapur. Tak banyak ia mengambil beberapa perlengkapan dapur yang ia lihat disana, dan ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya yang dibawanya.


Dengan sembunyi-sembunyi, Jonathan mengendap-endap agar tidak ketahuan. Lalu ia melihat salah satu pintu mewah. Ia segera mendekat, dan dengan hati-hati membuka pintu itu. Jonathan segera masuk ke dalam ruangan itu.


Setidaknya ia memilih tempat untuk bersembunyi. Kalau ada orang didalam ruangan yang ia masuki, tinggal lumpuhkan saja, beres.


Setelah masuk, beruntung tidak ada orang di dalam ruangan itu. Ternyata ruangan itu adalah kamar. Ia melihat-lihat sekeliling isi kamar itu yang cukup luas dan terlihat bagus di pandang.


Sepertinya kamar yang Jonathan masuki adalah milik dari pemilik rumah besar yang ia masuki. "Sepertinya bosnya tidur di kamar ini ?"


Tiba-tiba ia mendengar suara handle pintu kamar yang bertanda akan ada orang masuk. Jonathan segera masuk ke dalam kolong ranjang tidur. Namun setelah masuk di kolong bawah ranjang, tidak ada yang masuk.


"Sial, bikin senam jantung saja."


Jonathan menghela nafasnya. "Aku sepertinya harus sembunyi sampai yang punya kamar masuk ke dalam."


Namun hal diluar dugaan, tiba-tiba Jonathan merasa tidak nyaman dari tubuhnya. "Shit !! Kenapa disaat yang tidak tepat sih !!"


Selagi masih aman, Jonathan segera keluar dari kolong bawah ranjang. Ia berjalan cepat-cepat ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Ia sudah tidak tahan untuk buang hajatnya.


.....


Sementara, di dalam rumah besar, Terlihat ada 40 orang yang berdiri dan berkumpul di ruangan utama. Terlihat ada satu orang pria dewasa dengan tubuhnya sedikit besar dan gemuk. Ya, dia adalah bos gangsternya.


"Kenapa kalian bisa ceroboh ?" kata bos gangsternya dengan dingin.


"Maaf bos kami lengah." ucap salah satu anak buahnya.


Semua anak buahnya adalah preman, dan penampilan cukup sangar. Tapi jika berhadapan dengan bos mereka ? Mereka tidak berani, apalagi kalau bos mereka lagi marah.


"Kalian semua cari penyusup itu !! Cepat !!" kata bos gangsternya sambil berteriak memberi perintah kepada semua anak buahnya.


Semua anak buah segera pergi dan menjalankan tugas mereka yang baru saja Bos mereka berikan. Mereka semua menyebar di sekeliling rumah bos mereka untuk mencari keberadaan si penyusup.


Rudi, segera mendudukan dirinya di sofa. Di sampingnya sudah ada seorang wanita berpakaian seksi. Wanita itu dari tadi selalu bersama Rudi.


"Sayang jangan marah dong, aku takut liatnya." kata wanita yang berumur 30 tahun dengan genit, lalu ia merangkul Rudi.


"Bagaimana tidak marah, Sinta. Bisa-bisanya mereka bisa kelolosan penyusup ke rumah besarku." jawab Rudi kesal.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan kesenangan kita yang tertunda ?" kata wanita itu yang bernama Sinta, lalu mencium pipi Rudi.


Rudi menoleh dan menatap Sinta, lalu ia tersenyum menyeringai, lalu menyentuh bagian favorit milik wanitanya. "Sepertinya kamu sudah tidak tahan dengan permainan ranjangku ya ?"


"Ahhh, kaya kamu gak tau aja." jawab Sinta dengan suara desahan geli.


Rudi berdiri dari duduknya, Sinta pun juga berdiri. Mereka bergandengan tangan, dan berjalan menuju kamarnya untuk melakukan kesenangan mereka yang tertunda sebelumnya.


Rudi sebelumnya keluar dari ruang kerjanya. Ia akan pergi ke kamarnya bersama Sinta untuk melanjutkan bermain-main panas di kamar.


Baru saja memegang handle pintu kamarnya, tiba-tiba salah anak buahnya melapor kejadian kemungkinan ada penyusup masuk.


Tentu saja, marah sekaligus tidak terima ada punyusup masuk, ditambah kemenangannya tertunda. Kini, sudah amarahnya mereda, dan sekarang, Rudi akan melanjutkan kemenangannya bersama wanitanya.


Ia langsung menggendong tubuh Sinta. Dengan pelan-pelan, Rudi menggendong dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


.....


Sedangkan disisi lain, di dalam kamar, Jonathan yang sudah selesai buang hajatnya, kini ia sedang melihat-lihat barang-barang berharga di dalam kamar itu.


"Wah..., semua jam tangan ini, kalau dijual pasti masih mahal." Jonathan berguman, saat melihat koleksi jam tangan dengan merk ternama.


Mata Jonathan melihat sebuah pistol yang tergeletak di atas meja nakas dekat ranjang. Ia tersenyum menyeringai dan memegangnya. "Lihat, permainan apa yang kulakukan nanti."


Tak lama kemudian, indra pendengaran Jonathan menangkap suara handle pintu kamar. Jonathan segera masuk ke dalam kolong bawah ranjang.


Lalu ia mendengar suara mesra dan genit dari dua orang berbeda kelamin yang masuk ke dalam kamar itu.


"Ayo kita bersenang-senang sayang." suara laki-laki dewasa kepada wanitanya.


Brukk.


"Aduh sayang, pelan-pelan dong." suara perempuan dibikin genit, tubuhnya di lempar pelan ke atas ranjang.


"Ahhhh......"


Terjadilah permainan panas yang mereka lakukan, siapa lagi kalau bukan Rudi dan Sinta. Berbagai macam gaya mereka lakukan.


Ruangan kamar itu dipenuhi suara desahan kenikmatan mereka berdua. Mereka berdua bersenang-senang dalam bercinta. Tapi tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang indra pendengaran yang mendengar desahan mereka berdua.


Mungkin Rudi dan Sinta bersenang-senang atas permainan panas mereka di ranjang. Tapi tidak bagi seorang laki-laki berumur 20 tahun yang sedang bersembunyi di dalam kolong bawah ranjang mereka berdua.


Siapa lagi kalau bukan Jonathan, yang sedang bersembunyi di kolong ranjang itu. Pikirannya menjadi kacau dan entah tertuju kemana saat mendengar desahan dari permainan panas kedua manusia berbeda jenis kelamin itu.


Dalam pikirannya, Jonathan mengumpat dengan semua kata-kata mutiaranya. "@#%& @$@%%@$%@ @@$%%###....!!!"