Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 72 | S2


Tasya menatap kekasihnya. Ia terkejut, dan ia benar-benar merasa tidak percaya apa yang ia dengar tadi. Ya, dia mendengar semua kata-kata menyeramkan dari kekasihnya.


Ditambah melihat keadaan Sam yang terlihat menyedihkan dan ketakutan kepada Jonathan. Disisi Jonathan, ia menatap datar ke aeah Tasya yang juga menatapnya. Kondisi baik-baik saja.


Hanya saja perempuan itu duduk disofa dengan kedua tangan dan kedua kakinya terikat. Mulutnya juga ditutupi lakban. Jonathan dapat melihat tatapan Tasya. Ia menduga pasti Tasya terkejut.


"Tasya !! Bilang pada pacarmu jangan untuk membunuhku." ucap Sam sambil bersembunyi di balik sofa. Laki-laki itu tengah duduk di lantai. Sesekali ia meringis kesakitan.


Jonathan menghela nafasnya. Tangan kanannya meletakan pistolnya di balik bajunya. Lalu ia melepas kacamatanya, ia mengusap wajahnya. Ia kembali mengenakan kacamata lagi.


Jonathan memijit pelipisnya. Badannya bergetar. Beberapa saat kemudian Tasya terkejut melihatnya, tak hanya dia, Sam pun tak kalah main sekaligus ketakutan melihat Jonathan tiba-tiba tertawa.


"Hahahaha, ketahuan deh. Hm..., ya sudahlah. Lanjutkan saja bermainnya ya." ucap Jonathan sambil memegang dagunya. Dan berjalan mendekati Sam.


"Hihhhh...!!" Sam ketakutan, ia kembali buru-buru merayap lagi untuk menjauh.


Tapi sayangnya kedua kakinya sudah dipegang dulu oleh Jonathan. Jonathan menariknya, Sam berteriak kesakitan dan memohon agar Jonathan melepaskannya.


"Please..., ampun, lepaskan, aku takkan mengulanginya." Sam memohon.


"Wah lihatlah dirimu sekarang, aku jadi ingin melukis di wajahmu dengan warna merah darahmu, Sam." ucap Jonathan,


"Dasar iblis !! Baj_ngan kau Jonathan !! Lepaskan aku !!" Sam berteriak.


Jonathan tertawa keras, lalu ia melepas kedua kakinya Sam. Mereka masih di ruangan tengah. Sam duduk di lantai, kedua kakinya benar-benar terluka parah. Ia tak bisa kemana-kemana.


Jonathan berdiri dihadapannya sambil menggenggam pisaunya. Jonathan tersenyum melihatnya. "Seharusnya kalo kamu membenciku, datanglah padaku, bukan menculik Tasya."


"Kau akan menyesal jika membunuhku !! Kau akan terkenal di cap pembunuh di seluruh orang, karena membunuhku !!" kata Sam membentak. ia berusaha untuk berani melawannya.


Prok prok prok


Jonathan bertepuk tangan, lalu ia berhenti dan menatap Sam dengan wajah berserinya. "Wah, aku suka dengan kata-katamu. Setelah menangis, kau memiliki keberanian membentakku."


Jonathan tersenyum pada Sam, ia memutar-putarkan pisaunya di telapak tangannya. "Sepertinya harus kukasih tau hal yang menarik ya padamu."


"Kamu pasti sudah pernah mendengar berita-berita penemuan mayat 'kan." kata Jonathan sambil menghentikan memutar-putar pisaunya dan ia melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Sam pun teringat, ia terbelalak, dan menatap Jonathan. Ia juga teringat kalau ia pernah mengirim orang yang ia sewa untuk memberi Jonathan pelajaran. "Jangan-jangan kau yang sudah membunuh...."


Belum menyelesaikan kata-katanya, Jonathan memotongnya. "Ya, tepat sekali."


"Dan sekarang, kamu akan jadi korbanku yang selanjutnya, kalau diingat-ingat kamu akan menjadi korbanku yang....," ucap Jonathan menggantung. Lalu ia mengaruk-garuk kepalanya. "Korbanku yang keberapa ya ?"


Lalu ia menepuk jidatnya. "Ahh aku lupa."


Jonathan mencoba mengingat-ngingat dan berhitung sudah berapa korban mati dibunuh olehnya. Oh ayolah Jonathan, dalam kondisi seperti ini, ia masih sempat-sempatnya berfikir dan menghitung.


Jonathan memutar bola matanya seakan malas. "Sudahlah, aku pusing menghitungnya."


Hmp hmp !!


Indra pendengarannya Jonathan dan Sam mendengar suara. Jonathan tidak menoleh, hanya Sam saja yang menoleh. Ia melihat Tasya yang masih terikat dan mulutnya tertutup lakban, ia meronta karena melihat Jonathan seperti itu.


Sam kembali menatap dan tersenyum sinis kepada Jonathan. "Sebaiknya kau hentikan ini, Jonathan. Apa kamu ingin membuat Tasya kecewa padamu ?"


Jonathan menoleh dan melihat Tasya yang menatapnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Jonathan tertawa kecil melihatnya. "Sssttttt...., Kamu tenang saja, sayang. Aku ingin bermain-main dulu dengan aktor ini."


Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berharap Jonathan tidak berbuat lebih kepada Sam. Ia tak ingin Jonathan semakin menjadi. Ingin sekali memeluk Jonathan dan menghentikannya, tapi apa daya dirinya masih dalam keadaan terikat.


Tasya yang melihat dan mendengarnya hanya bisa meneteskan air matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak ingin kekasihnya melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Jonathan pun memasang wajah polosnya dan memegang dagunya. "Kamu aktor 'kan ? Bagaimana kalau kita bermain adegaaan..., ahh pasti kamu tau apa yang 'ku maksud. Pasti sangat menyenangkan."


Jonathan berjongkok dihadapan Sam. Sam langsung memundurkan tubuhnya. "Jangan mendekat !!"


"Astaga, aku baru saja berjongkok dihadapanmu, kamu langsung panik." ucap Jonathan dengan memasang wajah pura-pura heran.


Jonathan mengelus pisaunya. "Pisau ini tajam 'loh."


Plak !!


Sam menepis tangan Jonathan yang menggenggam pisaunya. Pisaunya pun terlepas ke sembarang arah.


Jonathan tersenyum menyeringai melihat Sam memberi perlawan kecil. Ia langsung mencengkram wajah Sam, ia mendorongnya dan menghantamkannya ke lantai.


DUGH !!


"Aggrrhhh !!"


Sam berteriak, belakang kepalanya sakit setelah dihantamkan ke lantai. Namun Jonathan masih tak melepaskan cengkramannya.


Jonathan masih mencengkram wajahnya Sam. Jonathan mengangkatnya dan mendorongnya lagi. Jonathan terus menghantamkan belakang kepalanya Sam ke lantai.


DUGH !! DUGH !! DUGH !!


DUGH !! DUGH !! DUGH !!


Disisi Tasya, ia melihat pisau di dekatnya. Ya, pisaunya Jonathan yang ditepis Sam ke arahnya dan tergeletak di lantai dekat kaki kursi sofa. Melihat itu, Tasya tak ingin mensia-siakan keadaan.


Selagi Jonathan dan Sam tidak memperhatikan dirinya. Tasya perlahan turun dari sofanya, dan ia berusaha meraih pisaunya untuk memotong tali yang mengikatnya.


.....


Disisi Lain.


Ada tiga mobil berjalan dengan kecepatan cukup tinggi. Laura mengendarai mobilnya dengan cepat. Sedangkan Tony yang memegang laptopnya, ia memberi arah jalan sesuai peta di layar laptopnya.


Salsa yang duduk di belakang hanya diam dan menurut saja. Tapi ia sedikit takut, karena Laura membawa mobilnya benar-benar dikecepatan tinggi, dan menerobos lampu merah lalu lintas.


"Bisakah kalian mematuhi peraturan lalu lintas. Kita bisa kena masalah nantinya." tanya Salsa sambil mengerat sabuk pengamannya.


Laura tertawa, lalu ia berkata. "Mematuhi aturan lalu lintas ? Kau bercanda ? Kamu ingin kita datang terlambat menolong Tasya ?"


"Tapi caramu membawa mobil ini terlalu berbahaya. Bisa merugikan kendaraan lain." kata Salsa.


"Mana mungkin, ini sudah mendekati tengah malam. Tidak akan banyak kendaraan yang lewat." Laura santai.


"Tapi tetap saja, kita pasti kena masalah. Banyak sekali CCTV di kota. Pasti merekam semua kendaraan yang lewat." kata Salsa.


"Semua CCTV di kota sudah 'ku retas. Jadi kita aman."


Bukan Laura yang menjawab. Laura tersenyum sambil mengemudikan mobilnya. Namun yang menjawab ialah Tony, yang dari tadi fokus dengan laptopnya. "Lagian, kita akan sampai di lokasi."


Salsa terbelalak. "Siapa sebenarnya kalian ?"