
Roni dan Tony kini telah berada di sebuah bangunan. Bangunan itu terlihat seperti rumah, dengan ukuran yang tidak besar dan tidak kecil. Tepatnya bangunan rumah itu adalah markas mereka yang baru semenjak Jonathan yang memimpin. Dan letaknya tidak jauh dari perusahaan J Company.
Hanya 10 orang saja yang Rino dan Tony panggil. 10 orang itu, ada yang berbadan kecil hingga berbadan besar. Mereka semua dari berkumpul setelah lama menyebar di kota S. Ada yang bekerja sebagai karyawan biasa hingga pedagang kaki lima, meski begitu, tuan mereka selalu rutin membayarnya tiap bulan.
Kini semua terngah menyusun rencana, Rino yang memimpin. Sedangkan Tony ia tengah sibuk mengotak-atik laptop. Setelah Rino menyelesaikan rencananya, Tony pun juga selesai dengan kegiatannya.
"Aku menemukan lokasi Tuan Jo, letaknya cukup jauh dari sini." ucap Tony, setelah ia melacak keberadaan Jonathan melalui seluruh CCTV di kota S yang ia bajak.
Rekaman yang Tony lihat, sebuah mobil hitam mencegah mobil milik tuannya. Lalu ia memperbesar layar video untuk melihat plat nomer mobil itu.
"Bagus Tony, ayo kita berangkat !!" kata Rino.
Mereka semua segera membubarkan diri, dan meninggalkan markas mereka. Semua telah masuk ke kendaraan mereka masing-masing. Kebanyakan dari mereka menggunakan sepeda motor. Rino menggunakan mobilnya, sedangkan Tony menggunakan mobil milik Jonathan.
.....
Sementara Disisi Lain.
Di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat usang, tepatnya sebuah gudang. Terlihat orang tengah marah, satu kakinya tengah menginjak perut seorang laki-laki muda yang terbaring di lantai.
"Kamu bilang masih muda ? Dan sekarang lihat siapa yang masih berdiri disini." ucap orang itu yang menginjak perut pemuda itu yang sedang terbaring di lantai.
Ya, orang itu adalah Andri. Dan pemuda yang sedang terbaring, tak lain adalah Jonathan.
BUGH !!
Andri menendang tubuh Jonathan. Jonathan meringis kesakitan. Andri segera meraih kerah pakaiannya Jonathan. "Jadi bagaimana ?"
Yang tadinya meringis kesakitan, beberapa detik kemudian Jonathan kembali terkekeh. "Jadi bagaimana apanya ?"
Andri menghempas kasar. Jonathan kembali terbaring ke lantai. Andri menatap Jonathan dengan senyuman miringnya. "Lepaskan Tasya, ceraikan dia !! Biar aku yang menggantikanmu disisinya."
Jonathan perlahan mendudukan dirinya. Lalu ia kembali terkekeh. "Bukankah, kamu ingin mengorbitnya ? Tapi kenapa sekarang menginginkan aku dan istriku berpisah ?"
"Itu bukan urusanmu !! Aku yang berhak membahagiakannya. Kamu hanyalah penghalang. Aku yang akan membahagiakannya dirinya agar bisa meraih impiannya." ucap Andri, sambil melempar tatapan remeh.
"Impian ya ?" guman Jonathan.
Ia terkekeh, lalu perlahan ia berdiri dan menatap Andri. "Kamu terlalu percaya diri."
Kedua mata Andri melebar. Ia segera melayangkan kakinya untuk menghantam Jonathan.
Hap !!
Jonathan menangkap kakinya Andri yang datang padanya.
Bruukk !!
Jonathan menariknya, Andri pun terjatuh dengan posisi duduk.
DUGH !!
Belum sempat terkejut, Jonathan sudah langsung menghantam wajah Andri dengan lulut kakinya. Andri terdorong ke belakang dan terbaring.
DUGH !!
Jonathan bergerak cepat, ia langsung menendang wajah Andri. Keluarkah darah dari kedua lubang hidung Andri. Nafas Andri memburu. Ia benar-benar tak menyangka, seorang Jonathan memberi perlawan yang tak biasa.
Creettt !!
Terdengar suara benda bergeser. Andri yang masih terbaring segera menoleh. Ia terbelalak melihat Jonathan berjalan mendekatinya sambil menyeret kursi kayu.
Andri segera bangun, ia harus menghindar dan memberi balasan untuk laki-laki itu.
Braakk !!
"Aggrrhhh !!"
Namun terlambat, baru saja bangun berdiri, Jonathan sudah lebih dulu menghantam punggungnya. Jonathan menghantam punggung Andri dengan kursi kayu bekas tempat ia terikat tadi.
Andri terdorong ke depan, dan tergelusur. Ia tengkurap di lantai. Jonathan melepaskan kursi kayunya. Ia langsung melayangkan tendangannya ke kepala Andri.
DUGH !!
.....
Kini Jonathan sedang di ruang makan. Ia memakan makanan yang ada di meja makan. Ya, dia masih di rumah Andri. Rupanya tadi ia saat ia sekap, ia berada di ruang bawah tanah yang ada di dalam rumah Andri.
Karena ia merasa lapar, ia pergi keluar dari ruangan itu, dan meninggalkan Andri yang masih tergelatak di lantai dan kedua kaki dan tangannya terikat.
Meski Jonathan masih merasakan rasa sakit di tubuhnya, tapi itu bukan apa-apa. Melainkan ia menikmati rasa sakitnya. Malah ia merasa lapar.
Setelah makan, ia segera kembali ke ruang bawah tanah tadi sambil membawa ember yang sudah berisi air dan tak lupa ia membawa pisau. Ya, pisaunya ia ambil dari dapur tadi.
Byurrr !!
Andri terbangun, ia melihat sekeliling, ia terkejut bukan main. Melihat Jonathan berdiri di hadapannya. Ia tak bisa membangunkan tubuhnya, rupanya kedua tangan dan kedua kakinya terikat.
"Kamu terkejut ? Ya sangat jelas sekali kamu sedang terkejut." ucap Jonathan tersenyum.
"Hmmpp !!" Andri ingin berteriak, namun tak bisa. Ya, mulutnya telah di lakban.
"Ahhh..., jadi teringat saat kamu memulai bermain tadi." ucap Jonathan.
Lali perlahan ia berjalan, dan berjongkok dihadapan Andri yang masih terbaring dan terikat. "Sudah lama aku ingin melukis sesuatu di wajahmu."
Andri benar-benar ketakutan sekarang. Pikirannya campur aduk. Padahal ia yang memulainya, kenapa sekarang posisinya terbalik. Dan ia juga tak menyangka kalau seorang Jonathan bisa berbuat hal yang mengejutkan.
"Hmmp !! Hmmp !!" Andri mencoba berontak saat Jonathan sedang mendekatkan pisaunya ke wajahnya. Namun percuma.
Saat beberapa senti lagi ujung pisaunya akan mendarat di kulit wajahnya. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kencang.
Brakkk !!
Jonathan menoleh kepalanya. Siapa yang sudah berani mengganggunya.
"Tuan Jo !!"
Rupanya Rino dan Tony datang masuk ke ruangan itu. Mereka telah menemukan keberadaan Jonathan. Mereka berdua masuk lalu di belakang mereka ada 10 orang berjalan mengekorinya.
Jonathan berdiri, dan menatap kesal. "Woy woy !! Kenapa kalian malah datang di saat yang tidak tepat sih. Aku sedang ingin bermain-main !!"
"Anda tidak apa-apa ?" tanya Rino.
"Tuan Jo, anda terluka." ucap Tony yang melihat wajah tampan Jonathan yang lembam.
"Aku tidak apa-apa, justru aku sedang ingin bermain dengannya." ucap Jonathan sambil menunjuk ke arah Andri yang terbaring terikat di lantai.
Rino, Tony, dan anak buahnya menuju ke aeah orang yang di tunjuk oleh tuannya. Jonathan melanjutkan kata-katanya. "Kalian malah datang mengkagetkanku. Sungguh kesal rasanya !!"
Semua yang mendengar kata-kata Jonathan hanya bisa diam menelan salivanya. Mereka tak berani ada yang menjawab.
"Sepertinya orang itu sudah berani membangunkan sisi lain Tuan Jo." batin Rino, Tony, dan yang lainnya melihat keadaan Andri.
Andri yang masih terbaring terikat, hanya bisa memasang wajah terkejutnya. Ia tak menyangka ia telah salah mencari masalah dengan Jonathan.
"Mereka berdua ?" tanya Jonathan
Jonathan menatap dua orang yang dibawa anak buahnya dalam keadaan yang sudah babak belur. Ya, dua orang itu adalah orang yang sebelumnya membawa Jonathan atas suruhan Andri.
Tony telah melacak keberadaan mereka berdua. Dan semua anak buahnya menghajarnya. Mereka yang dibuat babak belur baru memberitahu keberadaan Andri menyekap Jonathan.
"Tony kamu membawa ponselku ?" tanya Jonathan. Tony mengangguk kepalanya, lalu menyeragkan ponsel milik tuannya.
Jonathan ingin memberi kabar kepada istri agar tidak khawatir. Tapi sebelum ia menghubungi istrinya, terlintas ada sesuatu di pikirannya. Ia tersenyum dan ia berbuat sesuatu. Lalu ia membisikkan sesuatu pada Rino. Rino terbelalak mendengar.
Lalu Rino menatap tuannya. "Anda yakin ?'
Jonathan tak menjawab ia hanya tersenyum. Rino segera menyuruh 5 anak buahnya untuk menjalankan tugas tuannya. Setelah kepergian 5 anak buahnya, Jonathan tersenyum menyeringai sambil menatap Andri.
Jonathan menatap Andri dan berkata. "Kamu akan bersenang-senang."