
Waktu terus berjalan.
Hingga terasa 6 tahun terlewati. Hari ini adalah hari malam minggu. Mengingat besok hari libur, semua tengah berkumpul di taman belakang taman rumah besar mereka.
Meski tinggal satu rumah, tapi bagi mereka malam minggu adalah hari spesial untuk berkumpul, terutama bagi anak remaja. Mereka semua tengah melakukan party kecil-kecilan.
Para wanita tengah memasak. Para laki-laki juga sedang melakukan menata meja dan tempat duduk. Terlihat laki-laki bernama Rino menepuk jidatnya. "Astaga, aku lupa membeli minuman."
Tony yang ada di dekatnya bersuara. "Biar aku saja yang membelinya sekarang."
Jonathan pun menanggapinya. "Lebih baik David dan Nadien yang pergi untuk membelinya."
David yang baru saja datang membawa beberapa gelas pun mengerut dahinya. Begitu juga dengan Nadien, yang tengah membawa beberapa piring.
"Kenapa aku ?" sahut David dan Nadien bersamaan.
Semua tersenyum melihat dan mendengar jawaban mereka yang berbarengan. Jonathan bersuara. "Cepatlah beli minuman dingin."
David pun mengalah, ia menuruti permintaan tuannya. Nadien juga menuruti ucapan kakak laki-lakinya. Mereka berdua segera meletakan beberapa piring dan beberapa gelas di meja. Lalu mereka segera pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba terdengar suara anak-anak tengah berlarian. Tiba-tiba salah satu dari mereka tak sengaja sedikit mengenggol Sarah yang sedang memasak bersama wanita lainnya.
"Satria..!! Jangan berlari di dekat sini, nak !!" ucap Sarah kepada putranya.
Anak laki-laki yang baru berusia 4 tahun itu hanya tertawa kecil saat ibunya menasehati. Lalu ada anak laki-laki seumurannya datang mendekati Satria.
Mereka berdua segera berlari lagi. Nita pun bersuara. "Jordan, jangan berlari, sayang."
"Satria..!! Jangan lari-lari, nanti jatuh." ucap Sarah.
Anak Sarah dan anak Nita memang cukup aktif. Terkadang selalu membuat mereka berdua kewalahan.
"Biarkan saja mah, namanya juga anak laki-laki." ucap Rino yang sedang menata piring dan gelas bersama Jonathan, Tony, Agil, dan Dika.
"Wajar kalau anak laki-laki itu memang aktif." kata David sambil mengangguk kepalanya, setuju dengan ucapan Rino.
"Anak dan papahnya sama saja." ucap Sarah kesal.
"Ya, Sama-sama susah dikasih tau." ucap Nita.
Sarah dan Nita kesal dengan suami mereka. Lalu mereka kembali fokus memasak. Rino dan David hanya bisa tersenyum tidak berani menjawab perkataan istri mereka.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil. Semua menoleh ke sumber suara tangisan itu. Terlihat anak perempuan berusia 3 tahun tengah keluar dari dalam rumah berjalan ke arah taman tempat para orang tua tengah sibuk.
Tony pun berbicara kepada istrinya. "Mah, sepertinya Naila menangis karena mencarimu setelah bangun dari tidurnya."
"Apa kamu tidak lihat aku sedang memasak ? Lagian kamu juga telah selesai beres-beresnya." ucap Laura yang juga sedang memasak sayuran.
Para wanita tengah sibuk acara memasaknya. Karena yang makan tidaklah sedikit jadi mereka memasak banyak.
Tony pun segera berjalan mendekati Putri kecilnya yang baru saja datang menangis mencari keberadaan orang tuanya. Setelah mendekat, Tony menggendong Putrinya dan menenangkannya agar berhenti menangis.
Sementara Selly hanya bisa diam duduk. Karena ia tengah hamil besar. Kehamilannya hasil dari pernikahannya dengan Agil. Tinggal menghitung hari, akan melahirkan anak pertama mereka.
Tinggallah David yang belum menikah. Hanya saja ia tengah membuka hatinya. Jonathan dan lainnya ingin mendekatkan David dengan Nadien. Karena mereka ingin melihat David dan Nadien berjodoh.
.....
Tasya yang sedang menata piring di meja yang sudah berisi makanannya yang telah matang pun teringat. Ia menoleh dan memandang ke arah suaminya. "Ayah, apa kamu melihat..."
Jonathan yang berdiri di sampingnya dan membantunya, ia menoleh ke arah istrinya, dan memotong pertanyaannya. "Astaga, kemana anak itu ?"
"Makanya dicari. Kalau aku sedang tidak sibuk, aku pasti yang mencarinya." ucap Tasya berbicara sambil menata piringnya. Jonathan segera bangkit dari duduknya dan mencari anaknya.
Disamping Tasya, ada Nadia yang juga membantunya, ia tersenyum. Nadia bersyukur, dengan kehidupan sekarang.
Tak hanya Jonathan dan Nadien yang merupakan anak kandungnya. Menantunya juga telah ia anggap anaknya sendiri. Bahkan Laura dan yang lainnya juga ia anggap sebagai anaknya.
Begitu juga dengan mereka, yang juga menganggap dirinya sebagai ibu mereka. Kebahagiannya bertambah, ia telah memiliki 4 cucu dari keempat pasangan suami istri muda itu.
.....
Disisi Lain.
Jonathan tengah mencari anaknya. Setelah beberapa saat ia menemukan anaknya di dekat gudang belakang taman. Anaknya terlihat sedang berjongkok membelakanginya.
"Queen, kamu lagi ngapain, sayang ?" tanya Jonathan kepada anaknya.
Anaknya perempuan, dan telah berusia 5 tahun. Anaknya diberi nama 'Queen Putri Jonathan'. Orang tuanya dan orang terdekatnya, biasanya memanggilnya Queen.
Sewaktu setelah melahirkan, Tasya meminta kepada suaminya agar menamai Putri mereka dengan nama Queen, yang ia ambil dari nama Sinta.
Ya, karena Tasya ingin mengenang Sinta yang telah pergi selama-lamanya. Ia ingin memakai nama depan Sinta, karena ia sudah menganggap Sinta sebagai kakak perempuannya.
Tentu saja, Jonathan menyetujui permintaan istrinya. Lagian setelah dipikir-pikir oleh Jonathan, nama Queen, juga bagus untuk nama putrinya.
Putrinya kini sudah berusia 5 tahun, dia sangat pemalu. Dia memiliki rambut indah dan wajah cantik seperti bundanya. Sedangkan hidung, bibir, dan kedua matanya sangat mirip dengan ayahnya.
Dan ia tidak suka dengan keramaian, pasti ia akan menghindar. Queen hanya patuh terhadap ayah, bunda, dan neneknya. Bahkan ia juga patuh dengan tante-tantennya, dan paman-pamannya (orang-orang terdekatnya).
Kini kehidupannya damai semenjak kejadian terakhir yang datang padanya. Bisnis Perusahaannya bersama orang-orangnya semakin maju. Jonathan semakin dikenal sebagai pemimpin yang tegas.
Dan ia juga dikenal sebagai pemimpin kejam di dunia bisnis jika ada yang berani mencuranginya. Hingga pada akhirnya, tidak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Mendengar ayahnya memanggilnya dan berjalan mendekat, Queen berdiri dan membalikkan tubuhnya dan menjawab. "Ayah, aku gak suka sama Satria dan Jordan. Keduanya sangat berisik, suka menggangguku."
Jonathan tersenyum, dan berjongkok agar tingginya menyamai dengan tinggi Putrinya. Lalu ia mengelus lembut kepala Putrinya. "Jangan begitu. Mereka juga adik-adikmu."
Queen tidak menjawab, dan manatap polos ayahnya. Jonathan bersuara. "Kamu lagi ngapain disini ? bunda mencarimu."
Dengan polosnya ia menjawab. "Queen cuma cari tempat yang sepi, gak berisik. Terus disini Queen lihat ada belalang, jadinya Queen main disini. Terus..."
Jonathan memotong kata-kata Putrinya. "Sudah-sudah. Ayo, kita kembali, sayang. Semua sudah menunggu, waktunya makan malam bersama."
Jonathan meraih tangan kecil putrinya dengan lembut, dan mengajaknya berjalan kembali ke tempat semua orang berkumpul. Queen pun tersenyum menurut. Mereka berdua meninggalkan tempat itu dan pergi ke taman, tempat semua telah berkumpul.
Sementara ditempat itu, tempat dimana sebelumnya Queen berjongkok. Terlihat ada tubuh serangga belalang yang sudah terpisah dari keenam kakinya dan tergeletak berjajar rapi di tanah.
...- END -...