
Setelah selesai membuang air urine-nya di wajah Adit dan Aji, dengan santainya Jonathan kembali duduk di sofa. Ia tersenyum melihat kedua laki-laki bejad terbangun.
Aji dan Adit yang terbaring, dan hanya bisa mendongak kepala mereka menatap Jonathan. Ingin sekali membalas perbuatan laki-laki berkacamata itu, namun apa daya mereka yang sudah terikat.
Jonathan berdiri kembali dari duduknya. "Baiklah waktunya bermain."
Ia berjalan mendekati Aji. Adit yang disebelahnya berontak kesusahan bergerak ingin menghajar wajah laki-laki berkacamata itu.
Jonathan yang melihat Adit seperti itu, ia terkekeh. "Kamu sepertinya tidak sabar ya ?"
Adit semakin berontak, ingin berteriak, namun tidak bisa. Bukan karena mulutnya terluka, tapi ditutup rapat dengan lakban yang tebal.
Adit pun membalikkan tubuhnya, kini posisinya tengkurap, ia mencoba untuk bangun meski kedua tangan dan kedua kakinya terikat.
Dugh !!
Jonathan melompat ke arah punggung Adit yang akan berdiri. Adit meringis kesakitan karena tubuhnya terhantam ke lantai.
Dugh !! Dugh !! Dugh !!
Dugh !! Dugh !! Dugh !!
Jonathan meloncat-loncat di punggungnya Adit. Kedua mata Adit merem melek.
Krek !!
Tubuhnya sakit sudah. Dan sepertinya tulang punggungnya ada yang retak.
Jonathan menghentikan aktifitasnya. Ia turun dari punggung Adit. "Bagaimana injakanku ? Enakkan ? Katanya punggungmu pegal-pegal."
"Aku lapar." ucap Jonathan. Lalu ia pergi meninggalkan Adit dan Aji begitu saja.
Jonathan berjalan ke dapur. Ia membuka isi kulkas. Ia melihat dua bungkus mie istan goreng. "Ahh, aku sudah lama tidak makan mie istan."
Jonathan mengambil dua bungkus mie itu dan segera ia memasaknya dengan menggunakan peralatan dapur yang ada di sana.
Setelah menutup pintu kulkas, kedua matanya tidak sengaja melihat satu buah lilin di atas kulkas.
.....
"Ahh kenyangnya...."
Jonathan telah selesai memakan mie istan goreng buatannya. Ia segera minum. Lalu ia berdiri dari duduknya, dan kembali ke ruangan sebelumnya.
.....
Masih terlihat dua laki-laki tergeletak di lantai dalam posisi terikat. Jonathan mendekati sofa dan duduk kembali.
Lalu ia melihat ponselnya. "Baru satu jam, tinggal satu jam lagi."
Lalu ia mengambil salah satu ponsel yang sudah ia ambil. Ponsel itu milik dari salah satu laki-laki yang sedang terikat dihadapannya.
Jonathan membuka isi ponsel itu. "Wahhh ternyata isi ponselmu banyak sekali permainannya."
"Sambil menunggu satu jam kedepan, aku bermain game dulu ahh." ucapnya.
Lalu ia memilih salah satu aplikasi game online yang ada di dalam ponsel yang ia pegang, dan memainkannya. Sedangkan Aji berontak, ia mencoba melepaskan diri, tapi percuma.
Aji seperti itu karena tidak terima, kalau ponselnya di mainkan orang lain. Adit hanya bisa diam, ia membayangkan kalau dirinya terlepas, ia akan melakukan operasi plastik pada wajahnya.
Dan setelah itu membalas dendam kepada laki-laki berkacamata itu. Sedangkan Jonathan, ia masa podo kepada dua laki-laki ini yang sangat bau akibat air urine-nya.
Jonathan terlalu fokus memainkan salah satu game online yang cukup membuatnya ketagihan. Lagi dan lagi.
.....
Jonathan membantingkan ponsel itu. Sudah hampir satu jam Ia memainkan game di ponsel itu, dan sudah berkali-kali kalah memainkan permainannya.
Entah dia dapat timnya yang bodoh-bodoh, apa dianya yang tidak bisa memainkannya.
"Game macam apa itu ? Siapa sih yang membuatnya ? Bisa-bisa aku dapat tim yang bodoh-bodoh dan kalah berkali-kali. Mereka malah mengataiku bodoh, dan menyuruhku untuk mati ? Yang benar saja !! Akan kubunuh jika aku bertemu dengan mereka !!" Jonathan meluapkan emosinya.
Ponsel milik Aji pecah sudah setelah dibanting keras oleh Jonathan. Karena masih terbawa emosi, Jonathan memendang tubuh Aji.
Duak !!
"Karena game online di ponselmu, aku dikatai bodoh oleh mereka. Benar-benar sial !!" Jonathan mulai menggila. Ia terus menendang tubuh Aji.
Aji hanya meringis kesakitan. Ia pasrah menjadi korban amarah laki-laki berkacamata itu. Percuma ia melawan, jelas-jelas tidak akan bisa.
Jonathan menghentikan aktifitasnya. Nafasnya berburu. Ia tersadar, lalu ia mencoba menenangkan dirinya.
Dengan perlahan ia menarik nafasnya dari kedua lubang hidungnya. Lalu ia membuangnya melalui mulutnya.
Jonathan pun terkekeh. "Bisa-bisanya aku emosi karena game online. Sungguh, aku tidak menyangkan game online tadi benar-benar menguras tenagaku hanya untuk meluapkan emosiku."
"Kedepannya, aku tidak akan memainkannya." lanjutnya.
Jonathan meraih ponselnya dari saku kemejanya. Ia melihat layar ponselnya. "Sebentar lagi."
Jonathan segera pergi kembali ke dapur. Ia teringat lilin yang ia lihat tadi sebelum ia memasak.
Setelah mengambil lilin, ia segera berjalan mendekati kompor. Lalu ia melihat sebuah tabung gas 12 kilo.
.....
Jonathan telah selesai membocorkan tabung gas itu. Dan ia juga telah menyalakan lilin, lalu ia segera pergi meninggalkan ruangan dapur sekaligus, ia juga akan pergi keluar dari vila.
Jonathan berjalan melewati dua laki-laki bejad yang masih terikat. Saat ia akan mendekati pintu keluar, ia berbalik.
"Selamat malam, titip salam untuk malaikat maut."
Setelah berucap, ia segera keluar dari dalam vila. Jonathan berjalan keluar. Sesuai filingnya, mobil jemputannya baru saja datang.
Laura segera keluar dari mobil, dan berjalan mendekati Jonathan. "Apa urusanmu sudah selesai ?"
Dengan santainya Jonathan terkekeh dan menjawab. "Sudah."
Laura memberi kunci mobil milik sahabat kecilnya. Jonathan menerimanya. Laura segera masuk kembali ke dalam mobil, tapi ia duduk kursi penumpang depan.
Jonathan pun juga segera masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Terlihat di kursi penumpang belakang, ia melihat Nita masih setia memeluk Sarah yang tertidur dan berpakaian lengkap.
Jonathan menyalakan mesin mobilnya. "Apa kalian semua sudah membawa barang kalian ?"
"Sudah." sahut Laura dan Nita.
Setelah mendengar jawaban dari kedua gadis itu, Jonathan segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
.....
Sementara di dalam vila.
Aji dan Adit terus berusaha melepaskan ikatan mereka. Tapi sepertinya sangat-sangat sulit di lepaskan.
Ingin berteriak keras dan meminta tolong, tapi percuma. Mereka dapat melihat api yang membesar dari arah dapur.
Mereka menduga, kalau itu semua pasti perbuatan laki-laki berkacamata tadi sebelum pergi meninggalkan mereka.
Kini mereka berdua hanya bisa terus bergerak agar ikatan tali yang mengikat mereka terlepas. Tapi terlambat, api sudah membesar dan siap membakar seisi vila berserta kedua laki-laki itu.