
Jonathan menghela nafasnya. "Apa tidak salahnya jika seorang pembunuh menghawatirkan orang lain ?"
Laura mengerut dahinya. "Entahlah."
Lalu Laura segera keluar dari kamar kosnya. Ia merasa tidak nyaman jika berduaan bersama Jonathan di dalam.
Sambil berjalan, Laura mengaktifkan ponselnya. Ia mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi nomer ponsel Sarah. Seingatnya Sarah sudah menyalakan ponselnya.
Tutttt.
Tidak diangkat.
Lalu ia menghubungi nomer ponsel Nita.
Nomer yang anda dihubungi, sedang tidak aktif.
Fix ponsel Nita belum dinyalakan, Laura mendengus kesal, karena kedua temannya tidak bisa dihubungi sama sekali.
Jonathan pun juga segera menyusul Laura, lalu ia menggenggam lengan gadis itu. Langkah Laura terhenti, lalu ia menatap Jonathan. "Lepaskan !!"
"Kamu mau kemana ?" tanya Jonathan.
"Tentu saja aku ingin mencari teman-temanku." jawab Laura.
"Jangan, diluar berbahaya." sahut Jonathan.
Jonathan sudah yakin kalau Sarah dan Nita dalam bahaya. Karena sudah lebih dari setengah jam kedua gadis itu tidak kembali ke kosnya.
"Kalau diluar berbahaya, berarti teman-temanku dalam bahaya, berarti aku harus mencarinya." dengan tegas Laura menjawab.
"Aku akan membantumu." kata Jonathan, ia menarik lengan Laura, dan berbagi mendekati mobilnya.
Laura yang ditarik hanya diam, namun saat sudah ada didepan mobil honda jezz hitam, ia mengerut dahinya. "Ini mobil siapa ?"
"Mobilku." sahut Jonathan datar, lalu ia membuka pintu mobilnya, dan mendorong Laura untuk masuk, lalu langsung ia menutup pintu mobilnya.
Laura terdiam. "Bukankah mobilnya avanza hitam ?"
Jonathan sudah masuk, dan duduk kursi kemudinya. Laura memperhatikannya dengan tatapan heran. "Kemana mobil avanzamu ?"
"Sudah 'ku buang." jawab Jonathan santai, lalu ia menghidupkan mesin mobilnya.
Laura terkejut bukan main.
"Dibuang ? Lalu mobil ini, kamu dapat dari mana ?"
"Nanti kujelaskan setelah kita menemukan kedua temanmu." jawab Jonathan, lalu ia segera meraih ponselnya, dan menghubungi nomer Rino.
Tutttt.
"Halo tuan muda, ada yang bisa dibantu ?"
"Rino, bisakah kamu melacak nomer telepon lagi ?"
Laura yang duduk di sampingnya menoleh kepalanya dan menatap Jonathan. "Jadi dia minta bantuan untuk melacak nomerku."
"Tentu saja tuan."
"Baiklah, aku akan mengirim nomernya."
Tuttt.
Setelah mematikan sambungan teleponnya, Jonathan segera mengirim nomer ponsel milik Sarah kepada Rino. Dan tinggallah menunggu.
"Jadi kamu tau aku disini, karena melacak nomerku ?" tanya Laura.
"Iya, yang terpenting, sekarang kita cari keberadaan kedua temanmu yang bodoh itu."
Laura menatap tajam. "Kau bilang, teman-temanku bodoh ??"
Dengan santainya Jonathan menjawab. "Ya, kamu juga bodoh, sudah tau kita sedang tidak aman, kamu dan kedua temanmu pergi begitu saja."
"Karena aku tidak ingin dekat dengan seorang pembunuh." jawab Laura.
"Bisakah kamu berhenti mengatakan aku seorang pembunuh. Aku membunuh karena punya alasan !!" ucap Jonathan dengan tegas.
Laura terdiam, ia memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil. "Membunuh karena punya alasan ? Sungguh lucu."
.....
Sudah hampir setengah jam Jonathan membawa mobilnya berkeliling. Bahkan ia memutari daerah situ. Namun hasilnya nihil. Entah berapa kali mereka berdua melewati kos-kosan tadi.
Filing Jonathan mengatakan kalau kedua gadis itu masih di wilayah itu. Tapi kenapa tidak ketemu. Kalau kesasar, seharusnya ia menemukannya dipinggir jalan.
Dan Laura, ia tidak melihat temannya di kosnya. Padahal mereka sudah berputar-putar wilayah itu.
Tiba-tiba suara telpon dari Rino, lalu Jonathan menepi mobilnya, dan segera mengangkat teleponnya.
"Bagini tuan, pemilik nomer yang tuan kirim, sebenarnya lokasinya tidak jauh dari jarak tuan."
"Sudah kuduga." batin Jonathan.
"Baiklah kirim lokasinya padaku."
"Baik tuan. Apa saya segera mengirim anggota yang tinggal di dekat puncak untuk menyusul dan membantu tuan ?"
"Tidak perlu, Terimakasih, aku bisa mengatasinya sendiri."
"Baiklah tuan. Jika butuh bantuan lagi, segera hubungi saya kembali tuan."
"Tentu."
Tuttt.
Setelah Jonathan mematikan ponselnya, beberapa detik kemudian, ada kiriman Rino, tentang keberadaan lokasi Sarah.
Jonathan segera menjalankan kembali mobilnya ke tempat lokasi keberadaan Sarah dan Nita. Sungguh kebetulan, jaraknya tidak jauh, dengan begini ia berharap bisa tepat waktu.
Dan Jonathan berharap, jika Sarah dan Nita diculik, semoga yang menculiknya bukan kelompok mafia yang dipimpin oleh Max.
.....
Di sebuah Vila, yang letaknya di puncak dan tidak begitu jauh dari perumahan warga. Terlihat di dalam vila itu, ada dua laki-laki tengah berdiri di dalam kamar sambil menatap dua gadis yang ada didepan mereka.
Kedua gadis itu tak sadarkan diri dalam posisi terbaring di ranjang. Aji dan Adit puas setelah berhasil menangkap dua gadis itu. Kini di vila hanya mereka berempat. Petugas penjaga vila sudah tidak ada setelah mereka berdua menyuruhnya untuk pulang.
"Kita akan bersenang-senang." ucap Aji.
"Aku sudah tidak sabar." ucap Adit, lalu ia segera mendekat.
Adit menggendong tubuh salah satu gadis. "Aku ingin yang ini."
Aji pun mendekati gadis yang tidak dipilih Adit, dan masih terbaring di ranjanh. "Baiklah aku yang ini."
Adit segera membawa tubuh gadis itu dalam gendongannya keluar kamar. Aji pun bersuara. "Kamu mau membawanya kemana ?"
"Tentu aja ke kamar sebelah bego !! Mana mungkin aku kita bermain dengan gadia kita masing-masing dalam satu kamar !!" jawab Adit kesal, dan berlalu membawa gadisnya.
"Benar juga." guman Aji. Lalu ia menatap gadis pilihannya. "Kamu sungguh cantik, aku tidak sabar memasuki burung ke sarang milikmu."
"Ahh aku lupa, aku telah membelinya, seharusnya aku meminumnya." ucap Aji, lalu berdiri, dan berlari keluar kamar.
Setelah keluar dari kamarnya, ia menatap salah satu pintu kamar lainnya yang sudah tetutup rapat. Dan terdengar suara teriakan, yang berarti gadis yang dibawa Adit telah bangun.
"HENTIKAN !! JANGAN MENDEKAT !!"
Itulah teriakan dari dalam kamar sebelah. Aji terkekeh mendengar. Seperti Adit melempar gadisnya dari gendongannya ke ranjang, dan pada akhirnya gadisnya terbangun.
Dengan cepat Aji berlari ke pintu dan membukanya. Ia berjalan mendekati mobilnya yang ia parkir di depan vila.
"Obat kuat yang kubeli, kalau tidak kuminum akan mubazir, hahaha." ucap Aji, lalu ia menutup kembali pintu mobilnya.
Baru saja berbalik, ia terkejut ada seorang laki-laki berkacamata ada didepannya. "Siapa kamu ?"
"Apa kamu ingin bersenang-senang ?" tanya laki-laki berkacamata itu, siapa lagi kalau bukan Jonathan.
Belum sempat dijawab Aji, ada gadis yang muncul dari belakang Jonathan. "Dimana kedua temanku ?"
Aji terbelalak. Melihat gadis itu. Ya, ia pernah melihatnya. Gadis itu salah satu teman dari dua gadis yang ia dan Adit culik tadi.
"Kamu..."
DUAK !! Pranngg !!
Belum sempat berucap kepada Laura, tiba-tiba wajah Aji di cengkram Jonathan, dan mendorongnya ke kaca pintu mobil hingga pecah.
Melihat itu, Laura segera masuk ke dalam vila, meninggalkan Jonathan bersama laki-laki yang sudah terluka itu. Laura sudah sangat khawatir kepada kedua temannya.
Sedangkan masih diluar vila.
Aji terduduk di tanah sambil memegang kepala belakangnya. Sakit, rasanya sungguh sakit berdarah, pusing ,dan berdarah, ingin pingsan rasanya.
Tapi Aji tetap harus menjaga kesadarannya, Ia mendongak wajahnya, belum sempat melihat sosok laki-laki yang berkacamata itu, tiba-tiba...
JLEB !!
"Aa.. Hmppp !!"
Aji berteriak kesakitan, salah satu matanya ditusuk benda runcing. Belum sempat berteriak, mulutnya di bekap sama sosok laki-laki berkacamata yang berjongkok dihadapannya ini.
"Ssstttttt, jangan berteriak, nanti ketahuan."