
"Mamah tidak seperti itu. Mamah saat itu benar-benar terpaksa." ucap Nadia.
Jonathan terus mengarahkan pistolnya ke arah Jimmy. Ia tak menoleh sama sekali. Lalu ia menghela nafasnya dan berkata. "Ahh, kenapa aku malah terbawa perasaan, padahal aku ingin merebut dataku dan membunuhnya."
Bersamaan, Tony keluar dari ruangan kerja milik dari pemilik rumah. Ia berjalan mendekati Jonathan. Ia tak heran dengan adegan drama apa yang ia lihat. Karena selama mencari data perusahaan, ia tak sengaja mendengar semua percakapan Jonathan dan 3 oranh itu.
Tony juga tak menyangka, kalau istri dari musuh tuannya adalah ibu kandung tuannya sendiri. Setelah mendekat, Tony memegang pundak Jonathan yang masih menodong pistol kepada Jimmy yang terduduk lemas di lantai.
Merasa pundaknya di sentuh, Jonathan menoleh, ia melihat Tony sudah berdiri di dekatnya. "Sudah selesai ?"
Tony mengangguk. Jonathan bersuara lagi. "Ayo kita perg, aku sudah muak melihat keluarga ini."
Tony tetap berdiri, dan menahan Jonathan agar tidak pergi dari tempatnya. Jonathan mengerut dahinya. "Apa maumu ?"
"Selesaikan 'lah masalah keluargamu dulu Tuan Jo." jawab Tony.
Jonathan memutar bola matanya. Jujur ia tak ingin berlama-lama dan memberesi keluarga dari pemilik tubuhnya.
Tony kembali bersuara.
"Aku tau kamu sangat membencinya, tapi jangan memutuskan apapun sebelum kamu sudah menyelesaikan masalah. Alangkah lebih baiknya, kamu selesaikan masalahmu dengan ibumu."
Jonathan memandang Tony heran. "Tidak biasanya kamu bersikap bijak seperti ini, Tony."
Tony menjawab. "Aku tidak memiliki orang tua sejak aku lahir. Aku tidak ingin kamu menyesal, Tuan Jo. Karena kamu masih memiliki ibu dan adilmu."
"Cih, sejak lahir aku juga tidak memiliki keluarga." batin Jonathan.
Jonathan menghela nafasnya. Ya, karena dikehidupan sebelumnya, ia memang tidak memiliki keluarga. Ia tumbuh besar di panti asuhan. Namun ia teringat dulu kalau dirinya ingin sekali memiliki keluarga. Dan sekarang pemilik tubuhnya masih memiliki sisa keluarga.
.....
Kini semua keadaan tidak begitu tegang seperti sebelumnya. Setelah berfikir, Jonathan menurunkan egonya. Kini semua duduk di ruang tamu. Jonathan duduk di sofa dan berhadapan Nadia dan Nadien, hanya meja kaca yang membatasi mereka.
Sedangkan Jimmy, ia diikat lagi dan mulutnya ditutupi lakban, oleh Tony di lantai dekat ketiga orang itu. Dan Tony yang menjaganya. Karena awalnya Jimmy berontak, dan berteriak kepada Nadia dan menyumpahinya, seakan ia tak ingin Nadien mendengarnya. Disitulah Jonathan dan Tony sudah curiga ada sesuatu yang disembunyikan.
Awalnya Nadien menolak, ia tak ingin Jimmy diperlakukan seperti itu. Dan herannya Nadia tidak membatah atas apa yang diperlakukan Jonathan dan Tony kepada Jimmy. Namun dengan bujukan Nadia, Nadien pun diam, karena juga penasaran dengan masalah yang menimpa kepada keluarga sehingga dirinya tidak tau kalau kakak laki-lakinya ternyata masih hidup.
Nadia pun mulai bercerita awal saat dirinya hidup bahagia bahagai berstatus istri Joelian. Hingga Jimmy datang menghancurkan rumah tangganya. Ia bercerita tidak melebih-lebihkan dan mengurang-kurangkan apa yang ia ceritakan. Nadia bercerita sambil menangis.
.
.
Singkat Cerita. (Karena di BAB 86 sudah diceritakan)
.
.
"Tapi sungguh hingga sekarang, mamah tidak pernah mencintai laki-laki laknat itu." ucap Nadia sambil memandang benci dan menunjuk ke arah Jimmy.
Nadia telah menyelesaikan ceritanya. Hingga akhirnya ia terbawa emosi dimana ia harus bersandiwara karena ancaman Jimmy. Tidak hanya Jonathan, Tony yang sedang menjaga Jimmy terikat, juga terkejut melihat Nadia emosi.
Bahkan Nadien, terdiam saja setelah mendengar kebenaran yang diceritakan oleh Nadia. Dalam pikirnannya, ia tak menyangka ayah tirinya yang selama ini sayang padanya, ternyata memiliki rahasia yang telah menyebabkan keluarga kecilnya hancur.
Jimmy yang masih terikat erat dan tergelatak di lantai, hanya bisa berontak. "Hmmpp...!! Hmmpp...!!"
Plak..!!
"Diam...!! Sudah bau tanah, masih saja aktif bergerak. Gak cape apa ?" ucap Tony setelah menampar pipi Jimmy.
Jimmy terlihat meringis kesakitan. Ia menatap sinis ke arah Tony yang menghalanginya. Tony hanya memandangnya dengan tatapan mengejek.
Kembali kesisi Jonathan, Nadia, dan Nadien. Nadia kembali duduk ke sofa. Tubuh Nadia bergetar dan menagis. Nadien hanya bisa duduk diam, tatapannya kosong. Jonathan yang melihat ibunya dan adiknya seperti itu, ia hanya menghela nafasnya.
"Kenapa suasana jadi seperti ini ?" batin Jonathan.
Jonathan berbicara kepada Tony. "Lepaskan lakbannya aku ingin mendengar kata-katanya."
Dengan kasar Tony melepas lakban yang menutupi mulut Jimmy. Mulut dan kedua pipi Jimmy sakit diperlakukan.
"Dasar perempuan tidak tau diri !! Tidak tau berterima kasih !! Aku sudah menampung kamu, lalu ini balasanmu !!" ucap Jimmy membentak.
Nadia menatap tajam, lalu ia berdiri dari tempat duduknya. "Bukankah selama ini kamu yang menahanku dan putriku. Kalau aku mau, dari dulu aku ingin sekali pergi. Tapi aku mengingat kalau aku pergi, kamu mengancamku, akan membunuh Joelian dan Jonathan."
Nafas Nadia naik turun, air matanya mengalir keluar dari kedua matanya. Jonathan melihat dan mendengar Nadia seperti itu, entah kenapa, dadanya sesak.
Jonathan langsung berdiri, dan langsung berlari, ke arah Jimmy yang masih tergeletak di lantai. Tony melihat Jonathan berlari mendekat, ia segera menghindar, karena ia sudah bisa menebak.
DUGH !!
Uhukk !!
Sesuai dugaan Tony, Jonathan menendang dada Jimmy. Kalau ia tidak menghindar, ia bisa terkena juga.
DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!!
Jonathan telah selesai wajah Jimmy dengan alas sepatu kakinya. Jonathan menyeringai setelah melakukan itu dan melihat wajah Jimmy yang benar-benar penuh lembam dan darah, Jonathan pun bersuara. "Kamu ingin membunuhku ? Jangan melucu, sekarang kamu lihat, siapa yang akan dibunuh."
Nadia membeku melihat Jonathan menyiksa Jimmy seperti barusan. Jonathan membalikkan tubuhnya dan menatap Nadia.
Jonathan pun bersuara. "Jadi, setelah ini apa ?"
Nadia mengeluarkan air matanya, lalu ia kembali duduk di samping Nadien. Ia pun menjawab. "Semua terserah padamu. Jika kamu masih benci sama mamah, mamah ikhlas. Tinggalkan mamah dan adikmu. Cukup melihatmu, mamah sudah sangat senang." ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Bawalah mereka pulang."
Tiba-tiba indra pendengarannya mendengar suara yang mirip dengannya. Jonathan seketika membeku melihat sosok pemilik tubuhnya tengah berdiri di belakang Nadia dan Nadien.
"Bawalah mereka pulang bersamamu. Sekarang mereka adalah keluargamu. Aku mohon, ini permintaanku."
Hanya Jonathan 'lah yang mendengar kata-kata itu dari pemilik tubuhnya. Sosok itu tersenyum hangat padanya. Jonathan menatap sosok itu, ia pun tersenyum simpul, lalu ia mengangguk kecil kepalanya.
Sosok pemilik tubuhnya tersenyum, dan perlahan menghilang dari tempat ia berdiri. "Jagalah ibuku dan adikku."
...________________________________...
Sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya lagi. Seperti sebelumnya, author masih lagi sibuk-sibuknya di dunia nyata, sungguh terlalu keadaannya.
Tapi tenang saja, author usahain cerita ini sampai selesai, meskipun pelan-pelan. Dan kemungkinan lagi, Novel 'Laki-Laki Culun Psychopath' akan tamat.
Terimakasih.