Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 104 | S2


Jonathan terus memgendarai mobilnya dengan kecepatan tidak umum. Meski jarak sudah dekat, ia tidak ingin membuang-buang waktunya. Ia mengabaikan rasa lelah agar ia bisa menemukan keberadaan istrinya.


Beberapa lama kemudian, ia telah sampai di lokasi. Dan benar saja, ia telah bekerja di tempat yang tidak jauh dari pedesaan, banyak sekali pohon, tepatnya bekas pabrik kecil yang sudah lama ditutup.


Jonathan melihat ada dua laki-laki berbadan besar berjaga di depan pintu di sebuah bangunan yang sangat kotor, tepatnya gudang. Jonathan segera turun dari mobilnya setelah ia mengambil peralatannya.


Tanpa bersembunyi-sembunyi, Jonathan berjalan ke arah dua laki-laki itu. Tentu saja, dua laki-laki itu menatap ke arahnya, mereka berdua tidak diam saja. Mereka tidak akan membiarkan orang asing masuk tanpa persetujuan tuan mereka.


Jonathan berjalan mendekati dua laki-laki itu. Perlahan kedua pupil warna matanya menjadi coklat gelap. Kini mereka saling berdiri berhadapan. Dua laki-laki berbadan besar itu menghalangi jalan Jonathan.


"Siapa kamu ? Kami tidak akan membiarkan orang asing datang kemari." ucap salah satu dari mereka berdua.


"Siapa aku ?" sahut Jonathan bertanya, sambil sedikit memiringkan kepalanya.


Lalu ia melanjutkan kata-katanya. "Tentu saja, aku memiliki hubungan khusus dengan perempuan yang ada di dalam."


Kedua laki-laki itu terbelalak mendengar jawaban dari Jonathan. Mereka tidak akan membiarkan Jonathan melewatinya begitu saja. Mereka segera mengambil tindakan kekerasan.


Namun sayang, Jonathan sudah lebih dulu melancarkan aksinya.


JLEB !!


Aggrrhhh !!


Jonathan menusuk belatinya ke perut salah satu dari mereka. Laki-laki yang satu melihat temannya perutnya ditusuk, ia terkejut, tentu saja tidak terima. Ia langsung mengahar wajah Jonathan.


BUGH !!


Jonathan terdorong setelah wajahnya menerima hantaman oleh salah satu dari mereka. Namun bersamaan Jonathan terdorong, perut laki-laki yang tertusuk, lukanya melebar.


Sreettt.


Ya, karena belati yang tertusuk pada perutnya tidak dilepas, hanya masih digenggam oleh pemiliknya. Tentu saja, saat Jonathan terdorong, bersamaan luka tusukan melebar. Selebar kurang lebih 20 cm.


"Aggrrhhh...!! Perutku...!!" teriak laki-laki itu kesakitan.


Luka perutnya melebar bukan main. Darahnya keluar cukup deras. Laki-laki itu berlutut sambil memeluk perutnya, agar darahnya tidak keluar. Namun mustahil luka selebar itu, tentu saja pasti akan sangat parah jika tidak dihentikan perndarahannya.


Beberapa saat kemudian, kesadaran laki-laki itu memudar. Tubuhnya melemas. Darahnya keluar mengalir sangat banyak. Pada akhirnya, ia tumbang. Entah dia mati atau tidak. Yang jelas, dia akan mati jika tidak segera ditangani.


Jonathan tersenyum menyeringai melihat pemandangan itu. Ya, dia sudah merencanakannya, ia sengaja menerima pukulan di wajahnya, jadi saat ia terdorong, belatinya yang masih ia genggam, akan membuat luka yang lebar pada korban pertamanya..


Laki-laki satunya, yang merupakan temannya marah karena temannya telah tergeletak tak berdaya. Ia melihat tajam ke arah Jonathan yang sedang duduk di tanah sambil tersenyum melihat temannya yang sudah tumbang.


"Brengsek !! Apa yang kau lakukan !!" laki-laki itu mendekati temannya yang sudah tumbang.


Jonathan yang duduk di tanah, ia mengerut dahinya. "Apa yang kulakukan ? Tentu saja, aku membunuhnya."


Laki-laki itu mencoba membangunkannya, agar temannya tetap sadar. Tapi tetap saja, temannya benar-benar sudah kehilangan kesadarannya atas darahnya yang yang terus mengalir keluar.


Jonathan bangun dan berdiri menatap laki-laki itu. Ia tersenyum menyeringai. Tangannya memutar-putar belatinya. "Ahh, pemandangan yang sangat menyedihkan."


Laki-laki itu berdiri. "Aku akan membunuhmu !!"


Jonathan menghentikan memainkan belatinya. Ia menghela nafasnya dengan malas. Lalu jari kelingkingnya menggaruk-garuk salah satu telinganya. "Tidak usah kebanyakan bicara. Mendengarmu banyak bicara, itu sudah membuat telingaku terasa gatal."


Laki-laki berbadan besar itu, semakin marah. Ia berjalan mendekati Jonathan. Ia sudah tidak sabar membuat Jonathan babak belur. Namun baru beberapa langkah saja, terdengar suara pistol.


Laki-laki itu langsung berlutut, salah satu kakinya tertembak. Ia meringis kesakitan. Sedangkan Jonathan, ia mengerut dahinya, ia mencari sekelilingnya.


Ternyata Rino dan pasukannya datang. Mereka semua berlari mendekati Jonathan. Sedangkan Jonathan langsung mengacak-acak rambutnya, seakan ia frustasi.


Mereka yang sudah berdiri di depan Jonathan, Jonathan langsung memarahi mereka. "Kamvet !! Jangan ganggu kesenanganku !! Aggrrhhh !!"


Rino dan yang lainnya hanya diam. Namun dalam diamnya, mereka menahan tawanya melihat tuannya yang terlihat kesal karena kesenangannya terganggu.


"Tuan Jo, lebih baik, sekarang kamu ke dalam bangunan. Sekarang keselamatan istrimu hal yang utama." ucap Rino, dan yang lainnya mengangguk kepalanya seakan membenarkan kata-kata Rino.


Jonathan pun tersadar, warna pupil kedua matanya kembali seperti semula. Lalu spontan ia bersuara. "Benar juga."


Tanpa basa-basi, Jonathan membuang belatinya dan langsung berlari mendekati salah satu bangunan. Sementara, Rino dan yang lainnya membereskan tempat sisa permainan tuan mereka tadi.


.....


Jonathan telah masuk ke dalam setelah ia memaksa mendobrak pintu. Ia melihat Tasya yang sudah tak sadarkan diri dalam posisi duduk terikat. Jonathan segera mendekat, dan melepaskan tali yang mengikat istrinya.


Tasya kini dalam gendongan suaminya. Jonathan berjalan membawanya keluar dari bangunan itu. Ia segera membawanya masuk ke dalam mobil. Ia khawatir dan akan membawa istrinya ke rumah sakit.


"Tuan Jo !!" Rino memanggil, dan berjalan mendekat.


"Rino, kamu urus semuanya disini! Cari siapa yang sudah berani mencari masalah denganku!" ucap Jonathan, lalu berlalu mendekati mobilnya.


Rino pun segera menjalankan perintah tuannya. Lalu ia berjalan mendekati laki-laki berbadan besar yang baru saja kakinya tertembak oleh pistol miliknya. Ia akan menahannya untuk mengintrogasinya.


.....


Hari sudah malam.


Beberapa lama kemudian, Jonathan telah berhasil membawa istrinya ke rumah sakit. Kini ia sedang luar ruangan sambil menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan istrinya.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Jonathan langsung menghampiri dokter yang juga keluar dari ruangannya.


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter ?" tanya Jonathan.


"Istri anda baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Istri anda hanya sedikit stres saja, dan janin yang di dalam kandungan juga sehat, tidak ada masalah." jawab dokter itu.


"Ahh, syukurlah." sahut Jonathan, lalu ia terdiam, dan menatap dokter itu. "Kandungan ?"


Dokter itu tersenyum. "Apa anda belum mengetahui kalau istri anda sudah hamil ?"


Jonathan terbelalak. "Istri saya hamil ?"


Dokter itu hanya terkekeh. "Benar, istri anda hamil. Dijaga baik-baik ya. Jangan membuatnya stres dan banyak pikiran. Dan saya sebagai dokter mengucapkan selamat, anda akan menjadi seorang ayah."


Jonathan tersenyum haru. "Terimakasih, doker."


"Baiklah, saya mohon undur diri. Anda bisa menemuinya setelah dibawa ruang perawatan." kata Dokter itu, dan pamit pergi.


Tak lama kemudian, beberapa petugas perawat datang untuk memindahkan Tasya ke ruang perawatan.


Jonathan segera menghubungi Laura, dan yang lainnya yang sedang menunggu di rumah besarnya untuk memberitahu kalau Tasya sudah dtemukan. Dan ia juga memberitahu tentang kabar bahagianya.