
Dengan perlahan Luara membuka kedua bola matanya. Rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Sedikit lemas ia rasakan, ia melihat sekelilingnya, ia tengah berada di dalam sebuah ruangan.
Kesadarannya telah terkumpul. Laura baru menyadari kalau dirinya terikat di kursi. Kedua tangan, dan kedua kakinya terikat. Tak hanya itu, ia juga melihat ke samping kanannya, ada Sarah dan di samping kanannya ada juga Nita.
Mereka berdua bernasib sama dengannya. Sama-sama terikat dikursi. Laura tak mengerti, kenapa dia dan kedua temannya diculik ? Selama ini ia tak memiliki musuh. Apa semua ini Jonathan yang melakukan ? Sepetinya tidak, ia pernah mengganggu kegiatannya.
"Sarah !! Nita !!"
Laura memanggil kedua temannya. Tapi mereka berdua masih belum sadarkan diri. Laura memanggilnya lagi.
"Sarah !! Nita !! Bangun !!"
Laura memanggil mereka berdua dengan suara nada tingginya. Dan benar saja, Sarah dan Nita terbangun.
Seperti Laura, mereka berdua melihat sekelilingnya, beberapa saat kemudian, kesadaran mereka telah terkumpul. Dan mereka berdua langsung panik saat menyadari kalau mereka tengah terikat di kursi.
"Ini dimana ? Tolong !! Siapapun tolong !!" Nita berteriak meminta tolong.
Sarah hanya diam, baginya situasi yang ia alami, seperti cerita-cerita novel yang ia baca. Entah sebagai tokoh utama atau tokoh teman. Yang jelas, ia telah diculik, dan dikurung di dalam sebuah bangunan yang mungkin saja jauh dari kota.
Sarah cuma bisa mengharapkan, ada seseorang yang datang menolong, seperti cerita-certa novel yang ia baca. Tiba-tiba terdengar suara langkah kakinya mendekat. Ketiga gadis itu menoleh, mereka melihat empat laki-laki.
Empat laki-laki dewasa tidak asing dimata Laura dan kedua temannya. Laura pun teringat, ternyata keempat laki-laki dewasa yang menculik mereka.
"Lepaskan kami !!" Nita berteriak.
Keempat laki-laki itu hanya tertawa. Lalu salah satu dari mereka bersuara. "Sebentar lagi, tuan kita akan datang. Kalian bersiap-siaplah."
Setelah mengatakan itu, keempat laki-laki dewasa itu pergi keluar meninggalkan ketiga gadis itu di dalam ruangan.
"Lepaskan kami !!" Nita terus berteriak.
Sarah yang sudah bosan mendengar teriakan Nita pun bersuara. "Cukup Nita, mereka adalah penculik, mana mau mereka melepaskan kita."
"Terus kita harus bagaimana ?" Nita yang khawatir.
"Aku cuma bisa berharap, ada seseorang yang datang menyelamatkan kita." jawab Sarah.
Laura tenang, meskipun ia dalam situasi yang tidak mengenakan, ia harus tetap tenang.
"Ini pasti ulah laki-laki culun itu !!"
Laura menoleh ke arah Sarah dengan tatapan dinginn. "Kenapa kamu bisa menebak semua ini adalah ulah Jonathan."
"Karena hanya kita bertiga yang tau siapa Jonathan yang sebenarnya." jawab Sarah.
Sarah bersuara lagi. "Kenapa sih, manusia culun dia mengganggu hidup kita. Bukankah kita tidak melakukan apa-apa yang berhubungan dengannya 'kan ?"
Nita hanya diam, namun saat mendengar kata-kata Sarah, ia merasa ada benarnya. Karena ia merasa hanya mereka bertiga yang tau siapa sosok laki-laki culun itu.
"Ya, aku tidak habis pikir, kenapa dia semakin menjadi, kita jelas-jelas tidak mengganggu kegiatannya, justru kita jaga jarak dengannya." kata Nita.
Sarah semakin membenci Jonathan. Ia merasa Jonathan yang telah menyuruh keempat laki-laki dewasa tadi untuk menculiknya dan kedua temannya.
Laura hanya diam, ia merasa ada benarnya perkataan Sarah dan Nita. Tapi entah kenapa dalam hatinya mengatakan kalau Jonathan tidaklah yang melakukannya.
Tak hanya Laura, Sarah dan Nita terbelalak tak percaya melihat ketiga Laki-laki ini. Sungguh sangat tidak asing, bahkan ketiga gadis ini benar-benar tidak percaya.
Riki, Ciko, dan Angga. Itulah laki-laki yang mereka kenal. Riki menyuruh keempat laki-laki yang berdiri di belakangnya, untuk keluar, dan menyuruhnya untuk berjaga.
Keempat laki-laki itu pergi keluar meninggalkan Riki dan kedua temannya. Kini di dalam ruangan hanya ada Riki, Ciko, dan Angga yang sedang berdiri di depan ketiga gadis yang terikat di kursi.
Riki memandang Laura sambil tersenyum. Sedangkan Laura hanya membalasnya dengan pandangan dinginnya.
Sedangkan Ciko, ia menatap Sarah dengan senyuman yang susah diartikan. Sedangkan Angga, ia menatap Nita. Sebenarnya Angga sama seperti Sandi, mereka berdua menyukai Nita.
Mungkin, kematian Sandi, Angga merasa kehilangan salah satu sahabatnya. Ia benar-benar terpukul.
Tapi disisi lain, ia senang, karena sekarang Sandi sudah tidak ada, maka Nita bisa menjadi untuk Angga seorang. Karena selama Sandi masih hidup, Angga mengalah.
"Riki !! Apa maksud semua ini ?" tanya Sarah dengan marah.
Riki yang tadinya memandang Luara, ia menoleh ke arah Sarah. "Aku hanya ingin melakukan yang seharusnya kudapatkan."
"Apa maksudmu ?" tanya Sarah.
Riki menoleh kembali menatap Laura. "Sudah lama aku menginginkan wanita ini."
Riki tertawa. Laura menatap benci kepadanya. Memang diakui, semua kelakuan Riki, pasti tidak ada yang berani. Mengingat kabar kalau Riki adalah putra dari ketua Mafia.
Riki berhenti tertawa, ia menoleh kepada Angga dan Ciko. "Apa kalian juga menginginkan wanita kalian ?"
"Tentu saja tuan muda." jawab Angga dan Ciko bahagia.
"Baik ayo kita lakukan disini." kata Riki, ia tertawa lagi.
Semua usaha halus untuk mendekati dan mendapatkan Laura, selalu saja tidak berhasil. Kali ini, lebih baik ia gunakan cara kotor untuk mendapatkan..
Laura dan kedua temannya ketakutan. Mereka bertiga sudah membayangkan diri mereka yang tidak-tidak. Mereka bertiga hanya bisa berharap ada seseorang yang datang menyelamatkan mereka bertiga.
Dengan perlahan, Riki bejalan mendekati Laura, Angga ke Nita, dan Ciko ke Sarah. Namun langkah kaki ketiga Laki-laki itu terhenti saat mendengar keributan dari luar.
"Ada apa dilur ?" tanya Angga sambil menatap Riki dan Ciko.
"Kamu bertanya padaku ? Kamu sendiri 'lah memeriksanya, bodoh !!" kata Riki membentak Angga.
Angga pun berjalan menjauh. Ia berjalan mendekati pintu ruangan.
Bruakkk !!
Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Angga bahkan terdorong dan terjatuh ke lantai. Semua menoleh melihat Angga yang jatuh.
Lalu pandangan mereka membeku saat ada seseorang laki-laki yang sangat tidak asing bagi mereka. Tapi penampilan laki-laki itu dari wajah dan pakaiannya, banyak noda darah.
Laki-laki itu berdiri di ambang pintu. Terlihat, laki-laki menenteng sesuatu di kedua tangannya. Laki-laki itu juga terlihat seperti terkejut saat melihat kondisi di dalam ruangan.
"Lah kok, ketiga perempuan itu bisa bersama Riki ? Apa mereka berbuat kesalahan ?" ucap laki-laki itu dalam hati saat melihat Laura dan kedua temannya terikat di kursi.