
"Kamu tidak pantas menyebut nama ayahku." ucap Jonathan dengan menatap dingin ke arah Nadia.
Setelah mendengar ucapan itu, Nadia pun akhirnya paham, siapa laki-laki yang berdiri di depannya. Yang tak lain putranya kandungnya sendiri.
Nadia saat akan mengucap, Jonathan sudah langsung menyelanya. "Jangan mengatakan apapun dari mulutmu !!"
Kedua mata Nadia berkaca-kaca mendengar kata-kata Jonathan. Jimmy yang tidak terima pun bersuara. "Bisakah kamu sopan terhadap ibumu sendiri ? Apakah Joelian mendidikmu dengan benar ?"
"Ibu ?" batin Nadien.
Entah kenapa Jonathan mendengar itu, sekilas ia mengingat ayahnya yang sudah meninggal. Dadanya, tiba-tiba sesak rasanya, seakan ia merasakan rasa sakit mengingat masa lalu dari pemilik tubuhnya.
BUGH !!
Tiba-tiba Jonathan langsung maju dan memukul wajah Jimmy dengan keras. Nadia dan Nadien terkejut melihat Jimmy yang terpukul dan terjatuh. Ya, selagi tubuh Jimmy masih lemas, Jonathan takkan membiarkan Jimmy lepas darinya.
"Jangan membawa-bawa nama orang yang sudah meninggal di masalah ini." ucap Jonathan menatap dingin ke arah Jimmy setelah ia memukulnya.
"Papah !!" ucap Nadien spontan membantu Jimmy untuk bangun. Ia sedih melihat Jimmy yang sudah ia anggap sebagai ayahnya.
Nadia yang berdiri tidak membantu, ia hanya menatap Jonathan setelah mendengar kata-kata barusan. "Apa maksudmu Jonathan ?"
Jonathan menoleh melihat Nadia. Ia tersenyum sinis, lalu ia berkata. "Ahh, sepertinya kamu sangat menikmati kehidupanmu dengan pria ini, sampai-sampai kamu tidak tau rasanya menderita yang selama ini aku rasakan."
Nadia yang akan membalas perkataan Jonathan, namun tak sempat, karena Jonathan tiba-tiba maju melangkah dan menghantam tubuh Jimmy yang sedang dibantu berdiri oleh Nadien.
DUGH !!
Tubuh Jimmy terdorong lagi, Nadien terkejut dan melotot ke arah Jonathan. "Heh laki-laki gila, apa yang kamu lakukan kepada ayahku ?!!"
Jonathan langsung mencengkram baju Nadien, dan menatapnya dengan senyuman polosnya. "Apa kamu buta, sudah jelas bukan, aku baru saja aku menendangnya."
Nadia yang melihat Jonathan mencengkram baju Nadien dengan kasar. Ia segera mendekat, dan melerainya. "Cukup Jonathan !! Kamu jangan kasar terhadap adikmu ?"
Nadien terdiam mendengar kata-kata Nadia. Sebenarnya dalam pikirannya, ia sudah bertanya-tanya dengan kata-kata Jimmy sebelumnya. Sedangkan Jonathan terdiam.
Tiba-tiba sekilas isi pikirannya mengingatkan kalau pemilik tubuhnya memiliki adik. Jonathan menatap dingin ke arah Nadien. Dan bersamaan ia melihat wajah Nadien, ingatannya mengatakan kalau Nadien adalah adik kandungnya.
Jonathan melepas cengkramannya. Sementara disisi Nadien, setelah ia dilepas, ia menoleh dan menatap ke arah Nadia. "Apa maksud mamah ? Laki-laki gila ini kakakku ?"
Nadia terdiam, entah harus bagaimana ia menjelaskan masalahnya. Baginya sungguh rumit dalam situasi saat ini. Nadien kembali bersuara. "Mamah kenapa diam saja ? Jelas-jelas mamah bilang laki-laki ini adalah kakakku. Itu mustahil 'kan mah ? Kakakku telah meninggal kecelakaan bersama ayah 'kan."
Jonathan memutar bola matanya. Lalu membatin. "Cih, sangat merepotkan keluarga dari pemilik tubuh ini."
"Sebenarnya, ayah kandungmu dan kakakmu masih hidup." ucap Nadia pelan.
Jimmy yang masih merasa lemas pada tubuhnya karena efek bius, ia berusaha bangun, dan mencegah Nadia menjelaskan semuanya. Karena rencananya menyangkut Nadien bisa gagal.
DUGH !!
Namun Jonathan yang menyadarinya, ia langsung menendang wajah Jimmy agar tetap diam dan tak menghalanginya. Lalu Jonathan mendekat dan berdiri di depan wajah Jimmy
"Dasar sampah pengganggu !! Aku sedang menikmati drama antar ibu dan putrinya." ucap Jonathan sambil menekan tubuh Jimmy dengan alas sepatunya.
"Menyakitinya ? Ini tidak seberapa dengan penderitaan yang dialami oleh ayahku." ucap Jonathan tersenyum.
Ingatan dari pemilik tubuhnya terus membayangi pikirannya. Sungguh tak tega Jonathan mengingat masa lalu dari pemilik tubuhnya lagi, terutama penderitaan dari seorang ayah.
"Setelah kepergianmu, ayahku menderita. Bahkan sampai nafas terakhirnya, dia masih mencintaimu." ucap Jonathan.
Perlahan Nadia berlutut dan menangis, sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Seketika ia teringat dirinya terpaksa harus terpisah. Dan sekarang ia tak menyangka kalau laki-laki yang masih ia cintai telah tiada.
Nadien yang didekatnya, ia segera ikut berlutut dan merangkulnya. "Mah, jangan seperti ini. Ayo berdiri." lalu ia menatap Jonathan. "Sebenarnya apa maumu ?"
"Heh, untuk apa kamu menangis ?" ucap Jonathan.
"Maafkan mamah. Mamah minta maaf telah membuat ayahmu menderita." ucap Nadia yang masih menangis. Ia terus menangis, ia merasa benar-benar bersalah.
Jonathan mengerut dahinya, ia heran dengan wanita yang merupakan ibu kandung dari pemilik tubuhnya menangis. Dan dari matanya, ia bisa melihat kalau Nadia benar-benar bersalah.
"Sebenarnya, apa yang terjadi ? Kenapa ia terlihat menyesal." batin Jonathan.
"Sudahlah, buat apa kamu menangis, nasi telah menjadi bubur." ucap Jonathan, ia masih menginjakkan kaki kanannya di dadanya Jimmy yang masih merasa lemas dan meringis kesakitan.
Nadien yang masih merangkul Nadia pun bersuara. "Mamah, sebenarnya apa yang telah terjadi ? Kenapa mamah seperti ini ?"
Nadia tidak menjawab, ia tetap duduk di lantai dan terus menangkis terisak. Ia benar-benar merasa menyesal telah meninggalkan Joelian.
Nadia tak menyangka Joelian telah meninggal. Nadien terus berusaha menenangkan Nadia. Ia juga menangkis karena melihat ibunya menangis.
Jimmy yang berusaha berontak agar Jonathan melepaskannya. Ia tidak ingin Nadia membocorkan rahasia yang selama ini tidak diketahui oleh siapapun, hanya dirinya dan Nadia yang tau. Karena keegoisan Jimmy yang selalu menginginkan apa yang dia mau.
Jonathan yang melihat Jimmy berusaha bangun lepas darinya, ia segera mengangkat kakinya dan langsung hantamkan ke arah wajahnya Jimmy.
DUGH !!
Tubuh Jimmy berguling ke samping setelah wajahnya terkena hantaman keras. Lalu Jonathan mengarahkan pistol ke arahnya. Saat akan menekan pelatuknya, Nadia yang di dekatnya, memanggil namanya.
"Jonathan, cukup. Jangan mengotori tanganmu. Biarkan dia." ucap Nadia lirih, ia masih duduk dilantai bersama Nadien.
"Apa hak mu melarangku." ucap Jonathan dingin, yang tangannya masih menodongkan pistolnya ke arah Jimmy yang masih lemas terbaring dan menahan sakit di wajahnya.
"Aku adalah ibu kandungmu, tolong jangan membunuhnya." ucap Nadia pelan, lalu ia berdiri perlahan, dan mendekati Putranya.
"Cih, mana ada ibu yang tega meninggalkan Putranya hanya demi laki-laki lebih kaya dari suaminya." kata Jonathan membalas perkataan Nadia tanpa menoleh.
Nadia semakin menangis, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mamah tidak seperti itu. Mamah saat itu benar-benar terpaksa."
Jonathan terus mengarahkan pistolnya ke arah Jimmy. Ia tak menoleh sama sekali. Lalu ia menghela nafasnya dan berkata. "Ahh, kenapa aku malah terbawa perasaan, padahal aku ingin merebut dataku dan membunuhnya."
..._____________________________...
Sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya, karena author sudah tiga hari tidak update. Di dunia nyata, author benar-benar lagi sibuk mencari loker. Apalagi saat ini sedang pandemi Covid, ditambah di tempat author cukup susah untuk cari kerja.
Terimakasih.