
Keesokan Harinya.
Semua sudah bangun dari tidur mereka. Jonathan baru tau, kalau rumah besarnya juga memiliki banyak maid. Jonathan menolak saat para maid akan membantunya mandi untuk membersihkan dirinya.
Jonathan meminta kepada mereka untuk membantu Laura dan kedua temannya yang ada di kamar sebelah. Dan tentu saja, perintah tuan baru mereka segera dijalankan dengan baik.
"Ingin membantuku mandi ? Enak saja, aku bukan anak kecil dan aku bukan seperti tuan mereka yang dulu." batin Jonathan kesal.
.....
Disisi kamar sebelah.
Laura dan Nita tadinya akan menolak saat ada beberapa maid datang masuk untuk membantunya.
Tapi mau tak mau Laura dan Nita menerimanya setelah salah satu maid berkata kalau tuan mereka yang menyuruhnya.
Sedangkan Sarah, ia hanya dan patuh saat beberapa maid membantunya mandi. Sarah tidak menampilkan ekspresi di wajahnya. Tak hanya itu ia tak mengeluarkan sepatah kata apapun.
Setelah selesai, salah satu bilang kalau sarapan telah siap kepada Laura dan Nita. Dan mereka berdua mengiyakan.
Nita dan Laura membujuk Sarah ikut keluar dari kamar untuk sarapan. Sarah tidak menjawab, melainkan ia memilih untuk membaringkan tubuhnya di ranjanh dan membelakangi kedua temannya.
Laura dan Nita hanya bisa menghela nafasnya. Lalu meminta maid yang masih di dalam kamar untuk menjaga Sarah. Dan itu pun diiyakan oleh maid.
Laura dan Nita keluar dari kamar. Mereka berdua turun ke lantai satu. Salah satu maid mengarahkan mereka berdua untuk ke ruang makan.
Di ruang makan, sudah ada Jonathan dan Roni, dan salah satu wanita dewasa dan cantik yang terlihat berumur 30 tahun. Mereka bertiga tengah duduk di kursi meja makan.
Laura dan Nita pun segera duduk di kursi yang sudah disiapkan. Jonathan pun berkata kepada Laura. "Kemana temanmu yang satunya lagi ?"
"Dia tidak ingin keluar dari kamar." jawab Laura.
Laura pun juga menambah kalau Sarah tidak berbicara sama sekali. Lebih banyak diam dan sudah tidak ada lukisan wajah cerianya Sarah yang ia kenal. Dalam hatinya, Laura merasa bersalah apa yang Sarah alami.
Jonathan hanya memasang wajah datarnya. Ia tak ingin memberi respon apapun. Ia memilih memulai memakan sarapannya.
Rino tau kalau tuan baru sebenarnya peduli, tapi memilih diam. Rino pun bersuara. "Lebih baik, kita sekarang kita sarapan."
Dalam pikiran tertuju pada Sarah. Rino merasa kasihan. Ia pun memanggil salah satu maid di rumah itu. "Tolong bawakan sarapan ke dalam kamar, layani dan suapkan dia dengan baik."
Maid yang Rino perintahkan, pun segera menjalankan tugasnya. Laura dan Nita menatap Rino, entah mengapa mereka berdua merasa kalau laki-laki asing ini sedikit perhatian kepada teman mereka.
.....
Setelah sarapan.
Laura dan Nita bangkit dari duduk mereka dan akan kembali ke kamar untuk melihat keadaan Sarah.
Setelah melihat dua gadis itu pergi, Jonathan mengajak Rino dan wanita itu untuk mengikutinya.
Rino dan wanita cantik berumur 30 tahun pun mengikuti Jonathan. Mereka memasuki salah satu ruangan yang cukup luas. Di dalam ruangan itu sudaj ada meja panjang dan beberapa kursi berjumlah 10.
Jonathan segera duduk di kursi yang sudah disediakan, Rino dan wanita cantik berumur 30 tahun pun juga duduk. Jonathan menatap tajam ke arah wanita itu, yang tak lain adalah Sinta.
Rupanya Jonathan mengajak Sinta untuk menjadi salah satu anggota Gangstersnya. Sinta menerima ajakan itu karena ia sudah lelah menjadi wanita malam yang biasanya di sewa-sewa oleh bos-bos besar, atau pengusaha muda.
Jonathan menatap Rino. "Aku berencana juga ingin memasukan ketiga perempuan itu ke kelompok kita."
Jonathan tidak menjawab, ia hanya mengangguk kepalanya. Rino kembali bersuara. "Apa perlu saya mencarikan seseorang yang ahli bela diri untuk melatih keempat perempuan ini ?"
Sinta yang termasuk dibicarakan, hanya manatap Rino saat ia dibicarakan. Jonathan dengan wajah datarnya menjawab. "Terserah padamu."
.....
Beberapa Hari Kemudian.
Jonathan sudah memiliki rencana mencari kampus tempat kuliahnya yang baru. Jonathan menyerahkan semua keperluannya kepada Rino.
Rino memang bisa menjalankan apa yang diperintahkan, karena ia memiliki anak buah yang biasa diandalkan untuk mengurusi semuanya.
Yang lebih hebatnya, salah satu anak buahnya memiliki Hancker sekelas mafia. Jadi mereka bisa masuk ke kampus barunya atas data yang sudah dimanipulasikan. Jonathan juga akan memasukan Laura dan Nita ke tempat kampus yang sama dengannya.
Rino sudah tau tentang Jonathan, dan ketiga perempuan yang bersamanya. Mereka berempat sedang menghindari buronan mafia dari kota J.
Dan Sarah, ia dalam kondisi yang tidak baik. Dia depresi. Kini ia masa pengobatan. Bahkan Rino sering memberinya perhatian.
.....
Saat ini di dalam ruangan khusus tempat untuk menyusun rencana Laura, dan Nita duduk berhadapan dengan Jonathan.
Jonathan menawari mereka berdua untuk bergabung. Laura dan Nita ragu untuk ikut bergabung ke dalam kelompok gangstersnya.
"Apa kalian tidak ingin balas dendam atas kematian orang tua kalian ?" tanya Jonathan.
Nita yang menjawab.
"Sebenarnya aku ingin membalas dendam, tapi aku tidak bisa apa-apa."
"Bukankah itu tidak baik ?" kata Laura pelan.
"Baik ?" sahut Jonathan.
"Tidak semua orang baik akan berperilaku baik, pasti suatu saat akan berubah. Orang jahat belum tentu akan berperilaku jahat." lanjutnya.
"Tapi bukankah Tuhan melarang kita untuk berbuat jahat atau membunuh ?" tanya Nita.
Jonathan terkekeh, lalu ia menjawab. "Tuhan memang melarang kita untuk itu. Tapi di dunia ini, tidak ada orang yang tidak munafik. Polisi saja juga pasti akan menembak pelaku jika terpaksa, bahkan ada yang sampai mati ditembak. Bukankah mereka sama saja membunuh. Bahkan ada yang melakukan hukuman mati. Bukankah itu juga sama saja membunuh ?"
Laura dan Nita terdiam. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Jonathan. Tapi mereka tidak berani melakukan hal yang nekat sama seperti Jonathan.
"Apa ada yang bisa melatih kita bela diri ?" tanya Nita tiba-tiba, Laura menoleh melihatnya.
Jonathan menatap dingin. "Sudah ada orang yang akan melatih kalian."
Karena Rino pernah bilang padanya akan mencari orang yang bisa dijadikan guru untuk melatih ketiga perempuan ini.
"Apa kamu tidak ingin melatih kita berdua ?" tanya Laura.
Jonathan sedikit memajukan wajahnya dan menatap tajam kedua gadis di hadapannya. "Apa kalian ingin aku yang ingin melatih kalian ?" ia sambil tersenyum menyeringai.
Laura dan Nita yang mendengar dan melihat Jonathan seperti itu, membuat mereka berdua sulit menelan salivanya.
Akhirnya mereka bersedia untuk ikut dan akan dilatih oleh orang yang akan melatih mereka. Disamping itu Jonathan juga sudah memiliki rencana.