
Keesokan Harinya. Hari telah pagi, Jonathan memilih untuk menemani Tasya di ruang perawatan VIP. Awalnya ingin berjaga, tapi karena rasa lelah, ia tertidur saat berjaga di sofa panjang. Perlahan, kedua matanya terbuka, Jonathan mengusap wajahnya. Ia melihat istrinya masih belum sadar, dan masih tertidur, mungkin sebentar lagi akan sadar, karena efek obatnya masih ada.
Jonathan berdiri dari duduknya, ia berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan wajahnya. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Ia sedikit terkejut melihat Laura, Sarah, dan Nita sudah ada di dalam ruangan tempat perawatan istrinya. Bahkan ada Nadia di ruangan.
"Kalian telah datang." ucap Jonathan sambil berjalan mendekati mereka.
"Tentu saja, aku pasti datang untuk melihat kondisi salah satu sahabatku." jawab Laura.
"Bagaimana keadaannya ?" tanya Nadia mencemaskan menantunya.
"Dia baik-baik saja. Dia hanya kebanyakan pikiran dan sedikit setres." jawab Jonathan.
"Lalu apa yang telah terjadi ?" tanya Laura.
Jonathan pun menceritakan kejadiannya, yang dimana Tasya diculik entah oleh siapa. Namun sekarang Rino dan yang lainnya sedang mencari dalang di balik kejadian yang telah menimpa kepada istrinya.
Jonathan juga kembali memberitahu kalau istrinya tengah mengandung calon anaknya. Tentu saja, mendengar itu, semua sangat senang bahagai. Terutama Nadia, ia bahagia sekaligus tidak menyangka, kalau dirinya akan memiliki cucu.
Lalu Jonathan bertanya kepada Nadia, dimana keberadaan adiknya. Nadia hanya menjawab kalau adiknya berada di rumah, karena masih membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan tentang kejahatan Jimmy.
Mendengar itu, Jonathan tidak mempermasalahkan itu. Karena ia tahu, semua orang jika berada diposisinya, pasti membutuhkan waktu.
Tiba-tiba terdengar notifikasi di ponsel milik Jonathan. Ia segera membuka ponsel untuk membaca isi pesan chat dari Rino. Setelah membacanya, ia segera berpamitan kepada semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Kamu mau kemana ?" tanya Nadia, ia merasa cemas kalau Tasya bangun saat Jonathan tidak ada disampingnya.
"Aku ada urusan. Aku takkan lama. Dan sekalian mau membersihkan diri dan ganti pakaian." jawab Jonathan santai, Nadia menghela nafasnya, dan mengangguk kepalanya.
Sedangkan Laura, Nita, dan Sarah, mereka bertiga tentu saja tidak percaya begitu saja dengan kata-kata Jonathan Karena mengingat kalau Jonathan adalah Psychopath dan pandai bersandiwara.
Tapi mereka bertiga memilih untuk diam, karena pasti Jonathan melakukan sesuatu dibalik sandiwaranya. Jonathan pun pergi setelah berpamitan kembali. Ia segera melangkah kakinya ke arah mobil, lalu ia masuk.
Segera menyalakan mesinnya dan melajukan mobilnya ke tempat tujuannya. Ya tepatnya markasnya. Namun sebelum itu, ia memilih ke salah satu minimarket untuk membeli sesuatu. Setelahnya, ia melanjutkan perjalanannya.
.....
Setelah sampai di markas, ia segera turun dari mobilnya. Tak lupa ia membawa tas ranselnya. ia berjalan mendekati Rino yang sudah menunggunya. Bahkan didekat Rino, sudah ada Agil, Dika. Bahkan Tony pun juga sudah ada disana.
"Dimana pelakunya ?" tanya Jonathan.
"Dia ada di dalam." jawab Rino, sambil menunjuk salah satu ruangan tempat dimana para pelaku di tahan.
"Apa ada masalah ?" tanya Jonathan, karena ia sedikit merasa ada hal lain, dari raut wajah Rino.
Perlahan Rino menghela nafasnya. "Kami berhasil menjalankan tugas, namun Sinta tertembak, dan dia....," Rino menjeda.
"meninggal." lanjutnya dengan berat, bagi Rino, Sinta adalah salah satu keluarganya, meski di masa lalu, ia dan wanita itu memiliki hubungan yang buruk.
Karena tadi malam, setelah melakukan introgasi, mereka mendapat informasi, bahwa dalang dibalik kejadian. Lalu mereka pergi setelah membunuh anak buah yang telah mereka tahan.
Mereka sampai di sebuah vila yang tidak jauh dari lokasi tempat menyekapan Tasya. David lebih dulu menerobos masuk. Tak diduga sudah Alan yang menodong pistolnya dan menarik pelatuknya.
Sinta yang di dekat David segera menjadi tamengnya untuk melindunginya. Tentu saja peluru pistol mengenai tepat jantungnya. Bersamaan Rino langsung menarik pelatuknya untuk meluncurkan peluru biusnya untuk melumpuhkan Alan.
"Sekarang, Sinta ada dimana ?" tanya Jonathan, ia juga tidak menduga kalau Sinta akan menjadi korban dalam mencari dalang dibalik masalahnya.
"Dia disini, kami sudah membawanya ke kamar tempat istirahat." jawab Rino.
"Bagaimana dengan David ?" tanya Jonathan, ya ia sangat tau kalau David menyukai Sinta.
"Dia menjaga Sinta. Tak hanya David saja, ada Selly yang juga menemaninya." jawab Rino.
Jonathan menghela nafasnya. "Setelah urusan ini selesai, kita antarkan Sinta ke tempat peristirahat terakhirnya dengan layak."
Rino mengangguk kepalanya. Jonathan kembali bersuara. "Kamu dan lainnya istirahatlah."
Rino menatap Jonathan. Jonathan kembali bersuara. "Istirahatlah, aku tau, kalian pasti sudah kelelahan."
Rino menghela nafasnya dan mengangguk kepalanya. Lalu ia berjalan membuka pintu ruangan tempat para tahanannya untuk mempersilahkan Jonathan masuk.
Setelah Tuannya masuk Rino memilih duduk sambil menunggu. Begitu juga dengan Tony, Agil, Dika, dan anak-anak buahnya. Namun mereka bertanya-tanya, karena mereka melihat Tuannya membawa tas Ransel.
Mereka pun menduga, kalau di dalam tas ransel Tuannya pasti sudah ada peralatan untuk bermain-main dengan calon korbannya.
.....
Jonathan telah masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu terlihat ada tiga orang . Mereka adalah Linda, dan managernya, Alan. Dan satu lagi adalah Jimmy.
Mereka bertiga, kedua tangan, dan kedua kakinya terikat di kursi. Dan untuk mulutnya, juga dilakban. Jonathan berjalan mendekati mereka sambil ia tersenyum.
Perlahan warna pupil iris kedua mata Jonathan menjadi coklat gelap. Melihat Jonathan datang, mereka bertiga kaget bukan main. Terutama Jimmy, ia gemetaran ketakutan, karena sebelumnya ia sudah pernah mendapat perlakuan kasar oleh laki-laki itu.
Jonathan berdehem. "Ehem..!!"
"Apa kabar semuanya ?"
Jimmy dan Alan berontak, namun tidak bagi Linda. Jonathan terkekeh melihatnya, ia mendekati Linda. Ia segera meletakan tas ranselnya dan membukanya. Ia mengeluarkan beberapa botol kecil dan satu buah lakban dari dalam tasnya.
"Aku penasaran denganmu. Kamu ini perempuan macam apa ? Kenapa kamu berani mencari masalah denganku ?" kata Jonathan sinis.
Dengan kasar Jonathan melepaskan lakban yang menutupi mulut wanita itu. Linda tak peduli rasa sakitnya, ia bersuara. "Kamu ingin tau ? Karena aku sangat-sangat tidak menyukainya dan aku sangat menyukaimu."
"Wow..., Terimakasih kamu sudah menyukaiku. Namun sayang sekali, aku tidak menyukaimu, dan aku sudah menikah." jawab Jonathan dengan ekspresi terkejut yang ia buat-buat.
Linda justru tersenyum sinis. Dengan angkuhnya berkata. "Aku tidak peduli, apapun akan kulakukan demi mendapatkanmu, meski aku harus mencelakai istrimu."
"Kamu salah besar jika mencari masalah denganku." ucap Jonathan tersenyum sambil mengambil satu per satu botol yang letakan di lantai sebelumnya, lalu ia membuka tutup semua botol kecil itu.
"Kamu tau ini ?" ucap Jonathan sambil menunjukkan salah satu botol kecil yang ada di dalam genggaman telapak tangannya.
"Bon C4be ?" guman Linda heran, melihat botol bungkusan yang tertulis level 50.
Dengan kasar, Jonathan mencengkram dagu wanita itu. Secara paksa Jonathan memasukkan bubuk bon c4be berlevel 50 itu sekaligus.
Setelah satu botol sudah masuk semua ke dalam mulut Linda, dengan cepat Jonathan melakban kembali mulut Linda, agar bubuk pedas itu tidak dimuntahkan.