
Jonathan menghela nafasnya. Ia merasa satpam yang berjaga di rumah targetnya sungguh tidak berguna. "Makan gaji buta."
Jonathan pun berjongkok, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengambil pistol dan topeng. Dan juga ia mengambil pisau. Topengnya langsung ia pakai, dan ia pun siap memulai aksinya.
Klek !!
Dor !!
Satpam yang sedang menonton TV, pun tewas setelah Jonathan menembaknya. Lagian satpam model seperti itu buat apa hidup. Udah dibayar, malah asyik sendiri menonton TV.
Jonathan melangkah maju. Lalu pintu rumah milik targetnya terbuka, keluarlah dua penjaga berbadan besar dan berotot. Mungkin suara pistolnya terdengar hingga dalam rumah
Jonathan langsung mengarahkan pistolnya ke dua penjaga itu.
Dor !! Dor !!
Dua penjaga itu pun tertembak mati. Dengan santai Jonathan berjalan melewati dua mayat penjaga itu. Dan ia pun masuk ke dalam rumah.
Namun sebelum masuk, Jonathan mengganti pistolnya dengan TMP Pistol yang ia bawa di dalam tas punggungnya.
Setelah masuk, ada banyak penjaga yang muncul. Dan ada juga yang membawa senjata. Jonathan pun juga tak mau kalah. Ia pun mulai menembak ke semua penjaga.
Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !!
.....
Disisi Lain.
Di dalam rumah besar, terlihat Rino, Dika, David, dan Agil seperti sedang kebingungan. Laura, Nita, Sarah, Sinta, dan Selly yang sedang menonton TV, merasa heran dengan keempat laki-laki itu.
"Ada apa ?" tanya Sinta.
"Tuan Jo, dan Tony tidak ada di rumah." jawab Rino, ia pun duduk di sofa di samping Sarah.
"Lalu kemana mereka berdua ?" tanya Laura.
"Entahlah, aku bahkan tidak melihat saat mereka pergi." jawab Dika.
Selly pun teringat sesuatu. Lalu ia menatap Rino. "Kak Rino, apa kamu merasa aneh kepada Tuan Jo setelah bertemu dengan klien tadi ?"
"Maksud Pak Faiz." jawab Rino menebak.
Selly mengangguk kepalanya. "Ya, bukankah kerja sama kita perusahaan kita dengan perusahaan pak Faiz, masih belum sepakat ?"
"Ya, lalu ?" Rino masih belum mengerti. Semua pun terfokus dengan Selly.
"Apa kamu tidak mengingat kata-kata Tuan Jo, setelah..." belun sempat Selly menyelesaikan kata-katanya, Rino memotongnya.
"Aku ingat." ucap Rino.
"Apa Tuan Jo sudah bergerak maju sendirian, karena tak terima setelah pak Faiz merendahkannya dan menimbang-nimbang kerja samanya ?" lanjutnya.
Semua saling berpandangan. Mereka semua yakin, kalau sisi lain Jonathan terbangun, maka mereka sudah bisa menebak seperti apa hasilnya nanti.
_____________________________________
Visual.
Laura.
___
Nita.
___
Sarah.
___
Dika.
___
David.
___
___
Sinta.
_____________________________________
.....
Jonathan telah selesai aksinya. Ia telah menembak semua orang-orang penjaga di dalam rumah. Ia sendiri juga terkena goresan peluru di lengan dan kakinya
Bukannya sakit yang ia rasakan, melainkan ia menikmatinya. Jonathan pun mulai memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu.
Ada beberapa maid di dalam rumah itu. Mereka ketakutan. Jonathan memberi mereka pilihan, hidup dan pergi mencari pekerjaan lain, atau mati karena tetap tinggal.
Tentu saja, para maid memilih pergi karena mereka masih menyayangi nyawa mereka. Mereka segera pergi membereskan barang-barang mereka.
Semua ruangan di lantai satu, telah ia periksa. Kosong hasilnya. Lalu ia berjalan ke lantai dua. Baru di tengah anak tangga, indra pendengarannya mendengar langkah kaki masuk ke dalam rumah
Jonathan membalikkan tubuhnya. Ternyata Tony yang masuk. Ia masuk juga membawa tas punggungnya. Perlengkapan dan senjatanya ada di dalam tasnya.
Tony tekejut setelah masuk ke dalam rumah. Ia terkejut bukan karena melihat mayat-mayat penjaga tegeletak di lantai. Melainkan ia terkejut melihat tuannya yang memakai topeng menutupi wajahnya.
Tony berjalan mendekati tuannya. "Tuan Jo !! Kenapa harus memakai topeng, semua CCTV disini sudah 'ku retas semua."
Jonathan mengaruk-garuk kepalanya tidak gatal. Inilah yang paling membuat Tony dan lainnya gemas karena kesal melihat tuannya selalu sok berperilaku polos.
"Aku cuma ingin memakainya saja, biar lebih keren seperti di film-film action yang pernah kulihat." jawab Jonathan santai.
Tony menepuk jidatnya. "Tidak masalah kalau tuan ingin memakai topeng, tapi bisakah memilih topeng yang lebih keren sedikit."
"Memangnya aku tidak keren kalau memakai topeng ini ?" tanya Jonathan heran dengan anak buah andalannya.
Tonya menghela nafasnya. "Ya sudah tuan lupakan, ayo kita cari target kita saja."
"Ayo !!" ucap Jonathan, lalu meneruskan langkah kakinya di anak tangga ke lantai dua.
Tony hanya bisa pasrah dengan kemauan tuannya. Tuannya memang sadis saat menyiksa dan membunuh korbannya.
Melihat tuannya menggunakan topeng. Sebenarnya Tony tidak mempermasalahkan jika topeng yang dipakai tuannya itu keren. Tapi yang bikin ia tak habis pikir itu topeng yang dipakai tuannya sekarang adalah topeng Power Rangers.
Tony pun menghela nafasnya. Ia segera naik ke lantai dua. Dan mencari ruangan penting, tetapnya ruangan kerja. Pasti di dalam ruangan itu ada data-data penting dan berkas-berkas penting tentang perusahaan.
.....
Jonathan memeriksa semua ruangan di lantai dua. Belum melihat targetnya. Ruangan terakhir, Jonathan memasukinya. Ia juga tak lupa mengganti jenis pistol lain.
Ia melihat seisi ruangan itu cukup luas. Lebih tepatnya adalah kamar tidur pribadi. Ia tak melihat siapapun di dalam kamar itu.
Namun ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Jonathan bisa menebak kalau targetnya ada di dalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka. Faiz yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap perutnya, ia merasa nyaman Setelah buang air besar.
Pandangan Faiz langsung terkejut melihat ada seorang laki-laki asing dan mengenakan topeng konyol.
Faiz langsung marah, karena sudah berani ada orang asing masuk ke dalam kamar pribadinya.
Dor !!
Bruukk.
Tubuh Faiz jatuh setelah Jonathan langsung menembakinya dengan peluru bius dosis rendah. Jonathan tersenyum puas karena orang yang membuatnya kesal kini telah ia lumpuhkan.
.....
Byurrr !!
Jonathan menyirami Faiz. Faiz pun perlahan membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya. Ia masih di dalam kamarnya.
Tapi ia merasa tidak nyaman dengan posisinya. Ia memenjamkan kedua matanya. Mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Lalu ia membuka kedua matanya lagi. Ia pun sepenuhnya sadar. Ia dalam posisi duduk di kursi kerjanya, kedua tangan dan kedua kakinya terikat.
Faiz juga menatap seorang dua laki-laki asing yang berdiri didepannya. Salah satunya memakai topeng konyol.
Laki-laki bertopeng konyol itu pun bersuara. "Selamat malam pak Faiz."
DEG.
Faiz membeku mendengar suara laki-laki asing bertopeng itu. Ia merasa tidak asing dengan suaranya.