
Kluk..!! Kluk..!! Kluk..!! Kluk..!!
Rudi kembali menekan pelatuk pistolnya. Ia bingung, entah kenapa pistolnya yang ia genggam tidak mau menembak.
"Kenapa pistolku tidak mau menembak ?" batin Rudi, lalu ia menatap Jonathan yang sedang memandangnya dengan senyuman mengejek.
Jonathan tertawa kecil. "Ada apa dengan pistomu, om ? Apa rusak ?"
Itu ulahnya sendiri. Sebelum bersembunyi di kolong ranjang, Jonathan mengambil semua peluru dari pistonya rudi tadi.
Jonathan berjalan mendekati Rudi, lalu tangannya mau meraih pistol yang masih digenggam Rudi.
Plak..!! Rudi menepis tangan Jonathan dengan kasar. "Jangan mendekat !! Atau ku patahkan lehermu !!"
Jonathan mengelus tangannya yang telah ditepis oleh Rudi. Ia menatap Rudi dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
tatapan Jonathan yang dingin justru membuat Sinta ketakutan. Rudi mulai menggerakkan tubuhnya untuk lebih dekat lagi dengan Jonathan, agar ia bisa menghabisinya.
Namun sebelum bergerak, Jonathan sudah lebih dulu berkata. "Apa om yakin ingin berkelahi denganku dengan posisi titidmu yang masih tegang seperti itu ?"
Kata-kata Jonathan tentu saja membuat Rudi langsung menatap ke arah miliknya yang tertutup kain celana boxernya.
Apakah benar atau tidak kalau milik masih tegang, Karena memang sebelum Jonathan muncul, hasratnya datang kembali.
BUGH !!
"Telingaku...." batin Rudi.
Rasa sakit yang ia rasakan setelah Jonathan menghantam kepalanya dari samping dengan menggunakan kepalan tangannya.
Tidak hanya rasa sakit yang Rudi rasakan, tapi ia juga merasakan yang tidak bisa dijelaskan. Seakan-akan ia tidak bisa mendengar. Yang Rudi rasakan, Telinganya terasa panas.
Rudi memegang salah satu telinga kiri yang bekas kena hantaman barusan. Jonathan maju dan langsung memegang wajah Rudi dan mendorongnya. DUGH !!
Tubuh Rudi jatuh dan belakang kepalanya Rudi terhantam lantai. Jonathan menarik wajah Rudi, dan kembali mendorongnya, dan ia hantamkan lagi.
DUGH !!
Hantaman kedua, meski rasa sakit masih terasa, namun Rudi pun memberi perlawanan. Ia dengan tenaganya, ia memaksa bangun, dan memukul dada Jonathan.
BUGH !!
Tubuh Jonathan sedikit mudur. Jonathan tetap bertahan, meski dadanya terasa sakit. Ia langsung mendekat lagi selagi Rudi akan bangkit dari duduknya.
DUAK !!
Jonathan menendang dagu Rudi.
Apa yang dilakukan Jonathan terhadap Rudi, tentu saja itu membuat Sinta ketakutan yang tak kira-kira.
Rudi terlentang di lantai, Jonathan melompat dan menginjak dada Rudi dengan kedua kakinya. Ia meloncat-loncat berkali-kali dada Rudi.
Krak !! Krak !!
Sinta diam saja, karena ketakutan. Ia masih di atas kasur dan menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Ia hanya bisa melihat Rudi disiksa. Namun karena tak kuat melihat Jonathan menyiksa Rudi, ia pun pingsan.
"Uhukkk...!! aggrrhhh !!" Rudi terbatuk. Dadanya sungguh sakit.
Jonathan menghentikan aksinya. Ia turun dari atas dada Rudi. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sedangkan Rudi, ia sudah lemas tak berdaya dan tergeletak di lantai.
Rudi merasa kalau tulang rusuknya patah. Karena rasa sakitnya bukan main. Rudi tak menyangka kalau dirinya bisa dikalahkan oleh laki-laki jauh lebih muda darinya.
Ditambah aksi Jonathan jelas bukanlah tipe pertarung, tapi kenapa aksinya sangat menyeramkan. Rudi memenjam kedua matanya, namun beberapa datik kemudian.
JLEB !!
"Aaaagggrrrrhhh !! Hentikan !!" Rudi berteriak keras.
Rudi pun segera bangun, ia tak peduli semua rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Ia harus keluar dari kamarnya, dan meminta bantuan kepada semua anak buahnya.
Karena kamarnya kendap suara, jadi percuma kalau dirinya berteriak kesakitan, atau meminta tolong.
Namun Lagi-lagi Rudi harus tergeletak lagi dilantai setelah Jonathan menendang dadanya. Tentu saja, rasa sakitnya semakin tidak karuan.
Slurrrr....
"Aaaagggrrrrhhh !!" lagi-lagi Rudi harus menahan rasa perih mata kanannya.
Sudah ditusuk garpu, dan sekarang, Jonathan menyiramnya luka matanya dengan air yang mengandung alkhohol.
Ya, Jonathan mendapatkannya saat ia berada di dapur dan membuka kulkas. Jonathan mengambil botol bir yang ada di dalam kulkas.
Kita pasti tau, botol berisi bir itu milik siapa.
"Hentikan..." ucap Rudi dengan lirih, ia sudah tak berdaya. Ia telah lelah disiksa oleh sosok laki-laki muda ini.
Rudi sudah tak berdaya lagi untuk bangun. Ia tergeletak di lantai. Ia benar-benar terlihat tidak berdaya sama sekali.
Jonathan terkekeh, lalu ia mengambil pisau daging yang ia dapat dari dapur. "Ahhh aku sudah bosan. Lebih baik aku akhiri saja penderitaanmu."
.....
Disisi Lain, tepatnya di luar kamar Rudi. Semua masih saja mencari keberadaan penyusup. Mereka tidak menemukan hasil.
Rino berdiam duduk di sofa di ruang utama. Tiba-tiba ia perasaan tidak enak. Lalu ia berdiri dari duduknya. "Semuanya kembali !!"
Rino berteriak. Semua anak buahnya pun segera mendekat, dan berkumpul kembali di ruang tengah. Rino berdiri di depan mereka semua.
"Ini semua salah kalian !! Hanya satu penyusup saja, kalian semua tidak becus mencarinya !!" Rino membentak, ia sudah yakin akan terkena amukan bosnya. Karena kalau sudah marah Rudi sangat menakutkan.
Semua anak buahnya terdiam saja dan menundukan kepalanya. Tak ada yang berani menjawab atau memberi saran di tengah kebingungan mereka. Apalagi mengingat amukan bos mereka.
Tiba-tiba terdengar suara terseret-seret dari lantai dua. Semuanya segera beralih ke arah sumber suara itu. Seketika semua anggota gangster membeku melihatnya.
Bahkan Rino juga terdiam. Semua membeku melihat seorang laki-laki muda tengah menyeret kedua kaki seorang pria dewasa yang mereka kenal, siapa lagi kalau bukan bos mereka.
Jonathan sudah menyeretnya, ia melepas kedua kaki Rudi. Lalu dengan kakinya, ia mendorong tubuh Rudi hingga jatuh berguling di anak tangga.
Semua terdiam, antara percaya dan tidak percaya. Kini bos mereka tak sadarkan diri dan tergeletak di lantai, tepat di depan mereka semua. Dan dia masih bernafas.
Penampilan bos mereka sangat mengenaskan. Hanya mengenakan celana boxer. Tubuhnya penuh luka tusuk-tusukan kecil, dan mengeluarkan darah.
Lebih parahnya, mata kanan Rudi. Melihat itu, pandangan Rino dan semua anggota gangster beralih ke arah Jonathan yang kini duduk santai di anak tangga.
Jonathan hanya tersenyum polos saat semuanya menatap dirinya. Mereka melihat tangan kirinya yang memegang pistol bosnya, dan tangan kanannya memegang garpu yang sudah ternoda darah.
"Tunggu !! Garpu ?? Jadi luka tusuk-tusukan di tubuh bos Rudi ?" Rino sudah mulai menebak di dalam pikirannya saat melihat garpu yang dipegang Jonathan.
"Kenapa kalian melihatku, tidak terima melihat bos kalian seperti itu ?" tanya Jonathan tersenyum menyeringai.
Semua masih terdiam dan masih menatap Jonathan. Dan untuk Rino, ia merasakan aura yang mematikan dari sosok laki-laki muda yang bernama Jonathan ini.
"Bos kalian sudah tidak berdaya..." Kata-kata Jonathan terpotong saat mendengar suara pistol.
Dorrr !!!
Jonathan terbelalak melihatnya. "Hei...!! Kamu tidak sopan !! Aku belum selesai dengan ucapanku !!"
Rino yang baru saja menembak kepala Rudi, ia segera berlutut le arah Jonathan setelah berkata barusan. Tak hanya dia, semua anggota gangster juga berlutut ke arah laki-laki muda ini.
Jonathan terkejut melihat semuanya berlutut kepadanya. "Apa-apaan mereka ?"