Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 21


Waktu terus berjalan. Di Sore hari. Kini Riki hanya memilki dua teman saja semenjak Erik dan Sandi telah meninggal satu bulan yang lalu. Entah ingin mencari teman baru, Riki masih memikirkannya.


Jika Riki menginginkan teman baru, harus setia dan ahli dalam bela diri. Karena bukan jadikan teman saja, melainkan menjadikannya anak buahnya. Secara Riki adalah ketua geng mereka.


Sekarang Riki dan kedua temannya tengah berkumpul di rumah besar Riki. Kini mereka tengah duduk santai di ruang tamu mereka.


"Aku masih tak rela jika harus kehilangan Erik dan Sandi." ucap Riki sambil menghisap asap rokoknya.


"Aku masih curiga dengan satu orang ini." kata Angga. Riki dan Ciko menoleh menatap Angga.


"Jangan bilang lagi kalau kamu mengatakan kalau si culun itu adalah pelakunya." kata Riki.


Riki sudah kesal dan cape mendengar Angga yang selalu menunjuk Jonathan sebagai pelaku lembut Erik dan Sandi.


Angga menghela nafasnya. "Aku sebenarnya ingin tak menuduh dia. Tapi entah kenapa pikiranku menunjuk ke dia."


Angga yakin kalai Jonathan adalah yang membunuh Erik dan Sandi. Secara Jonathan sering dibully dan pasti membalas dendam.


Ditambah sebelumnya, Angga pernah dikerjain oleh Jonathan waktu itu. Meski sudah menceritakan apa yang Angga alami. Teman-temannya tidak ada yang percaya dengan ceritanya


"Aku tau kamu berfikir seperti itu. Kamu terlalu terobsesi ingin menyiksanya karena penampilannya yang culun." kata Ciko.


Riki pun berkata. "Aku juga sama tidak suka dengan si culun itu. Setiap kali melihatnya, aku ingin sekali mengerjainya. Tapi kalau sampai menuduh si culun adalah pembunuh, itu sangat mustahil. Si culun mana berani melawan."


Angga hanya diam. Ia tak berkata apa-apa lagi. Percuma jika menjelaskan semuanya. Riki dan Ciko tidak akan percaya padanya.


Rasanya tidak percaya kalau pihak kepolisian tidak menemukan jejak sang pelaku pembunuhan itu. Bahkan yang anehnya tidak ada kecurigaan dari Jonathan.


.....


Sementara Disisi Lain, Jonathan sedang bekerja menjadi pelayan di caffe. Semua pelanggan yang datang ia sambut dengan ramah.


Semua karyawan termasuk Jonathan bersemangat dan bekerja dengan baik. Karena hari ini adalah hari gajian. Setiap hari gajian mereka sangat bersemangat.


Namun ada seseorang yang sedang mengawasinya. Orang itu masuk caffe layaknya seorang pengunjung. Orang itu terus mengawasi Jonathan dengan hati-hati.


Jonathan yang fokus bekerja sebagai pelayan caffe, ia tak sadar kalau dirinya sedang diawasi. Orang itu ingin percaya atau tidak percaya.


Sosok Jonathan yang ia awasi, merasa kalau Jonathan adalah sosok laki-laki yang biasa-biasa saja. Tapi anehnya, kenapa ia bisa mencurigai Jonathan ?


Jawabannya adalah, ia melihat Jonathan yang sedang membunuh korbannya. Awalnya dia sudah curiga dengan tempat-tempat yang rawan akan adanya penjahat.


Karena semua berita tentang pembunuhan misterius selalu terjadi di tempat-tempat yang biasanya rawan munculnya penjahat, preman dan semacamnya.


Dia sudah ada di sana. Di dalam persembunyiannya, ia melihat sosok Jonathan yang datang, lalu diikuti oleh seorang preman. Preman itu mati dengan cara sadis.


Orang ini masih tidak percaya apa yang ia lihat penampilan Jonathan yang ia lihat hanya seorang laki-laki culun. "Sungguh pandai kamu menyembunyikan sosok aslimu dengan topengmu, anak muda."


Meski kerja sebagai pelayan caffe, Jonathan masih saja mencari uang dengan cara kotornya. Setiap ada kegiatan kosong, ia akan mencari tempat yang rawan penjahat.


Semua uang dan barang-barang para penjahat di tempat-tempat mereka, Jonathan datangi dan membunuhnya.


Orang itu segera pergi dari caffe. Pergi keluar setelah membayar pesanannya tadi. Lalu ia masuk ke dalam mobil. Ia tak menjalankan mobilnya.


Melainkan menunggu jam pulang kerjanya Jonathan. Ia segera mengambil ponselnya. Jarinya mencari nama kontak. Tuan Max, nama kontaknya. Lalu ia segera menghubunginya.


"Halo."


"Halo tuan Max, saya telah menukan orang ini."


"Benarkah ?"


"Apa kamu tidak salah ?"


"Sudah kukatakan. tuan pasti tidak akan percaya. Menurut saya, orang ini pandai menutup wajahnya di balik penampilannya."


"Baiklah, Bawa dia kemari, aku ingin dia menjadi salah satu anggotaku."


"Baik tuan, saya akan membawanya jika situasinya sudah aman."


Tuutt.


.....


Hari sudah malam. Waktu jam kerja telah selesai. Semua karyawan membereskan dan membersihkan sisa-sisa pelanggan yang berkunjung di caffe.


Semua karyawan pulang setelah semuanya selesai. Jonathan masih setia berjalan kaki. Ia belum membeli motor. Baginya berjalan kaki adalah salah umpan untuk memancing preman atau penjahat semacamnya.


Namun ada hal yang membuatnya sedikit curiga. Ada sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dan itu tak jauh dari caffe tempat ia bekerja. Mobil itu sudah lama terparkir sejak sore.


Jonathan tak peduli dengan mobil itu. Mungkin mobil itu mogok atau kehabisan bensin. Dlsaat Jonathan berjalan melewati mobil itu, tiba-tiba pintu mobil itu terbuka.


Keluarlah 2 orang berbadan besar dan tinggi. Lalu ada satu orang berpenampilan biasa. Orang itu menatap Jonathan. "Apa kamu punya waktu ?"


Jonathan memasang wajah polosnya, karena orang yang ada dihadapannya adalah salah satu pengunjung caffe tadi. Jonathan masih mengingat wajah orang ini.


"Ada perlu apa ?" tanya Jonathan sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Kita bicara di dalam mobil saja." kata orang itu.


Jonathan hanya menuruti saja. Setelah masuk, ia duduk dengan tenang. Ia duduk dibelakang bersama orang itu dan 2 orang berbadan besar yang ternyata adalah anak buahnya orang yang duduk disebelahnya.


Mobil pun berjalan. Jonathan menoleh kepalanya ke orang yang duduk disebelahanya.


Orang itu tersenyum. "Namaku Roy, aku kesini ingin membawamu ke atasanku."


Jonathan mengerut dahinya. "Atasan ?"


"Ya, atasanku ingin kamu menjadi anggotanya kelompoknya, aku adalah asistennya, dan mereka berdua...." sambil menunjuk 2 anak buahnya. "...adalah anak buahku."


Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. "Kenapa atasanmu menginginkanku menjadi anggotanya ?"


"Karena dia tertarik dengan aksimu." jawab Roy.


"Aksiku ? Sebagai pelayan caffe ?" sahut Jonathan.


Dua anak buah Roy menahan berusaha menahan diri agar tidak tertawa.


Roy memutar bola mata dengan malas. "Kamu tidak perlu pura-pura menyembunyikan topengmu, anak muda."


"Topeng ? Apa maksudnya ? Aku tidak punya topeng." jawab Jonathan polos.


Roy terkekeh. "Kamu jangan pura-pura tidak tau. Aku tau kamu. Kamu adalah pelaku pembunuhan yang misterius belakang ini."


Dalam hati Jonathan, ia sedikit terkejut, karena ada yang tau rahasianya. Tapi ia masih bisa menutupi terkejutnya.


Roy tersenyum mengejek. "Benarkan, kamu adalah pelaku pembunuhan misterius itu ?"


Jonathan tersenyum menyeringai. "Kamu mendengar cerita karangan itu dari mana ?"