Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 46


Waktu terus berjalan. Tak terasa satu bulan lebih terlewat Jonathan memimpi kelompok gangsternya. Untuk Laura, Nita, dan Sinta juga masa pelatihan bela diri di taman yang ada di belakang rumah. Sedangkan Sarah, ia masih mengalami depresi, dan sedang dalam masa penyembuhan.


Jonathan juga sesekali pergi ke perusahaan peninggalan pemimpin gangsters terdahulu. Ia pergi kesana jika Rino membutuhkan kehadirannya. Dan Jonathan tidak menolak, karena mau bagaimanapun, ia akan memimpin perusahaan itu. Tetapi ia masih hati-hati saat keluar.


Dan untuk melanjutkan kuliah untuknya dan ketiga perempuan itu, ia tunda dulu. Karena Jonathan masih merasa tidak aman jika kelompok mafia yang ia benci masih berkeliaran. Lagi ia sudah punya rencana.


Rencana yang sudah ia buat, akan segera ia jalankan. Saat ini, ia tengah pergi ke kota J. Jonathan tidak sendiri, ia bersama ketiga anak buahnya, salah satunya adalah ahli hecker. Sebelum berangkat, Jonathan meminta Rino untuk tinggal dan menjaga semuanya.


.....


Jonathan dan ketiga anak buahnya telah sampai di kota J, dan akan menjalankan rencananya.


Kini Jonathan dan ketiga anak buahnya masih di dalam mobil. Mobil mereka terparkir di jalan gang kecil yang ada di belakang salah satu gedung perusahaan yang besar. Tepatnya parkir mobil mereka dekat warung makan kecil.


"Tony, sekarang mulailah aksimu." ucap Jonathan datar tanpa menoleh dan pandangannya masih ke depan.


Tony sang hacker sekelas mafia, salah satu anak buah Jonathan yang duduk di kursi penumpang bekalang mobil pun menjalankan tugasnya. "Baik tuan."


Hampir satu jam Tony sibuk dengan laptopnya. Sekarang adalah waktunya jam istirahat. Lebih tetapnya adalah jam makan siang untuk para karyawan.


Malihat para karyawan keluar untuk istirahat dan masuk ke dalam warung makan, Jonathan dan kedua anak buahnya segera turun dari mobil dan meninggalkan Tony yang sibuk mengotak-atik laptopnya.


Mereka bertiga berjalan menjauhi tempat itu. Mereka masuk ke dalam gedung perusahaan besar itu dengan melewati pintu belakang. Mereka masuk tanpa rasa khawatir, karena semua CCTV di gedung itu telah di sadap oleh Tony.


Meski begitu mereka tetap hati-hati. Karena masih ada karyawan yang di dalam sibuk dengan bekal makan siangnya di dalam ruangan dan ada juga makan di kantin.


Mereka berjalan menuju ruang ganti karyawan, tepatnya ruangan OB. Mereka segera mengganti pakaian mereka dengan seragam OB yang tersedia di salah dalam karung. Kondisi seragam OB itu masih baru.


Jonathan yang paham itu, karena ingatan pemilik tubuhnya pernah kerja sebagai OB. Pasti di dalam ruangan karyawan OB sudah ada seragam baru atau bekas yang terkumpul jika suatu saat ada karyawan OB baru atau risegn.


Bahkan kedua anak buahnya kagum dengan rencana tuan muda mereka yang benar-benar direncanakan dengan matang-matang, rencana waktu, tempat, dan kondisi semua benar-benar cukup perfect.


Dengan pura-pura mereka mengambil perlengkapan kebersihan untuk menjalankan aksinya selagi jam siang atau istirahat belum habis.


.....


Jonathan dan kedua anak buahnya berjalan terpisah. Jonathan berjalan menuju ruangan presedir sambil membawa perlengkapan kebersihannya. Sedangkan kedua anak buahnya berjaga-jaga di ruangan yang berbeda sambil bersih-bersih.


Jonathan menjalankan tugasnya sebagai OB. Ia menyapu tempat itu. Dan ia juga melihat sekelilingnya. Meja sekertaris kosong. Pasti di dalam ruangan presedir tidak ada orangnya.


Jonathan perlahan membuka pintu ruangan itu. Dan benar susuai dugaan. Di dalam ruangan presedir itu tidak ada orangnya. Jonathan segera mengambil salah satu buju besar lalu ia masuk ke dalam toilet yang ada di dalam ruangan itu untuk bersembunyi.


.....


Sudah hampir dua jam, Jonathan bersembunyi, terdengar suara pintu masuk. Jonathan tetap bertahan bersembunyi. Ia juga mendengar semuanya. Pembicaraan suara pria dengan wanita dari luar.


Lalu suara pembicaraan itu semakin tidak beres. Pasal tiba-tiba terdengar suara desahan. Jonathan komat-kamit. Bisa-bisanya melakukan hal yang menjijikan di dalam kantor.


Pria itu bangun menyudahi bercintanya. Jonathan langsung melempar buku besar yang ia ambil sebelumnya ke arah pria itu. Dan Jonathan juga segera ambil gelas kaca yang ada di meja kerja di ruangan itu dan melemparnya.


Praang !!


Buku besar dan gelas yang ia lempar kena sasaran. Pria itu kesakitan. Mungkin buku besar yang menghantam kepalanya lumayan sakit, tapi gelas kaca yang menghantam kepalanya, cukup membuatnya pusing dan mengeluarkan darah di jidatnya.


Jonathan melangkah cepat dan langsung menendang alat jantan milik pria itu. Pria itu berlutut sambil memegang ular sancanya yang sakit amat luar biasa.


Jonathan juga segera memukul kepala wanita yang masih diam terbaring di sofa.


Bugh !!


Wanita itu pingsan setelah kepalanya dipukul. Jonathan berjalan mendekati pria telanjang dan berlutut memegang burungnya.


Jonathan berjongkok dihadapannya. "Bagaimana kabarmu Max ?"


Ya, pria itu adalah Max. Sang ketua mafia yang selama ini mencari-cari keberadaan Jonathan, Laura dan lainnya.


Max segera bangun, ia tak peduli posisinya telanjang, dan rasa sakitnya. Max segera melayangkan pukulannya.


BUGH !!


Jonathan terjatuh setelah mendapat pukukan di wajahnya.


Duak !!


Tubuh Jonathan ditendang Max. Jonathan meringis kesakitan. Selagi Jonathan masih terbaring, Max segera memakai celananya.


Setelah memakai celana panjangnya. Max menatap Jonathan yang sudah duduk di lantai sambil memegang pinggangnya yang telah di tendang oleh Max tadi.


"Kamu berani datang untuk bunuh diri ?" tanya Max, ia berdiri di hadapan Jonathan yang masih duduk meringis kesakitan.


Max menatap tajam. Lalu ia mendekat, kedua tangannya memegang leher Jonathan. "Tapi dengan datangnya dirimu ke hadapanku, aku jadi tidak perlu repot-repot mencarimu." lalu ia mencekiknya.


"Kubunuh kau !!" ucap Max sambil mencekik leher Jonathan dengan kuat-kuat. Ia sudah sangat-sangat marah, sudah saatnya ia membunuh laki-laki ini.


JLEB !!


"Aggrrhhh !!"


Max melepaskan cengkramannya. Dari samping, lehernya terluka dan banyak mengeluarkan darah akibat terkena tusukan.


Tubuh Max lemas, darahnya mengalir keluar, ia berlutut sambil memegang lehernya. Dihadapan Max, terlihat Jonathan sedang terbatuk-batuk akibat cengkramannya.


Jonathan mengatur nafasnya yang naik turun. Terlihat darah di sudut bibirnya bekas pukulan Max sebelumnya. Meski terdesak, ia masih bisa tetap tenang. Lalu ia bangun berdiri. Salah satu tangannya masih mengenggam belatinya.