
"Nita !!! Sarah !!!"
Laura yang sudah masuk ke dalam vila, ia berteriak memanggil nama kedua sahabatnya.
Dari lantai satu, Laura mencari-cari mereka berdua. Dsri dapur. Kamar pertama di lantai satu sudah ia buka, namun tidak ada. Lalu ia mencoba ke kamar yang satunya.
Laura terbelalak melihat Nita yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Ia segera berlari kecil masuk ke dalam kamar. Ia membangunkan Nita.
Laura bersyukur, Nita masih berpakaian lengkap, sahabatnya belum diapa-apakan. "Nita bangun !!"
Laura memeluk tubuh Nita dan menepuk kedua pipinya. Perlahan kedua mata Nita terbuka, dan pertama kali yang ia lihat adalah sahabatnya. "Laura ?"
"Syukurlah, kamu sadar." ucap Laura memeluk erat Nita.
Nita bingung. Lalu ia segera meminta Laura melepas pelukannya. Laura pun melepasnya. Nita menatap Laura. "Sebenarnya apa yang terjadi ?"
Lalu Nita memandang sekelilingnya, ruangan asing yang tidak ia kenali. "Ini dimana ?"
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu bagaimana bisa disini ?" tanya Laura.
Niya terdiam, lalu ia mencoba mengingat. Seketika ia terdiam, lalu menatap Laura. "Alu tak mengingat keseluruhannya, yanh jelas, saat pulang dari warung, tiba-tiba ada yang menutup mulutku dengan kain, dan setelah itu aku tak mengingatnya lagi."
"Dan kamu, bagaimana bisa menemukanku ?" tanya Nita.
Laura menceritakan semuanya, tanpa ada yang dikurangi dan dilebihkan. Nita terkejut mendengarnya.
"Jonathan tau kita ada di puncak ?" tanya Nita terkejut.
"Terkejut nanti saja, sekarang kita harus mencari Sarah." kata Laura, ia bengkit berdiri dari duduknya, dan membantu Nita bangun berdiri.
Laura membawa Nita keluar dari kamar. Sekarang mereka mencoba ke lantai dua. Karena Laura sudah mesuk ke semua ruangan di lantai satu, dan ia hanya menemukan Nita.
Laura bejalan cepat menaiki anak tangga ke lantai dua. Nita masih berjalan pelan, karena ia masih merasakan sedikit pusing di kepalanya.
"Sarah !!" Laura berteriak memanggil nama sahabatnya.
"Sarah !!" ia kembali berteriak lagi.
Laura mencari-cari keberadaan Sarah di lantai dua. Kamar pertama yang ia masuki, tidak ada siapapun. Lalu ia ke kamar berikutnya. Sama, kamar kedua tidak ada siapa-siapa.
Lalu tinggallah kamar terakhir. Ia berjalan mendekatinya, Laura yakin kalau kamar terakhir pasti ada hasilnya.
Sesuai dugaaan. Kamar terakhir tidak terbuka. Padahal, ia sudah memutar handle pintunya. Tetap tidak terbuka, tepatnya terkunci. Laura lalu mengetok-ngetok pintunya.
"Sarah apa kamu dalam ?" Laura berteriak.
"Sarah.." Laura memanggilnya lagi.
Nita berjalan mendekati Laura. "Bagaimana ?"
"Aku tidak tau, tapi ini adalah kamar terakhir.." Sarah menjawab.
Lalu terdengar suara dari dalam kamar itu. Suara itu entah desahan yang terlepas.
"Aaggrrhhh.."
Dan terdengar suara laki-laki yang tertawa dari dalam kamar. "Hahaha, sudah jangan menangis, bukankah kamu menikmatinya ?"
Laura dan Nita terdiam. Mereka saling bertatapan. Seketika mereka berdua sadar dan panik. Mereka yakin kalau Sarah ada di dalam kamar itu.
"Buka pintunya br3ngsek !!" Laura berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.
"Buka pintunya laki-laki laknak !!" Nita juga berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.
.....
Di dalam kamar.
Dirinya menangis dalam diamnya. Hancur sudah masa depannya. Hal penting yang selama ia jaga, kini telah di renguk oleh laki-laki yang tidak dikenali. Ia masih merasakan sakit di area bawah sana.
Terdengar suara gedoran pintu dan teriakan dari luar kamar. Namun Sarah mengabaikannya. Ia merasa buat apa ia harus ditolong, semua sudah terlambat.
Terlihat ada laki-laki itu tersenyum puas apa yang ia dapat. Ia tidak peduli dengan suara teriakan dari luar, ia tak merasa aneh dengan teriakan itu. Yang ia tau adalah satu gadis saja, mungkin Aji dan gadisnya tengah kejar-kejaran.
Padahal teriakkan itu adalah suara teriakan dua gadis yang ingin menolongnya wanitanya. Sarah hanya menangis dalam diamnya, ia hanya terbaring di kasur sambil dan membelakangi pintu kamar.
Tubuhnya telanjang bulat, tidak ia tutupi dengan selimut. Kembali lagi ia sudah pasrah, dirinya sudah kotor. Adit yang melihat itu, miliknya tegang lagi ,saat melihat Sarah tidak menutupi tubuh telanjangnya.
"Sepertinya kita akan bermain lagi."
Suara gedoran dari luar memang terganggu, namun Adit tidak peduli. Ia pasti yakin Aji bisa mengatasi gadis yang berteriak-teriak dari luar kamarnya.
Adit pun menyalakan musik hardcore dengan volume keras, dan ia kembali naik ke ranjang mendekati Sarah yang membelakanginya.
Sarah hanya bisa menangis, dirinya kini sudah tak suci, ia sudah pasrah jika Adit menyentuhnya lagi. Ia hanya berharap setelah ini, ia akan mengakhiri hidupnya.
.....
Di luar kamar.
Laura dan Nita terus berusaha membuka pintu kamar itu. Ia dan Nita mendobraknya. Namun tetap saja pintu kamar itu tidak terbuka.
"Kita harus bagaimana ? Pintunya tidak mau terbuka." kata Nita.
Laura tidak menjawab. Ia tetap terus mendobrak pintu itu. Laura sudah tidak peduli sakit pada tubuhnya hanya karena menghantamkan sebuah pintu yang tidak mau terbuka.
"Apa yang kalian lakukan ?"
Terdengar suara yang tak asing di telinga Laura dan Nita. Mereka menoleh kepalanya dan benar sesuai dugaan. Jonathan telah ada depan mereka.
Laura menatap teman masa kecilnya. "Jo, tolong bantu aku membuka pintunya."
"Membuka pintu ? Untuk apa ?" tanya Jonathan tersenyum remeh.
"Jonathan, tolong, Sarah ada di dalam." Laura memohon lagi kepada Jonathan.
Jonathan terkekeh melihatnya. "Bukankah ini hasil dari tindakan kalian yang tiba-tiba pergi begitu saja ?"
Laura terdiam, lalu ia menunduk. Laura menangis, ia menyadari kesalahan. Andai saja ia dan kedua temannya tidak pergi, semuanya tidak akan seperti apa yang sekarang telah terjadi.
Laura kembali menatap Jonathan yang hanya tersenyum remeh padanya. Lalu ia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Jo, aku mohon, tolong 'lah sahabatku. Aku janji setelah ini aku akan mendengarkanmu..." ucap Laura bergetar, karena ia menahan untuk tidak menangis.
Jonathan yang tadinya tersenyum, pun senyumannya memudar saat melihat Laura yang akan menangis. Sebenarnya ia tidak peduli, namun entah kenapa tubuhnya berkata lain.
Lalu tangan kirinya mengambil pistol yang ia simpan di balik pakaiannya.
Dor !! Dor !! Dor !!
Laura menutup kedua matanya, kedua tangannya masih dalam posisi menangkupkan di depan dadanya. Ia terkejut saat Jonathan mengeluarkan pistol kecilnya.
Ternyata Jonathan menembak handle pintu kamar itu. Lalu ia menyerahkan pistolnya kepada Laura.
"Kalian berdua turun kebawah, jagalah laki-laki yang tak sadarkan diri di ruang tengah." lanjutnya. Maksud Jonathan adalah siapa lagi kalau bukan Aji.
Nita yang dari tadi diam, tak berani berkata apa-apa saat melihat kedatangan Jonathan, lalu tubuhnya terasa ditarik, karena Laura menariknya. Laura menjauhi Jonathan, ia tak berani melihat pemandangan mengerikan yang akan di lakukan laki-laki itu.
Setelah melihat Laura dan Nita turun ke lantai bawah, Jonathan segera masuk ke dalam kamar itu, dan menutupnya. Kamar itu sangat berisik karena volume musik hardcore terlalu tinggi.
Lalu ia menatap pemandangan yang tak pantas. Jonathan mendekat sambil mengambil pisau lipat yang ia simpan di dalam saku celana jeansnya.