
Keputusan Jonathan, ia akan membawa Nadia dan Nadien. Semalam, Jonathan dan Tony menginap di rumah itu. Nadia dan Nadien pergi ke kamar, dan membereskan barang mereka. Hanya saja Nadien terlihat diam saja tanpa berbicara. Dia masih merasa sedikit tidak terima kenyataan.
Sementara, Jonathan dan Tony sedang mengerjakan sesuatu kepada Jimmy. Beberapa lama kemudian, datanglah sebuah mobil hitam, Jonathan tersenyum sesuatu. Setelah semua beres, ia dan Tony segera tidur di sofa terpisah di ruang tamu.
.....
Keesokan Harinya.
Hari telah pagi, semua tengah sarapan bersama. Suasana ruangan itu hening. Tony lebih dulu selesai sarapannya, karena ada harus yang ia lakukan. Setelah semua sarapan selesai, Jonathan berjalan keluar, karena ia juga akan melakukan sesuatu.
Tinggallah, Nadia dan Nadien yang masih di ruangan itu. Nadien pun bersuara. "Mah, apa kita harus pergi dari sini ?"
"Iya, ini adalah permintaan kakakmu. Kamu juga akan pindah sekolah." jawab Nadia.
"Aku masih tidak percaya, kalau laki-laki gila itu adalah kakakku." balas Nadien.
"Tapi kenyataannya dia adalah kakakmu. Dia masih hidup." kata Nadia membalas kata-kata Nadien.
"Tapi kata papah Jimmy, kakak dan ayah kandungku sudah meninggal." jawab Nadien.
Nadia menghela nafasnya. Harus pelan-pelan anak gadisnya untuk menerima kenyataan. Ia pun berkata. "Bukankah mamah sudah kasih tau padamu. Sebenarnya, papah tirimu yang mengarang cerita kalau kakak dan ayah kandungmu telah meninggal. Mamah terpaksa menuruti papah tirimu. Jika tidak keselamatan kakakmu dan ayahmu menjadi taruhannya."
Nadien terdiam, tak menjawab. Nadia kembali bersuara sambil mengelus lembut kepala putri yang sudah remaja. "Maafkan Mamah selama ini menyembunyikan semuanya. Mungkin sekarang waktunya kita berkumpul kembali."
Nadien masih tidak menjawab. Ia hanya bisa diam. Nadia pun menyadari, semenjak bangun pagi, ia tak melihat pembantu rumah. Karena biasanya pembantunya akan datang awal. Tapi tidak ada.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Jonathan mendekati ibu dan adiknya. Nadia yang melihatnya segera berdiri dari duduknya dan bertanya. "Dimana laki-laki itu ?"
"Jimmy ?" sahut Jonathan datar. Nadia mengangguk kepalanya, ia tidak sudi menyebut nama laki-laki yang sudah membuat keluarga terpisah.
"Dia sudah kubereskan." jawab Jonathan dingin.
Seketika Nadien membeku mendengarnya, pikirnya, Jonathan adalah sosok laki-laki gila. Disisi Nadia, ia terbelalak, lalu ia bersuara. "Kamu apakan dia ?"
"Kalian tidak perlu tau, yang jelas dia masih hidup. Karena aku tidak akan membuatnya mati dengan mudah." jawab Jonathan santai.
Nadia tidak berkata-kata lagi untuk membalas kata-kata Putranya. Sedangkan Nadien, ia menduga kalau sosok Jonathan adalah laki-laki gila, karena mengingat, kakak laki-lakinya pernah memukul wajah sahabatnya.
.....
Semua telah siap. Barang-barang bawaannya telah dimasukan ke dalam bagasi mobil. Nadia dan Nadien duduk di belakang.
Tony yang akan mengemudikan mobilnya, dan Jonathan duduk di sampingnya. Tony pun menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah besar milik Jimmy.
Suasana di dalam mobil, hening. Tidak ada pembicaraan. Nadia pun bersuara. "Jonathan, apa kamu yakin membawa kita."
Jonathan mengangguk kepalanya. "Ya, keputusanku sudah bulat, membawa kalian bersamaku. Karena aku tidak ingin kita terpisah kembali." jawab Jonathan.
Nadia tersenyum dan kedua matanya berkaca-kaca. "Terimakasih, kamu menerima mamah nak."
"Aku juga ingin memperkenalkan mamah kepada istriku." kata Jonathan sambil tersenyum.
"Kamu sudah menikah ?" sahut Nadia terkejut dan bertanya.
Jonathan hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya. Nadia senang mendengarnya. Ia tak menyangka, setelah bertemu dengan Putra kandungnya, sekaligus mendapat menantu.
Jonathan pun tersadar. "Kenapa mulutku bisa berkata seperti ini ?"
.....
Ia sudah paham dengan mobil hitam yang mengikutinya dari belakang. Karena mobil hitam itu dikemudikan oleh kenalannya, tepatnya anak buahnya yang tinggal dan kerja di Kota J.
Semalam Jonathan meminta Tony untuk menghubungi dua anak buahnya yang tinggal dan kerja di Kota J. Mereka berdua juga punya usaha sendiri yang cukup terjamin, karena sebelumnya Jonathan 'lah yang memberi mereka modal untuk membuka usaha.
Mereka berdua datang dengan mobil hitamnya. Jonathan meminta kedua anak buahnya untuk membawa Jimmy. Kedua anak buahnya dengan senang hati menjalankan tugas dari tuannya.
Jimmy akan dibawa ke Kota S. Dan satpam yang berjaga di rumah itu, Tony melepasnya, dan memberi uang yang tidak sedikit untuk satpam itu untuk pergi dan tutup mulut
Jonathan menyuruh para pembantu untuk pergi dan meminta untuk mencari majikan ke tempat lain Setelah memasak. Namun sebelum pergi, Jonathan memberi mereka uang yang tidak sedikit, ibaratkan pesangon.
Data perusahaan J Company telah kembali. Dan nasib perusahaan Jimmy, tentu saja akan menjadi milik Jonathan. Bukannya mau merebut, karena ia tidak tega nasib karyawan perusahaan tanpa pemimpin.
.....
Perjalanan menuju ke kota S cukup lama. Terkadang mereka berhenti untuk istirahat dan makan, dan juga, terkadang Tony dan Jonathan saling bergantian untuk mengemudikan mobilnya.
Hingga pada sore hari, mereka pun tiba. Mobil yang dikemudikan Jonathan telah sampai, dan masuk ke dalam rumah besar miliknya. Mereka segera turun, dan Nadia dan Nadien mengambil barang-barang mereka.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Namun saat masuk rumah, sudah ada Laura dan ketiga temannya. Bahkan ada Salsa juga. Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu.
"Jo..!!" panggil Laura, ia segera berdiri dari duduknya.
"Ada apa ?" ucap Jonathan datar.
Dari raut wajah keempat perempuan itu sekana panik. Terutama Salsa, ia yang terlihat sangat panik sekaligus ketakutan. Jonathan dan Tony menduga ada yang tidak beres selama mereka pergi.
"Kamu tenang dulu." ucap Laura.
"Kenapa ?" sahut Jonathan datar.
Laura menghela nafasnya. Lalu ia berkata. "Tasya hilang."
Jonathan melangkah mendekat, dan menatap dingin ke arah Laura. "Kamu bercanda ?"
"Kamu tenang dulu. Baru saja kak Roni, kak Dika, kak kak Agil, kak David bahkan kak Sinta dan kak Selly juga mencarinya." kata Laura.
Tony yang berdiri, ia hanya diam, ia juga heran kenapa Laura tidak memberitahunya. Begitu juga dengan Nadia dan Nadien yang juga ada di dalam ruangan itu.
Laura memenjam kedua matanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebisa mungkin Jonathan untuk tetap tidak panik, ia pun bersuara. "Jadi, kapan hilangnya ?"
Salsa yang tadinya duduk dan mendengarkan, perlahan ia berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Jonathan. "Sebenarnya aku yang salah Jo."
Jonathan memiringkan kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah Salsa. "Kenapa bisa hilang ?"
Salsa diam, ia menundukan kepalanya. Ia tidak berani menatap Jonathan yang berdiri dan bertanya padanya. Jonathan kembali bersuara. "Jawab, kenapa bisa hilang ?"
Salsa pun menceritakan kejadian hari ini. Setelah pemotretan Tasya dan Salsa, mereka berdua akan pulang bersama. Salsa meminta Tasya untuk ke parkiran lebih dulu, ia akan menyusul, karena ia ingin pergi ke toilet.
Setelah selesai dari toilet, ia ke parkiran. Di parkiran, ia tak melihat Tasya. Ia sudah mencoba menghubunginya, namun ponsel Tasya tidak bisa dihubungi. Akhirnya ia memilih menghubungi Laura.
Mendengar cerita Salsa, Jonathan menatap dingin ke arah Salsa. Ia langsung melayangkan pukulannya ke pipi wanita itu.
BUGH...!!
Salsa pun terjatuh duduk di lantai. Pipi mulusnya lembam, dan di sudut bibirnya juga ada darah. Salsa memegang pipinya, ia gemetaran ketakutan.
Dengan dingin, Jonathan bertanya. "Kenapa kamu tidak langsung menghubungiku ?"