
Jonathan yang masih memakai topeng, ia menyapa. "Selamat malam pak Faiz."
Faiz mengenal suara itu, tapi ia benar-benar tak tau, karena laki-laki yang berdiri didepannya memakai topeng konyol.
"Siapa kamu ?" Faiz bertanya, ia berusaha tetap untuk tidak takut.
Mendengar pertanyaan dari Faiz, Jonathan menunjuk dirinya. "Siapa aku ya ?"
Lalu ia melepaskan topengnya. Faiz terkejut melihat wajah laki-laki itu. Jonathan, laki-laki yang ia remehkan untuk menunda kerja sama.
Setelah Jonathan melepas topengnya, tangannya meraih kacamatanya yang ia simpan di saku kemejanya. Lalu ia memakainya. Faiz melihat itu geram karena ia kenal dengan laki-laki dihadapannya ini.
"Kau.."
Plak !!
Ucapan Faiz terpotong setelah Jonathan menampar pipinya dengan keras. Sudut bibirnya juga terlihat darah. Tony memilih diam dan menikmati tontonan yang ia lihat.
Wajah Faiz memerah, marahnya sampai ke ubun-ubun. Ia menatap tajam ke arah laki-laki berkacamata itu. Ingin sekali membalasnya.
Namun ia sadar ia tak bisa bergerak karena ia terikat di kursi kerjanya. Kedua tangan dan kedua kakinya pun juga terikat. Tapi ada hal yang membuat penciumannya tidak nyaman.
Faiz mencium sesuatu, seperti tidak asing dengan aromanya. Namun ia menepis pikirannya, lalu menatap Jonathan. "Kau menginginkan apa dariku ?"
Jonathan memegang dagunya. "Keinginanku ya ? Aku menginginkan semuanya."
"Apa maksudmu ?" tanya Faiz.
"Segala semua harta yang kamu punya menjadi milikku, dan perusahaanmu." jawab Jonathan santai.
Faiz terkejut mendengarnya. Perusahaan yang selama ini ia bangun mati-matian, ingin direbut oleh laki-laki muda berkacamata ini. Lalu Tony yang berdiri di belakang Jonathan, ia melangkah maju. Tangannya menggenggam dokumen-dokumen penting.
Faiz yang melihat apa yang dipegang Tony. Tony menyerahkan sebuah kertas putih bermaterai di hadapan Faiz. Faiz membaca kertas itu terkejut bukan main. Ternyata pengalihan perusahaannya kepada Jonathan.
"Aku tidak akan mendatangin surat ini !!" ucap Faiz marah.
Tony kembali menarik suratnya. Ia hanya tersenyum. Lalu ia malangkah mundur. Ia membiarkan Jonathan yang mengatasi masalahnya.
Jonathan tersenyum.
"Baiklah tidak masalah kalau kamu tidak ingin mendatanginya. Lagian aku sudah menduganya." lalu ia membuka sebuah dompet yang ia ambil dari nakas, dan ia menarik sebuah KTP dari dalam dompet itu.
"Kita lihat KTP ini." kata Jonathan sambil memengang KTP milik Faiz. "Di zaman sekarang yang sudah maju. Tapi masih banyak yang belum tau cara mengatasi masalah seperti ini."
Faiz diam, namun tetap menatap tajam ke arah Jonathan. Dan ia tak mengerti apa yang sedang dikatakan Jonathan. Tony juga yang mendengarnya juga belum mengerti kata-kata tuannya barusan.
Jonathan menunjukkan KTP milik Faiz. "Tanda tangan di KTP-mu ini, tinggal kita scan. Lalu kita cetak, dan kita buat tanda tanganmu dijadikan stempel."
Faiz terdiam. Lalu ia mencerna apa yang dikatakan Jonathan, beberapa detik kemudian, ia pun terbelalak. Sedangkan Tony pun terkejut, jujur ia memang pandai dalam bidang IT, tapi ia baru mengetahui hal yang dijelaskan Tuannya.
Memang rumit, namun pasti akan hasilnya. Tony semakin kagum pada tuannya. Tak hanya sadis, tapi juga pandai dalam mengatasi solusi.
"Ahhh, rasanya aku bosan ingin menyiksamu." kata Jonathan.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku." ucap Faiz marah.
Jonathan tersenyum remeh. "Tentu aku harus melakukannya. Kau memang salah satu orang yang terpengaruh di kota ini. Tapi tidak ada yang tau kalau kau diam-diam menjalankan bisnis gelap di luar perusahaanmu."
Tentu saja Jonathan tau dari Tony sang IT kelas profesional. Segala berita umum atau dari dunia bawah, ia bisa mengetahuinya.
Jonathan menoleh kepalanya ke arah Tony. "Sekarang kita pergi. Urusan kita telah selesai."
Tony mengangguk kepalanya. Ia lebih dulu pergi keluar dari tempat itu. Tinggallah Jonathan dan Faiz yang masih terikat di kursi.
"Ahh, aku melupakan sesuatu." kata Jonathan. "Apa kamu mencium aroma tidak nyaman dikamar ini ?"
Faiz pun terdiam, dari awal ia sadar ia juga sudah tak nyaman dengan indra penciumannya. Lalu ia menyadarinya. Faiz terbelalak, ia mengenali aroma di ruangan kamarnya. "Bensin ?"
Jonathan meraih sesuatu dari saku celananya. Faiz menggeleng-gelengkan kepalanya melihat korek api gas di genggaman tangan Jonathan.
"Jangan lakukan ini. Aku akan menuruti semua permintaanmu." ucap Faiz.
Jonathan tersenyum. "Aku sudah tidak tertarik. Lagian kamu sudah membuatku kesal sejak awal kita dalam pertemuan."
.....
Diluar rumah, Tony yang sedang menunggu tuannya di dalam mobil. Sambil menunggu, ia memilih bermain game di ponselnya.
Beberapa saat kemudian, indra pendengarannya mendengar langkah kaki mendekat. Ia pun menghentikan gamenya dan menoleh.
Tuannya telah keluar dari dalam rumah. Jonathan berjalan mendekat. Lalu ia masuk ke dalam mobil. Tony pun bertanya. "Bagaiman tuan Jo ?"
"Kita sekarang pergi pulang. Karena akan ada kembang api." jawab Jonathan.
Tony menyalakan mesin mobilnya. Lalu melaju pergi dari tempat itu. Jonathan tersenyum puas apa yang sudah ia dapat.
Hari sudah malam, dan waktu juga telah menunjukan jam 2 malam. Tony menjalankan mobil untuk pulang.
Jonathan telah membiarkan Faiz terbakar hidup-hidup. Sebelum keluar rumah itu, Jonathan juga tak lupa membocorkan selang tabung gas di dapur.
Ia yakin pasti besok akan ada berita heboh tentang pengusaha terkaya dan terpengaruh di kota S, telah tewas.
.....
Esok harinya. Pada hari minggu.
Dimana semua pada libur dengan pekerjaannya dan pendidikannya. Dan benar saja ada berita heboh. Tak perlu dijelaskan, pasti siapa yang dibalik membuat berita heboh itu.
Saat ini semua tengah sarapan. Rino, Laura, Sarah, Dika, dan yang lainnya melirik ke arah Jonathan dan Tony. Kedua laki-laki itu santai memakan makanannya, seakan tidak merasa terjadi apa-apa.
Semua orang menduga kalau semalam Jonathan dan Tony dibalik kematian pengusaha terkaya itu.
.....
Kini semua tengah berkumpul di ruang kerja setelah sarapan. Laura, Nita, dan Sarah memilih untuk pergi untuk pergi ke mall. Dan tak lupa, Rino mengirim pengawal untuk menjaga mereka bertiga.
Jonathan duduk di kursi kebesarannya dan bercerita semuanya. Sedangkan Tony sibuk dengan game di ponselnya.
Rino, Selly, Sinta, Dika, Agil, dan David terkejut bukan main mendengar cerita Jonathan. Jonathan menyerahkan semuanya kepada Rino dan yang lainnya untuk mengurus data-data penting apa yang ia dapat.
Jonathan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Ia memilih ingin keluar. Selagi hari minggu, ia menginginkan berkeliling menggunakan motor maticnya.
"Aku ingin mencari suasana baru."