Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 37


Setelah selesai berdiskusi, Jonathan memutuskan untuk kembali ke hotel. Ia mengendarai mobilnya keluar dari rumah besar para gangster itu.


Di pintu gerbang, Rino dan anggota gangster lainnya menunduk untuk memberi hormat atad kepergian pemimpin baru mereka, siapa lagi kalau bukan Jonathan.


Sesuai sepakatan saat berdiskusi tadi. Jonathan bersedia menjadi pemimpin gangster yang baru. Rino dan anggota lainnya pun senang mendengar.


Tapi Jonathan memberi syarat, ia mau menjadi ketua mereka asal Rino yang memimpin para anggotanya, dan mempercayakan soal perusahaan kepada Rino. Dengan senang hati Rino dan anggotanya menyetujuinya.


Rino dan Jonathan bertukaran nomer telefonnya. Rino juga memberi kartu kredit tanpa batas kepada Jonathan, agar jika Jonathan ingin membeli kebutuhan, tinggal ia menggunakan kartu itu.


Dengan senang hati Jonathan menerimanya, baginya, tidak perlu repot-repot mencari penjahat rendahan untuk merampas uangnya. Kadang Jonathan masih tak percaya kepada Rino.


Ia sedikit meragukan kepercayaan Rino dan anggotanya. Dengan mudahnya Rino dan anggotanya menerima permintaannya. Inilah yang paling Jonathan tidak suka jika menjadi bos.


Tapi tetap saja, Jonathan tidak akan sepenuhnya percaya kepada Rino dan anggotanya. Karena suatu saat bisa saja mereka menusuknya dari belakang.


Dan untuk Sinta, wanita bayarannya Rudi, Jonathan meminta beberapa anak buahnya untuk menahannya, dan jangan diapa-apakan, karena Jonathan merasa wanita itu akan berguna nantinya.


.....


Jonathan Kembali ke hotel. Ia turun dari mobil honda jazz berwarna hitam. Jika bertanya kemana mobil hit avanzanya, Jonatha meninggalkannya di rumah besar tadi.


Karena sebelumnya, Rino menyarankan koleksi dari salah satu mobil peninggalan pemimpin terdahulunya. Tentu saja, Jonathan tidak ingin menyia-siakan itu.


Jonathan segera pergi meninggalakan mobilnya di parkiran. Lalu ia masuk ke lift.beberapa saat kemudian ia telah sampai di lantai atas tempat kamarnya yang ia sewa.


Jonathan segera berjalan menuju kamarnya. Ia telah masuk ke dalam kamar, dan tak lupa ia kembali menutup pintu kamar, lalu ia menguncinya.


Ingin sekali langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Tapi karena merasa tidak nyaman, ia memilih mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.


.....


Hari sudah pagi.


Laura lebih awal untuk bangun ia segera mwmbereskan barang-barangnya. Ia juga membangunkan Sarah, dan Nita.


Laura yang sudah selesai membereskan barangnya, ia lebih dulu mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Sarah, dan Nita belum selesai membereskan barang mereka.


"Setelah ini, kita harus pergi kemana ?" tanya Nita.


"Entahlah, yang terpenting kita harus pergi jauh-jauh dari Jonathan." kata Sarah, ia berfikir seperti Luara, karena bisa saja Jonathan diam-diam punya rencana kepada mereka bertiga.


Laura keluar dari kamar mandi, ia telah selesai menyelesaikan membersihkan dirinya. Lalu ia menatap kedua temannya.


"Buruan !! Siapa yang mau mandi selanjutnya." ucap Laura, ia berjalan mendekati ranjang, pakaiannya telah siap di atas kasur.


Sarah yang lebih dulu selesai, ia segera meraih handuknya dan berjalan masuk ke kamar mandi.


Nita yang baru saja selesai membereskan barang-barangnya, ia menatap Laura yang sudah berpakaian lengkap, dan sedang mengeringkan rambutnya.


"Laura, setelah ini kita harus pergi kemana ?" tanya Nita.


Laura menjawab. "Yang penting kita pergi jauh-jauh dari Jonathan, kita cari tempat yang aman dan jauh."


Nita menghela nafasnya, karena mendapat jawaban yang sama seperti Sarah tadi.


.....


Semua telah siap. Ketiga gadis itu segera keluar dari kamar mereka. Tak ada barang apapun yang tertinggal, atau meninggalkan pesan tertulis.


Laura, dan kedua temannya telah keluar dari hotel. Mereka bernafas lega, karena jam masih menunjukkan jam 6 pagi. Dan Jonathan juga belum terlihat keluar dari kamarnya.


Lagian, dari kemarin semenjak Jonathan pergi entah kemana, mereka tak melihatnya lagi. Mereka menunggu taksi online yang telah dipesan oleh Laura.


Mereka segera masuk ke dalam taksi online mereka yang telah datang. Tanpa disadari mereka bertiga, ada 2 mahluk manusia berjenis kelamin laki-laki memperhatikan ketiga gadis itu.


"Ayo, kita ikuti mereka." ucap Adit.


Aji segera menyalakan mesin mobilnya. "Oke !!"


Sebenarnya mereka akan pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu. Tapi saat akan berangkat, dan baru keluar dari parkiran dengan mobil mereka, tanpa tidak sengaja melihat tiga gadis yang membuat mereka tertarik.


Mereka jadi teringat, lalu mereka segera mengikuti mobil yang dinaiki Laura, Sarah, dan Nita. Adit semakin semangat, begitu juga dengan Aji.


"Seperti kita harus bersenang-senang sebelum kembali pulang." kata Adit.


Aji tersenyum menyeringai, dan mengangguk kepalanya. "Kau benar, setidaknya kita punya kenangan di kota ini."


Mobil yang dinaiki Aji dan Adit, terus mengikuti mobil yang dinaiki ketiga gadis itu dari belakang.


.....


Jonathan yang baru saja selesai mandi pagi membersihkan dirinya. Ia segera memakai pakaiannya. Tak lupa ia memakai kacamatanya. Ia berjalan keluar dari kamarnya.


Ia mendekati pintu kamar yang dihuni ketiga gadis. Jonathan merasa heran. Kenapa pintu kamar ketiga gadis itu terbuka, dan hanya ada seorang karyawan perempuan yang sedang bersin-bersin di dalam.


"Maaf, kemana ketiga gadis yang menginap di kamar ini ?" tanya Jonathan.


"Maaf mas, mas-nya siapa mereka ?"


"Saya teman mereka." jawab Jonathan.


"Ohh, penghuni kamar ini telah pergi."


Jonathan sedikit terkejut. Lalu ia berpamitan setelah mengucapkan Terimakasih. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Jonathan segera duduk di pinggir kasurnya. "Mereka pergi pasti karena membenciku, dasar bodoh, apa mereka tidak khawatir jika ada penjahat di kota ini ?"


Jonathan mencoba menelpon nomer Laura, Sarah, dan Nita secara bergantian. Namun tetap saja, semuanya nihil, teleponnya tidak diangkat.


Sejenak Jonathan terdiam. Lalu ia teringat Rino, yang katanya bisa membantunya. Jonathan segera membuka kontak ponselnya, mencari nomer kontak Rino lalu ia menelponnya.


Tutttt.


"Halo tuan.."


"Rino, mungkin ini terlalu pagi aku meminta bantuan kepadamu."


"Tidak masalah tuan, ada yang bisa saya bantu ?"


"Apa kamu bisa melacak nomer ponsel seseorang ?"


"Tentu tuan. Di kelompok kita memiliki seorang anggota yang pandai di bidang IT."


"Baiklah, aku akan memberi nomernya, tolong lacak keberadaan pemiliknya."


"Baik tuan."


Tuttt.


Setelah menutup teleponnya, Jonathan segera mengirim nomer ponsel milik Laura kepada Rino.


Sekaligus Jonathan harus percaya atau tidak kepada Rino, jika dia benar-benar membantunya. Sambil menunggu, Jonathan membereskan semua barang-barangnya.


Karena seterusnya sudah tidak lagi untuk menginap di hotel. Setelah selesai, segera keluar dari kamar, dan segera membayar total kamar yang disewanya.


.....


Jonathan telah berada di dalam mobilnya. Ia sejenal untuk berdiam, entah kenapa dirinya begitu khawatir kepada Laura. Sebelumnya ia sudah memikirkannya, kalau dirinya tidak harus peduli.


Tapi entah kenapa, ia merasa tidak bisa jauh. Apakah ini atas kemauan pemilik tubuhnya atau kemauannya sendiri. Tiba-tiba suara telpon dari Rino, lalu ia segera mengangkatnya.


.....


Setelah ia dihubungi Rino, Jonathan segera menjalankan mobilnya, menuju tempat keberadaan Laura, Sarah, dan Nita.