Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 76 | S2


Setelah terdorong, pada akhirnya Kevin jatuh dari balkon. Bisa bayangkan seseorang jatuh dari lantai 10, kemungkinan tak hanya luka fisik, dan patah-patah tulang, bisa jadi langsung tewas.


Laki-laki berkacamata itu berjalan mendekati Tasya yang masih terdiam duduk di lantai. Ia memasang wajah datarnya, lalu ia mengulurkan tangannya. "Ayo, kita keluar dari sini."


Tasya tak menjawab, ia melihat tangan laki-laki itu yang masih terbungkus sarung tangan. Ia menerima uluran tangan laki-laki tercintanya yang baru saja datang menyelamatkannya. Siapa lagi yang menyelamatkannya, yang tak lain Jonathan.


Setelah datang dengan bantuan Tony. Karena saat di mobil, ia menghubungi nomer seseorang yang sudah lama tak ia hubungi. Tentu saja, menerima tuannya menghubunginya setelah menghilang lama, Tony sungguh tak percaya dan senang.


Tapi Tony jengkel, belum sempat menanyakan kabar, Jonathan langsung memintanya untuk meretas CCTV di salah hotel di kota J, tempat Tasya manggung di sebuah konser.


Setelah meminta bantuannya, Jonathan langsung menutup ponselnya begitu saja. Tony hanya menghela nafasnya. Lalu ia segera melancarkan aksinya dengan laptop kesayangannya.


.....


Jonathan membawa pergi Tasya dari hotel itu. Kini mereka berdua dalam mobil milik Jonathan. Tasya sempat kagum dengan mobil yang dibawa Jonathan, namun ia menyampingkan rasa kagum itu.


Jonathan fokus mengemudikan mobilnya dengan wajah datarnya. Tasya duduk di sampingnya hanya menunduk. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya ada keheningan. Mereka sama-sama diam.


Tiba-tiba Jonathan memberinya tisu. "Bersihkanlah darah yang ada di dekat pipimu."


Perlahan tangan Tasya menerimanya, dan membersihkan darah yang ada di sudut bibirnya yang mulai mengering.


Kini mereka telah sampai. Jonathan mengemudikannya ke rumah kontrakannya. Tasya heran melihat rumah ukuran sedang itu. Dan letak Hotelnya yang tempat ia inap hanya beberapa puluhan meter saja dari belakangnya.


"Ini rumah siapa ?"


Setelah sama-sama diam, akhirnya Tasya 'lah yang memulai bersuara. Jonathan menjawab dengan datar. "Ini rumah kontrakanku."


Jonathan segera turun dari mobilnya. Lalu ia berjalan mengitari mobilnya, dan membukakan pintu mobilnya untuk Tasya.


Tasya keluar dari mobil, Jonathan berjalan duluan. Ia membukakan kunci dan pintu rumah kontrakannya. "Kamu masuk duluan, aku mau memasukkan mobilku."


Tasya tak menjawab kata-kata Jonathan yang masih datar padanya, namun ia menuruti ucapan Jonathan. Ia masuk dan duduk di ruang tamu. Melihat-lihat seisi rumah kontrakan itu.


"Apa selama ini Jonathan tinggal disini ?"


Setelah memasukkan mobilnya di bagasi belakang rumahnya, Jonathan masuk ke dalam rumah. Lalu ia segera menyiapkan minuman teh hangat untuknya dan Tasya.


Jonathan diam-diam telah mengirim pesan nomer seseorang, setelah ia mendapat nomer itu dari Tony.


Kini mereka berdua saling duduk berhadapan. Tak ada pembicaraan, masih sama-sama diam. Tasya berdehem. "Boleh aku minum tehnya ?"


Jonathan yang masih dengan wajah datarnya ia hanya menganggukan kepalanya. Lalu ia bersuara. "Bagaimana kabarmu ?"


"Kabarku baik." Tasya menjawabnya, ia mencoba tetap tenang dan menatap sosok Jonathan yang diam-diam seorang Psychopath.


Setelah itu tak ada pembicaraan lagi. Tasya sudah tak bisa menahan lagi. Lalu ia bersuara. "Kenapa kamu pergi ?"


Jonathan memenjam kedua matanya, lalu ia menghela nafasnya. Dan menatap wanita tercintanya. "Seperti hubungan kita harus berakhir."


Tasya terbelalak. Ia meneteskan air matanya. Lalu ia tersenyum sinis, ia berkata. "Setelah kamu pergi tanpa kabar, tiba-tiba kamu datang menyelamatkanku, lalu membawaku, dan begitu dengan mudahnya kamu ingin mengakhiri hubungan kita ?"


"Kamu belum tau aku yang sebenarnya, jadi lebih baik kita akhiri hubungan kita." kata Jonathan dengan wajah datarnya.


"Maka beritahu aku !! Kamu sudah sangat mengenalku dan keluargaku, tapi aku belum mengenalmu semuanya tentangmu." kata Tasya, mencoba tetap tegas, meski sekarang ia tengah meneteskan air matanya.


.....


Disisi Lain.


Karena sudah lama ia mencari Tasya tapi tidak ketemu. Baru saja kembi dari toilet Tasya sudah tidak ada.


"Apa tuh anak udah pulang duluan ?" batin Salsa lagi.


Salsa keluar dari aula besar tempat konser. Baru saja keluar tiba-tiba terdengar heboh, Salsa menoleh, ia mengerut dahinya. "Ada apa kok heboh banget"


Ada beberapa petugas hotel dan satpam berlarian di lorong hotel. Tak hanya itu, bahkan ada beberapa artis lainnya juga ikut. Karena penasaran, Salsa mengikuti mereka.


Setelah sampai, mereka telah berada di luar hotel. Hari memang sudah malam, tapi banyak sekali orang-orang mengkrubungi salah satu mayat. Semua terkejut melihat mayat Kevin yang sudah banyak mengeluarkan darah.


Salsa pun terkejut bukan main. Padahal Kevin tak tadi telah menyelesaikan panggungnya. Ada beberapa petugas hotel beramsumsi kalau Kevin bunuh diri jatuh dari lantai 10 dari balkon kamarnya.


Salsa terkejut bukan main. Lalu ia mencari-cari Tasya, siapa tau ia melihat dikrumunan. Namun nihil.


Salsa mencoba menelpon nomer ponsel Tasya. Namun sialnya, Ponselnya Tasya berada di dalam tasnya. Lalu ada sebuah pesan dari nomer asing padanya.


Aku sedang berjalan keluar bersama teman sekolahku.


Tasya.


Salsa membacanya. "Apa benar, dia bersama dengan temannya ? Tapi siapa temannya yang ada di kota ini ?"


.....


"Aku sudah menceritakan semuanya."


Tasya terdiam. Jonathan tersenyum menyeringai melihatnya. Ia telah menceritakan semuanya. Dari ia lahir sebagai Rocky, dan ikut ke kelompok mafia.


Sampai Bosnya membuatnya kecanduan berbagai obat terlarang. Bukannya membuatnya rusak, melainkan membuatnya menjadi pemberani yang gila, hingga banyak yang menyebutnya Psychopath.


Hingga ia mati. Lalu ia terlempar ke masa sekarang (40 tahun mendatang) dan kembali hidup di tubuh pemuda yang bernama Jonathan. Jiwa Jonathan yang asli telah mati. Kini hanya jiwanya Rocky yang menempati tubuhnya.


"Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi inilah kenyataannya. Kamu adalah orang pertama yang kuberitahu."


Tasya masih terdiam. Laki-laki berkacamata itu bersuara lagi. "Aku menempati tubuh ini, aku memiliki dua ingatan. Ingatanku dikehidupan sebelumnya, dan ingatan dari pemilik tubuh ini."


"Jika aku boleh memilih saat dihidupkan kembali, aku ingin sekali sisi burukku tidak perlu sampai ikut terbawa. Namun pada akhirnya, tetap saja."


Tasya masih saja terdiam. Jonathan berdiri dari duduknya. "Ayo, aku antar kamu kembali ke hotel, tempat inapmu."


Jonathan berbalik badannya dan segera membuka kunci pintu rumah kontrakannya. Grepp !! Tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang. Jonathan membeku, Tasya memeluknya dari belakang.


"Aku tidak peduli kamu dari masa lalu yang datang ke masa depan, kamu tetaplah Jonathan yang kukenal."


Jonathan membalikkan tubuhnya, Tasya melonggarkan pelukannya. Kini mereka saling bertatapan. Tasya bergetar menahan tangisnya dan berkata. "Jangan pernah pergi lagi."


"Meski jiwaku dari masa lalu ?" sahut Jonathan.


Tasya menatap Jonathan. "Bukankah kamu bilang, sebelum kita bertemu pertama kali, kamu sudah lebih dulu menempati tubuh ini."


Tasya menambahkan. "Bukankah kamu, ingin hidup normal ? Jangan pernah pergi dariku lagi! Tetaplah bersamaku, aku akan selalu disisimu."


Jonathan tersenyum dan mengeluarkan air matanya. Lalu ia memeluk erat tubuh Tasya. Tasya pun membalasnya. Mereka saling berpelukkan.


Perlahan mereka melonggarkan pelukan mereka. Mereka saling bertatapan. Perlahan wajah mereka saling mendekat, hingga bibir mereka saling bersentuhan.