Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 49


Ada sebuah ruangan, tepatnya ruang kerja. Jonathan masuk ke dalam ruangan itu tanpa pikir panjang.


Terlihat seorang pria yang sudah tidak muda lagi tepatnya sudah tua. Jonathan telah masuk lalu mengunci pintu, ia berdiri sambil menatap dingin ke arah pria itu.


Pria itu, dari rambutnya, sudar tidak hitam lagi. Bahkan bagian ujung kepalanya tak ada rambut lagi. Tapi tubuhnya gemuk dan cukup berotot, pria tua itu siapa lagi kalau bukan Bams.


Seorang ketua mafia terdahulu, yang kini jabatannya baru saja jatuh kembali kepada karena Putranya telah meninggal.


Di tengah duduk tenang di kursi kebesarannya. Mungkin ia sudah tau, akan ada penyerangan di kediamannya.


Bams menatap tajam ke arah laki-laki berkacamata ini, yang sudah lancang berani dan tak punya sopan santun masuk ke rumahnya.


Meski sudah tak muda lagi, Bams masih memiliki keberanian. Bahkan dikematian cucu dan putranya, ia masih kuat menerima kenyataan.


"Siapa kau ?" tanya Bams, ia berdiri dan bangkit dari duduknya.


"Aku ? Aku adalah laki-laki yang ingin menginginkan kematianmu." jawab Jonathan.


Mungkin Bams sedang bersedih karena sedang bersedih atas kematian cucu lalu disusul Putranya. Ditambah ruang kerjanya kedap suara, jadi ia tak mendengar ada keributan atas datangnya penyusup di rumahnya.


"Kematianku ? Apa maksudmu ?" tanya Bams.


Jonathan tidak menjawab, ia segera mengarahkan pistol jenis lainnya. Bams yang melihat itu, ia segera menghindar sebelum laki-laki berkacamata itu menembakinya. Ia juga langsung meraih pistolnya dari lemari di sampingnya.


Jonathan yang tidak menarik pelatuknya, ia segera menghidar menyamping.


Dor !! Dor !! Dor !!


Bams menembakinya, namun tidak mengenainya. Jonathan dalam posisi tiduran miring di lantai, ia pun manarik pelatuknya.


Dor !!


Bams mengenai peluru bius yang ditembaki oleh laki-laki berkacamata itu. Seketika, pandangannya memudar, tubuhnya melemas, Pada akhirnya, Bams jatuh tak sadarkan diri.


Bius yang digunakan Jonathan, dosisnya cukup tinggi. kemungkinan besok Bams terbangun di esok hari. Jonathan berdiri, ia segera menelpon Tony.


"Bagaimana tugas kalian ?"


"Tugas kami sudah beres, tuan."


"Bagus, sekarang, setelah ini, kita kumpulkan semua mayatnya di dalam rumah."


"Baik tuan."


Tutt.


.....


Hampir satu jam, akhirnya semua mayat-mayat telah terkumpul, tanpa tersisa di dalam rumah rumah, mungkin ada 50 an mayat yang sudah tertumpuk. Jonathan, Tony, dan Dika mengumpukan semua mayat itu.


Jonathan masih yakin kalau anggota mafia lainnya masih tersebar di tempat lain. Tapi itu tidak masalah, dengan tiadanya tuan mereka, mereka pasti kehilangan arahan.


Dan tentu saja Jonathan tidak ingin memasukan anggota mafia Bams ke dalam kelompok gangsternya. Biarkan saja mereka kehilangan arah. Jika mereka menyerang tanpa alasan, tinggal menyerang balik.


Tony juga sedang melakukan perpindahan data-data perusahaan penting milik Bams. Data rahasia akan menjadi milik tuannya.


Hanya 15 menit, Tinya telah menyelesaikan tugasnya. Jonathan menyeret tubuh Bams yang masih tak sadarkan diri. Bams sudah dalam kondisi terikat yang sangat erat. Ia memasukan Bams ke dalam bagasi mobilnya.


Begitu juga dengan Dika, ia lah sang ahli dalam merakit bom. Dika telah memasang semua bom rakitannya yang ia buat banyak sebelum menjalankan misi beberapa hari sebelumnya.


Jonathan, Tony, dan Dika segera masuk ke dalam mobil. Dika menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya. Jarak sudah hampir 100 meter, Tony menekan tombol pada remot yang ia pegang.


DUAR !! DUAR !!


DUAR !! DUAR !!


Jarak mereka sudah lebih 100 meter, tapi suara bomnya cukup terdengar di indra pendengaran mereka bertiga. Kini mereka segera pergi kembali ke kota S.


Disisi lain, Agil sedang menjaga Selly, ia mendapat laporan dari rekannya, Tony. Misi telah berhasil dijalankan. Lalu beberapa saat kemudian datanglah mobil hitam. Ya, mobil itu adalah mobil jemputannya.


Karena ia tidak akan satu mobil dengan Dika, Tony, dan Tuannya. Sebelumnya, ia sudah memesan mobil kepada rekannya yang masih di markas untuk menjemputnya.


Agil segera masuk ke dalam mobil, ia juga tak lupa membawa paksa Selly untuk ikut dengannya. Selly menurut, karena didekat Agil, ia merasa aman, karena selama ini ia tak merasa aman.


Mobil mereka segera bejalan, menuju kembali ke Kota S.


.....


Jonathan menyuruh anak buahnya yang berjaga untuk membawa Bams ke salah satu tempat di belakang rumah besarnya. Kebetulan di belakang rumahnya ada sebuah gudang yang cukup besar.


Di ujung ruangan gudang, sudah ada Rino, Laura, Nita, dan Sinta. Tak hanya mereka berempat, ada Agil, Tony, Dika, dan Selly juga ada di ujung ruangan itu. Bahkan ada beberapa anggota gangsternya.


Mereka ingin melihat akhir dari seorang pimpinan mafia terdahulu, yang katanya paling ditakuti. Bams masih belum sadarkan diri. Ia kini dalam kondisi terbaring di lantai. Ia tak diikat.


Jonathan berdiri di depannya, dan tangannya memegang ember.


Byuuurrr


Jonathan menyiramnya, dan melepaskan embernya ke lantai. Bams terbangun, ia melihat-lihat sekelilingnya. "Ini dimana ?"


"Hey, jangan sok hilang ingatan kamu !!" ucap Jonathan sambil melepas jaketnya, dan ia jatuhkan ke lantai.


Bams menoleh kepalanya dan mendongak, ia melihat laki-laki berkacamata yang ia temui yang telah membuatnya tak sadarkan diri.


Bams terbangun, meski sudah tua, ia masih punya tenaga yang cukup. Jonathan menatap dingin. "Apakah tidurmu nyaman, Bams ?"


Bams sudah berdiri tepat dihadapan Jonathan. Nafasnya berburu, dan ia marah. "Apa maumu ?"


"Setelah nyawa cucumu dan putramu, sekarang aku menginginkan nyawamu." jawab Jonathan dingin.


Bams terbelalak. Ia terkejut. "Jadi kau yang membunuh cucuku dan putraku !!"


Jonathan terkekeh. "Tepat sekali, aku yang membunuh mereka berdua."


BUGH !!


Bams memukul wajah Jonathan.


Jonathan terdorong, Bams maju dan langsung menendang tubuhnya. Jonathan terjatuh dan terbaring di lantai.


Semua yang melihat tekejut bukan main. Bams yang sudah tua diumurnya, ternyata masih punya tenaga yang cukup menjatuhkan seorang yang lebih jauh dari umurnya.


Apa karena ia adalah bos mafia terdahulu yang paling ditakuti di masanya ? Dari Penampilan, tubuhnya memang cukup terlihat sehat.


Bams maju mendekat untuk kembaki menyerang dan akan menginjak tubuh Jonathan.


Jonathan berguling untuk menghindari serangan Bams. Bersamaan ia berguling, Jonathan meraih jaketnya yang ia lepas tadi, dan melemparnya ke arah Bams.


Lemparannya tepat sasaran. Jaket yang Jonathan lempar, mengenai dan menutupi wajah Bams. Jonathan segera bangun, lalu matanya tertuju ke arah ember yang tadi ia pakai untuk menyiram laki-laki tua ini.


Bams yang terkejut, pandangan tertutup jaket. Ia segera menyingkirkannya. Baru saja Bams singkirkan, kepalanya sudah terkena hantaman.


Duak !!


Jonathan menghantamnya dengan ember. Meski ember plastik, tapi karena ulahnya embernya hancur setelah ia hantamkan ke kepala Bams.


Kepala Bams tidak keluar darah, hanya sedikit terasa pusing, dan sakit. Ia memegang kepalanya.


Baru saja Bams ingin memberi tatapan marah, Jonathan sudah lebih dulu melompat ke arahnya, dan menghantamnya dengan kedua kakinya.


Duak !!


Bams terjatuh. Jonathan segera berdiri, lalu ia mangambil sesuatu dari saku celananya. Ia melompat lagi ke arah wajah lawannya.


Bams menghalangi wajahnya dengan lengan tanganya.


JLEB !!


"Aggrrh.."


Bams sedikit berteriak karena kesakitan. Jonathan segera bangkit dan menjaga jarak. Ia tersenyum menyeringai, dan tangannya meraih sesuatu dari sakunya lagi.


Semua yang melihat perkelahian itu hanya dia membeku, terutama gaya bertarung Jonathan yang berbeda. Bisa dikatakan aneh.


Lengannya terluka, Bams melihat garpu yang masih tertusuk di lengannya. Tunggu !! Garpu ? Garpu alat makan ?


Seketika Bams sedikit teringat sesuatu. Ia seperti pernah melihat cara bertarung laki-laki berkacamata ini.