Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 27


Masih di dalam bangunan. Di dalam terlihat Jonathan tengah duduk di lantai. Ia baru saja menyelesaikan aktifitasnya. Riki, dan kedua temannya telah ia ikat di kursi kayu.


Sebelumnya Jonathan meminta Angga untuk melepas ikatan Laura, Sarah, dan Nita. Setelah melepas ketiga gadis itu, Jonathan meminta Angga dan Ciko mengikat Riki yang sedang tak sadarkan diri.


Awalnya Angga dan Ciko menolak mentah-mentah. Namun, beberapa detik kemudian Angga dan Ciko langsung menjalankan perintah Jonathan, setelah Jonathan menodongkan pistolnya.


Jelas takut, Angga dan Cika masih belum siap kehilangan nyawa mereka berdua. Jadi mereka segera mengikat Riki di kursi kayu. Dalam hati mereka mengumpat kesal kepada Jonathan, dan meminta maaf kepada Riki karena mereka mengikatnya.


Baru selesai mengikat Riki, dari Jonathan langsung menggantam belakang kepala Angga dan Ciko dengan batu sebesar kepalan tangannya. Angga dan Ciko pun jatuh tak sadarkan diri.


Jonathan segera mengikat mereka berdua di kursi kayu. Setelah mengikat Angga dan Ciko, ia segera mengambil ponsel Riki, lalu ia mefoto Riki yang masih tak sadarkan diri dan terikat di kursi. Lalu ia kirim foto Riki ke nomer ayahnya Riki, alias Max.


Jonathan berharap setelah kejadian ini, Max tidak mencarinya. Sebenarnya bisa saja ia menerima tawaran Max untuk masuk ke dalam kelompok mafianya, dan membunuh semuanya dari dalam.


Tapi Jonathan memilih membuat Riki dijadikan peringatan kepada Max agar tidak mengejarnya. Mungkin bisa saja, Max tetap mengejarnya setelah diberi peringatan, karena telah membuat Putra calon penerus Max dijadikan sanderanya.


Tetap saja, Jonathan tidak takut, meski Max dna kelompoknya mengejar dirinya terus. Mau bagaimanapun dikehidupan keduanya sungguh beruntung, memiliki pemikiran yang licik miliknya dan otak cerdas dari pemilik tubuhnya.


Jonathan mengambil semua uang Riki, Angga, dan Ciko. Setelah selesai, Jonathan segera keluar dari bangunan itu.


Tapi sebelum itu, Jonathan menoleh ke arah Ketiga gadis yang masih berdiri di pojok ruangan. "Kalian ingin ikut keluar dari sini atau menetap ?"


Tanpa menjawab, Laura, Sarah, dan Nita segera bejalan cepat-cepat keluar dari ruangan. Baru saja keluar dari bangunan itu, mereka bertiga langsung dikejutkan pemandangan yang mengerikan.


Mereka melihat empat mayat laki-laki tanpa kepala, yang rupanya anak buah Riki yang tadi. Mereka bertiga rasanya ingin mual.


Jonathan yang melihat ketiga gadis seperti itu, hanya memutar bola matanya. Ia segera memasukan keempat mayat itu kedalam bangunan itu lagi.


Setelah selesai, Jonathan menatap ketiga gadis yang masih saja terdiam bersendehan seperti


"Cepat masuk mobil !!" Jonathan menyuruh ketiga gadis itu.


"Kamu akan bawa kita bertiga kemana ?" tanya Laura.


"Kemana ya ? Hmm.... ke suatu tempat hahahaha." jawab Jonathan, lalu ia berjalan ke arah belakang mobil.


Laura, Sarah, dan Nita masih belum masuk ke dalam mobil. Mereka bertiga melihat heran saat Jonathan mengambil drum setelah menutup kap belakang mobil.


"Apa yang akan kamu lakukan Jo ?" tanya Laura, ia sudah merasakan ada yang tidak beres pada Jonathan.


"Aku ingin membakar bangunan ini." jawab Jonathan entang.


"Kamu gila !!" ucap Sarah membentak.


Jonathan tersenyum miring menatap Sarah. "Ya, kalau aku gila memang kenapa ?"


"Kamu ingin membakar bangunan ini, di dalam masih ada orangnya !!" kata Sarah emosi.


Laura dan Nita hanya diam, dan hanya melihat Sarah dan Jonathan saling berbicara. Jujur, apa yang akan dilakukan Jonathan memang sungguh keji.


"Ya, memang masih ada orang. Maka dari itu aku ingin membunuh mereka bertiga." jawab Jonathan.


"Aku tau, kamu dendam dengan mereka, tapi tidak juga harus membunuhnya." kata Sarah.


"Aku tak tau apa maksud dari pendahulu yang kamu katakan. Tapi, apa kamu tak tau, ada berita mengatakan kalau Riki dikabarkan adalah anak dari ketua kelompok mafia yang ditakuti. Bahkan polisi saja masih memikirkan rencana untuk menangkap mereka." kata Sarah.


"Aku tau, beberapa saat tadi aku sudah mengirim foto keadaan Riki kepada ayahnya." jawab Jonathan santai.


Sarah terkejut bukan main. Laura, dan Nita juga terkejut mendengar. Mengirim foto Riki dalam keadaan terikat ke ayahnya.


"Kamu memang tidak waras, gila. Itu sama saja kamu akan jadi buronan !!" kata Sarah sambil memijit pelipisnya.


"Jo, apa kamu tidak tau, betapa menakutkannya kelompok mafia ayahnya Riki ?" tanya Laura yang khawatir.


Jonathan tersenyum miring. "Apa peduli kalian ? Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya kulakukan dari dulu."


Nita pun berbicara. "Aku yakin ayahnya Riki akan punya dendam yang besar padamu."


"Itulah yang kuinginkan." jawab Jonathan dengan santai. Karena ia sudah memiliki rencana.


Tidak ingin berlama-lama, Jonathan langsung melakukan penyiraman bensin di sekeliling bangunan itu.


Laura, Sarah, dan Nita hanya bisa diam melihat aktifitas Jonathan. Sarah ingin sekali melapor Jonathan ke pihak berwajib, tapi sayang ponselnya tidak ada.


Sebenarnya Jonathan diam-diam telah mengambil ponsel mereka sebelumnya, lalu merusaknya.


Setelah selesai, Jonathan kembali, saat akan menyalakan korek gasnya. Sarah berkata lagi. "Jonathan, pikirkan. Jujur aku memang tidak suka Riki dan gengnya, tapi janganlah membunuh."


Jonathan tersenyum. "Baik, tapi siap-siap saja, kalian yang akan ditangkap polisi, atau dianggap buronan."


Sarah, Laura, dan Nita terkejut. Mereka bertiga pun teringat kejadian sebelumnya, saat Sarah dicurigakan tersangka pembunuhan.


Jonathan berkata lagi. "Kuberi tau Jawabannya, sidik jari kalian bertiga."


"Sidik jari ?" batin ketiga gadis itu, menatap Jonathan dengan tatapan terkejut.


Jonathan terkekeh. "Aku ingin menghilangkan sidik jari kalian yang tertinggal di dalam, sekaligus aku ingin membunuh mereka bertiga."


"Apa tidak ada cara lain ?" tanya Laura.


"Apa kamu tau, perbuataanmu ini kotor." lanjutnya.


"Perbuatanku memang kotor. Jika dibilang dosa, itu urusanku dengan Tuhan nantinya." jawab Jonathan. Ketiga gadis itu terdiam mendengar ucapannya.


"Sekarang kalian masuk kedalam mobil, atau kubakar juga kalian disini." kata Jonathan dengan tatapan dinginnya.


Ketiga gadis tak menjawab, namun mereka bertiga berjalan dan masuk ke dalam mobil avanza hitam. Ingin sekali mereka mencegah Jonathan. Tapi apa daya, Jonathan yang mereka lihat sangatlah menakutkan


Setelah melihat Laura, Sarah, dan Nita masuk ke dalam mobil hasil curiannya, Jo langsung melempar korek apinya ke bagian dinding bangunan yang sudah basah dengan bensin.


Wussssss.


Api menyebar kesekeliling bangunan. Jonathan terkekeh melihatnya, lalu ia segera masuk kedalam mobil dengan santainya. Salah satu rencananya untuk membuat Max dendam padanya, akan tercapai.