
Jonathan tersenyum, dengan santainya ia berkata. "Sudah selesai Om, bicaranya ?"
Tak hanya Andri, Galang juga tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Jonathan.
"Apa ? Tadi kamu memanggilku apa ?" tanya Andri, dirinya menahan rasa marah.
Jonathan tersenyum gema melihat Andri.
Wajah Andri memerah. Memang dirinya sudah berusia matang, 30 tahun. Dirinya memang belum menikah. Tapi tidak sedikit perempuan-perempuan mendekatinya. Andri menahan diri. Ia menghela nafasnya agar bisa menahan rasa marahnya.
Lalu ia menatap serius laki-laki berkacamata yang duduk dihadapannya. "Aku harap kamu tidak menghalangi Tasya untuk meraih impiannya."
Jonathan tersenyum, lalu membatin. "Astaga, impian Tasya hanya kedua orang tuanya dan aku yang tau. Om-om ini sepertinya otaknya perlu 'ku bedah untuk membenarkan saraf-sarafnya."
Jonathan masih tersenyum. Rasa gemas sekali melihat orang yang dihadapannya ini segitu terobsesinya kepada Tasya. Dari cara bicara dan wajah Andri, Jonathan sudah bisa menyimpulkan kedua laki-laki ini bukan hanya ingin mengorbitkan Tasya, tapi juga menyukai Tasya.
Jonathan sedikit memajukan badan. Kedua lengan tangannya ia letakan dimeja. Lalu wajahnya maju. Perlahan senyuman Jonathan memudar. Raut wajahnya berganti menjadi datar dan tatapannya dingin. Andri dan Galang pun membeku melihat tatapan Jonathan polos berubah menjadi tatapan dingin.
Mereka berdua ditatap dingin oleh laki-laki berkacamata ini. Dengan datar, Jonathan berkata. "Jangan cepat marah, nanti cepat tua."
Setelah berbisik, Jonathan membenarkan kembali posisi duduknya. Andri dan Galang terdiam, lalu beberapa detik kemudian, mereka berdua tersadar. Andri menatap Jonathan dengan tatapan seakan ia terkejut. Lalu Andri melihat lagi raut wajah Jonathan kembali polos. Andri dan Galang berulang kali mengedipkan kedua matanya. Andri pun berdiri dari duduk.
Dengan tegas ia berkata "Kukatakan sekali lagi padamu, kalau kamu memang tunangan Tasya, jangan menghalanginya seharusnya kamu mendukungnya."
Andri pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu, lalu Galang mengekorinya. Baru 5 langkah, Jonathan memanggilnya. "Om Andri !!"
Seketika Andri menghentikan langkah kakinya, Galang yang dibelakangnya juga ikut berhenti. Wajah Andri kembali memerah, marah. Ya, dia marah, lalu ia berbalik badannya dan menatap tajam ke arah Jonathan.
Jonathan memasang senyumannya. "Om, jangan main pergi saja dong. Bayar minuman kalian berdua. Jangan karena minumannya tidak berkelas dan murah, kalian jangan seenaknya pergi begitu saja."
Andri semakin marah. Ia ingin maju memang lagi. Namun Galang menghentikannya, sebagai asisten, ia paham, kalau tuannya kalau marah tidak bisa mengontrol emosinya.
Jonathan kembali bersuara. "Sudahlah, kalian berdua pergi saja. Anggap saja kalian tidak membawa uang, karena kalian kehilangan dompet."
Andri benar-benar sudah tak tahan. Rasanya ingin menarik mulut laki-laki berkacamata itu. Sedangkan Galang menghalangi tuannya dan terus menenangkannya. "Tuan, tenanglah, sebaiknya kita pergi. Berurusan dengannya hanya akan membuang-buang waktu."
Andri terdiam, namun Jonathan pun berkata membalas perkataan Galang. "Salah kalian sendiri datang kemari dan berbicara padaku. Akhirnya kaliam buang-buang waktu 'kan."
Perkataan Jonathan yang polos apa adanya, itu membuat Andri semakin marah. Sedangkan Galang, ia juga kesal kepada laki-laki berkacamata itu. Galang mengajak tuannya untuk pergi. Pada akhirnya, mereka pun pergi dari restauran itu.
Jonathan terkekeh, lalu ia manghabiskan minumannya. Beberapa saat kemudian, Tasya dan Salsa kembali dari Toilet. Salsa pun bertanya kepada Jonathan. "Kemana pak Andri dan pak Galang ?"
"Yuk, kita pulang, sudah mau sore." lanjutnya, lalu ia berjalan menuju ke kasir dan membayar semua pesanan dirinya, Tasya, Salsa, dan kedua orang pria dewasa tadi yang pergi karena dibuat kesal olehnya.
Kedua perempuan itu mengiyakan untuk pulang. Tasya pulang bersama Jonathan. Dan Salsa, ia pulang sendiri, karena ia membawa kendaraannya sendiri. Mereka pun pergi dari restauran dan pergi pulang.
.....
Malam harinya. Waktu sudah menunjukan jam 9 malam. Di apartemen, terlihat seorang pria dewasa tengah duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruang kerjanya. Mejanya hanya sedikit berkas yang tertumpuk. Ia duduk sambil menuangkan botol wine di gelasnya. Ia lakukan ini ketika dirinya tengah banyak pikiran atau sedang marah. Ia benar-benar ingin menenangkan pikirannya.
Semenjak pulang dari kantor, pikirannya tidak bisa fokus. Mengingat saat dirinya dibuat kesal oleh laki-laki berkacamata itu. Setelah pergi dari restauran tadi ia kembali ke kantor. Di kantor, Andri benar-benar tidak bisa fokus kembali bekerja. Hingga jam pulang, dan sekarang ia masih tak tenang. Pikiran terus menginginkan Tasya.
Jonathan, nama laki-laki berkacamata yang telihat polos yang rupanya tunangan dari perempuan yang Andri sukai. Sosok laki-laki ini adalah penghalangnya. Sudah banyak perempuan berbakat tak pernah menolak saat dirinya mengorbitnya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Ditambah perempuan itu membuatnya jatuh cinta.
Jonathan adalah penghalangnya. Andri menganggap kalau Jonathan yang meminta Tasya untuk menolak penawarannya.
Pikiran Andri mulai terbayang-bayang entah kemana. Mungkin karena kebanyakan wine yang ia minum hingga ia mabuk. Andri berusaha tetap sadar, meski ia mabuk. Lalu ia meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
Setelah selesai berbicara dengan seseorang diseberang sana, ia mematikan telepon. Lalu ia berdiri dari duduk dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Tak lupa, ia membawa botol winenya dan langsung ia minum dari botolnya.
Lalu ia duduk di sofa ruang tamu. Tak lama pintu apartemannya terbuka. Telihat seorang wanita cantik mengenakan jaket yang menutupi dress mini yang ia pakai. Dia melepas jaketnya.
Tubuh wanita itu sangat seksi bagaikan gitar spanyol. Melihat perempuan melepas jaketnya, mata Andri terus menatapnya. Lalu ia tersenyum menyeringai. "Kemarilah."
Wanita itu berjalan mendekatinya dan duduk dipangkuan Andri. "Kamu kenapa ?"
Andri tersenyum, miliknya mentegang. "Aku ingin melahapmu lagi malam ini."
Wanita itu tersenyum dan dengan senang hati menerima Andri yang ingin menuntaskan hasrat padanya. Wanita adalah salah satu artis yang Andri orbitkan.
Wanita ini bernama Alesa, ia sangat menyukai Andri. Dari awal ia menyerahkan mahkotanya, hingga sekarang, jika Andri menginginkannya, Alesa rela menyerahkan dirinya.
.....
Hari terus berjalan. Tak terasa hari pernikahan tinggal satu minggu lagi. Jonathan telah menyiapkan semua persiapan pernikahannya, tepatnya ia menyerahkannya kepada anak-anak buahnya.
Bagitu juga dengan Tasya, ia mengambil libur dari pekerjaannya sebagai model. Karena dirinya juga harus mulai melakukan perawatan dirinya sebagai calon pengantin nantinya.
Kembali kesisi Jonathan. Kini ia sendiri sedang mengendarai mobilnya menuju restauran. Dimana ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Jonathan telah sampai. Seseorang pelayan menyambutnya, dan mempersilahkannya untuk mengikutinya ke ruangan VIP. Orang yang ingin bertemu dengan Jonathan, tengah menunggunya.