Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 66 | S2


"Kamu mengejekku ?" ucap Sam sambil mencengkram dan menarik kerahnya Jonathan.


Sam tak terima karena Jonathan selalu memanggil sebutan Om. Jonathan memasang wajah takutnya. Namun kedua matanya tak sengaja melihat sebuah pulpen di saku kemeja mahal milik Sam.


Namun tiba-tiba Sam menghempaskannya. Jonathan terdorong kebelakang, namun ia mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.


Sam menatap tajam ke arah Jonathan. "Aku sarankan padamu untuk mengakhiri hubunganmu dengan Tasya."


Jonathan tak menjawab, tatapannya polos ke arah Sam. Sam menatap sinis padanya, ia kembali bersuara. "Kamu tidak dengar apa yang aku katakan ?"


Jonathan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menghela nafasnya. Lalu ia menatap polos pada Sam. Namun tatapan polos perlahan berubah dingin.


Sam yang menatapnya pun mengedip kedua matanya. Jonathan jalan mendekati. Sam merasa hawa dingin di sekitarnya. Ia sekaan membeku tak bisa bergerak saat Jonathan berjalan mendekatinya.


Jonathan berhenti, ia tak berdiri di depan Sam, melainkan ia berdiri di sampingnya. Lalu salah satu tangannya memegang pundaknya Sam.


"Jangan membuatku marah." ucap Jonathan dingin.


Mendengar itu, entah mengapa Sam sulit menelan salivanya. Setelah mengatakan itu, Jonathan berjalan keluar dan meninggalkan Sam yang masih terdiam membeku di dalam Toilet.


Sam pun tersadar. Nafasnya naik turun. Ia bersandar di dinding ruangan toilet. Salah satu tangannya memegang dadanya, nafasnya masih naik turun.


"Apa-apaan anak itu ? Kenapa aku jadi takut ? Tapi tatapannya..."


Sam tidak meneruskan kata-katanya. Dia benar-benar tak yakin dengan apa yang ia alami barusan. Tatapan Jonathan yang ia lihat, adalah niatan membunuh.


Sam segera mendekati wastafel. Ia mencuci muka disana. Setelah selesai, ia memperhatikan wajahnya yang basah dari pantulan cermin di depannya.


Sam menghela nafasnya. "Untuk apa aku takut padanya. Berniat mengancamku ?"


Sam tersenyum melihat dirinya di kaca cermin di depannya. Tekad merebut Tasya semakin besar. Dirinya yang tampan, dan dipuja para fans perempuannya.


Semua fans perempuannya menginginkannya. Namun Tasya yang merupakan Model dan selebgram tak tertarik padanya, itu semakin ia ingin berusaha memilikinya.


"Kita lihat, aku yakin, Tasya hanya pantas untukku." ucap Sam tersenyum sambil melihat dirinya dari pantulan cermin.


.....


Disisi Lain, Jonathan.


Ia sudah duduk kembali ke tempatnya dan melihat kekasihnya masih dalam pemotretan. Tatapannya kosong, namun dalam pikirannya, ia menahan amarahnya.


Ingin sekali membunuh Sam tadi. Sebenarnya ia mampu membunuhnya. Namun, ia menyadari kalau ia sedang berada di salah satu gedung yang penuh banyak orang di dalamnya.


Bisa viral urusannya, jika semua orang melihat Sam yang tiba-tiba terbunuh di dalam toilet, pasti orang-orang mengarah padanya. Secara semua orang yang sedang berada di ruangan pemotretan pasti tau kalau Sam pergi ke toilet di waktu bersamaan dengannya.


Ditambah kalau dirinya juga tak membawa sarung tangan, bisa saja sidik jarinya tertinggal, dan pastinya akan tertinggal. Ia memilih melepasnya, karena ia juga ingin melihat Sam sampai mana keberaniannya padanya.


Rasanya ia ingin sekali melempar Sam ke kadang buaya yang ada di kebun binatang. Pasti akan seru, dan banyak penonton berhiteris melihatnya.


Jonathan tersenyum membayangkan itu. Namun tanpa disadarinya, Salsa yang duduk di dekatnya, ia membeku melihat Jonathan yang tersenyum sesuatu. "Dia kenapa ?"


.....


Hari telah sore, Tasya telah selesai dengan kegiatannya. Mereka pun berberes untuk pulang. Tasya pulang membonceng motor Jonathan.


Tiba-tiba motor yang di kendarai Jonathan berhenti di sebuah caffe. Tasya pun bertanya. "Kenapa kesini, Jo ?"


"Aku masih lapar, tadi siang aku cuma makan sedikit, hehe." jawab Jonathan lalu mematikan motornya.


Tasya turun, dan memberi helmnya. Jonathan dan Tasya masuk ke caffe sambil bergandengan tangan. Lalu mereka duduk di kursi yang kosong.


Setelah memesan, sambil menunggu Jonathan dan Tasya berbicara ringan. Jonathan hanya diam dan tersenyum mendengar Tasya bercerita tentang dirinya selama menjadi model.


Disamping itu, ada banyak tatapan pengunjung yang menatap mereka berdua. Ya, terutama ke arah Tasya. Siapa yang tidak mengenal seorang selebgram.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka berdua datang. Jonathan memesan nasi goreng dan jus coklat. Sedangkan Tasya memesan roti bakar dan jus jeruk.


Saat tengah-tengah menikmati makanannya dan sambil bercerita ringan, tiba-tiba ada 6 orang datang ke arah mereka berdua. 3 laki-laki dan 3 perempuan.


Tasya mengangguk kepalanya. "Boleh."


Lalu mereka berfoto berdua dengan Tasya secara bergantian. Jonathan masa bodoh dengan itu, ia hanya fokus dengan makanannya.


Lalu hingga mereka ingin berfoto bertujuh, salah satu dari mereka memanggil Jonathan untuk memfotokan mereka. Jonathan hanya diam, ia memilih fokus dengan makanannya.


Lalu salah satu dari mereka, laki-laki menepuk pundak Jonathan. "Mas, tolong fotoin kita."


Jonathan menghentikan makannya. Lalu ia berdiri, dan menerima ponsel laki-laki itu. Ia pun memfotokan mereka. Disisi Tasya yang berdiri di tengah-tengah mereka berenam, ia melihat Jonathan.


Tasya melihat kekasihnya seakan ia merasa melihat sosok lain dari diri kekasihnya. Terkesan dingin. Tidak seperti biasanya.


Selesai sudah Jonathan memberikan ponselnya, yang punya ponsel mengucapkan Terimakasih, namun Jonathan mengabaikannya.


Ia memilih langsung kembali duduk, dan melanjutkan makannya. Tak peduli tatapan keenam orang ke arahnya.


Mereka pun menyudahinya dan berterima kasih kepada Tasya, dan diiyakan oleh Tasya. Ia kembali duduk, dan melihat kekasihnya yang sedang makan.


Tasya merasa kalau Jonathan tidak nyaman saat ada fansnya meminta foto padanya. Ia tak menyudahi makanan. Ia memilih meminum jusnya dan menatap Jonathan.


Selesai makan dan minum, Jonathan bisa bersantai. Lalu ia menatap Tasya yang hanya diam menatapnya. Jonathan pun bersuara. "Kamu kenapa ?"


"Kamu pasti tidak nyaman ya tadi ?" tanya Tasya menatap Jonathan.


"Maksudnya ?" sahut Jonathan.


"Tadi, saat ada fansku meminta foto bersamaku, kamu merasa tidak nyaman 'kah ?" jawab Tasya.


Jonathan menghela nafasnya. "Aku tidak masalah jika ada fansmu datang meminta foto bersamamu."


Perlahan tatapan Jonathan berubah.


"Tapi, aku tidak suka jika ada salah satu fansmu menggangguku saat aku sedang makan."


Tasya membeku melihat tatapan kekasihnya yang tiba-tiba berubah, seakan ingin membunuhnya. Melihat itu, membuat Tasya kesulitan menelan salivanya. "Ta-tatapan apa itu ?"


Jonathan tersadar, ia langsung merubah sikapnya, dan terseyum. "Ya sudah, ayo kita pulang."


Jonathan berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar semua pesanannya. Sementara Tasya, masih terpaku melihat perubahan Jonathan yang tiba-tiba tersenyum padanya.


.....


Langit sudah berwarna jingga. Jonathan mengendarai motornya mengantar Tasya pulang. Selama pulang, Tasya hanya menurut saja.


Tasya hanya diam berpegangan pinggang kekasihnya. Namun, pikirannya masih bertanya-tanya tentang kejadian yang ia lihat tadi.


Jonathan yang mengendarai motornya pun ia bersuara. "Maaf."


Tasya yang dari tadi diam duduk di belakang, pun tersadar. "Eh ?"


"Maaf kalau aku tadi melakukan kesalahan." kata Jonathan.


"Tidak kok, sudah lupakan, aku tidak apa-apa." jawab Tasya lembut dan tersenyum.


"Yakin ?" sahut Jonathan.


Dari belakang, perlahan Tasya mengerat memeluk dari belakang dan mendaratkan dagunya di pundak Kekasihnya. "Aku tidak apa-apa."


Jonathan tersenyum. Dalam pikiran, ia bernafas lega karena bisa menahan amarahnya karena kejadian tadi saat di caffe.


.....


Setelah mengantar Tasya sampai di rumah. Jonathan langsung berpamitan pulang, tak lupa ia juga berpamitan kedua orang tuanya Tasya. Warna langit sebentar lagi akan berganti gelap. Perlahan Jonathan meningkatkan kecepatan laju motornya.


Rasanya, ia ingin meluapkan amarahnya. Tadi saat menemani Tasya pemotretan, sudah ada Sam yang membuatnya tak nyaman. Ditambah lagi ada fansnya Tasya yang membuat selera makannya terganggu.


Jonathan pun memilih jalan lain, ia tak memilih jalan menuju arah jalan pulang. Ia ingin mencari tempat untuk meluapkan dan meredamkan amarahnya.