
Taksi online yang dinaiki Laura dan kedua temannya, sudah pergi menjauh dari hotel. Laura, Sarah, dan Nita, mematikan ponsel mereka. Mereka yakin, Jonathan pasti akan menelpon mereka.
Taksi online yang membawa mereka telah memasuki wilayah puncak dekat perbatasana kota. Laura yang menginginkan tempat yang tenang dari kota dan aman dari Jonathan maupun kelompok mafianya Max.
Perjalanan hampir memakan 1 jam lebih. Akhirnya taksi online mereka telah mambawa tempat tujuan. Mereka segera turun dan tak lupa mambayar taksi onlinenya.
Mereka segera mencari tempat kos-kosnya. Setidaknya mereka masih memegang uang yang tidak sedikit dari tabungan mereka.
Pada akhirnya mereka mendapat kos-kosnya. Mereka segera memasuki kamar kos mereka. Memang sederhana setidaknya dengan ukuran pas untuk mereka, dan ada kamar mandinya di dalam.
Setelah selesai membereskan barang-barang mereka. Sarah memberi saran. "Selagi kita di puncak, bagaimana kalau kita jalan-jalan, disini juga ada tempat wisatanya."
"Oke." sahut Laura dan Nita bersamaan.
.....
"Yang benar saja, kita pergi kepuncak." kata Adit.
"Kebetulan aku tau disini ada vila milik teman SMA-ku." kata Aji.
"Lalu apa maksudmu ?" tanya Adit.
Aji hanya tersenyum, ia segera meraih ponselnya, dan menghubungi nomer ponsel seseorang.
"Halo bro..."
"Halo juga bro, ada apa ?"
"Kebetulan nih aku ada di puncak dekat kota S."
"Lalu ?"
"Aku dan temanku ingin meminjam vilamu yang ada disini, untuk menginap. Boleh ?"
"Tidak masalah, kamu tinggal datang saja ke vila ku disana. Setelah ini aku hubungi penjaga yang disana. Agar nantinya, kamu bisa mendapat kunci vilanya."
"Oke, kau memang teman terbaik."
"Asal, kamu tidak berbuat yang tidak-tidak, aku tidak masalah."
Aji tersenyum kecut mendengarnya. Yap, karena ia punya rencana sesuatu.
"Baik, Terimakasih."
Tuttt.
"Bagaimana ?" tanya Adit.
Aji memberi jempol tangannya. "Ayo kita datangi vilanya."
Aji segera melajukan mobilnya, dan pergi menuju tempat vila tujuannya.
.....
Tak terasa waktu telah sore dan mendekati malam. Laura dan kedua temannya telah selesai acara jalan-jalan mereka di tempat wisata. Hanya membutuhkan 15 menit mereka telah sampai di kos-kosan mereka.
Mereka berencana akan membuka usaha dari tabungan mereka. Jika ditotalkan tabungan ketiga gadis itu, cukup untuk menyewa ruko, peralatan dan bahan-bahan untuk usaha mereka.
Mereka telah sampai di kos mereka. Laura memilih untuk pergi mandi. Tinggallah Sarah, dan Nita. Sarah ingin membeli sabun, karena sabunya tertinggal di hotel.
"Laura, aku dan Nita mau keluar dulu." kata Sarah di depan pintu kamar mandi.
"Ke warung, aku mau beli sabun, dan sikat gigi." jawab Sarah.
"Ya."
Sarah dan Nita pun segera pergi keluar dsri kamar kos mereka. Wilayah situ cukup sepi, karena sudah akan jam 7 malam.
.....
Laura yang sudah selesai mandinya, ia segera memakai pakaiannya, dan mengeringkan rambut panjangnya. Selesai sudah, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai.
Kasur lantainya cukup lebar, karena yang menginap 3 orang, pemilik kos menyiapkan 2 kasur lantai, dan dirapatkan. Meski sudah terbiasa hidup mewah dengan keluarganya dulu, Laura tetap bisa menikmatinya.
Karena waktu kecil ia pernah tinggal jauh dari kota, di kampung, di rumah neneknya. Lalu ia teringat, apakah neneknya telah tau kematian ayah ibunya Laura. "Mungkin, jika sudah aman aku harus pergi ke rumah nenek."
Sudah hampir setengah jam Laura menunggu setelah selesai mandi, Sarah dan Nita belum kembali. "Apa mereka berdua kesasar ?"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar kosnya. Laura menduga kalau ia adalah kedua temannya. Laura segera bangkit dari tidurnya.
Ia mendekati pintunya, lalu ia segera membukanya. "Kenapa kalian lam...."
Ucapan Laura menggantung setelah membuka pintunya. Ia terkejut melihat sosok laki-laki yang ia kenali dan yang sedang ia hindari.
Sosok laki-laki berkacamata, siapa lagi kalau bukan Jonathan. Ia kini berada di hadapannya. Tatapan dinginnya seakan ingin membunuh siapa saja yang ada dihadapannya.
"Ka-kamu, bagaimana bisa tau aku disini ?" tanya Laura berbata-bata, ia ketakutan.
"Bagiku, tidak susah untuk mencari keberadaanmu, Laura." jawab Jonathan.
Tentu saja Jonathan bisa menemukannnya setelah mendapat laporan dari Rino. Dengan bantuan orang IT-nya Sebenarnya ia telah sampai tadi siang.
Hanya saja, Jonathan tidak ingin mengganggu Laura yang sedang menikmati keasikannya di tempat wisata bersama kedua temannya.
Semenjak tadi, dari kejauhan Jonathan memperhatikan kos Laura. Ia juga melihat Sarah dan Nita pergi keluar.
Namun Jonathan merasakan hal yang tida tenang. Sarah dan Nita tidak kembali. Karena khawatir Laura yang pasti sendirian, Jonathan segera datang saja.
Ia dapat melihat wajah terkejut dari Laura, setelah membuka pintu kosnya. Laura perlahan mundur, ia masuk ke dalam. Jonathan pun melangkah maju untuk mendekati Laura. Laura merasa ketakutan.
"Kenapa kamu pergi ?" tanya Jonathan. Dalam hatinya, kenapa ia harus bertanya seperti itu.
"Bukankah kamu membiarkanku pergi." jawab Laura yang berusaha tetsp tenang dsn berani.
Dengan tenang Jonathan berbicara. "Apa kamu tidak tau bahayanya kamu saat keluar ? Kelompok mafianya Max masih mencarimu. Max tidak akan membiarkanmu lepas darinya."
Jonathan yakin, Max pasti tidak akan berhenti atas penyebab Putranya yang sudah bertindak nekat dan mati, lepas darinya. Max pasti berbuat apapun agar menemukan Laura dan dirinya.
"Laura mulai mendekati Jonathan. Ia menatap Jonathan dalam-dalam. "Lalu apa pedulimu padaku. Sampai-sampai kamu datang kemari untuk mencariku ?"
Tidak mungkin kalau ia menjawab kalau dirinya khawatir padanya. Jonathan pun menjawab. "Apa kamu sadar ? Sarah dan Nita kemana ?"
Laura menatap tajam. "Kamu pasti yang membawa mereka."
"Aku tidak tau..." Jonathan mulai menceritakan semuanya saat ia merasa khawatir saat Laura sudah lama ditinggal lama oleh Sarah dan Nita.
"Tunggu !! Kamu khawatir padaku ?" tanya Laura.
Jonathan terdiam. Laura tersenyum mengejek. "Tidak salahkah seorang pembunuh bisa merasakan khawatir kepada orang lain."