
"Tidak mungkin !!"
Max yang sedang duduk di kursi kebesarannya, ia tak percaya setelah mendapat laporan dari salah satu anak buahnya, kalau dua anak buahnya yang membawa laki-laki culun tadi, telah mati terbunuh.
Lebih mengejutkannya lagi, mobil yang mereka tumpangi meledak dan terbakar. Max tak menyangka kalau anak buahnya bisa terbunuh dengan muda.
Yang membuatnya semakin tak percaya, di dalam mobil itu hanya ada dua mayat anak buahnya yang sudah terhangus terbakar. Padahal semua anak buahnya tidak mudah kalah atau terbunuh saat menjalankan tugas yang berbahaya.
Hanya menjalankan tugas, mengantar seorang laki-laki culun dan membunuhnya. Tap, laporan apa yang Max dapat ? Kedua anak buahnya mati. Di dalam mobik, hanya mereka berdua, tidak ada mayat lagi.
Ada kemungkinan, kalau pembunuhan yang menimpa kedua anak buahnya adalah laki-laki culun yang ia temui beberapa jam yang lalu.
"Roy !!" Max berteriak memanggil asistennya.
Roy pun datang mendekatinya. "Baik tuan."
Max menghela nafasnya. "Aku sebenarnya tidak ingin percaya, tapi nama mungkin anak culun itu bisa mambunuh."
"Saya juga awalnya tidak percaya tuan." sahut Roy.
"Tapi bagaimana kamu bisa tau kalau laki-laki culun itu adalah pembunuh gila itu ?" tanya Max.
Roy menjawab. "Saya hanya mencurigai tempat-tempat yang rawan akan penjahat. Karena kasus-kasus pembunuhan sebelumnya, semua korban mati di tempat itu. Saya mencari tempat itu dan bersembunyi, dan akhirnya saya melihat laki-laki culun ini sedang asik membunuh para penjahat."
Max terkekeh. "Apa dia ingin menjadi pehlawan ? Penjahat saja dia bunuh. Itu sudah melanggar hukum."
"Dan satu lagi Tuan. Setelah dia membunuh korbanya dengan cara tak biasa, saya melihat jelas dia merampas semua uang korbannya."
Max tersenyum. "Dia tidak jauh dengan kita. Kelompok Kita memang yang ditakuti, menghalalkan semua cara untuk mendapat uang."
"Sedangkan dia ? Dia melakukan pembunuhan penjahat dan merampas uangnya. Bukankah itu sama saja, dia melakukan kesalahan." lanjutnya.
Roy tidak menjadi, ia hanya pendengar tuannya yang setia.
Max kembali bersuara. "Bagaimanapun anak culun ini harus menjadi anggotaku. Kemampuan dan kepolosannya yang diluar dugaan, itu pasti adalah ciri khasnya untuk memancing para penjahat agar tertipu olehnya."
.....
Ditempat lain.
Di dalam rumah, Jonathan memilih untuk tidak beranhu kuliah. Ada kemungkinan Max dan para anak buahnya akan mencarinya.
Saat ini Jonathan sedang duduk sambil mensruput kopinya. Lalu ia meletakan kembali cangkirnya di atas meja. Jonathan memegang dagunya.
Seakan ia sedang berfikir. Cara untuk agarax dan anak buahnya tidak mencarinya. Lalu terlintas muncul di dalam kepalanya.
"Sepertinya aku harus membuat anak itu berlutut padaku."
.....
Beberapa hari kemudian..
Laura dan kedua temannya sedang berada di caffe. Jam kuliah mereka telah selesai. Mereka memilih untuk tidak pulang.
Mendengar berita heboh tadi di kampus, mereka bertiga sudah tidak asing di telinga mereka.
"Berita pembunuhan lagi." kata Sarah sambil menatap kedua temannya.
"Apa ini ulahnya...." kata Nita menggantung saat Laura menatap tajam ke arahnya.
Sarah menghela nafasnya. "Laura, sekarang terserah padamu. Aku dan Nita sudah bisa menebak kalau berita pembunuhan ini ada kaitannya dengan teman masa kecilmu."
"Kamu pasti tau 'kan, beberapa hari ini Jonathan tidak terlihat di kampus." kata Sarah.
Laura pun menjawab. "Jonathan memang pembunuh, aku ingin bertemu dengannya, dan berbicara padanya. Aku ingin tau alasan dia."
Sarah dan Nita pasrah dengan apa kemauan Laura. Mereka berdua sudah memberitahunya berkali-kali untuk tidak berurusan lagi dengan Jonathan.
Dan Sarah maupun Nita, mereka sudah tak ingin apapun yang berkaitan dengan Jonathan. Mungkin berita pembunuhan sudah banyak yang mereka dengar.
Tapi jika ada berita pembunuhan yang tak masuk akal, dan tidak ada jejak sang pelaku pembunuhan itu. Sarah dan Nita maupun Laura sudah bisa menebak siapa pelaku dibalik pembunuhan itu.
Sarah maupun Nita, sudah benar-benar tidak ingin ada kaitannumya dengan Jonathan. Meski mereka tau Jonathan adalah pelaku, tapi tetap saja, Polisi pasti menyatakan kalau Jonathan tidak ada hubungan kejadian pembunuhan itu.
Yang ada, Sarah dan Nita yang kena, karena telah menjelekan nama baik orang lain. Padahal jelas-jelas Jonathan 'lah pelaku yang sebenarnya. Sisi Psychopath-nya, ditutupi oleh penampilannya yang culun.
Sarah dan Nita kembali fokus dengan makanan mereka. Tiba-tiba Riki dan kedua temannya datang. Mereka bertiga saling bergabung meja Laura dan kedua temannya.
"Hei, ngapain pada kumpul sama kita ?" kata Sarah disela-sela makannya, ia tak suka kehadiran Riki dan kedua anak buahnya.
"Ya elah, kita hanya ingin dekat sama kalian." jawab Ciko.
"Kalian ngikutin kita ?" tanya Sarah dengan sinis.
"Tidak juga, memang kebetulan, kalau kita memang sedang ingin ke caffe ini." jawab Ciko santai.
Sudah lama atas kematian Erik dan Sandi. Riki, Ciko, dan Angga memilih untuk tetap melangkah maju, dan tak ingin terjebak dalam kesedihan.
Sarah memutar bola matanya, seakan ia malas. Memang nyatanya dia benar-benar malas bila bertemu Riki dan kedua temannya.
Nita memilih fokus dengan makanannya, ia mengabaikan Angga yang sedang mengajaknya berbicara.
Sedangkan Riki, ia terus memperhatikan Laura yang sedang memakan bakso. "Kamu kalau lagi makan, tambah cantik deh."
"Basi tau gak dengarnya." bukan Laura yang menjawab, Sarah yang menjawabnya.
Laura tidak memperdulikan kata-kata Riki. Yang terpenting sekarang, ia fokus dengan makanannya.
Ketiga laki-laki itu pun juga segers memesan makanan. Mereka ingin mendampingi ketiga gadis yang tercantik di kampus mereka.
.....
Laura, Sarah, dan Nita telah selesai menghabiskan makanan mereka. Mereka segera pergi, dan tak lupa untuk membayarnya.
Ketiga gadis itu tidak peduli dengan Riki dan kedua temannya yang masih belum menghabiskan makanannya. Laura, Sarah, dan Nita pergi meninggalkan mereka bertiga di dalam caffe.
Setelah keluar dari caffe, mereka segera mendekati mobil Sarah yang terparkir di halaman caffe. Mereka masuk ke dalam mobil, Sarah menyalakan mesin mobilnya, dan menjalankanya.
.....
Sarah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Saat sedang menikmati perjalanan pulang mereka, tiba-tiba ada mobil hitam berhenti di depan mereka.
Sarah merasa jalannya dihalangi tidak terima. Saat akan turun, dari mobil yang menghalangi jalannya, keluarlah empat orang berpakaian hitam.
Keempat orang itu memaksa membuka pintu mobil Sarah. Salah satu dari mereka, membawa paksa Laura, Sarah, dan Nita untuk keluar dari mobil.
Mereka bertiga dibuat pingsan setelah dibekap menggunakan bius. Sempat berontak, tapi tenaga mereka bertiga tidak 'lah besar.
Keempat laki-laki itu membawa dan memasukan ketiga gadis itu ke dalam mobil mereka. Mereka semua segera pergi, meninggalkan tempat itu, selagi aman dan hanya sedikit saksi mata yang melihat aksi mereka.