Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 34


Hampir satu jam lebih, Jonathan masih diam di persembunyiannya. "Gila nih tua bangka."


Suara desahan masih terdengar olehnya. Apa lagi terdengar suara wanita bernama Sinta. "Lebih cepat sayang....ahhh..."


"Aku tidak akan berhenti memakanmu baby." ucap Rudi, yang juga mendesah kenikmatan dalam permainannya.


Di kolong ranjang mereka, Jonathan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, dan memenjamkan mata. "Sial, pikiranku !!"


.....


Sementara, Disisi lain.


Terlihat tiga gadis sedang jalan-jalan di pinggiran kota. Laura dan kedua temannya memilih keluar dari kamar, untuk menghilangkan rasa bosannya.


Hari yang sudah malam, namun kota itu tidak sepi, justru terlihat ramai. Banyak sekali masyarakat yang mungkin menghilang rasa lelah untuk keluar bersama keluarganya.


Laura dan kedua temannya melihat ada taman di seberang jalan. Sarah langsung menarik tangan kedua sahabatnya untuk segera menyebrangi jalan. Ia sudah tidak sabar ingin munuju taman kota.


Mereka telah memasuki kawasan taman kota S. Banyak sekali street food disana. Banyak juga ada pasangan romantis. Bahkan tak hanya satu keluarga yang juga disana.


"Taman ini, banyak sekali orang-orangnya." kata Sarah melihat sekelilingnya.


"Banyak juga yang berpasangan." kata Nita


Ketiga gadis itu segera berjalan mendekati salah satu street food di sana. Mereka pun memesan makanan yaitu sate ayam.


Setelah memesan mereka segera duduk di kursi yang yang disediakan. Sambil menunggu mereka berbicara.


"Jadi kedepannya, kita harus kemana ?" tanya Nita.


"Entahlah." sahut Sarah, lalu ia menatap Laura. "Kalau kamu gimana ? Apa kita tetap ikuti Jonathan, atau kita pergi ?"


Laura menghela nafasnya. "Sebenarnya aku ingin sekali mengajak kalian untuk pergi, namun masalah, kita masih belum aman."


"Jadi ?" sahut Sarah dan Nita bersamaan.


Laura memegang dagunya. Gadis cantik ini sedang memikirkan untuk kedepannya. Apa yang ia putuskan untuk pergi bersama kedua temannya dari Jonathan.


Atau tetap bersama di dekat Jonathan. Masalah kalau jauh dari Jonathan, mereka jelas tidak aman. Seperti saat ini mereka lakukan. Mereka bertiga memilih pergi keluar tanpa memberitahu kepada Jonathan.


"Permisi kak.., satenya sudah jadi." ucap dari pria dewasa, yang rupanya pedagang sate.


Laura, Sarah, dan Nita menerima pesanan mereka. Masing-masing dari mereka mendapat satu porsi sate ayam plus lontong.


"Sekarang lebih baik kita makan dan nikmati makanan kita, setelah makan, perut kenyang, tinggal kita pikirkan lagi." kata Sarah, lalu ia langsung melahap makanannya.


Nita pun juga segera memakan makanannya. Laura tersenyum melihat kelakuan kedua temannya. Ia pun juga memakan makanannya.


.....


Kembali ke sisi rumah besar milik gangster kaya. Semua anak buahnya mencari-cari keberadaan penyusup. Sudah hampir satu jam mereka tidak mendapatkan hasil, padahal mereka sudah sangat teliti.


"Kemana dia ?"


"Apa kamu sudah menemukan penyusupnya ?"


"Apa kamu tidak sadar, aku mencari tempat ini bersamamu, kalau kamu belum menemukannya, jelas aku juga belum 'lah !!"


Oh iya, benar juga."


Itulah semua percakapan mereka. Semua anak buah Rudi, masih belum menemukan penyusup yang masuk. Lalu mereka segera berkumpul kembali di halaman.


"Kenapa kalian tidak menemukannya ?" tanya seorang pria dewasa berumur 30 tahun, dia bernama Rino, ia merupakan tangan kanan Rudi.


"Maafkan kami, tapi sungguh, kami tidak menemukan jejak apapun di sekitar rumah." jawab salah satu anak buahnya, dan yang lainnya mengangguk lagi seakan mengiyakan jawaban orang tadi.


Rino menjambak rambutnya sendiri, seakan ia frustasi. Karena penyusup yang masuk ke markas gangster belum ditemukan. Bisa-bisa ia kena marah dari sang bos.


Lalu Rino berfikir, kalau di sekitaran rumah tidak ditemukan, apakah penyusup itu sudah ada di dalam. Lalu ia menatap semua anak buahnya. "Kita berbagi tugas, sebagian ikut aku dan mencari ke dalam rumah. Dan sebagian lagi kalian berjaga disini untuk berjaga agar penyusup ini tidak bisa melarikan diri."


"Baik..!!" sahut mereka semua.


Semua pun segera menjalankan perintah Rino. Total 40 anggota terbagi menjadi dua. 20 orang ikut Rino ke dalam rumah besar, sedangkan 20 orang lagi berjaga di luar rumah sekaligus mereka mencari lagi.


Rino dan 20 anak buahnya mencari-cari keberadaan penyusup di dalam rumah. Dari lantai satu semua mereka telusuri, tapi mereka tak melihat hal-hal yang mencurigakan.


Rino yang merasa ingin minum, lalu ia segera pergi ke arah dapur dan membiarkan anak buahnya melanjutkan pencariannya. Saat sudah di dapur, ia membuka lemari kulkas.


Rino mengerut dahinya. "Minumanku kemana ? Perasaan aku menaruhnya tadi sore disini Setelah membelinya."


Rino heran saat melihat isi lemari kulkas. Karena minuman bir botolan yang ia beli tidak ada. Apa dia sudah meminumnya atau belum. Tak ingin banyak berfikir, akhirnya ia mengambil botol berisi air mineral saja, dan meminumnya.


.....


Di dalam kamar Rudi.


Rudi dan Sinta baru saja selesai bercinta. Posisi mereka berdua masih tak memakai pakaian sama sekali. Hanya selimut saja yang menutupi tubuh telanjang mereka, sampai batas atas dada.


"Permainanmu sungguh tidak pernah membuatku bosan, sayang." ucap Rudi sambil mengelus pipi Sinta.


Sinta tersenyum. "Sungguh ?"


Rudi mengangguk kepalanya. Lalu ia mengelus di salah satu bukit kembar milik Sinta. "Ya, aku puas dengan permainanmu."


Sinta sedikit mendesah atas apa yang dilakukan Rudi padanya. "Hmmmm aku juga puas dengan permainanmu..."


Rudi terkekeh mendengarnya. Lalu ia memajukan wajahnya. Ia mencium dan *****4* bibir sexy milik Sinta. Sinta pun membalasnya.


Mereka pun melepas ciuman mereka. Rudi menatap Sinta. "Aku ingin lagi."


Belum sempat dijawab, terdengar suara yang tiba-tiba muncul. "Lagi ?? Yang benar saja !!"


Mendengar suara asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya, tentu saja membuat Rudi terkejut bukan main. Apalagi Sinta, ia panik dan langsung merapatkan selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


Rudi segera bangun dan meraih cepat celana boxernya yang ada di lantai dekat nakasnya. Setelah memakai celana boxernya, ia segera mengambil pistolnya yang ada di nakas.


"Keluar kau !!" Rudi membentak, pintol di genggamannya telah siap. Ia melihat sekeliling kamarnya.


Tiba-tiba keluarlah laki-laki muda dari kolong ranjang rudi. "Cilub baaa..!!"


Rudi dan Sinta terkejut bukan main melihat sosok laki-laki muda yang tiba-tiba muncul dari kolong ranjang.


Siapa lagi kalau bukan Jonathan yang dari tadi menunggu moment yang tepat. Dengan santainya, Jonathan segera berdiri. "Kalian tau ? Suara desahan kalian berdua, sungguh membuat otak suciku menjadi kotor."


Rudi melotot ke arah Jonathan, ia langsung mengarahkan pistolnya ke arah laki-laki ini. "Beraninya kamu berada di dalam kamarku !!"


Sinta menjadi panik dan ketakutan. Bukan karena adanya sosok Jonathan yang tiba-tiba muncul, melainkan melihat amarah Rudi yang sudah siap dengan pistolnya.


Jonathan memasang wajah terkejut. "Wah lihat om, tubuhmu ada tatonya !!"


Jonathan berjalan mendekati Rudi, ia seakan-akan terkejut dan kagum dengan tato milik Rudi.


"Berhenti !! Atau kutembak kepalamu !!" Rudi membentak.


Jonathan pun berhentikan langkah kakinya. Lalu dengan wajah polos ia menatap Rudi. "Apa itu pistol om ?"


Rudi melotot ke arah Jonathan, marah, tak hanya kehadiran Jonathan yang sudah berani di dalam kamarnya. Dan ia marah kepada semua anak buahnya karena bisa kelolosan seorang penyusup.


Kluk...!!


Rudi mengerut dahinya. Lalu ia kembali menarik pelatuk pistolnya.


Kluk..!! Kluk..!!


Kenapa pistolnya tidak mau menembak ? Pikiran Rudi penuh tanda tanya, lalu ia menatap Jonathan yang sedang memandangnya dengan senyuman mengejek.