
Kini Jonathan telah jemput pulang oleh Rino dan Tony. Jonathan dengan santai duduk dibelakang. Rino yang mengemudi mobilnya pun bertanya. "Tuan Jo, kenapa bisa ke tempat itu."
"Aku dibawa dua orang laki-laki berbadan besar." jawab Jonathan dengan santai lalu ia meminum air mineral botolan.
Rino dan Tony terbelalak mendengarnya. Kali ini bukan Rino yang bertanya, tapi Tony. "Apa anda tidak melawan saat mereka membawamu ?"
Jonathan selesai meminum minumannya. Lalu menjawabnya dengan santai. "Tidak, aku mengikuti permainan mereka."
"Jadi siapa yang sudah berani melakukan ini padamu ?" tanya Rino sambil mengemudikan mobilnya.
"Orang itu namanya Farel, dia satu kampus denganku." jawab Jonathan.
"Lalu sekarang, bagaimana kau bisa lolos dari mereka ?" tanya Tony.
"Aku membakar mereka hidup-hidup." jawab Jonathan dengan santai tanpa dosa sama sekali.
Rino dan Tony terdiam mendengar jawaban tuan mereka. Jonathan kembali melanjutkan jawabannya. "Sebelum membakar mereka, yang benama Farel, aku menghancurkan wajahnya. Dan sialnya aku tidak membawa pisau. Padahal aku ingin membuat topeng dari kulit wajahnya."
Rino dan Tony memilih diam. Mereka akui kalau sifat tuannya sangatlah kejam kepada musuhnya, tidak tanggung-tanggung. Tak hanya mereka berdua, yang lainnya tau kalau tuan mereka tidak pandai atau tidak menguasai bela diri sama sekali.
Namun kepandaian dan kecerdasan yang dimiliki Jonathan saat melawan musuh tidak 'lah sembarangan. Ditambah kelicikannya dalam berfikir. Rino dan David yang sangat hebat dalam bela diri taekwondo saja belum tentu bisa mengalahkannya.
.....
Keesokan Harinya, pada siang hari. Jonathan telah sampai di Kampusnya. Seperti biasa, ia berangkat dengan motornya. Namun kali ini motornya adalah sama, matic dan warna yang sama, hitam
Bagaimana nasib motor maticnya kemarin yang ia tinggal ? Ia tak peduli, ia membiarkan motornya. Jika ada yang ambil ? Anggap saja berbagi.
Jonathan memilih motor yang sama karena ia lebih nyaman memakai motor matic. Awalnya Rino dan yang lainnya menyarankan dirinya memilih motor sport, Jonathan langsung menolaknya.
Meskipun ia memakai motor matic, lagian dia adalah pengusaha muda yang kaya. Teman kampusnya tidak ada yang tau. Ya, meskipun sebelumnya ada klien yang meremehkannya dan merendahkannya. Tentu saja itu membuat sisi lain Jonathan terbangun.
Jonathan baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Ia pun segera duduk di bangku kursi tengah. Di pojok belakang, ada Candra dan teman-temannya, wajahnya terlihat sedang kehilangan.
Jonathan tau apa yang dirasakan oleh Candra dan keempat temannya. Ia hanya memandang arah depan dan tersenyum kecil.
Tak lama kemudian Dave datang masuk ke kelas dan duduk di samping kiri Jonathan. Dan perlu diketahui, model kelas di kampus mereka menaik.
"Apa kamu sudah mendengar berita terbaru Jo ?" tanya Dave kepada Jonathan.
"Berita apa ?" tanya Jonathan.
"Salah satu teman kampus kita hilang." jawab Dave.
Jonathan memasang wajah tekejutnya. "Siapa ?"
"Farel, kamu pasti tau 'kan." jawab Dave.
"Farel ? Farel yang mana, aku tidak mengenalnya." sahut Jonathan memasang wajah polosnya tidak tau.
Dave menghela nafasnya. "Benar juga, kamu tidak pernah bergaul dan berteman dengan siapapun selain aku di kampus ini."
Jonathan hanya terkekeh. Lalu masuklah seorang dosen. Dan mulailah pembelajarannya.
Berita kehilangan mahasiswa bernama Farel telah tersebar di kampus. Pasalnya orang tuanya tidak mendapati anaknya pulang dari kemarin. Lalu mereka melapor ke pihak kampus.
Mendapati Farel yang tak berangkat, orang tuanya semakin panik. Memang Farel anak orang terpandang. Jadi tidak ada yang tidak mengenalnya.
Namun tanpa mereka ketahui seorang yang benama Farel yang mereka cari, telah mati terbakar bersama kedua anak buahnya, di suatu tempat.
.....
Rino tengah menjemput Laura, Sarah, dan Nita. Di kampus, memang Jonathan dan ketiga perempuan itu tak saling kenal. Tapi jika sudah di rumah, mereka seperti keluarga pada umumnya.
Dave lebih dulu pulang dengan motornya. Jonathan menaiki motornya, lalu ia segera menjalankan motornya ke keluar kampus.
Baru juga keluar dari pintu gerbang kampus, ia melihat gadis yang tak asing di matanya. Ia tersenyum melihatnya, siapa lagi kalau bukan Tasya yang ada di seberang jalan.
Namun tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam mewah datang dihadapan Tasya. Keluarlah seorang laki-laki dari mobil itu.
Laki-laki itu mendekati Tasya.
Jonathan membenarkan kacamata dan menyipit kedua matanya untuk melihat lebih jelas. Ya, laki-laki itu ternyata Samuel/Sam.
Jonathan merasa tak suka melihat Sam mendekati Tasya. Tapi tunggu !! Kenapa Tasya terlihat merasa tidak nyaman ?
Dan juga Sam terlihat seperti memaksanya. Jonathan segera turun dari motornya. Lalu berjalan menyebrangi jalan raya, dan mencoba mendekati mereka berdua.
"Aku sudah bilang aku sedang menunggu jemputan." kata Tasya yang masih berusaha sabar.
"Ayolah, biarkan aku mengantarmu, Tasya. Lagian kita sama-sama jam kosong." kata Sam.
"Kak Sam, aku sedang menunggu jemputanku." kata Tasya.
Jonathan sudah didekat mereka. "Kenapa kalian berdua terlihat sedang rebutan mainan ?"
Tasya dan Sam menoleh melihat ke arah Jonathan yang datang dan hadapan mereka.
"Ini bukan urusanmu bocah, kamu pulang saja." kata Sam sinis.
"Tapi Om, aku melihat anda seperti sedang memaksanya." balas Jonathan.
"Kamu memanggilku Om ?!?!" sahut Sam terbelalak, dan marah.
Tasya langsung memengang tangan Jonathan. "Kebetulan sekali Jo, aku sedang menunggumu."
Tasya langsung menarik Jonathan langsung menyebrangi jalan raya dan mendekati motor maticnya laki-laki berkacamata ini. dan menjauhi Sam. Sedangkan yang ditarik, ia hanya diam dan pasrah, karena ia sudah tau suasanannya.
Sam tidak bisa mengejar mereka berdua, karena banyak sekali kendaraan yang lewat, itu membuatnya sulit untuk menyebranginya.
Kali ini ia mengalah kepada Jonathan. Ia pun masuk mobilnya, dan pergi dari tempat itu. Disisi Tasya, ia bernafas lega setelah melihat Sam pergi.
Jonathan hanya diam menatap bingung padanya. "Kamu kenapa ? Ada masalah dengannya ?"
Tasya menoleh dan menatap Jonathan. "Aku tak suka padanya. Dia terlalu memaksa, lagian aku siapanya dia. Tiba-tiba datang menjemputku, padahal aku tidak memintanya."
"Ya sudah, sekarang kamu mau kemana ?" tanya Jonathan.
"Aku mau pulang, lagian aku tidak ada jadwal pemotretan." jawab Tasya.
"Mau kuantar pulang ?" tawar Jonathan.
Tasya tersenyum mendengarnya. "Boleh deh."
Tasya langsung mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan chat kepada Salsa agar tidak menjemputnya.
Setelah selesai, Tasya memasukan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Jonathan mengambil helm satunua dari dalam bagasi motornya, lalu ia memberi helmnya dan memakaikannya kepada Tasya.
Lalu Jonathan menaiki motornya, lalu disusul Tasya naik di belakangnya. Setelah menyalakan mesin motornya, Jonathan melanjutkannya dengan kecepatan standar.