Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 26


Jonathan yang masih tenang, dan masih memegang dagunya. "Ahh.., Erik ya. Sayang sekali, dia dan Sandi terlalu mudah dibunuh."


Mendengar ucapan Jonathan, Riki terkejut bukan main. Tidak hanya Riki saja, Angga dan Ciko yang masuh terduduk di lantai, mereka berdua juga terkejut bukan main.


Ternyata, kematian kedua sahabatnya adalah ulah Jonathan. Sedangkan ketiga gadis yang terikat hanya bisa diam, dan memperhatikan saja.


BUGH !!


Riki menendang dada Jonathan.


Jonathan terdorong ke belakang, tapi ia masih bisa mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh.


"B4jing4n !! Ternyata kamu yang membunuh kedua temanku !!" Riki berteriak kepada Jonathan.


Jonathan memegang dadanya, rasa sakit ? Jujur sakit rasanya. Mau bagaimanapun ia tidak menguasai bela diri dan semacamnya. Sedangkan Riki, ia bersabuk hitam. Jelas Riki bukanlah tandingannya.


Tapi, apa reaksi Jonathan ? Ia tertawa. Angga yang melihatnya, juga tak percaya. Sehabis terkenal pukulan Riki, Jonathan masih bisa tertawa. Dan Ciko, ia memilih diam dan melihat saja.


Jonathan berhenti tertawa. "Ahhh, benar aku yang membunuh mereka berdua. Soalnya mereka mainan yang membosankan."


"Mainan ?" sahut semua orang yang mendengarnya.


"Apa maksudmu mainan ?" tanya Riki dengan tatapan tajam kepada Jonathan.


Jonathan tersenyum. Lalu ia menghela nafasnya. "Kau tau, aku sangat suka saat mendengar teriakannya saat aku menusuk pisauku ke tubuh Sandi. Teriakannya sangat berisik, aku menikmatinya. Tapi kesenangan itu hilang saat Sandi sudah tidak berteriak. Jadi dia tidak berisik. Karena kalau tidak berisik tidak asik."


BUGH !!


Riki menendang Jonathan lagi. Kali ini, Jonathan terdorong hingga ia jatuh duduk di lantai. Jonathan malah terkekeh, sambil memegang dadanya. "Tendanganmu memang sakit, sungguh sakit."


Semua orang yang melihat masih tak percaya. Jonathan masih saja terlihat santai meski sudah ditendang kedua kalinya oleh Riki.


Nafas Riki memburu, marah. Ya, dia marah. Gimana tidak marah, sosok laki-laki yang sering ia bully kini malah tertawa padanya.


Jonathan berdiri lagi. Riki menendangnya lagi. Tapi tendangan ketiga kalinya, Jonathan menangkapnya. Kaki Riki tertangkap, Jonathan langsung menariknya, dan menyeretnya.


Tindakan Jonathan, tentu saja membuat tubuh Riki tidak seimbang, dan jatuh.


Duagh !!


Jonathan langsung menendang otongnya Riki. "Aggrrhhh..!!!" Tentu saja, Riki teriakan kesakitan. Rasa sakitnya tidak kira-kira.


Bahkan Angga dan Ciko yang melihat, langsung reflek memegang otong mereka masing-masing, seakan-akan mereka juga merasakan ngilu melihat Riki seperti itu.


Dan ketiga gadis yang terikat di kursi, mereka hanya bisa memenjamkan kedua matanya. Dan pikiran mereka entah kemana.


Posisi Riki yang tidak mengenakan, tentu saja itu membuatnya langsung terbaring, kedua tangannya memegang otongnya, seakan ia sedang menahan rasa sakit yang amat luar biasa.


Jonathan langsung bergerak cepat. Ia langsung mengenggam wajah Riki. Ia angkat sedikit, lalu mendorongnya dan menghantamkan belakang kepala Riki ke lantai.


DuGh !!


Riki langsung pingsan setelah belakang kepalanya dihantamkan ke lantai oleh Jonathan. Darahnya keluar meski tidak deras dan banyak, tapi yang pasti rasa sakitnya setelah sadar, sakitnya minta ampun.


Semua melihat pertarungan Jonathan dan Riki, hanya bisa menganga. Riki yang terkenal ditakuti oleh manapun, bisa dikalahkan dengan cara yang Jonathan lakukan. Padahal Riki bersabuk hitam.


Jonathan hanya memasang wajah datarnya. Lalu ia melirik ke arah Angga. "Hey monyet !! Kesini kamu !! "


Jonathan memutar bola mata dengan malas, lalu mengambil kepala salah satu mayat dari anak buah bayaran Riki. "Tentu saja kamu, aku memanggilmu. Kamu mau kulempar dengan kepala ini !!"


Angga berdiri dari duduknya. Lalu perlahan ia berjalan mendekati Jonathan. Jonathan menatap dingin ke arahnya.


"Lepaskan ikatan mereka." ucap Jonathan sambil menunjuk ke arah ketiga gadis yang terikat di kursi, siapa lagi kalau bukan Laura, Sarah. Dan Nita.


Angga sedikit memiringkan kepalanya. "Kamu menyuruhku melepas mereka bertiga ?"


Dugkh !!


Jonathan langsung menghantam rahang Angga dengan sikutnya. Angga terjatuh, dan terduduk di lantai lagi. Rahangnya sakit sekali.


Jonathan berjongkok dihadapannya Angga dan menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Apa kamu mau kubunuh. Seperti orang ini ?" ucap Jonathan, sambil menentengkan kepala salah satu mayat dari anak buah bayaran Riki.


Melihat kepala mayat yang ditenteng oleh Jonathan, tentu saja Angga gemetar ketakutan. bahkan ia juga merasa ingin muntah. Bahkan ketiga gadis yang melihatnya saja sudah tak tahan melihat darah yang masih mengalir dari leher kepala itu.


Angga yang masih merasa sakit pada rahang, ia segera berdiri. Dan berjalan cepat mendekati Laura, Sarah, dan Nita untuk melepas ikatannya.


.....


Disisi lain.


Seseorang yang sedang duduk di kursi kebesarannya, ia tengah memeriksa laporan hasil kerja anak buahnya.


Terlihat Max cukup serius dalam bekerja. Ia membaca dan memeriksa laporan hasil yang ia dapat dari anak buahnya


Sambil mengerjakan tugasnya, ia juga sedang menunggu kabar dari asistennya untuk menemukan sosok laki-laki culun yang ternyata adalah pembunuh sadis.


Ting !!


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tadi nada ponselnya, bertanda ada pesan WA masuk. Lalu menghentikan aktifitasnya, lalu meraih ponselnya.


Terlihat dari notifikasi yang ia lihat di layar ponsel androidnya, terlihat Max malas untuk membukanya. Yang mengirim pesan WA tenyata adalah Putranya.


Dengan malas ia membuka pesannya. Baru saja membuka, seketika ia terkekeh. Ternyata bukan hanya pesan tulis saja melainkan sebuah foto Putranya yang sedang terikat di kursi.


Lalu dibawah foto itu, ada sebuah pesan. "Bukankah orang di foto itu adalah putramu ? Bisakah kamu berhenti mencariku lagi ? Aku tidak tertarik menjadi anggotamu. Dan juga putramu ini, sungguh sangat menjengkelkan. tapi tenang saja, aku sudah memperlakukannya dengan lembut."


Max telah membaca pesan itu. Nafasnya naik turun. Rasa tak terima, ia marah. Sungguh hebat orang ini, sangat berani sekali padanya yang merupakan pemimpin di kelompok mafianya.


Lalu segera mencari kontak orang yang bisa ia amdalkan. Max akan menyuruhnya untuk menangkap laki-laki culun ini, entah mau hidup dan mati.


Ting !!


Baru saja menemukan nama kontak yang ia cari, tiba-tiba ada pesan WA masuk lagi. Kerana sangat penasaran, Max segera membuka pesan WA itu.


"Meskipun kamu adalah bos mafia, aku tidak takut. Jika ingin tau, aku akan memberitahumu tentang rahasia kelompok mafiamu yang dulu dipimpin oleh pendahulumu sebelum dirimu. Kau tau, sebenarnya dulu kelompok mafiamu, sangat lemah. Berkat jasa dari salah satu anggota, kelompokmu menjadi sangat ditakuti, hingga sekarang."


Max terdiam setelah membacanya.


"Apa maksudnya ?"


Lalu Max membaca ulang pesan itu. Lalu ia terfokus ke salah satu kalimat Pendahulu. "Pendahuluku, bukankah sebelum kupimpin kelompok ini adalah papahku ?"