
Kedua Tasya melebar melihat pesan chat yang dikirim oleh suaminya padanya. Salsa yang duduk di sampingnya betanya melihat raut wajah Tasya seperti terkejut.
"Kamu kenapa ?" tanya Salsa berbisik
Tasya tak menjawab, ia hanya memperlihatkan ponselnya yang berisi pesan chat dirinya dengan suaminya. Salsa melotot setelah membacanya.
Yang lainnya pada sibuk berbicara dan bercerita. Andri yang tadinya ikutan, pun mengalihkan pandangan ke arah Tasya yabg dari tadi diam dan menatap ponselnya.
"Kamu kenapa ?" tanya Andri.
Tasya segera menyudahi melihat ponselnya. Saat akan menjawab pertanyaan Andri, tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh pundaknya. Tasya terdiam, namun ia dapat mencium bau parfum yang ia kenali.
Tasya sudah bisa menebak. Salsa melirik, ia melihat siapa yang sudah berdiri dibelakang Tasya dan memegang pundaknya. Lalu salah satu teman Andri bersuara.
"Dia siapa ?"
Andri mengernyit dahinya. Temannya bertanya lagi. "Itu, yang berdiri dibelakang Tasya."
Semua tertuju kepada orang yang sudah berdiri dibelakang dan menyentuh pundak model cantik itu. Andri menoleh, dan ia lihat, sosok yang tak ia sukai, seketika ia menatap benci kepada orang ini.
Tasya perlahan membalikkan tubuhnya, dan orang yang berdiri di belakangnya sudah tidak menyentuh pundaknya. Lalu ia mendongak melihatnya. Ya, orang itu laki-laki berkacamata, siapa laki kalau bukan Jonathan yang sudah berstatus suaminya.
Tasya melihat Jonathan yang juga menatapnya dengan senyuman. Namun bukan senyuman Jonathan yang ia lihat, melainkan kedua pupil iris mata suaminya sudah berwarna coklat gelap. Warna bola mata itu sudah lama ia tak pernah melihatnya lagi.
"Ayo pulang." ucap Jonathan yang masih tersenyum. Tasya tak menjawab, tadi ia berdiri dari duduknya. Bagitu juga dengan Salsa, ia sudah merasakan hawa haus akan membunuh.
Namun baru saja berdiri, tangan Tasya dipegang oleh seseorang. Tak hanya Tasya, Jonathan juga melihatnya. Salsa semakin membatin tak jelas saat melihat Andri memegang tangan Tasya. Bahkan teman-teman Andri juga melihatnya.
"Biar aku saja yang mengantarnya pulang, karena aku yang mengajaknya." ucap Andri, yang juga berdiri dan tetap memegang lengan Tasya.
Sungguh Tasya ingin pergi dari keadaan saat ini. Andri yang sebenarnya tadi mengajaknya, tanpa mendengar jawabannya terlebih dahulu, tapi malah seenaknya menariknya dan membawanya.
Disisi suaminya, ia menebak kalau suaminya pasti marah, lalu terpaku melihat warna bola mata suaminya berubah. Pikiran Tasya semakin tak karuan, ia melihat mata suaminya. Melihat itu ia mengumpat Andri dalam hatinya. "Astaga orang ini, jangan membuat Jonathan salah paham."
Jonathan tersenyum, dengan santainya ia berkata. "Aku yang berhak, karena aku sedang menjemputnya untuk pulang."
"Apa hak-mu atas dirinya ?" ucap Andri tegas dan dingin, dengan tatapan tajam.
Semua teman-temannya melihat adegan memperebutkan atas diri Tasya. Mereka memilih untuk diam dan melihat dari pada melerai, karena apa yang mereka lihat cukup seru dan menegangkan.
Dengan tegas Jonathan berkata. "Karena aku suaminya."
"Suami ?" sahut Andri.
"Kamu jangan mengada-ada." lanjutnya sambil tersenyum mengejek.
Tasya pun bersuara. "Pak Andri lepaskan tanganku, aku mau pulang dengan suamiku."
Andri menoleh dan menatap Tasya. "Kamu tidak bercanda ?"
Jonathan menepis tangan Andri dan merebut Tasya. Lalu ia menunjukkan cincin kawin miliknya dan milik istrinya. Andri terpaku melihatnya. Sebenarnya dalam dirinya, Jonathan tengah menahan rasa marahnya.
"Mungkin sudah hampir satu minggu lebih yang lalu kita menikah. Kita menikah secara sederhana. Dan untuk pesta resepsinya akan menyusul." kata Jonathan tersenyum melihat Andri yang terlihat seakan tidak percaya.
Jonathan menoleh dan melihat istrinya yang sudah berdiri di sampingnya. "Lagi-lagi, langsung kasih tau kalau kamu pulang lebih awal."
Jonathan segera membawa istrinya pergi dan pulang. Namun, saat akan melangkahkan kakinya, Tasya menahannya. Jonathan menoleh dan menatap istrinya. "Kenapa ?"
"Kita pamitan dulu sama mereka." jawab Tasya dan mengarahkan pandangan tertuju teman-teman Andri yang dari tadi diam dan memperhatikan mereka berdua.
"Buat apa pamitan sama mereka, aku tidak kenal sama sekali." jawab Jonathan santai tanpa dosa.
Lalu ia menarik tangan Tasya, dan pergi dari tempat itu, dan Salsa mengekori mereka. Mereka bertiga pergi meninggalkan Andri dan teman-teman. Andri pun kembali duduk di kursinya. Ia mengusap wajahnya.
Dalam hatinya, Andri masih tak percaya. Kalau Tasya telah menikah dengan laki-laki berkacamata itu. Dadanya terasa sesak. Entah kenapa dirinya merasa tidak terima kenyataan.
Salah satu temannya memegang pundaknya. "Sudahlah, jangan mengharapkan dia. Dia sudah menjadi istri orang."
Lalu temannya yang lainnya juga bersuara. "Jangan mencintai istri orang. Itu sungguh buruk."
Mendengar kata-kata temannya, pikiran kembali tertuju kepada Tasya. Ia masih tidak menerima kenyataan, kalau wanita yang ia cintai telah menikah dengan laki-laki lain.
"Ini membuatku gila !!" batinnya.
.....
Sementara Disisi Lain.
Jonathan dan Tasya sudah berada dalam mobil. Jonathan mengemudikan mobilnya pergi dari tempat itu, dan pergi pulang menuju rumah. Sedangkan Salsa, ia terpisah dari pasangan suami istri itu. Karena ia membawa mobilnya sendiri.
Dalam perjalanan Jonathan dan Tasya sama-sama diam. Tasya ingin berbicara, tapi marasa tidak enak hati. Lalu ia mencoba memulai berbicara. Ia teringat kata-kata Salsa tentang panggilan untuk suaminya.
"Mas, kamu marah ?" tanya Tasya.
"Tidak." jawab Jonathan dengan santai. Ia menjawab tanpa menoleh, pandangan fokus ke depan.
Lalu beberapa detik kemudian, ia menoleh dan menatap istrinya. "Kamu tadi memanggilku 'Mas' ?" lalu pandangannya kembali beralih ke arah depan.
"Tidak ada salahnya kan, kalau aku memanggilmu Mas." kata Tasya
"Aku senang mendengarnya." kata Jonathan. "Tapi aku ingin menghukummu." lanjutnya.
"Kamu ingin menghukumku ? Aku salah apa ?" tanya Tasya menatap heran pada suaminya.
"Karena kamu berani dekat-dekat dengan laki-laki selain suamimu dan papahmu." jawab Jonathan santai.
"Aku tidak salah, dia yang seenak saja menarik tanganku. Padahal aku belum menjawab ajakannya, dia langsung menarikku." kata Tasya yang mencoba membela diri.
"Tanpa kamu menjawab, kamu pasti menerima ajakannya." balas Jonathan yang masih memandang ke arah depan dan tetap santai.
Tasya menghela nafasnya. "Justru aku ingin menolak ajakannya."
"Baiklah, aku percaya padamu, tapi aku tetap menghukummu." kata Jonathan.
"Kalau kamu percaya padaku, seharusnya kamu tidak menghukumku." balas Tasya.
Jonathan terkekeh. Lalu ia menjawab. "Aku akan menghukummu di ranjang kamar kita. Aku ingin mendengarmu mendesah."
Kedua Tasya melebar. Ia tak percaya mendengar ucapan suaminya. Ia memalingkan wajahnya ke arah pandangan lain. Kedua pipinya memerah, ia malu. Karena mengingat semenjak setelah menikah, setiap malam, Jonathan selalu menyerangnya.