
Salsa pun terjatuh duduk di lantai. Pipi mulusnya lembam, dan di sudut bibirnya juga ada darah. Salsa memegang pipinya, ia gemetaran ketakutan.
Dengan dingin, Jonathan bertanya. "Kenapa kamu tidak langsung menghubungiku ?"
Jonathan mendekati Salsa kembali. Salsa hanya bisa mengeluarkan air mata. Secara bersamaan, Laura, Nita, dan Sarah, bahkan Tony maju untuk menenangkan Jonathan.
"Jo, tenanglah." ucap Laura menghalangi Jonathan dari Salsa yang masih duduk di lantai. Nita dan Sarah membantu Salsa perlahan untuk berdiri.
Tony merangkul paksa Jonathan agar tidak berbuat lebih lagi. "Tuan Jo, tenang. Tidak hanya kamu saja yang gelisah, kita semua juga merasakan apa yang kamu rasakan."
Jonathan menghela nafasnya. Lalu ia menatap Tony. "Tony lakukan tugasmu."
Tony melepas rangkulannya. "Baik."
Salsa dibantu duduk kembali ke sofa oleh Nita dan Sarah. Mereka duduk dalam sofa panjang, begitu juga dengan Laura, untuk berjaga-jaga jika Jonathan kembali berbuat lagi kepada Salsa.
Tony segera mengambil laptopnya yang masih tertinggal di dalam mobil. Jonathan masih berdiri diam di tempatnya. Nadia menyuruh Nadien untuk duduk, lalu ia berjalan mendekati Putranya.
"Nak." panggil Nadia sambil memengang pundak putranya.
Jonathan menoleh, dan menatap ibunya. Nadia bersuara. "Kamu tenanglah, mamah yakin, istrimu baik-baik saja."
Jonathan tersenyum kecil, lalu mengangguk kepalanya. Nadia memeluknya dan Jonathan membalas pelukannya.
Semua yang melihat Jonathan dan Nadia berpelukkan bertanya-tanya. Namun bagi Laura, ia merasa tidak asing melihat wanita yang sudah tak muda lagi, namun masih terlihat cantik, ia pun menyadarinya.
Laura berdiri dari duduknya dan mendekatinya. "Tante.... Nadia ?"
Ya, Laura masih ingat, mengingat kalau dirinya adalah teman masa keci Jonathan. Dan ia juga mengenal ibu kandung Jonathan.
Nadia dan Jonathan melepas pelukannya. Nadia mengerut dahinya. "Siapa ya, kenapa kamu mengenal nama Tante ?"
Laura tersenyum. "Aku Laura Tante, teman kecilnya Jonathan. Sudah sangat lama, sehingga membuat tante pasti sudah lupa denganku."
Nadia sedikit mengingat wajah Laura. Lalu ia terbelalak, dan maju berjalan mendekati Laura dan memeluknya. Laura pun juga membalas pelukannya.
"Ahh, maafkan Tante sayang. Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu." kata Nadia, lalu ia melepas pelukannya dan menatap Laura sambil memegang kedua pundak gadis itu.
"Tidak apa-apa Tante." balas Laura sambil tersenyum.
"Gimana kabar papah dan mamahmu ?" tanya Nadia.
Laura terdiam, ia tak menjawab. Nadia mengerut dahinya. Tiba-tiba terdengar suara Tony yang sudah masuk kembali setelah mengambil laptopnya.
"Tuan Jo, aku sudah akan meretas semua CCTV kota." kata Tony.
"Mamah dan Nadien, kalian bisa memilih kamar kalian. Disini masih banyak kamar yang kosong. Laura, ajak mamahku dan adikku ke kamar." ucap Jonathan, lalu ia langsung mengambil langkah keluar rumah.
Laura segera mengajak Nadia dan Nadien untuk mengikutinya ke salah satu kamar yang kosong. Nita ikut menemaninya, Sarah tetap menenangkan Salsa yang masih menagis merasa bersalah.
Sedangkan Tony, ia segera pergi ke ruang kerja Jonathan. Ia akan melakukan tugasnya di ruangan itu agar bisa fokus tanpa gangguan.
.....
Jonathan segera berjalan mendekati bagasi. Ia akan memakai mobil Dodge Charger 1969 hitam miliknya yang tersimpan, dan agak lama tak terpakai.
Jonathan melepaskan kacamatanya dan membuangnya sembarang, lalu ia segera masuk, dan menyalakan mesinnya.
Brumm...
Setelah dinyalakan, ia tak langsung berangkat, ia meraih ponselnya. Mengingat In-Body GPS System yang terpasang di kalung yang ia berikan kepada Tasya. Ia segera membuka salah satu aplikasi untuk melacak GPS keberadaan Tasya.
Setelah beberapa saat Jonathan menunggu, bunyi Notifikasi dari ponselnya. Sesuai dugaan, Tasya masih memakai kalung pemberiannya. Notifikasi memberitahukan kalau jaraknya, 30 Km lebih.
Jonathan langsung menginjak pedal kopling, ia meraih tuas untuk memasukan gigi, dan bersamaan, ia melepas pedal kopling dan kaki kanannya menginjak pedal gasnya.
Brumm...!!
Mobilnya yang Jonathan kemudikan, langsung berjalan cepat keluar dari garasi dan keluar dari halaman rumah besar miliknya. Ia tak mau buang-buang waktu lagi, ia harus menemukan keberadaan Tasya.
Tidak peduli hari masih sore. Meski ia baru saja sampai dari kota J, atas kehilangan Tasya, itu tidak terpengaruhi kalau dirinya akan kelelahan. Yang terpenting, ia harus menemukan keberadaan Tasya.
Walau nantinya ada polisi kota yang berjaga di jalan, tentu saja, kendaraan polisi-polisi akan kalah dengan kecepatan mobilnya jika mengejarnya.
.....
Langit perlahan berubah gelap, bertanda waktunya akan malam. Di suatu tempat yang cukup luas, terlihat seorang perempuan cantik yang tengah tak sadarkan diri.
Perempuan itu duduk terikat di kursi kayu. Perlahan ia membuka kedua matanya. Ia melihat sekelilingnya. Lalu ia melihat sosok perempuan yang tidak asing baginya. Sosok perempuan itu berdiri sambil tersenyum ke kepadanya.
Ia segera bangun, namun ia baru menyadari kalau kedua tangan dan kedua kakinya terikat. Ya, ia teringat saat dirinya sedang menunggu Salsa, tiba-tiba dari belakang ada yang membekapnya hingga membuatnya pingsan.
Setelah mengingat itu, Tasya menatap ke arah perempuan itu, ia menduga kalau Linda ada kaitannya. "Linda, apa maksudnya ini ?"
"Ahh, Tasya. Kau sudah sadar ?" tanya Linda mengabaikan pertanyaan Tasya.
"Linda, lepaskan aku !!" ucap Tasya, ia berusaha berontak.
Linda berjalan mendekati Tasya, lalu ia mencengkram dagu perempuan ini. "Aku sungguh muak padamu !!"
Lalu Linda menghempasnya. Tasya menatap Linda heran. "Apa maksudmu ? Apa salahku padamu."
"Semuanya !!" sahut Linda membentak.
Linda sangat membenci Tasya. Karena di dunia pemotretan, Tasya lebih populer darinya. Jadi ia menganggap Tasya adalah saingannya. Sudah banyak sekali pengusaha yang ingin mengorbitnya. Namun Tasya menolak. Justru Linda semakin membencinya, karena iri.
Ditambah mengetahui kalau dirinya menyukai laki-laki yang dekat dengan Tasya. Namun, ia semakin sangat-sangat kecewa karena mengetahui kalau laki-laki yang ia sukai adalah tunangan Tasya, bahkan telah sekarang telah menikah. Ya, laki-laki itu siapa lagi kalau bukan Jonathan.
Tasya terdiam membeku mendengar alasan Linda membencinya. Ia tak bisa berkata apapun. Yang ia harapkan adalah, suaminya, yang tak lain Jonathan datang untuk menolongnya.
Linda berjalan meninggalkan Tasya di dalam ruangan itu. Ia keluar dari dalam gudang. Gudang itu cukup tua. Dan jauh dari kota, tepatnya di pinggir kota. Karena menurutnya, lebih aman.
Lalu ia menghampiri managernyanya yang bernama Alan. Alan berdiri bersama dua laki-laki berbadan besar. Linda pun berbicara kepada Alan. "Sekarang hubungi, laki-laki itu."
Alan segera menghubungi nomer ponsel milik Jonathan yang ia dapat dari isi ponsel Tasya. Namun saat dihubungi, Jonathan tidak mengangkat telefonnya.
"Tidak diangkat." jawab Alan.
"Baiklah, kita menunggu sampai besok pagi, kalau besok dia masih tidak mengangkatnya, aku akan menghubungi kalian untuk habisi perempuan yang ada di dalam." pinta Linda. Ia sangat menginginkan Jonathan.
Dua laki-laki berbadan besar mengangguk kepalanya. Lalu Linda dan Alan masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.
.....
Sementara disisi Lain, ada 4 mobil yang tengah berbaris berjalan menuju lokasi. Rino dan yang lainnya sudah mendapat petunjuk keberadaan Tasya. Saat di sedang fokus memperhatikan jalan mereka, tiba-tiba ada mobil Dodge Charger 1969 hitam berjalan melewati mereka.
Brumm !!!
Mobil itu berjalan sangat cepat. Rino dan yang lainnya sangat terkejut melihatnya. Rino langsung menyadari kalau mobil itu milik tuannya. Lalu ia segera menghubungi yang lainnya untuk mengikutinya, karena ia menambah kecepatan untuk mengikuti Tuannya.