
Setelah Jonathan masuk ke dalam, kedua laki-laki berbadan besar itu segera keluar dari tempat itu. Dan menutup pintu dan menguncinya dari luar, agar laki-laki berkacamata ini tidak bisa melarikan diri.
Mereka berdua membiarkan bos mereka mengurusi urusannya bersama laki-laki berkacamata ini di dalam. Karena permintaan bosnya, mereka hanya patuh yang penting mereka dapat bayarannya.
Bangunan itu cukup jauh dari pemungkiman warga sekitar. Dan banyak sekali pepohonan. Ada kemungkinan kalau tempat itu berada di dalam hutan, dan yang pasti letaknya di pinggir kota S.
.....
Sementara di dalam.
BUGH !!
Setelah pintu tertutup dan terkunci dari luar, laki-laki itu memukul pipi Jonathan. Jonathan terjatuh duduk dilantai setelah menerima pukulan itu.
"Apa sih istimewanya kamu ?"
Sambil memegang pipinya bekas pukulan barusan, Jonathan mengerut dahinya mendengar laki-laki ini, lalu ia mendongak menatapnya. "Lalu kamu siapa ? Tiba-tiba menyuruh orang membawaku kesini."
"Kamu tidak mengenalku ?"
"Tidak, aku merasa tidak kenal denganmu. Lagian aku tak pernah berbuat salah pada orang asing." jawab Jonathan dengan wajah yang ia buat seakan ia ketakutan.
"Cih..., Dari Penampilan kamu sudah membuat perempuan di kampus melirikmu. Tapi ternyata kamu itu penakut." ucap laki-laki itu.
"Tapi sungguh aku tidak mengenalmu." ucap Jonathan. Ya, dia memang tidak kenal dengan laki-laki asing ini.
Jika memang satu kampus, tapi siapa ? Lagian Jonathan hanya punya satu teman laki-laki bernama Dave. Dan juga ia tak peduli siapa laki-laki ini.
"Baiklah, sepertinya aku harus memperkenalkan diriku." ucapnya.
Jonathan berusaha berdiri. Laki-laki dihadapannya menatap remeh kepada Jonathan. "Namaku Farel. Salah satu mahasiswa terbaik dikampus kita."
Jonathan mengedip kedua matanya berkali-kali. "Farel ? Aku gak kenal."
BUGH !!
Lagi-lagi Jonathan terkena pukulan Farel. Tapi Jonathan tidak jatuh, ia mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh dan tetap berdiri.
"Aku sangat membencimu, bisa-bisanya kamu dekat dengannya." ucap Farel marah.
"Dengannya ? Siapa ?" sahut Jonathan bertanya.
"Tasya." jawab Farel. "Selama aku kuliah dan satu angkatan dengannya, aku selalu ingin dekat dengannya, tapi dia tak pernah tersenyum tulus padaku. Tapi kamu datang, entah mengapa aku kesal melihat senyumannya tulus padamu."
Jonathan terdiam, ia tak menatap Farel melainkan menatap ke arah belakang tubuhnya Farel. Tubuh menegang.
Farel mengerut dahinya. "Kenapa kau ?"
Jonathan berjalan mundur perlahan. Ia tak menjawab cerita Farel atau menjawab pertanyaannya.
Farel yang juga heran dengan tatapan Jonathan ke arah belakang tubuhnya, ia pun segera berbalik badannya, ia penasaran apa yang dilihat Jonathan.
DUAK !!
Tiba-tiba tubuh Farel terhantam.
Ternyata Jonathan berlari ke arahnya, lalu melompat dan menghantam tubuhnya dengan kedua kakinya.
Braakk !!
Tubuh Farel terjatuh dan menghantam lantai. Jonathan bergerak cepat. Ia langsung menaiki tubuhnya Farel. Lalu ia mencekiknya.
"Kamu terlalu banyak bicara." ucap Jonathan, lalu ia tersenyum menyeringai.
Kedua tangannya mencekik lehernya. Farel ingin memukul. Namun tenaganya terasa hilang bersamaan ia kesulitan bernafas.
Tak hanya mencekiknya, kedua jempol tanganya menekan lehernya Farel. Farel Ingin berteriak, namun ia tidak bisa.
Farel terus berusaha. Kedua tanganya memukul Jonathan, tapi tetap saja ia terasa tak bertenaga. Pukulannya pasti tidak terasa.
Jonathan tertawa melihatnya. "Kamu mau ngomong apa ? Mau dilepas ? Hahaha baiklah-baiklah."
Jonathan melepas cekiknyanya, lalu ia berdiri. Farel masih terbaring di lantai dan ia terbatuk-batuk dan merasakan sakit di lehernya.
Duak.
Jonathan menendang wajah Farel.
Jonathan tersenyum melihat Farel kesakitan. Namun ia merasa ada yang kurang. "Ahh, sayang sekali aku tidak membawa pisau."
Wajah Farel membengkak dan lembam akibat tendangan barusan, ia perlahan bergerak, dan mencoba bangun untuk duduk. Ia masih tak menyangka kalau targetnya bisa melakukan hal tak sesuai dugaannya.
"Jika ada pisau, pasti akan nikmat rasanya."
Farel yang sudah duduk di lantai menatap Jonathan. Ia benar-benar tak percaya apa yang ia lihat sekarang.
Jonathan yang terkenal di kampusnya adalah laki-laki pendiam, tidak pernah bergaul pada siapapun. Kini Jonathan yang dihadapannya adalah sosok Jonathan yang berbeda.
Duak !!
Jonathan menendang wajah Farel kembali. Farel terjatuh dan tergeletak di lantai.
Duak !! Duak !! Duak !! Duak !!
Duak !! Duak !! Duak !! Duak !!
"Hentikan~"
Duak !! Duak !! Duak !! Duak !!
Jonathan terus menginjak dan menghantam wajahnya dengan dengan alas sepatunya. Tanpa ampun dan tidak peduli dengan suara ampunan dari Farel, Jonathan terus-terusan menghantamnya dan menginjak wajahnya.
"Ampun~"
Duak !! Duak !! Duak !! Duak !!
Sudah tak terdengar suara laki-laki yang ia siksa. Jonathan menghentikan aktifitasnya. Ia melihat wajah Farel yang parah, sedikit hancur, dan penuh darah.
Farel terlihat masih bernafas. Jonathan menghela nafasnya melihatnya. Ia menatap dingin ke arahnya. "Semoga kau membusuk di neraka."
Jonathan berjalan menjauhinya. Ia berjalan mendekati pintu bangunan itu.
Tok tok tok.
Jonathan mengetuk pintunya. Ceklek !! Terdengar suara kalau kunci pintu itu terbuka dari luar. Jonathan langsung mengambil posisi agar aman.
Pintu pun terbuka. Masuklah Kedua anak Farel yang tadi membawanya kemari. Jonathan melihat dari persembunyian di balik pintu.
Jonathan langsung bergerak, ia keluar dari banguanan itu dan langsung menutup dan cepat-cepat mengunci pintunya.
Terdengar juga suara ketukan dari dalam dan mendobraknya. Yang berarti dua laki-laki itu telah menyadari keadaan di dalam. Jonathan cepat-cepat masuk ke dalam mobil sedan yang mambawanya tadi.
Jonathan menggunakan mobil sedannya untuk menutupi pintu ruangan itu. Tak hanya terkunci dari luar, tapi juga karena ada beban mobil sehingga pintu itu juga akan semakin sulit dibuka.
Jonathan keluar dari mobil, ia berjalan ke arah belakang mobil. Ia membuka bagasi mobil. Dan benar saja di dalam begasi mobil terdapat minyak.
"Cih..., trik lama masih saja dipakai."
Jika ada orang asing menculik seseorang dan membawanya ke sebuah bangunan kosong tak terpakai. kemungkinan pasti di bagasi mobil mereka punya minyak untuk mengakhiri semuanya dengan cara membakari korbannya agar tidak meninggalkan jejak apapun.
Jonathan segera memakai minyak itu, dan menyiramkan di sekeliling bangunan itu. Ia juga melihat korek api gas di dasboar mobil. Lalu ia menyalakan korek api gasnya dan membakarnya.
Wussss
Api menyebar di sekeliling bangunan itu. Mobil sendannya pun juga ikut terbakar. Jonathan dengan santainya pergi meninggalkan tempat itu.
.....
Duar !!
Setelah lama ia berjalan kaki dari tempat itu, ia pun akhirnya mendengar sebuah ledakan. Pasti mobil sedan itu meledak karena terbakar.
Sambil berjalan, Jonathan meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo tuan Jo !! Tuan Jo ada dimana ?"
"Lacak GPS ponselku, dan langsung jemput saja aku."
"Siap tuan Jo !!"
"Oke, kutunggu jemputannya"
Tuttt.