
Kejadian Sebelumnya.
Jonathan telah mendapat mobil dari curiannya. Mobil yang ia dapat setelah berhasil membunuh sekelompok gangster kecil di suatu wilayah pinggiran kota bagian timur.
Ia berencana menggunakan mobil itu untuk mengikuti Riki. Sudah terbukti kalau Riki adalah Putra Max, sekaligus cucu Bams. Maka ia ingin menggunakan Riki sebagai sanderanya untuk membalas dendamnya kepada Bams.
.....
Dari kejauhan, Jonathan telah menunggu di dalam mobil avanza hasil curiannya. Ia menunggu Riki dan kedua temannya yang sedang masuk ke caffe.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Laura, Sarah, dan Nita keluar dari caffe itu. Jonathan tidak memperdulikan ketiga gadis itu. Yang terpenting, saat ini ia harus mengawasi Riki, dan mengikutinya untuk dijadikan sanderanya.
.....
Sudah satu jam menunggu setelah Laura dan kedua temannya pergi, barulah Riki dan kedua temannya keluar dari caffe. Jonathan terus mengawasi Riki, hingga naik mobil dan pergi dari tempat itu.
Jonathan pun mengikutinya dari belakang dengan hati-hati, tapi tetap saja, ia terlihat santai. Dalam prinsip Jonathan, dikehidupan sebelumnya, tetaplah santai saat melakukan sesuatu. Dan prinsipnya tetap ia bawa hingga sekarang.
.....
Mobil yang dikemudikan Jonathan telah sampai di suatu tempat. Jonathan bahkan sampai heran, kenapa Riki dan kedua temannya pergi jauh dari kota. Tepatnya di pinggiran kota bagian selatan.
Dari dalam mobil, Jonathan mengerut dahinya saat melihat Riki dan kedua temannya keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati bangunan yang terlihat tak terawat. Dan banguan itu juga dijaga oleh empat laki-laki dewasa.
Riki dan keempat laki-laki terlihat akrab. Bahkan keempat laki-laki dewasa itu sampai menundukkan tubuhnya. Jonathan menebak, ada kemungkinan Riki sedang melakukan sesuatu, tapi apakah itu ? Dan keempat laki-laki itu, apa anak buah bayaran ?
Jonathan melihat Riki dan kedua temannya masuk ke dalam bangunan itu, dan keempat laki-laki itu pun juga ikut masuk. Di dalam Jonathan berfikir apa yang sedang Riki, Ciko, dan Angga rencanakan.
Tak lama kemudian, pintu bangunan itu terbuka, terlihat keempat laki-laki dewasa tadi keluar dari dalam. Dalam pikirannya, Jonathan bertanya-tanya, kemana Riki dan kedua temannya ?
Sudah seperti ini, rencana Jonathan untuk menemui Riki akan sulit, karena ada empat laki-laki yang sedang berjaga di depan pintu bangunan itu. Jonathan mencoba tetap tenang, ia yakin semua pasti bisa diatasi.
Lalu terlintas akal muncul di isi kepala laki-laki julukan culun itu. Jonathan memutar balik mobil avanzanya. Setelah agak jauh, ia memutar kembali lagi mobilnya. Ia malajukan mobilnya ke arah tempat tadi.
Jonathan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak kira-kira. Dari samping bangungan itu, ia langsung menerobos melewati rumput. Keempat laki-laki itu menoleh ke samping secara bersamaan.
Brak !!
Belum sempat terkejut, keempat laki-laki dewasa itu tertabrak sebuah mobil avanza hitam yang tiba-tiba muncul melaju dari samping bangungan. Tentu saja, tabrakan itu membuat mereka berempat terdorong kuat dan terjatuh ke tanah.
Tubuh mereka sangat sakit, mungkin tulang kaki mereka patah semua. Jonathan turun dari mobilnya, tangannya sambil menggenggam parang.
Dari mana Jonathan mendapat parang ? Jawabannya, ia menemukan parang itu dari dalam mobil, bahkan ada juga beberapa pistol. Secara mobil yang ia curi adalah mobil milik dari ketua gangster yang ia bunuh beberapa hari yang lalu.
Jonathan memandang keempat laki-laki itu yang sedang terduduk kesakitan. Tanpa basa basi, Jonathan langsung menyerang mereka dengan parangnya.
Tanpa ampun, Jonathan mambacok mereka berempat. Darah mucrat dan berceceran ditanah. Sempat juga Jonathan menjilat darah mereka yang menempel di wajahnya.
Bruakkk !!
Jonathan membuka pintu bangunan itu dengan kasar menggunakan kakinya. Tak taunya setelah masuk, ia terkejut melihat Laura dan kedua temannya ada di dalam ruangan dengan kondisi terikat.
"Kok, ketiga perempuan itu bisa bersama Riki ? Apa mereka berbuat kesalahan ?" ucap laki-laki itu dalam hati saat melihat Laura dan kedua temannya terikat di kursi.
Terlihat semua orang di dalam membeku melihat Jonathan yang wajah dan pakaiannya banyak noda darah.
Suasana ruangan itu menjadi hening. Jonathan melempar pelan keempat kepala laki-laki yang diduga anak buah bayaran Riki. Semua terdiam. Sarah dan Nita itu teriak histeris melihat salah satu kepala gelinding di dekat kaki mereka.
"Kenapa harus dia yang datang." batin Sarah.
"Pemandangan apa ini." batin Nita.
Memang Sarah menginginkan ada seseorang yang datang menolong mereka bertiga. Tapi kenapa sosok laki-laki yang ingin ia hindari ? Apakah Jonathan diam-diam bersekongkol dengan Riki dan yang lainnya.
Sepertinya mustahil, buktinya keempat anak buah bayaran Riki mati dengan sangat sadis. Rasanya ingin muntah saat melihat salah satu kepala berada di dekatnya. Pada akhirnya Sarah pun muntah.
Sedangkan Laura terdiam melihat apa yang di lakukan Jonathan barusan. Isi kepala Laura terus bertanya-tanya tentang Jonathan. Teman masa kecilnya menjadi pembunuh, dia membunuh lagi ? Kepana sesadis ini ?
Riki melotot tak percaya. Keempat anak buah bayarannya mati ? Ciko bahkan sampai terjatuh duduk, kaget bukan main. Ia mual, melihat darah yang masih keluar dari leher yang dipenggal. Pada akhirnya ia pun muntah.
"Pembunuh !!" ucap Ciko panik setelah muntah.
Entah ingin percaya atau tidak, benarkah sosok Jonathan yang terkenal culun ini adalah pembunuh ? Itulah isi pikiran Riki.
Jonathan memasang wajah dinginnya, ia berjalan mendekati Riki yang diam berdiri. Angga dan Ciko yang masih terduduk di lantai, mereka berdua tak berani bergerak karena merasakan aura pembunuh dari Jonathan.
Kini Jonathan berhadapan dengan Riki, tepat dihadapannya. Jonathan terkekeh, ia melepas kacamatanya, lalu mengelapnya dan memakainya lagi. "Awalnya aku hanya ingin mendatangimu. Tapi kenapa ada tiga manusia berkelamin perempuan ada disini ?"
Riki masih diam. Dalam hatinya takut melihat Jonathan yang saat ini. Darah yang menempel pada wajah, dan baju, itu saja Jonathan cukup terlihat seperti pembunuh.
Namun mengingat kalau dirinya adalah anaknya ketua mafia, ia pun mulai untuk berani. Riki pun bersuara. "Ternyata begini, sosok yang selama ini bersembunyi di balik penampilan culunmu."
Jonathan terkekeh mendengarnya. "Tanpa aku kasih tau, ternyata kamu sudah bisa menebaknya."
"Jadi, kamu ingin balas dendam padaku ? Karena aku dan teman-temanku selalu membully-mu ?" tanya Riki tersenyum mengejek, ia mencoba untuk berani.
Jonathan memegang dagunya. "Hmm, itu salah satunya."
Riki masih tersenyum mengejek sambil mengangkat alis sebelahnya. "Sepetinya cerita Angga dan Erik yang dulu, ada benarnya. Dan benar saja, aku tertipu karena penampilanmu."
"Ahh.., Erik ya. Sayang sekali, dia dan Sandi terlalu mudah dibunuh." jawab Jonathan yang masih tenang, dan masih memegang dagunya.