Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 55 | S2


Setelah Jonathan mengetok-ngetok pintu, ia segera bersembunyi. Pintu gudang pun terbuka, teman Leo, yang bernama Joni, ia masuk ke dalam. Dia langsung terkejut melihat Leo yang yang sudah tak berdaya.


Joni segera mendekatkan dirinya. Lalu ia kembali terkejut melihat salah satu mata Leo tertancap pulpen. Ia segera memeriksanya. "Masih bernafas."


Lalu Joni menepuk-nepuk pipi Leo yang tak sadarkan diri. Dia menyentuh pulpen yang masih tertancap di mata Leo. Ia mencabutnya, namun darahnya malah keluar dan terus mengalir.


Joni semakin panik, lalu ia tersadar sesuatu. "Kemana anak berkacamata itu ?"


Jonathan yang bersembunyi di balik pintu, ia segera cepat-cepat keluar, lalu ia menutup pintu gudang dan langsung menguncinya.


Joni pun terkejut bukan main saat melihat laki-laki kacamata itu keluar dan menutupi pintu dan mengunci dirinya dan juga ga Leo.


.....


Jonathan yang sudah di luar gudang, ia segera melepas kedua sarung tanganya dan menyimpannya di dalam tasnya. Ia akan membuangnya nanti di tempat yang aman.


Lalu ia mengambil dua ponsel asing dari saku celananya. Kedua ponsel itu milik Leo dan Joni. Pertanyaannya, sejak kapan Jonathan bisa mendapat ponsel mereka berdua ?


Jawabannya, saat Jonathan ditarik oleh Leo menuju gudang. Jonathan yang berjalan di belakang Joni dan Leo, diam-diam ia mengambil ponsel mereka berdua.


Jonathan juga memasukan kedua ponsel itu ke dalam tasnya. Setelah itu, ia juga mengambil ponsel miliknya sendiri dan lalu menghubungi Tony.


Tutt..


"Halo, ada yang bisa saya bantu, tuan ?"


"Tolong kamu retaskan CCTV kampus yang terletak di bangunan kedua, sekarang aku ada di tempat itu."


"Baik tuan."


"Oke terimakasih."


Tutt.


Disisi Tony yang sedang tak sibuk di kantornya, ia segera mengerjakan perintah tuannya. Tony segera melacak keberadaan tuannya melalui nomer ponsel.


Setelah menemukan letak lokasi tuannya, ia segera meretas CCTV di bangunan kedua di kampus tempat tuannya kuliah.


Sedangkan untuk Jonathan, ia melihat ada notifikasi GPS di ponselnya, ia tersenyum. Berarti Tony mulai meretas CCTV. Lalu ia segera pergi dari tempat itu.


.....


Di dalam gudang.


Joni panik melihat kondisi Leo, ia segera mangambil ponselnya. Lalu setelahnya ia terdiam.


"Kemana ponselku ?"


Lalu Joni berjalan mendekati pintu itu dan mengetok-ngetok dengan kencang.


"Woy !! Buka pintunya !!"


Teman Leo terus mengetok-ngetok pintunya. Tap tetap saja tidak dibuka. Ia menghela nafasnya. Lalu ia melihat Leo yang mengenaskan dan masih tak sadarkan diri.


.....


Keesokan Harinya.


Kampus ternama di kota S, kini ditadangi polisi dan ambulan. Mereka membawa salah satu mayat dari dalam gudang. Dan beberapa polisi mengamankan seseorang.


Dari hasil pemeriksaan. Mayat Leo telah meninggal karena tidak keburu dibawa rumah sakit dan pendarahan dari lukanya. Sidik jari menunjukan kalau Joni adalah pelakunya.


Dan petugas penjaga kampus mengatakan, kalau dirinya pagi-pagi sedang berkeliling, lalu ia mendengar suara meminta tolong ternyata suara Joni.


Joni yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan, ia terus menyangkal, kalau dirinya tidak bersalah. Ia mengatakan kalau dirinya dijebak.


Tapi Pihak polisi tetap menyalahkan dirinya sesuai dari hasil pemeriksaan TKP. Karena di gudang itu hanya ada sidik jarinya. Dari rekaman CCTV, hanya ada rekaman dirinya dan Leo masuk ke dalam gudang.


Mau tak mau, Joni dinyatakan bersalah, dan menjalani hukuman di penjara sesuai waktu yang ditentukan oleh hukum. Joni yang tidak terima masih terus menyangkal di dalam penjara.


Tapi tidak dihiraukan oleh polisi-polisi dan lainnya. Yang ada mengganggu ketenangan para napi yang ada di dalam lapas. Akhirnya para napi menghajar Joni agar diam.


.....


Di dalam ruangan kosong, tepatnya ruangan kelas lama yang tak terpakai, terlihat ada 6 kumpulan mahasiswa di dalamnya. Mereka adalah kelompok paling terkenal di kampusnya.


Terutama dua laki-laki tampan diantara 6 mahasiswa ini yang bernama Candra dan Farel. Banyak yang mengatakan kalau mereka berdua adalah dua laki-laki tertampan di kampusnya, sekaligus idola.


Kini mereka masih bingung. Ya, mereka masih membahas kematian salah satu teman mereka yang bernama Leo. Dan lebih parahnya Joni, adalah pelaku pembunuhan Leo.


Tak lama kemudian terdengar sudah waktunya masuk kelas jadwal mereka. Mereka berenam segera membubarkan diri, untuk kembali ke kelas.


.....


Disisi Lain.


Jonathan tengah duduk santai sambil memperhatian dosen yang mengajar. Kini penampilan sedikit berubah. Setidaknya penampilan sedikit mengeluarkan aura ketampanannya.


Dari pakaiannya, cukup membuatnya terlihat benar-benar berbeda. Meskipun sekarang ia masih setia dengan kacamata. Orang-orang rumah sampai tekejut melihat perubahan penampilannya.


Ia juga memakai jaketnya tanpa di resleting. Gaya rambutnya juga ia rubah. Bahkan semua mahasiswi kini mulai terpesona dengan penampilannya.


Laura dan yang lainnya di rumah memberi saran kepada Jonathan untuk memakai soflen. Baru sekali saja dipakai dalam beberapa menit, Jonathan ingin melepasnya.


Jonathan emosi, karena ia tidak bisa melepas soflennya. Setelah berhasil melepas soflennya, ia langsung membuangnya ke lantai, dan ia injak-injak. Melihat Jonathan seperti itu mereka hanya diam, dan hanya bisa menahan tawa mereka.


Akhirnya, ia memilih memakai kacamata saja. Kadang ia protes kepada pemilik tubuhnya. Karena tidak menjaga kesehatan mata sehingga kedua matanya menjadi rabun.


Entah kenapa semenjak bertemu dengan Tasya, ia menjadi ingin mengubah penampilannya. Setidaknya tidak terlalu mencolok dalam perubahan penampilannya.


Jonathan merasa senang dan damai.


Meskipun hanya menyapa atau disapa. Dan ia benar-benar merasakan dari dalam dadanya bergetar.


.....


Jam kuliah telah selesai. Waktunya untuk pulang. Namun ia merasa butuh sesuatu untuk pelajarannya. Jonathan segera pergi ke perpustakaan.


Setelah masuk ke dalam perpustakan, Jonathan mencari buku yang ia cari. Setelah ia dapat, ia segera melapor ke petugas perpustakan untuk meminjam bukunya.


.....


Jonathan telah diparkirannya.


Ia sekarang harus pergi ke kantornya, karena dua jam nanti ia ada jadwal untuk bertemu dengan klannya.


Jonathan melanjutkan motor maticnya, dan membawanya keluar dari parkiran kampus. Baru saja keluar dari gerbang kampus, ia melihat perempuan yang tak asing di matanya.


Ya, Tasya. Ia benar-benar melihat Tasya yang sepertinya sedang menunggu jemputan di depan kampus. Tapi gadis itu terlihat gelisah, Jonathan pun mendekatinya.


"Tasya ?" Jonathan memanggilnya, saat ia mendekatinya dengan motor maticnya.


Tasya menoleh, lalu ia tersenyum. "Jonathan ?"


"Kamu sedang menunggu jemputan ?" tanya Jonathan menebak. Ia masih setia duduk di jok motor maticnya.


Tasya mengangguk-angguk kepalanya. "Ya, tapi supir yang akan menjemputku sedang terjebak macet."


"Apa kamu buru-buru ?" tanya Jonathan.


"Ya, karena aku ada jadwal pemotretan." jawab Tasya, ia sesekali melirik ke jam tangannya. Wajahnya terlihat jelas gelisah.


"Mau kuantar ?" tanya Jonathan memberi tawaran.


Tasya mengerut dahinya. "Ehh ?"


"Kamu terlihat seperti di kejar waktu. Apa mau kuantar ? Tapi naik motor ini." kata Jonathan sambil menunjukan motor maticnya.


Tasya pun bingung, apa ia harus menerima tawaran Jonathan yang akan mengantarnya, atau menolak tawarannya.