Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 60 | S2


Beberapa Hari kemudian.


Seperti biasa, Rino mengantarkan Laura, Sarah, dan Nita ke kampus mereka. Sedangkan Jonathan, ia memilih menaiki motor maticnya dari pada ikut bersama mereka berempat.


Hari-hari ketiga perempuan itu berjalan lancar seperti biasanya. Mereka bertiga kini telah mendapat teman di kampus. Sedangkan Jonathan, ia juga memiliki teman, namun hanya satu orang saja.


Disisi Jonathan, ia kadang menyapa atau memberi senyuman kepada Tasya yang sedang berjalan di lorong dan melewatinya. Namun Tasya mangabaikannya dan melewatinya begitu saja.


"Dia kenapa ya ?" batin Jonathan.


Karena sudah beberapa hari ini Tasya memilih mengabaikannya. Apa dia punya salah ? Lalu salahnya dimana ? Ia hanya berniat menyapa saja.


.....


Jam kelas telah memasuki jam istirahat. Jonathan berjalan menuju kantin. Ia sendiri bersama teman seorang, namanya Dave.


Setelah mendapat makanan yang ia dapat ia dan segera pergi mencari tempat duduk di kantin. Dan memilih duduk di pojok, karena bisa tempat untuk bersantai.


.....


Jam kuliah telah selesai. Laura, Nita, dan Sarah telah dijemput oleh Rino. Jonathan memberi pesan chat kepada Rino karena ia akan pulang telat.


Temannya, Dave juga telah pulang. Jonathan berjalan menuju bangunan kampus kedua. Ia berjalan di lorong, ia melihat sekelilingnya. Suasana cukup sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi saja yang mungkin mengikuti jam tambahan atau kegiatan lainnya.


Jonathan mendekati sebuah ruangan. Dari jarak 3 meter saja dari ruangan itu, indra pendengarannya sudah mendengar suara seorang perempuan sedang bernyanyi.


Ya, inilah tujuan sekarang Jonathan memilih pulang adalah melihat Tasya bernyanyi. Ia terpesona suara Tasya yang sungguh menghayati dalam menyanyikan sebuah lagu.


Jonathan mengintip Tasya dari jendela ruangan itu. Ia tersenyum hangat melihat Tasya yang memainkan jarinya dalam memainkan pianonya.


"Cantik."


Tiba-tiba Tasya menghentikan bernyanyinya dan mainan pianonya. Jonathan pun mengerut dahinya. "Kenapa dia berhenti ? Aku kan sedang menikmati suaranya."


Disisi Tasya yang menghentikan aktifitasnya pun bersuara, bahkan Jonathan mendengarnya. "Jangan mengintipku !!"


Jonathan membeku. Lalu ia mengedip kedua matanya berkali-kali, disini ia terlihat bodoh. Jonathan terbelalak saat melihat Tasya menoleh dan langsung menatap tajam padanya.


Jonathan langsung menunduk dan bersembunyi di balik dinding ruangan itu. Ia sambil memengang dadanya yang terasa berdebar-debar. "Kenapa dia menatapku seperti itu ?"


Ceklek..


Pintu ruangan itu terbuka. Jonathan terkejut, lalu ia segera bangkit untuk pergi. Namun belum bangkit sepenuhnya, Tasya sudah bersuara. "Jangan pergi kamu !!"


Jonathan berdiri lalu membalikan tubuhnya dan menghadap Tasya, ia nyengir kuda. Ia benar-benar terlihat bodoh kali ini.


Tasya menghela nafasnya dan menatap tajam padanya. "Ayo masuk !!"


"Hah ?" Jonathan melongo.


"Aku bilang ayo masuk, aku ingin berbicara padamu." ucap Tasya gemas, lalu masuk kembali ke ruangan musik.


Jonathan pun melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat Tasya sedang berdiri menatapnya dan sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


Jonathan melihat isi ruangan itu. Biasanya ia lihat dari jendela setiap Tasya ada di dalam ruangan itu, tepatnya ia mengintipnya. Kini ia di dalam ruangan itu.


"Sebenarnya apa tujuanmu, kenapa kamu selalu mengintipku saat aku sedang disini ?" tanya Tasya.


Karena beberapa kebelakang ini, Jonathan selalu mengintipnya bernyanyi sendirian di dalam ruangan musik.


"Sebenarnya aku suka mendengar suaramu bernyanyi." jawab Jonathan, lalu ia tersenyum.


"Apa jawabanku sudah benar ?" batin Jonathan, ia merasa jawabannya terlalu jujur.


"Hanya itu ?" tanya Tasya.


"Ahh, ada yang membuatku berfikir belakang ini, kamu mengabaikanku setiap aku menyapamu." kata Jonathan.


Sebelumnya ia selalu menyapa atau tersenyum ramah setelah perkenalan mereka berdua. Tasya pasti juga menyapanya atau tersenyum setiap mereka saling bertemu.


Tasya menghela nafasnya, lalu menatap Jonathan. "Kamu yang mulai duluan."


"Apa kamu lupa, beberapa hari yang lalu..."


Tasya mulai menjelaskan saat ia selesai bernyanyi di sebuah caffe. Dan saat ia turun ke lantai satu, ia melihat Jonathan, dan memberi senyuman. Namun Jonathan malah seakan-akan tidak kenal padanya.


Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. "Jadi kamu yang waktu itu sedang bernyanyi ya. Pastas saja aku mengenal suaranya."


"Ya, tapi kamu malah merasa tidak kenal denganku." kata Tasya.


"Sungguh, aku tidak begitu jelas melihat dari jauh." balas Jonathan.


"Kamu sudah memakai kacamata, tapi tetap saja masih tidak jelas melihat ?" kata Tasya mengejek.


Lalu mereka berdua terdiam dan saling bertatapan. Dan tunggu !! Kenapa hanya masalah sepele mereka menjadi seperti ini ? Jonathan dan Tasya saling bertatapan. Mereka tersenyum, lalu tertawa bersama.


"Ya, sudahlah. Kalau begitu aku mau pulang, aku ada pemotretan." ucap Tasya, lalu ia mengambil tas kulitnya.


"Mau kuantar ?" Jonathan memberi tawaran.


Tasya sejenak berfikir. Jonathan pun berkata. "Boleh deh."


"Tapi aku mau chat dulu sama manager aku." lanjutnya. Jonathan pun menunggunya.


Tasya mengirim pesan kepada Salsa agar tidak mengirim jemputan. Ia mengatakan, dirinya akan diantar teman.


Tasya memasukan ponselnya ke tasnya. "Ayo."


Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan berjalan ke parkiran. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang diam-diam melihat mereka berdua.


Dari sorot matanya seperti marah dan tidak terima melihat salah satu gadis pujaannya berjalan bersama dengan laki-laki lain. Parahnya laki-laki itu mahasiswa baru dan berkacamata dan penampilan biasa-biasa saja.


.....


Jonathan telah mengantar Tasya ke tempat tujuan. Tasya turun, dan memberi helmnya. "Kamu mau masuk ?"


Jonathan menerima helmnya dan mengerut dahinya. "Apa boleh ?"


"Tentu saja boleh." Tasya menjawabnya dengan senyuman.


"Baiklah." sahut Jonathan, lalu ia menjalankan motornya dan mencari tempat untuk memarkirkan motornya. Sedangkan Tasya masih menunggunya.


Setelah memarkirkan motornya, Jonathan berjalan mendekati Tasya. Mereka pun masuk bersama ke dalam bangunan tinggi itu.


Jonathan mengikuti Tasya dari belakang. Tasya menoleh. "Kamu jangan berjalan di belakangku. Kamu terlihat seperti bodyguardku."


Jonathan tersenyum, lalu ia berjalan bersampingan dengan Tasya. Mereka memasuki lift.


.....


Kini Jonathan dan Tasya sudah memasuki salah satu ruangan yang cukup luas. Banyak sekali orang-orang yang menatapnya.


Salsa berjalan mendekati Tasya, lalu menariknya. Dan ia berbisik. "Dia siapa ?"


"Dia temanku." jawab Tasya juga berbisik.


"Kamu mengajaknya ?"


"Iya, salah ya aku mengajaknya masuk ?"


"Ahh, tidak masalah kok."


Lalu Salsa meminta salah satu orang untuk menyiapkan tempat duduk untuk Jonathan, karena untuknya dan Tasya sudah di sediakan.


.....


Jonathan melihat Tasya tengah bergaya saat di depan kamera. Sebenarnya ia bertanya-tanya, untuk apa sih gunanya bergaya di depan kamera.


Lalu ia mengambil gelas kaca yang berisi minuman jus untuknya. Lalu ia merasa ada yang memegang pundaknya.


Jonathan menoleh, ia melihat laki-laki yang mungkin usianya jauh diatasnya. Dari Penampilannya mungkin juga seorang model.